CEO Rescue Me!

CEO Rescue Me!
BAB 167 – WHAT’S UP?!



“Hey...” Agung menyapa pelan sambil menepuk siku Adinda pelan.


Adinda membuka matanya yang semenjak tadi terpejam rapat. Lalu menatap Agung yang sudah duduk di dekatnya.


“Kamu tidak apa-apa?” tanya Agung.


“Sakit, Om.”


“Obatnya belum bekerja?”


Adinda menggeleng.


“Yang sabar ya..” Agung membelai kepala Adinda yang tertutup hijab.


“Om..”


“Kenapa?”


“Hari ini ujian praktek saya.”


“Terus?”


“Kondisi saya seperti ini. Bahkan saya sendiri belum bisa mengingat apa yang sudah membuat saya masuk ke rumah sakit.”


“Jangan terlalu dipikirkan. Kamu gak usah khawatir dengan urusan sekolah termasuk urusan ujian. Ayah sudah mengurusnya.”


“Ayah?” mata Adinda yang sembab tampak terbelalak dengan cara yang aneh.


Agung mengangguk.


“Mata kamu... bengkak banget. Kamu melotot pun gak kelihatan..”


Adinda terkekeh yang membuat matanya semakin menghilang,


“Sebentar ya, saya cari sesuatu yang bisa mengompres mata kamu,” Agung berdiri dari kursinya.


“Om..” panggil Adinda.


Agung yang sudah melangkah jadi terhenti dan menoleh ke belakang.


“Ada apa?”


“Terimakasih banyak.”


Agung berdecak. Lalu berbalik lagi ke arah Adinda.


“Jangan pernah merasa sungkan kepada saya. OK. Cepat pulih. Saya kangen Adinda yang cerewet tapi baperan,” tangannya hendak menyentuh kepala Adinda lagi tapi urung dilakukan. Menggantung begitu saja di udara.


“Saya gak baperan, Om.”


“Yang kemarin-kemarin itu, apa namanya?”


“Saya tidak begitu ingat dengan yang kemarin-kemarin itu, Om.”


“Ah, ya sudah. Nanti kalau kamu sudah ingat dengan jelas, kamu bakal nyadar betapa baperannya kamu,” Agung terkekeh lalu berjalan menuju pantry.


“Saya yang baperan atau Om yang seperti kanebo kering?”


“Eh?!” Agung menoleh cepat, “Kamu ingat?”


Adinda mengangguk sambil tersenyum.


“Om galak, sok jaim, mendadak jadi kanebo kering saat berhadapan dengan saya.”


“Eh, itu.. bukan begitu.”


“Tapi memang begitu, Om.”


“Maksud Om, Om nggak seperti itu.”


“Bahkan Bunda dan Teh Disti pun melihat Om seperti itu.”


Agung terlihat salah tingkah. Pipinya merona merah. Dia menggaruk bagian belakang kepalanya yang tidak gatal.


“Om.. please jangan jadi kanebo kering saat berhadapan dengan saya. Rasanya menyakitkan saat melihat bagaimana interaksi Om dengan yang lainnya bisa begitu natural dan begitu hangat tapi saat berinteraksi dengan saya, Om mendadak menjadi pribadi yang berbeda.”


Agung menunduk. Lalu melanjutkan langkahnya menuju pantry.


“Mau apa Kak?” tanya Bunda.


“Ada teh celup bekas gak Bun? Buat kompres mata Dinda.”


“Pakai yang dari gelas Adek sama Abang aja, Kak,” kata Adisti, “Tapi masih panas. Tunggu dingin dulu baru kompreskan ya Kak.”


Agung mengangguk lalu mengucap terimakasih. Dia membawa kotak dari gerai donat sambil membawa kantong teh bekas di dalam paper cup.


“Sambil nunggu dingin, kita makan ini dulu yuk,” kata Agung saat di samping Adinda.


Adinda tampak berusaha duduk tapi kemudian mengernyit.


“Gak usah duduk. Biar saya atur bed-nya saja. Kamu lebih suka miring seperti itu?”


Adinda mengangguk, “Sakitnya berkurang kalau miring seperti ini, Om..”


Agung meraih tombol pengatur bed. Dia mengatur sandaran bed menjadi lebih tinggi dan agak tegak.


“Nyaman?”


Adinda mengangguk.


“Ini dari gerai donat yang waktu itu, Om? “


Agung mengangguk, “Abang minta tolong tadi ke Adek. Mau makan yang mana dulu?”


Agung mengambil sebungkus pie apel.


“Gak ada coklat panasnya,” Adinda terkekeh geli.


“Saya lupa memesankan coklat panasnya. Kalau kamu mau, saya bisa pesan dari gerai bawah. Mau?”


Adinda menggeleng, “Rasanya tidak sama, Om.”


“Nah gitu dong, makan,” kata Adisti yang berdiri di kaki bed bersama Bramasta, “Makan yang banyak ya, Din. Supaya cepat pulih.”


Adinda mengangguk dan tersenyum.


“Tapi saya masih belum ingat kenapa dan bagaimana saya ada di sini, Teh.”


“Gak usah terlalu dipikirkan, Din,” kata Bramasta, “Dulu Disti juga tidak tahu kenapa dirinya sampai terjatuh di jurang. Butuh beberapa hari buat ingat lagi , ya Sayang?”


“Iya.. begitu ingat langsung dilamar oleh Abang di depan semuanya,” Adisti mengetatkan pelukannya pada lengan suaminya.


“Sweet banget ya,” Adinda tersenyum lebar melihat mereka berdua.


“Ayah kemana sih Kak?” tanya Adisti.


“Ayah ada kelas siang. Pagi tadi pergi ke sekolah Adinda. Minta ijin Adinda tidak dapat mengikuti ujian praktek hari ini. Juga berbicara dengan kepala sekolahnya. Meminta dispensasi untuk Adinda. Rencananya juga Ayah mau ke diknas."


“Ngomong-ngomong tentang ujian Dinda, bagaimana kalau buku-buku Dinda di bawa ke sini? Sekalian untuk mengisi waktu luang Dinda. Mau?” tanya Bramasta.


Adinda mengangguk dengan antusias, “Mau banget, Bang.”


Bramasta lalu mengambil gawainya. Menghubungi Pak RT.


“Assalamu’alaikum, Pak RT.” Jeda.


“Iya.. saya sedang di rumah sakit sekarang. Adinda alhamdulillah berangsur membaik. Saya mau minta tolong ke Pak RT ataupun Bu RT, untuk membawakan buku-buku pelajaran Adinda ke rumah sakit.” Jeda.


“Oh.. anak Bapak nanti yang ambilkan? Boleh.. tapi kondisi rumah pasti dipasang police line ya Pak. Minta ijin dulu kepada petugas yang berjaga bersama Bapak.” Jeda.


Kemudian Bramasta meninggalkan ruangan sambil sesekali menjawab ya dan tidak pada gawainya. Pintu ruangan ditutup dengan pelan. Bramasta berbicara di koridor dengan suara pelan.


“Pak, nanti saat Bapak dan Ibu atapun tetangga yang lain ke sini, tolong jangan disinggung tentang kejadian pagi tadi. Ataupun menyebut-nyebut ibu tiri dan teman prianya. Adinda tidak dapat mengingat kejadian yang baru saja dialaminya. Ingatannya hilang pada peristiwa menjelang subuh tadi.” Jeda lama.


“Tidak Pak.. Dinda tidak mungkin kembali ke rumahnya. Kasihan. Setelah perawatan dari rumah sakit, nanti Adinda akan pulang ke rumah Keluarga Gumilar. Rumah orangtua istri saya, Pak.” Jeda.


“OK Pak RT, terima kasih banyak. Ma’afsepertinya petang nanti kita tidak bisa bertemu karena saya ada meeting sore nanti. Tapi ada istri saya dan Pak Gumilar. Ah, iya.. yang tadi pagi menggendong Adinda ke mobil itu kakak istri saya, Agung.” Jeda.


“Nanti Bapak dan Ibu bisa langsung mengobrol dengan keluarga Gumilar. Ruangannya di VIP 2 lantai 6 ya Pak.” Jeda.


“OK.Terimakasih banyak. Assalamu’alaikum.”


Bramasta mengakhiri panggilannya. Menaruh gawainya di saku jas semi formalnya. Lalu kembali ke dalam ruangan.


Agung menaikkan kedua alisnya menatap Bramasta. Bramasta mengganggukkan kepalanya sambil tersenyum.


"Bun," kata Bramasta, "Nanti sore Pak RT dan istrinya akan kemari membawa buku-buku Adinda.”


“Oh ya. Nanti sebentar lagi juga Ayah datang.”


“Disti mau di sini atau ikut Abang ke kantor? Abang ada meeting sore nanti.”


“Meetingnya kira-kira sampai jam berapa?” tanya Adisti.


“Abang juga gak tahu pasti. Tapi sepertinya gak lama kok. Semua poin-poinnya jelas dan tidak ada masalah.”


“Ya sudah, Disti ikut Abang aja. Nanti sepulang dari kantor kita ke sini lagi.”


“Kita pergi sekarang?” tanya Bramasta.


Adisti mengangguk lalu salim pada Bunda dan Agung.


Memeluk Adinda sambil berbisik, “Makan yang banyak. Gunung esnya sudah mulai mencair, ya?”


Adinda tersenyum lebar sampai terkekeh.


“Ada apa?” tanya Agung.


Adinda langsung terdiam kemudian menggeleng sambil tersenyum.


Gawai Bramasta berdering. Panggilan dari Indra.


“Assalamu’alaikum, Ndra. What’s up?”


“What??” suara Bramasta terdengar kaget, “Hans kenapa??”


Jeda.


“Kirim ke gue, Ndra.” Bramasta mengakhiri panggilan.


“Kakak Ipar, tolong nyalakan TV. Ada breaking news tentang kejadian di lounge hotel X.”


“Ya Allah.. Bang Hans dan Hyung Anton..” Adisti menutup mulutnya.


"Mereka kenapa?" tanya Bunda cemas.


Agung bergegas ke sofa L. Mengambil remote lalu menyalakan TV mencari saluran TV nasional swasta yang selalu up to date dengan perkembangan berita. Tulisan breaking news berwarna merah besar tampak memenuhi layar.


.


***


Ada apa lagi nih??