
“Kamu selalu mengunci kamar kamu kan?”
Adinda mengangguk.
“Jangan sampai kamu hanya berdua saja di rumah bersama teman laki-laki Ibu kamu itu ya,” Agung menatap Adinda, “Hari ini Ibu kamu pergi lagi?”
“Gak tahu Om. Saya gak ngobrol dengan Ibu semalam. Saya risih dengan tatapan teman laki-laki Ibu..”
Agung menghela nafas. Matanya beradu pandang dengan Ayah.
“Warga sekitar gak ada yang protes tentang teman lak-laki Ibu Adinda?” tanya Ayah sambil menghampiri mereka berdua.
“Protes sih sepertinya nggak, Yah. Hanya waktu itu ada beberapa tetangga yang pernah menanyakan pada Adinda tentang teman laki-laki Ibu,” Adinda berusaha mengingat.
“Adinda jawab apa?” tanya Ayah.
“Saya jawab apa adanya saja, Yah. Saya ataupun ayah tidak mengenal dengan teman laki-laki Ibu. Dan mereka tidak ada hubungan kerabat sama sekali.”
“Ada kelanjutan dari tetangga tersebut?”
“Sepertinya ada yang menanyakan langsung pada Ibu. Itu sebabnya sepanjang hari Ibu uring-uringan sambil beberapakali menyebut nama dan memaki tetangga tersebut di rumah.”
Ayah menghela nafas panjang.
“Antarkan Ayah bertemu dengan Pak RT dan tetangga di sana ya?”
“Kapan Yah?”
“Petang ini juga?”
“Ayah serius?” tanya Agung.
Ayah mengangguk, “Lebih cepat lebih baik supaya masalah ini tidak berlarut-larut.”
“Kamu punya nomor Pak RT? Tanyakan malam ini dia ada di rumah tidak.” Agung memandang Adinda.
Adinda mengangguk. Dia mengambil gawainya. Sementara Agung juga menulis pesan di WAG Kuping Merah tentang Ayah yang hendak berbicara langsung kepada Pak RT dan tetangga.
***
“Assalamu’alaikum,” Adisti menongolkan wajahnya di pintu.
“Wa’alaikumussalam..” Bunda yang sedang berada di pantry langsung menengok ke arah pintu.
Adisti masuk diikuti oleh Bramasta dan Indra. Langsung menyalimi Ayah dan Bunda juga Agung. Bramasta dan Indra hanya ber-hi five dengan Agung.
Adisti memeluk Adinda.
“Adinda gak apa-apa sewaktu pulang dari sini?” tanya Adisti.
Adinda menggeleng sambil tersenyum.
Agung menceritakan apa yang terjadi saat Adinda pulang seperti yang tadi diceritakan oleh Adinda. Adisti menatap Adinda dengan wajah prihatin.
“Gue tadinya hanya mau nge-drop Bram dan Adisti saja terus balik ke kantor. Tetapi karena chat lu barusan di WAG, gue jadi mampir dulu ke sini,” Agung duduk di kursi samping bed.
“Ayah mengkhawatirkan Adinda,” Agung berkata pelan.
“Abang juga, Kakak Ipar. Apalagi setelah baca chat Kakak Ipar di WAG. OK, kita percepat saja pasang kamera penyadapnya. Kalau malam ini rumahnya kosong, kita pasang malam ini juga. Bagaimana?” Bramasta berbicara dengan suara pelan.
“Teamya Bang Hans ready gak?” tanya Agung.
“Kayaknya setelah Lu cerita, Hans pasti langsung menghubungi teamnya,” Indra menyandarkan pugggungnya.
“Abang dan Disti akan mendampingi Ayah nanti berbicara dengan Pak RT dan tetangganya.”
Agung mengangguk.
“Besok gue ingin mulai kerja lagi. Gue boring banget di sini. Nothing to do.”
Indra dan Bramasta saling berpandangan.
“Bukannya nothing to do, Gung. Lu memang masih dalam masa pemulihan. Nikmati sajalah. Anggap saja sedang liburan,” Indra menatap Agung.
“Gue bisa, gue sudah siap kerja lagi walaupun online. Ada beberapa proyek yang sedang gue garap di kantor,” Agung nampak bersikeras, “Tangan gue bisa dipakai untuk memakai laptop. Selama tangan kiri gue gak diangkat sejajar bahu, gue masih bisa kok.”
“Lu masih pakai obat penghilang nyeri jenis morfin?” tanya Indra.
Agung menggeleng.
“Pagi tadi, gue udah minta untuk menghentikan pemakaian obat itu. Minta diganti dengan obat peghilang nyeri yang biasa saja.”
“Kakak Ipar serius? Rasa sakit bekas operasinya bagaimana?”
“Aa masih bisa menahannya, Bang. Toleransi rasa sakit setiap orang itu berbeda. Mungkin Aa toleransinya sangat besar.”
Bramasta mendekat, “Beda jauh dengan Disti ya, A?” bisik Bramasta.
Agung terkekeh, “Si Adek mah kalau ada yang nemenin terus terluka, ngegoaknya kenceng banget. Tapi giliran sedang sendirian, mendadak tabah dan kuat.”
“Jadi begitu?” Bramasta mengangguk-angguk sambil terkekeh.
“Lu siap-siap Bram, kalau nanti Disti lahiran. Pasti bakalan penuh drama deh..”
“Gak usah nakut-nakutin, Ndra..” Bramasta menatap sebal pada Indra.
Agung tergelak.
“Makanya bantu bujuk ke Pak Dhani, ya. Abang Bram bantu bujuk Bang Hans juga ya.”
“Memangnya proyek apa sih?” Bramasta mendadak kepo.
“Penyederhanaan alur akuntingnya, supaya tidak lagi harus input data ataupun laporan yang sama berulang dan juga beberapa hal lainnya.”
“Lu bikin program?” Indra menaikkan kedua alisnya.
Agung mengangguk.
“Wah.. kira-kira bisa dikembangkan di B Group gak ya?” Indra menatap Bramasta, “Kita buat aplikasinya untuk kita jual. Seperti apk kita yang banyak didownload oleh pengguna di berbagai negara?”
Bramasta tampak berpikir.
“Bang Hans bakal ngamuk-ngamuk ke Lu..” Agung terkekeh.
“Gak bakal. Sanjaya Group gak main di bisnis software digital seperti B Group.”
“Jadiin dulu proyeknya, nanti kita lihat,” Bramasta tampak berpikir, “ Kalau sekiranya itu bisa dikembangkan untuk dijadikan aplikasi baik untuk android ataupun PC, why not. Basicnya dari program yang Kakak Ipar buat, pengembangannya nanti oleh timnya B Group. Don’t worry, Kakak Ipar akan mendapatkan royalty begitu pula Sanjaya Group.”
“OK. Jadi makin semangat nih. So, Bang Bram dan Bang Indra jadi ya bantuin bujuk mereka?”
“Assalamu’alaikum..” Hans melongokkan wajahnya di pintu.
Semuanya menjawab salam Hans.
“Panjang umur Lu, Hans,” kata Indra.
“What’s up? Kalian ghibahin gue ya?”
“Gegabah banget kalau ngomong. Su’udzon mulu nih..” Bramasta menyikut Hans.
Indra menceritakan semuanya. Hans mendengarkan sambil mengernyitkan dahinya.
“Are you sure?” akhirnya Hans bersuara setelah beberapa saat terdiam.
“Absolutely sure..” Agung mengangguk yakin.
“Meetingnya by zoom dengan baju pasien, Kakak Ipar?”
“Gak apa-apa kan?” Agung menyengir.
Semuanya tertawa.
“Khususon buat Lu Gung. Dimaklumi.”
“Pak Dhani bagaimana?” tanya Agung.
“Gampanglah.. lagipula Babeh kelimpungan gak ada Lu,” Hans terkekeh, “Babeh udah terbiasa dengan Lu dan kinerja Lu, Gung.”
“Babeh?” mereka bertiga kompak keheranan.
“Sepertinya semalam Pak Dhani merasa gak enak hati, Tuan dan Nyonya Al kita panggil Daddy dan Mommy, Bapak dan Ibu Gumilar kita panggil Ayah dan Bunda. Cuma Pak Dhani dan istri yang kita panggil Om dan Tante..” Hans terkekeh.
“Bujubune.. Babeh,” kata Indra, “Mami dipanggil MakNyak dong?”
“Betawi banget..” Agung terkekeh.
“Pure Depok,” Bramasta ikut terkekeh.
“Jadi bagaimana petang nanti?” tanya Hans.
Bramasta menceritakan lagi rencananya. Hans mengangguk setuju. Teamnya kapanpun siap, katanya.
Gawai Hans berdering. Hans mengerutkan keningnya ketika membaca nama yang tertera pada layar.
"Assalamu'alaikum. Ya, ada apa?” Jeda.
“Siapa?” Jeda.
Hans menatap Agung sambil mendengarkan lawan bicaranya di teleponnya.
“Sebentar, saya konfirmasi dulu ke Pak Agung,” kata Hans.
Bramasta dan Indra menatap heran pada Hans.
“Gung, Lu kenal orang yang bernama Virgo?”
Agung mengangguk, “Dia manajer gerai donat tempat TKP Adinda dibully.”
“OK..”
Hans berbicara dengan orang yang meneleponnya, “Antarkan ke atas.”
Hans masih mendengarkan.
“OK. Wa’alaikumussalam.”
Hans mengakhiri panggilannya.
***
Masih ingat Virgo?
Manager on duty saat Adinda diselamatkan Agung dari para berandalan?