
Suara gumaman terdengar.
“Apa tidak terlalu memaksakan melaksanakannya di The Cliff, Nak?”
“Insyaa Allah tidak Pak. Anton sudah menghitung semuanya. The Cliff bisa rampung dalam waktu 5 hari. Kita kebut pengerjaannya. Tenaga kerja ditambah juga pengerjaan dilakukan 24 jam. Apalagi desainnya ringan dan bukan bangunan massif permanen.” Ayah dan Agung mengangguk.
“Pemilihan The Cliff karena tempat itu istimewa bagi kami. Selain itu, saya ingin mempersembahkan The Cliff untuk Adisti Maharani, calon istri saya,” Bramasta menatap Adisti tepat di matanya.
Suara gumam kekaguman memenuhi rumah Keluarga Gumilar. Daddy merangkul Mommy yang terharu. Adisti menatap Bramasta. Air mata haru mengambang di matanya.
“Disti,” Bramasta masih menatap Adisti, “Tolong jangan menangis. Abang jadi tidak tahan melihatnya...”
Ruangan yang tadinya sunyi karena terharu menjadi penuh gelak tawa.
“Gak jadi deh terharunya,” kata Mommy sambil menyeka ujung matanya.
“Sejak kapan sih Bramasta jadi pelawak begini?” tanya Daddy.
“Sejak dia menjemput bidadarinya yang nyangkut di jurang, Om,” kata Indra yang mendapatkan keplakan pada lengan dari ibunya, “Beneran Mih. Tanya Anton kalau gak percaya.”
Ayah dan Bunda tertawa.
“Memangnya dulu sebelum bertemu Adisti, Nak Bram bagaimana?” tanya Bunda.
“Orangnya serius banget. Jaim banget,” Indra mulai mengoceh, “Tapi semenjak bertemu Adisti, beuuuh. Beda 180 derajat. Apalagi sewaktu hari Jum’at kemarin, dari pagi sampai sore, wajahnya seperti ada lampunya. Terang dan ceria. Senyum mulu. Semua meeting lancar jaya.”
Orang-orang tergelak mendengar ocehan Indra. Adisti duduk dengan tegak. Malam Jum’at lalu pertama kalinya mereka bertukar pesan chat. Wajahnya merona. Melirik pada Bramasta yang juga sedang memikirkan hal yang sama dengan Adisti. Wajah keduanya memerah bersamaan.
“Sudah..sudah… Kasihan wajah calon pengantinnya sampai merah begitu..” kata salah seorang tetangga.
Bramasta menghembuskan nafas panjang. Berusaha memasang wajah cool jaimnya. Dia berdehem sebelum melanjutkan pembicaraannya.
“Saya dan Adisti memang baru bertemu. Dipertemukannya juga dengan cara yang luar biasa. Kami belum saling mengenal karena pertemuan kami yang bisa dibilang ajaib. Belum pernah mengobrol berdua. Kami baru mengobrol berdua siang tadi, itupun untuk mencari ingatan yang hilang dari Adisti mengenai sebab ia menuruni tebing,” Bramasta tersenyum pada Adisti, “Alhamdulillah, Adisti bisa mengingat semuanya.”
Bramasta menatap Agung yang duduk di samping ayahnya, “A Agung, hapunten.. Aa tidak keberatan kan saya menikahi Adisti? Tidak keberatan dilangkahi oleh Adisti?”
Agung tersenyum, “Insyaa Allah tidak. Aa selalu berharap yang terbaik untuk Adek. Terimakasih sudah mempersunting Adek. Semoga kalian selalu bahagia hingga jannah nanti.”
Ayah menepuk-nepuk punggung Agung. Adisti tersenyum haru menatap kakaknya.
“Apa yang membuat Nak Bramasta ingin mempersunting Neng Adis? Padahal belum lama kenal dengannya?” tanya seorang ibu tetangga.
“Neng Adis?” tanya Bramasta.
“Itu pangilan Neng Adisti di lingkungan rumah, Nak. Kami mengenal Neng Adis dari semenjak dia kecil. Dari kecil dia selalu manis, solehah, ramah dan suka membantu siapa saja. Kami sebagai orang yang tahu bagaimana Neng Adis dari kecil, beranjak remaja hingga dewasa seperti sekarang ini sangat bersyukur dan ikut senang melihat Neng Adis disunting oleh pria baik, dewasa, bertanggung jawab dan soleh seperti Nak Bramasta,” Ibu itu menjelaskan, ibu-ibu yang lain bergumam menyetujui kata-kata ibu tadi.
“Waduh, ge er nih saya Bu..” Bramasta tersenyum, “Saya percaya jodoh kita sudah diatur Allah. Walau sudah kenal lama sekalipun tetapi kalau memang tidak berjodoh ya nggak bakalan jadi. Begitu juga sebaliknya. Walau baru kenal, tapi Allah menetapkan dia jodoh kita, ya dia gak bakal jauh-jauh dari kita. Saya harap dan terus berdo’a, agar kami memang berjodoh. Jodoh yang sebenarnya, hingga jannah nanti.”
“Masyaa Allah… bisa meleleh nih hati,” celetuk seorang ibu.
“Udah, Nak Bramasta.. udah. Kita bisa diabetes semua nih di sini. Kata-katanya manis banget…” suasana riuh lagi dengan gelak tawa dan saling melempar candaan.
Bramasta berdehem lagi, “Untuk biaya acara nanti, saya berharap kedua orangtua saya dan kedua orantua Adisti untuk mengikhlaskan saya membiayai keseluruhan acara. Sudah cukup banyak pengorbanan para orangtua untuk mendidik dan membesarkan kami dengan penuh kasih sayang. Kami memang tidak bisa membalas pengorbanan orangtua kami karena kasih sayang orangtua itu tak terhitung banyaknya.”
Mommy berdiri menghampiri Bramasta. Memeluk erat sambil mencumi kepala Bramasta yang merunduk. Layla ikut berdiri memeluk adiknya. Daddy menyusut air mata dari sudut matanya.
“Bang Leon, j’ai d’abord emprunte Kak Layla,”_aku pinjam Kak Layla dulu ya_ Bramasta menggunakan bahasa Perancis sambil mengedipkan mata pada Bang Leon. Leon mengangguk sambil tersenyum lebar. Layla memukul gemas lengan Bramasta.
“Loh, Abang Bule ini gak bisa Bahasa Indonesia?” tanya salah satu bapak tetangga.
“Bisa.. Basa Sunda juga bisa,” kata Daddy, “Lereus teu, Leon?”
“Sumuhun, Dad,” Bang Leon menjawab dengan senyum di wajahnya, “Sok mangga bade naroskeun naon deui, Bapak-Bapak?”
Suara tawa terdengar lagi di tengah keharuan.
Indra geleng-geleng kepala, “Om, nanti bikin grup lenong keluarga aja ya. Udah pas tuh formasinya.”
“Iya, nanti kamu jadi bintang tamunya ya,” kata Daddy.
“Ajakin Anton juga tuh, Om. Tadi di depan disangkain oppa Korea, mirip Taehyung, katanya..”
Gelak tawa makin riuh. Para tetangga geleng-geleng kepala. Keluarga calon besan Pak Gumilar luar biasa banget, kata mereka. Dan suasana lamaran jauh dari kesan formal dan kaku. Latar belakang keluarga yang luar biasa tapi pribadi anggota keluarganya santun dan membumi.
Tepat pukul 22.00, keluarga Sanjaya pamit mohon diri. Iring-iringan mobil berlalu. Rumah Keluarga Gumilar masih dipenuhi tetangga. Kue-kue hantaran Keluarga Sanjaya dibagikan kepada tetangga. Ibu-ibu terkagum-kagum dengan kotak dan isi hantaran. Mereka sibuk berfoto dengan hantarannya. Bunda dan Adisti hanya tersenyum melihat tingkah mereka.
Saat malam makin larut, mereka berkumpul semua di ruang tengah yang sudah dibereskan seperti semula lagi. Adisti menyandar pada lengan kakaknya.
“Hatur nuhun, A..”
“Yang bahagia ya Dek.. Allah Maha Adil dan Pemurah, menggantikan calon suami Adek dengan orang yang lebih baik dari sebelumnya. Bahkan keluarganya pun lebih baik daripada keluarga sebelumnya.”
“Alhamdulillah…” kata Bunda.
“Semua ada hikmahnya,” kata Ayah.
“Sudah.. sudah.. ambil wudhu semua terus bobo. Nanti kesiangan lagi..” kata Bunda.
Pukul 05.12, gawai Adisti berdering. Panggilan masuk dari Bramasta. Adisti menekan tombol loud speaker setelah mengecilkan volume suara terlebih dahulu.
“Assalamu’alaikum Disti..”
“Lagi apa?”
“Baru selesai mengaji, ini mau bobo lagi. Ngantuk.”
“Eh, jangan bobo lagi. Temenin Abang ya ngobrol.”
“Ngantuk, Bang..”
“Emang semalam sampai jam berapa?”
“Hampir jam 3 pagi baru masuk kamar..”
“Langsung beres-beres?”
“Iya, dibantu tetangga. Tetangga heboh semua..”
“Tetangga di sana baik-baik semua ya orangnya.”
“Kan udah kenal lama, Bang.”
“Nama panggilan kamu banyak ya..”
“Cuma Abang yang manggil Disti.”
“Artinya Abang itu spesial ya?”
Adisti tertawa lirih, “Bang, Abang beneran belum pernah pacaran?”
“Kenapa gitu?”
“Kok jago ngegombal?”
“Isssh.. Disti hari ini mau kemana?”
“Gak tau. Kayaknya gak kemana-mana. Paling hari ini di rumah aja, ngehubungin keluarga besar.”
“Disti ingin seperti apa resepsi nanti? Konsepnya bagaimana?”
Disti terdiam. Déjà vu. Merasa pernah mendapat pertanyaan seperti ini tetapi dari orang yang berbeda dan kenyataan yang berbeda. Dahulu, dia pernah mengungkapkan keinginannya, pesta pernikahan impiannya, tapi dipotong oleh calon mertuanya dengan alasan kampungan, tidak sesuai dengan selera dan citra mereka.
“Disti?” Bramasta memanggil, “Abang salah ya?”
Disti masih terhanyut lamunannya.
“Abang vicall ya,” Bramasta mengubah panggilan suara menjadi panggilan video.
Disti tersentak melihat tampilan layar berubah, menjadi panggilan video. Ditariknya bedcover menutupi kepalanya. Menekan gambar kamera video pada layar, ada Bramasta yang sudah rupawan sepagi ini. Mengenakan Tshirt biru muda, bersandar pada kursi.
“Disti kedinginan?”
“Nggak. Terus kenapa selimutnya ditarik sampai kepala begitu?”
“Gak pake kerudung, Bang. Boleh ya, ngobrol sambil tiduran begini. Ngantuk..”
“Bobonya nanti aja, ya. Agak siangan dikit. Ngobrol yuk. Abang pengen ngobrol banyak dengan Disti.”
“Ya udah, Disti pakai kerudung dulu ya,” Adisti membalikkan kamera handphone agar wajahnya tidak muncul di kamera. Sayangnya, Adisti lupa, ada cermin di depannya. Bayangan dirinya yang sedang memakai kerudung terlihat jelas oleh Bramasta.
Bramasta menatap layar handphonenya tanpa kedip. Bengong menatap Adisti yang tengah menyisir rambut panjangnya dengan tangannya untuk diikat asal sebelum memakai kerudung, lehernya yang putih, garis leher piyama yang dipakainya terekam jelas oleh Bramasta. Rambutnya panjang, hitam dan indah walaupun terlihat pitak di beberapa tempat.
[Ya Allah, aku harus beristighfar atau harus mengucap hamdalah? Masyaa Allah, cantik banget..]
“Bang? Kok bengong?” tanya Adisti.
“Nggak bengong kok, nungguin Cantiknya Abang pakai kerudung..”
“Mulai lagi deh gombalnya..”
“Pertanyaan Abang tadi belum dijawab..”
“Terserah Abang aja. Disti gak punya konsep-konsepan Bang. Yang penting ijab kabulnya lancar.”
“Disti, ini kan bukan cuma Abang saja yang menikah. Kita looh..”
“Disti ngikut Abang aja.”
“Kok ngikut Abang?”
“Selera Disti kampungan, Bang.”
“Kata siapa?”
“Kata Ibunya Tiy..”
“OK, Abang ke situ sekarang ya. Jangan tidur lagi. Langsung mandi ya. Assalamu’alaikum,” Bramasta memutuskan panggilan videonya.
Adisti terpana di depan layar handphone. Hatinya mencelos.
“Wa’alaikumussalam.”