
( ma'af baru bisa update lagi, laptopnya korslet jadi harus diopname dulu di Kang Servis 🙏🏼🙏🏼🙏🏼 Ma'afkan ya...)
***
Petugas terapis spa sudah pulang. Adzan Maghrib berkumandang. Usai sholat Maghrib mereka makan bersama. Ayah meminta para kerabat untuk berkumpul bersama tadi sebelum Maghrib. Rencananya ba’da Isya Ayah akan memimpin pengajian keluarga untuk memohon kelancaran acara besok sore.
“Kang, eta aya 2 pameget ngantosan di payun, saurna ti salon.._Kang, itu ada 2 perempuan menunggu di depan, katanya dari salon..” kata seorang kerabat kepada Ayah.
Ayah mengangguk, “Bun.. ada yang nyariin.”
Bunda bergegas ke depan. Lalu masuk lagi ke dalam rumah bersama 2 orang wanita yang memakai seragam salon muslimah dan membawa tas berbentuk box berukuran kecil warna putih. Mereka masuk sambil mengucap salam yang dijawab oleh semua kerabat yang ada di dalam ruangan. Bunda memandu mereka ke dalam kamar Adisti.
“Dek, sudah sholat Isya kan?” tanya Bunda.
Adisti mengangguk.
“Ini petugas salon yang akan menggambar henna di tangan dan kaki Adek,” kata Bunda.
“Di gambar? Nggak pakai henna instan saja?” tanya Adisti.
“Permintaan dari Tuan dan Nyonya Alwin untuk memakai henna asli. Mengikuti tradisi tempat asal Tuan Alwin yang berasal dari Pakistan, Nona,” kata seorang petugasnya.
Adisti mengangguk, “Bakalan lama dong..”
Kedua petugas tersenyum, “Insyaa Allah kami akan bekerja sebaik, serapi dan secepat mungkin, Nona.”
“OK. Sayanya harus bagaimana? Duduk atau berbaring?”
“Senyamannya Nona saja.”
“Kalau berbaring gak apa-apa? Gak bleber kemana-mana henna-nya?”
“Kami memakai henna pasta, Nona. Insyaa Allah tidak bleber kemana-mana,” salah seorang menunjukkan henna yang akan dipakai, seorang lainnya membereskan perlengkapan yang akan dipakai.
Adisti memilih duduk nyaman di kursi kamar.
“Silahkan pilih warna apa yang Nona inginkan?”
“Ungu ada nggak?”
Kedua petugas tertawa, “Untuk henna asli tidak ada warna fancy, Nona.”
“Ada warna apa saja?”
“Hitam, coklat kopi, coklat kemerahan, merah bata.”
Adisti mengingat ruangan kantor Bramasta dengan centerpiece-nya memiliki background coklat kemerahan, “Coklat kemerahan saja Mbak.”
Adisti takjub dengan betapa cepatnya para petugas itu menggambari tangan dan kakinya. Pasta henna dimasukkan dalam plastik berbentuk kerucut kecil. Benar-benar dirinya merasa menjadi kue tart yang tengah dihias dengan cream gula.
Mereka terlatih, membentuk garis-garis lengkung dengan cepat tanpa sketsa ataupun pola terlebih dahulu. Sebelumnya, ujung jemari tangannya dicelupkan ke dalam pasta pekat yang diencerkan di dalam wadah kecil-kecil seukuran jari.
Baru 20 menit, gawai Adisti berdering. Panggilan masuk dari Bramasta. Neng dan Lina yang menemani Adisti membantu memasangkan headset dan menekan tombol terima.
“Assalamu’alaikum, Abang.” Jeda.
“Ini sedang digambarin tato.” Jeda kemudian terkikik.
“Iya.. iya.. henna. Tapi Disti mintanya gambar yang out of the box aja. Supaya beda sama yang lain.” Jeda.
“Pokoknya ambil tema alat transportasi. Jari telunjuk digambari perahu, kapal laut, kapal pesiar, jari tengah digambari lokomotif berikut gerbongnya, jari manis digambari pesawat penumpang, helikopter, roket luar angkasa, jari kelingking digambari Tayo dan teman-temannya, kalau jempol, digambari scoopy-nya Disti.” Jeda sambil menahan kikikan.
“Beneran… Nanti lihat sendiri aja ya..” Jeda.
“Gak.. gak boleh vicall-an. Kan kita lagi dipingit..” Adisti tertawa.
Para petugas henna tersenyum mendengar celotehan Adisti. Neng dan Lina sudah dari tadi cekikikan.
“Bang, yang tadi siang itu… maafin ya..” Jeda.
“Ya soalnya anu… gimana ya,” Adisti terdiam sejenak untuk berpikir, “Ya gitu deh, gak bermaksud untuk anu.. ng… Gimana ngomongnya ya? Ya gitu deh pokoknya..” Jeda.
“Duh kan Disti jadi malu, Bang..” Jeda. Pipi Adisti memerah.
“Haisssh… omongannya…” Jeda. Pipi Adisti kian memerah.
“Neng, punten nyalain kipas angin kecil di laci meja tulis. Arahin ke Teteh ya. Kok mendadak gerah begini..”
“Eh, nggak Bang. Barusan ngomong sama sepupu.” Jeda.
“Isssh Abang mah.. by the way Abang lagi ngapain sekarang?” Jeda.
“Enak banget.. Disti dari pagi gak keluar-keluar kamar.” Jeda. Adisti mencebik.
“Ih hari ini yang paling ribet berarti Disti ya.” Jeda.
“Kok Abang senewen? Kan tinggal perintahin orang-orang Abang saja.” Jeda.
“Abang ada di site malam ini?? Yang bener aja Bang. Besok mau jadi pengantin kok masih kelayapan ke site sih?” Jeda.
“Eh, ngecek via vicall.. Hehehe… maaf.” Jeda.
Semua yang berada di kamar Adisti tertawa.
“Bukannya galak, Bang. Ini disebut motivasi, supaya Abang gak harus mengulang-ulang ijab kabulnya.” Jeda.
“Motivasi, Bang.. bukannya intimidasi. Hmm.. kayaknya Disti punya bakat jadi motivator…” Jeda. Adisti mengangguk-anggukkan kepalanya dengan wajah yakin untuk menjadi motivator.
“Isssh.. calon suami paling bisa banget sih bikin calon istrinya berasa nyungsep begini… Sama aja dengan Kakak.” Jeda.
“Iya tadi sore Kakak ngeselin banget. Gangguin Disti sewaktu masih di dalam sauna portable. Saat Disti mau ngejar Kakak, malah disuruh buruan bilas oleh mbak terapis spa-nya. Kakak langsung kabur ke site, mau bantuin Bang Anton dan Kak Layla katanya.” Jeda. Adisti terkekeh.
“Memangnya Abang dengan Kak Layla gak pernah seperti itu?” Jeda.
“Ng.. jangan sekarang Bang. Bahas rencana Disti kedepannya nanti mau ngapain enaknya nanti saja. Soalnya Disti masih menata dan memikirkan jawabannya. Kayaknya supaya pikirannya tenang dan objektif mending nanyanya setelah acara kita besok selesai. Kita omongin bareng sambil minum jus apel kemasan kotak 1 liter…” Jeda. Adisti terkekeh.
“Eh, Bang. Kok Disti belum tahu Abang ulang tahunnya kapan ya? Padahal Abang hafal banget data-data Disti beberapa jam setelah kita pertama kali bertemu di tengah jurang.” Jeda.
“Bulan depan dong… Abang ingin kado apa dari Disti. Nanti Disti beli pakai uang Disti sendiri. Bu Alin sudah transfer penjualan lukisan Purple Veil dan satu lagi Good Morning, Dew. Yang Good Morning, Dew dibeli Pak Dokter yang anaknya mendadak minta dimasukkan kelas taekwondo itu loh. Jumlah transferannya lebih dari lumayan. Video tendangan Disti dan konpers di rumah sakit tempo hari mengatrol harga lukisan Disti.” Jeda.
“Senang dong.. apalagi saat cek saldo, rekeningnya mendadak makmur. Hehehe…” Jeda.
“Bu Alin juga cerita, lukisan Disti mendadak banyak dicari. Entah hanya sekedar ingin tahu atau memang ingin beli. Tapi mendengar kabar itu saja bikin Disti senang banget, Bang. Jadi semangat pengen buru-buru melukis lagi.” Jeda.
“Nah itu yang Disti gak tahu. Dulu Disti melukis saat sedang sedih saja. Tapi sekarang-sekarang ini kan Disti lebih banyak merasa bahagia. Apa nanti mempengaruhi lukisan Disti gak ya?” Jeda.
“Hmmm… jadi pengen tahu behind the canvas-nya? Pengen tahu cerita lukisannya? Tar aja deh. Nanti takutnya malah jadi mewek..” Jeda.
“Hehehe… belum ada a shoulder to cry on-nya kalau sekarang mah..” Jeda.
“Ciyeeee..” Wajah Adisti merona lagi. Jeda lama.
“Iya.. The Cliff udah gak ada masalah lagi kan?” Jeda.
“Alhamdulillah…” Jeda.
“Sekarang Distinya yang deg-degan dengan besok. Karena semuanya serba dirahasiakan oleh kalian. Bahkan Kakak yang biasanya ngember juga gak ngasih bocoran sedikitpun tentang tema, gaun, de el elnya.”Jeda.
“Iya tahu surprise. Tapi kan berasa diulangtahunin lagi kalau serba surprise kayak gini. Deg-degan banget Bang. Beneran. Seperti sewaktu pertama kali lihat wajah Abang di atas dahan di tengah jurang… Eh!” Adisti menutup mulutnya kaget sendiri. Pipinya merona. Semua yang di dalam ruangan terkikik geli. Neng dan Leni berciyeee-ciyeeee.
“Ih Abang ih… Dah ah.”Jeda.
“Nona, lukis hennanya sudah selesai. Tunggu kering dulu baru boleh kena air ya. Membasuhnya juga harus hati-hati supaya tidak rusak,” kata petugas salon.
“Waah.. bagus banget, Mbak. Kirain bakal lama melukisnya. Terima kasih banyak ya.. Masyaa Allah…” Adisti takjub memandangi tangan dan telapak tangannya juga kakinya.
“Abaaaaang ih keren banget tau… Disti baru nyadar punya jemari tangan yang cantik!” terkekeh senang. Jeda.
“Apa? Mau bicara dengan Mbaknya?” Adisti heran sambil memandang petugas salon di depannya.
“Mbak, Abang mau bicara dengan Mbak.. Cabut saja headsetnya Mbak. Katanya jangan pakai loudspeaker. Surprise buat saya.."
Petugas salon tadi tampak terkejut. Kemudian mengangguk. Mengambil gawai yang terletak di atas meja lalu mencabut kabel headset-nya. Ragu-ragu mendekatkan gawai ke telinganya.
“Assalamu’alaikum, Tuan. Ada yang bisa saya bantu?” Jeda.
“Oh iya. Baik Tuan. Insyaa Allah bisa. Yang kanan ya?” Jeda.
“Diukir juga?” Jeda.
“Kira-kira panjang x lebarnya berapa, Tuan?” Jeda.
“Baik Tuan. Akan kami kerjakan. Semoga memuaskan Tuan dan Nona. Assalamu’alaikum,” petugas salon itu tersenyum pada Adisti lalu menyambungkan kembali kabel headset-nya.
“Tuan Bramasta masih ingin mengobrol dengan Nona,” petugas salon meletakkan gawai Adisti di atas meja lagi.
“Nona,” katanya pada Adisti, “Telapak tangan kanannya bisa dihadapkan ke atas? Iya, diangkat saja seperti itu supaya henna yang di punggung tangan tidak rusak. Ma’af ya, ini tidak akan lama. Tahan dulu seperti itu.”
Adisti menuruti. Petugas salon berdiri di samping kanannya lalu mulai melukis lagi di sana. Adisti tidak dapat melihat gambar apa yang dilukis karena terhalang oleh tubuh petugas salon.
“Abang nge-request apaan sih?” Jeda.
“Isssh kebiasaan surprise melulu.” Jeda.
“Abang, besokkan acara dimulai ba’da Ashar. Terus sholat Maghribnya bagaimana?”Jeda.
“Pantesan ada tulisan harap membawa perlengkapan sholat untuk tamu wanita. Perasaan baru kali ini Disti melihat ada undangan dengan permintaan aneh seperti itu. Biasanya kan cuma dresscode aja.”Jeda.
“Abang, kerabat Disti bingung dengan kamar Disti yang biasa-biasa saja gak dihias apapun seperti kamar pengantin pada umumnya. Setelah dijelaskan Ayah dan Bunda kalau Disti langsung diboyong ke apartemen Abang, mereka baru ngeuh.”Jeda.
“Haisssh Abang bagaimana sih? Disti kan belum pernah lihat apartemen Abang. Kalau lewat mah sering tapi kan gak tau Abang tinggal di situ. Unitnya yang mana juga gak tahu. Cuma Kakak yang udah pernah main ke tempat Abang kan?”Jeda.
“Sudah selesai, Nona..” kata Petugas Salon.
“Wah, sat set sat set banget nih Mbaknya. Wow..wah… Ih.. cute amat sih… Abaaaaaang, keren banget. Beneran deh. Mbak, makasih banyak ya…”
Cantik gak henna-nya? Komen ya..
Insyaa Allah double up ya malam ini buat menebus bolong update-nya...