CEO Rescue Me!

CEO Rescue Me!
BAB 10 – HANYA 3 MENIT



Pintu ruangan diketuk. Indra berjalan membuka pintu. Room service mengantarkan pesanan dari kafetaria. Seorang petugas berseragam marun mendorong troli besi. Meletakkan makanan di meja pantry lalu mendorong trolinya ke luar. Indra menyelipkan beberapa lembar uang tip ke tangan petugas sambil mengucap terima kasih. Petugas membungkuk sambil berucap terimakasih banyak.


“Makan dulu, Bos. Ayo Pak, Bu, Gung, makan dulu mumpung masih panas,” Indra mengeluarkan kotak mika dan mangkuk-mangkuk plastik berpenutup bening.


Mengeluarkan sendok dan garpu plastiknya juga. Menatanya di atas meja counter bar pantry. Indra mengisi electric keetle dengan air pada kran pantry. Meletakkan di atas tatakannya lalu menekan tombol on.


Bramasta dan Agung duduk di pantry bar, sedangkan Ayah dan Bunda mengambil makanannya dan duduk di sofa bed dekat Andisti. Menikmati makanan dalam hening. Indra dan Anton menonton TV di sofa dengan suara kecil.


Mereka sudah selesai makan. Memasukkan mika bekas makan ke dalam kantung plastik lalu dibuang ke tempat sampah pantry. Bramasta mematikan electric keetle yang mengeluarkan uap. Mengisi beberapa paper cup yang diambil dari laci pantry dengan air panas. Lalu mengambil teh celup yang tersedia di pantry.


“Ndra, Ton, kalian kalau mau ngopi nyeduh sendiri ya,” kata Bramasta sambil meletakkan teh panas di pantry bar. Persis seperti seorang barista. Lalu mengangsurkan kotak bungkusan gula sekali saji kepada Ayah. Ayah menolak gula, Agung mengambil 1 gula dan membawa gelas kertas itu ke bundanya.


“Untuk sementara, anggap saja di rumah sendiri ya Pak, Bu,” Bramasta merapikan kotak teh celup ke tempatnya.


“Nak Bram, boleh kami melihat lagi videonya? Bundanya Adisti ingin melihat video evakuasinya,” pinta Ayah.


“Saya gak pegang, Pak. Videonya belum ditransfer file, masih ada di kamera sepertinya,” kata Bramasta.


Anton datang menghampiri mereka, duduk di sebelah Ayah. Bunda memegangi lengan suaminya saat Anton mulai memutar ulang rekaman videonya.


Tangannya bergetar memegangi bibirnya. Tidak percaya dengan tingginya tebing tempat Adisti jatuh. Lalu melihat tubuh Adisti berayun terkulai saat dibawa oleh Bram naik ke atas. Air matanya menetes deras di pipinya.


“Anak kita, Yah..” suara Bunda terdengar memilukan.


“Tenang, Bun. Adisti sudah aman sekarang. Anak kita selalu dikelilingi orang-orang baik Bun di kala kesusahan. Allah menjaganya. Alhamdulillah..” tangan Ayah mengelus-elus punggung istrinya.


Suasana hening dipecahkan oleh suara gawai Bramasta. Bramasta melirik gawai yang terletak di atas meja, tertulis THE QUEEN. Dengan sigap, Bramasta meraih gawainya, lalu menekan tombol hijau.


“Wa’alaikumussalam… Iya, Mom. Bram masih di luar,” jeda.


“Nggak Mom, maaf hari ini Bram tidak singgah ke rumah utama. Nanti malam ada meeting via zoom. Besok pagi aja ya insyaa Allah Bram pulang ke rumah utama,” jeda agak lama.


Alis Agung terangkat mengengar percakapan Bramasta.


[Rumah utama? Berarti ada rumah cadangan? Memangnya ada berapa rumah sih yang dimilikinya?] benaknya dipenuhi dengan pertanyaan.


“Loh, kok Mommy tau sih? Siapa yang cerita ke Mommy? Daddy tahu juga gak?” jeda singkat.


“Ooooh Indra…” sengaja Bramasta menekankan kalimatnya, ia berjalan ke arah Indra yang sedang menatapnya dengan cengiran khasnya. Dia meninju pelan lengan atas Indra. Indra pura-pura mengaduh kesakitan.


“Tante.. Bram mukul Indra nih..!” Indra berseru agar suaranya terdengar oleh Mommy.


“Berisik, ini di rumah sakit woyy,” Bramasta memukul lengan Indra lagi.


Indra dan Anton terkekeh. Ayah, Bunda dan Agung tersenyum melihat keakraban bos dan anak buahnya.


“Eh iya, Mom. Masih di rumah sakit. Belum siuman,” jeda.


“Iya, tidak ada luka yang dikhawatirkan. Masih diobservasi, Mom. Mudah-mudahan tidak ada efek apa-apa dari benturannya,” jeda.


“OK Mom.. iya sampai besok, insyaa Allah.. salam buat Daddy ya,” jeda sejenak.


“Wa’alaikumussalam.”


Bramasta menepuk keras lengan atas Indra yang langsung mengaduh, “Lu cerita apa aja ke Mommy?”


“Hehehe… Cuma ngirimin video evakuasi aja ke Mommy. Sambil jelasin dikit karena Mommy kepo,” Indra menjawab sambil bergeser duduknya menjauhi Bramasta yang sore itu mendadak gemas banget dengan lengan atas Indra.


“Kok ngirim videonya cuma ke Mommy, gue nggak?” tanya Bramasta.


“Tumben minta dikirimin video aktifitasnya sendiri. Biasanya paling ogah kalau melihat video aktifitasnya sendiri..” seloroh Indra.


“Bro, kayaknya Pak Bos sedang narsis,” Anton ikut bersuara.


“Iiissh…”


Mereka berdua terkekeh melihat tingkah Bramasta.


Suara kekehan mereka terhenti saat mendengar seruan Bundanya.


“Tangan Adisti bergerak..!”


Semuanya bergegas menuju bed Adisti.


“Dek.. ini Bunda, Dek..” Bunda mengelus tangan Adisti, “Ada Ayah dan Kakak juga. Ada orang-orang yang sudah menolong kamu juga di sini. Bangun ya, Dek..”


Tangan Adisti bergerak lagi. Mulai membalas remasan tangan Bunda. Bunda memandang Ayah. Ayah mengangguk haru. Ada air mata di sudut matanya. Berusaha memegang tangan Adisti.


“Bangun, Dek..” kata Ayah.


Mata Adisti yang masih menutup mengerjap. Pelan-pelan, mata Adisti terbuka, mengerjap beberapa kali untuk menyesuaikan dengan cahaya. Dia bisa melihat Bunda dan Ayahnya juga Agung, kakaknya. Ada 3 wajah yang tidak ia kenal.


Bramasta bergerak mendekati kepala bed untuk menekan tombol memanggil perawat. Pergerakan Bramasta menarik perhatian Adisti. Dia melihat ke arah Bramasta. Lalu terkesiap kaget melihat wajah Bramasta. Bramasta menundukkan pandangannya ke arah Adisti. Menatap langsung mata Adisti yang memandangi matanya. Mata bertemu mata. Adisti mengingat semuanya. Mengingat jatuhnya, mengingat benturan keras pada punggungnya, mengingat mata lelaki tampan di hadapannya.


“Malaikat…” gumam Adisti, terdengar jelas bagi semuanya. Lalu kesadarannya membawanya merasakan rasa sakit yang tajam pada bahu kirinya. Sakitnya tak tertahankan. Wajahnya mengernyit. Dalam pandangannya terlihat kilatan-kilatan cahaya putih tidak beraturan. Tubuhnya lelah melawan cahaya. Menariknya kembali ke alam bawah sadarnya. Gelap menyelimutinya lagi.


“Selamat sore, saya Dokter Adi, dokter jaga di VIP area,” kata Dokter Adi sambil memeriksa Andisti dengan stetoskopnya.


“Kenapa?” tanya dokternya.


“Tadi sempat sadar tapi pingsan lagi, Dok,” jawab Agung.


“Berapa lama sadarnya?” tanya dokter lagi sambil memeriksa pupil mata Andisti dengan menggunakan senter kecil di tangannya.


“Sekitar 3 menitan,” Indra menjawab.


“Suster tolong pasang oksigen ya untuk pasien. Saturasi oksigennya turun,” dokter memerintahkan.


Seorang perawat dengan sigap mengambil selang oksigen dari troli peralatan medis yang dibawanya. Memasang selang pada oxygen bar di atas kepala tempat tidur lalu dengan hati-hati memasangkan selang tempat oksigennya keluar pada lubang hidung Andisti.


“Kita pasang monitor untuk memantau oksigen, detak jantung dan saturasi oksigen untuk pasien, ya Pak. Nanti ada formulir yang ditandatangani sebagai persetujuan pihak keluarga untuk pemasangan alat,” Dokter menjelaskan sambil memandang Bramasta.


Bramasta menunjuk Agung dengan kelima jarinya yang merapat, “Dia keluarga pasien.”


“Oh, maaf,” kata dokter.


Agung mengangguk tapi menatap tidak mengerti kepada Bramasta. Bramasta hanya mengangguk kepadanya seolah berkata, “Udah, gak apa-apa. Tanda tangani saja.”


“Jadi, kenapa Adisti pingsan lagi, Dok?” tanya Ayah.


“Sepertinya rasa sakit pada bahu yang terlepas dari engselnya yang membuat pasien tidak sadarkan diri lagi,” Dokter menjelaskan lagi sambil memeriksa kembali pupil mata Adisti, “Tidak perlu khawatir, Pak. Putri Bapak hanya pingsan saja bukan koma.”


“Apa harus dioperasi Dok untuk mengembalikan lagi engsel bahunya?” tanya Bramasta.


“Kita lihat apa kata dokter orthopedi, ya. Besok saat visit dokter. Nanti selain dokter internis dan orthopedi, ada dokter syaraf juga. Jam visitnya berbeda-beda. Tapi karena ini VIP tentu didahulukan daripada ruang rawat inap biasa. Sebelum jam 11, semua dokter sudah memeriksa pasien ruang VIP,” Dokter Adi menjelaskan dengan ramah.


“Dok, pasang monitornya setelah pasien dibersihkan dulu ya. Sekarang memang sudah waktunya tubuh pasien di-wash lap,” kata perawat.


“OK, itu lebih baik,” Dokter Adi melihat jam tangannya, “Sebentar lagi waktu bezoek ya. Baik Pak, Bu, saya pamit dulu. Kalau ada apa-apa tekan tombol perawat.”


Ayah dan bunda mengangguk. Dokter Adi meninggalkan kamar Adisti. Sementara perawat yang bersamanya mempersiapkan peralatan untuk mengelap tubuh pasien. Tirai di sekitar bed pasien ditutup. Adisti didampingi bundanya saat tubuhnya dibersihkan. Percakapan perlahan terdengar dari balik tirai.


Para lelaki berkumpul di sofa U.


“Ton, boleh minta video evakuasi Adisti?” tanya Agung pada Anton setelah mereka duduk. Anton memandang ke arah Indra. Indra mengangguk.


“Bro, tapi kami mohon tolong jangan di publish ya. Bos Bramasta tidak suka kehidupan pribadinya diekspos dan diketahui orang banyak.”


Agung mengangguk. “Ini hanya untuk keluarga saja, Ndra. Tidak bakal di-share bahkan di WAG keluarga besar kami.”


Bramasta termenung. Pikirannya masih pada gumaman Adisti saat tersadar dan melihatnya tadi. Dua kali dia disebut malaikat oleh gadis itu. Tatapan mata coklat Andisti seperti membius Bramasta. Terpesona. Bulu kuduknya terasa meremang.


“Bos..Bos denger gak sih kita omongin apa?” tanya Indra sambil melambaikan tangannya di depan mata Bramasta. Semua mata memandanginya.


“Eh, apa? What’s up?” Bramasta tersentak kaget.


“Ye…melamun dia..,” Indra kembali ke tempat duduknya.


“Apaan sih?”


“Tadi kita nanya ke Pak Bos, kenapa Adisti melihat Bos dan berkata malaikat?” Anton mengambil botol air mineral yang ada di atas meja.


Bramasta mengangkat bahu.


“Sewaktu gue masang chest harness di tubuh Adisti, dia tersadar sebentar dan mengatakan hal yang sama,” Bramasta menjelaskan pada semuanya. Membagi ceritanya hanya sampai ucapan Andisti, memotong adegan Andisti berkata sambil memegangi wajah Bramasta. Mengingat hal itu, wajah Bramasta terasa panas. Memerah.


“Berarti dua kali ya Adisti menyebut Nak Bram dengan sebutan malaikat?”


Bramasta mengangguk.


“Bos, mungkin dia mengira lu malaikat pencabut nyawa kali..” ucap Indra sambil terkekeh. Yang lainnya pun ikut terkekeh.


“Gegabah lu ya.”


“Atau Andisti mengira Pak Bos itu malaikat yang membawa amal kebaikan. Kan Pak Bos ganteng…” Anton ikut berspekulasi.


“Tau ah. Lebih jelasnya nanti tanyakan saja kepada Andisti saat siuman nanti ya, A,” Bramasta memandang Agung. Agung hanya mengangguk sambil tersenyum.


Bramasta memandang arlojinya. Hampir jam bezoek. Dia tidak ingin bertemu orang banyak, khawatir ada yang mengenalinya. Dia memandang Indra. Indra tanggap dan mengangguk.


“Pak, A, kami pamit dulu. Insyaa Allah besok kami kemari lagi,” Bramasta menyalami Ayah dan Agung. Tirai bed Adisti masih tertutup rapat. Adisti belum selesai dibersihkan tubuhnya.


“Salam saja buat Ibu ya Pak,” kata Bramasta lagi.


“Gung, kalau ada apa-apa, WA aja ya,” kata Indra pada Agung yang dibalas anggukan dan 2 jempol yang terangkat.


“Wajar saja Adisti menyebutnya malaikat,” kata Ayah saat rombongan Bramasta sudah meninggalkan kamar Andisti, “Hatinya baik. Dia bos yang baik bagi pekerjanya. Juga lelaki yang tampan.”


Agung mengangguk setuju perkataan ayahnya.