
Agung sudah menenteng laptopnya begitu juga Adinda yang membawa laptop dan juga bukunya. Rencana awal mereka berjalan kaki ke taman di lantai ini, tetapi ternyata Adinda belum kuat untuk berjalan jauh.
Untung saja ada petugas cleaning service yang lewat sehingga bisa dimintai tolong untuk mengambilkan kursi roda. Laptop Agung ada di pangkuan Adinda, sementara ia mendorong kursi rodanya menuju taman.
“Punggung kamu, tidak apa-apa?” tanya Agung ketika mereka sampai di bangku taman di bawah pergola.
Sengaja Agung memilih duduk di bawah naungan pergola agar Adinda tidak merasa terganggu oleh sinar matahari pagi.
Adinda menggeleng sambil melipat bibirnya. Melirik sedikit kepada Agung yang menahan kursi roda saat dia hendak berpindah duduk ke bangku taman.
Bangkut taman itu model bangku piknik yang dibuat menyatu dengan mejanya. Jadi, saat hendak duduk, kaki harus diangkat agak tinggi supaya bisa melewati kaki kayu yang menyilang yang menghubungkan meja dan kursi.
Adinda mengernyit sambil menggigit bibir bawahnya.
“Kenapa?” Agung meletakkan laptop mereka di meja.
“Memar di belakang paha saya membuat saya sulit untuk menggerakkan kaki, Om. Nyeri.”
Adinda berdiri di tepi bangku.
“Sebentar, saya bantu..” Agung meletakkan tangan kanannya di belakang lutut Adinda lalu menggendongnya melewati palang kayu tersebut.
Pipi Adinda merona. Tidak berani untuk menatap Agung.
“Terimakasih, Om.”
Agung hanya bergumam. Lalu duduk di bangku yang berada di seberang Adinda.
“Dinda..”
Adinda yang sedang membuka laptopnya mendongakkan kepala saat namanya dipanggil oleh Agung.
“Ya?” tatapan mata mereka bertemu. Kurang dari tiga detik lalu masing-masing melempar tatapannya ke arah lain.
“Mmm,” Agung tampak berpikir sejenak, “Bisa tidak kalau kita hanya berdua, kamu memanggil saya Aa? Seperti tempo hari saat teman-teman kantor saya membezuk?”
Alis Adinda terangkat sebelah. Agung menunggu dengan gelisah. Kemudian Adinda menggeleng.
“Kenapa?” tanya Agung.
“Saya takut khilaf, Om.”
Agung menatap Adinda dengan tatapan tidak percaya.
“Takut khilaf bagaimana?”
“Khawatir jadi terlalu akrab, garis batasnya jadi kabur, abu-abu,” Adinda menatap sejenak pada Agung yang terlihat kecewa, “Kalau saya tetap memanggil Om, artinya kita ada batasan. Bahwa saya harus menghargai dan ada bertata krama pada yang lebih tua.”
“Jadi ini tentang umur?” Agung meniup bagian depan rambutnya yang jatuh di kening karena tertiup angin.
“Bukan.”
“Jadi?”
“Ini tentang kenyamanan, Om.”
“Ah.. alasan yang sama yang pernah kamu utarakan dulu pada saya saat di gerai donat.”
Adinda tersenyum lebar dengan mata bercahaya, yang memantulkan langit pagi hari.
“Ma’afkan kalau saya membuat Om kecewa.”
Agung terkesima melihat senyuman Adinda. Sesuatu yang rasanya sudah lama sekali ia tidak melihatnya dari wajah Adinda.
“Saya akan meng-khitbah kamu dalam waktu dekat. Apakah tidak masalah buat kamu?”
Adinda mengangkat kedua alisnya karena terkejut. Beberapa kali matanya berkedip-kedip. Menggemaskan.
[Ini.. lamaran kan? Khitbah itu lamaran kan? Tapi kenapa seperti ini? Garing amat penyampaiannya? Apakah karena ini lamaran dari Kanebo Kering makanya terasa amat sangat garing seperti ini?] Adinda memutar-mutar pensil mekanik pada jemarinya.
Agung berdehem. Terlihat bingung dan salah tingkah.
“Ma’af karena disampaikan sangat tidak romantis. Saya tidak punya pegalaman untuk itu. Bukan penikmat drakor juga.”
“Ooh..” Adinda mengangguk.
Hening.
Canggung.
Seekor lebah biru metalik terbang berdengung di depan Adinda. Adinda memundurkan tubuhnya agar lebah itu tidak menabrak wajahnya.
“Kenapa?” akhirnya Adinda bersuara.
“Karena saya ingin mengumumkan kepada semua orang bahwa saya sudah punya calon istri dan kamu sudah punya calon suami. Juga supaya saya bisa menjaga kamu dengan lebih baik.”
Adinda terdiam. Matanya menatap layar laptopnya. Hanya menatap layarnya saja.
“Beri saya waktu untuk berpikir, Om.”
Agung tersadar, dia tidak boleh terlalu mendesak Adinda mengingat usia mereka yang terpaut jauh. Walau dia merasa tidak rela untuk menunggu lebih lama lagi tapi dia harus menahan diri.
Agung mengangguk. Lalu membuka laptopnya.
“Setelah dari rumah sakit, tinggallah bersama Ayah dan Bunda. Adek sudah menghibahkan kamarnya buat kamu.”
Adinda tercenung. Hatinya terasa hangat dengan perhatian keluarga Gumilar. Tapi ada sesuatu yang mengusik hatinya.
Agung mengusap hidung.
“Hingga kamu sudah benar-benar sehat, tidak dihantui mimpi buruk lagi. Saya akan pindah. Bisa nge-kost ataupun tinggal di apartemen,” Agung memperhatikan wajah Adinda yang agak menunduk, “Gak mungkin saya tinggal serumah dengan kamu meskipun ada Ayah dan Bunda. Akan ada fitnah bagi kita semua nantinya.”
“Tapi Om kan lebih berhak tinggal di rumah Ayah dan Bunda. Om anak mereka sedangkan saya bukan siapa-siapa,” Adinda mendongak, matanya bertemu dengan mata Agung, “Biar saya saja yang kost, Om.”
“Kamu anak Ayah dan Bunda. Dan saya akan lebih tenang bila kamu tinggal di rumah kami. Ada yang mengawasi kamu, ada yang memperhatikan kamu. Dan kamu juga bisa belajar banyak hal dari Ayah dan Bunda.”
Adinda masih menunggu kelanjutan dari kalimat Agung.
“Seraplah ilmu dan pelajaran dari mereka. Anggap saja kamu sedang menimba ilmu di ponpes. Sedang jadi santrinya Ayah dan Bunda secara privat,” Agung tersenyum.
“Seraplah ilmu dan pelajaran dari mereka. Sebagai bekal untuk menjadi madrasah pertama anak-anak kita.”
Mata Adinda melebar. Bibirnya terbuka membentuk huruf O. Beberapa kali matanya berkedip. Menggemaskan. Imut.
[Wait.. beberapa menit yang lalu si Om baru saja membicarakan tentang rencana khitbah, kenapa sekarang ngomongin anak-anak kita? Eh?! Anak-anak kita?] Adinda mengedipkan mata beberapa kali lagi.
Agung sampai harus mengepalkan tangannya untuk menahan diri agar jemarinya tidak mencubit gemas pipi Adinda. Dia menekan kepalan tangannya ke atas meja.
Agung berdehem untuk mengusir canggung dan gugup.
“Kamu... tidak keberatan kan untuk menikah muda?”
[Eh?! Menikah??] Adinda mengangguk pelan.
[Kenapa beruntun seperti ini sih? Kenapa caranya seperti ini?] Adinda memegangi dadanya, mengatur nafasnya.
[Hey jantung, bekerjasamalah.. Jangan cepat-cepat berdetaknya]
“Kamu kenapa?” tanya Agung heran.
Adinda mengipasi wajahnya dengan tangannya.
“Gerah?”
Adinda mengangguk. Pipinya kemerahan sekarang.
“Mau minum? Saya pesankan dari gerai di bawah ya. Saya juga butuh kopi. Tapi untuk kamu gak boleh kopi. Dokter melarang kamu minum kopi kan?”
Adinda mengangguk beberapa kali dengan cepat.
Agung terkekeh. Lalu mengetikkan pesanan ke gerai kopi di bawah.
“Kamu... lucu banget sih? Imut. Gemesin. Jadi gak sabar ingin cepat-cepat menghalalkan kamu..” mata Agung masih terpaku pada gawainya.
[Eh!] Adinda melongo mendengarnya.
Agung tersadar dengan kalimatnya lalu segera mendongak menatap Adinda.
“Eh. Saya tadi ngomong apa?”
[Laaah. Gimana sihh?] Adinda terkekeh kecil.
Gawai Agung berdering, notifikasi pesan masuk.
Ayah_Assalamu’alaikum Kak, Kepala Sekolah dan Guru Walikelas Adinda mau bezuk siang ini. Kemungkinan ketua yayasannya juga. Bagaimana?_
Agung_Wa’alaikumussalam. Ya sudah gak apa-apa. Tapi mereka tidak boleh menanyakan tentang kronologi kejadian kepada Adinda. Jangan diingatkan lagi kejadian tersebut. Adinda belum siap menerima pertanyaan-pertanyaan seperti itu_
Ayah_Iya, Ayah akan meyampaikan seperti itu. Kondisi psikologisnya masih belum menerima kejadian yang menimpanya. Kita harus memberitahunya pelan-pelan agar dia menerimanya_
Agung_Nanti Ayah bisa dampingi? Kakak kemungkinan sedang meeting jam segitu_
Ayah_Insyaa Allah_
Agung menyimpan gawainya lagi di atas meja.
“Om, ini ceritanya Om melamar saya?” tanya Adinda sambil memegang erat bukunya.
“Kenapa memangnya?” mata Agung masih menatap layar gawainya membaca pop up yang masuk.
“Anu.. Itu kok... “ Adinda terdiam.
“Anunya kenapa?”
“Eh?!” Adinda membelalakkan matanya.
“Eh??!” Agung tersentak kaget lalu mendongak menatap Adinda.
Adinda mencebik.
“Issh Om..!”
“Makanya kalau ngomong jangan sepotong-sepotong.”
“Laaaah?!” Adinda menatap tajam.
.
***
Babang Agung, kebiasaan..
Kanebonya harus dibasahin dikit nih kayaknya..