
“Jadi, proposal Disti bagaimana, Bang?” tanya Adisti sambil berusaha menyamakan langkah kaki suaminya yang panjang-panjang.
Bramasta terkekeh. Adisti mengetatkan pelukannya pada lengan suaminya.
“Presentasi Disti bagaimana, Bang?”
Bramasta tergelak sambil mengacungkan kedua jempolnya.
“The best! Sering-sering aja presentasi ke Abang, ya...”
“Halaaah nanti sebelum presentasi dijutekin lagi, Disti harus menghadapi kulkas jadul lagi..”
Bramasta menghentikan langkahnya. Menghadapkan tubuhnya pada istrinya lalu merengkuh erat, dagunya diletakkan pada kepala istrinya.
“Ma’af.. Abang minta ma’af, Sayang. Yang sabar menghadapi Abang ya. Abang sedang belajar untuk menjadi suami yang baik bagi Disti. Bantu Abang ya. Selalu ingatkan Abang..”
Adisti tersenyum. Membalas pelukan suaminya.
“Manis banget sih suami aku..”
“Awas.. jangan sebut-sebut si sholeh lagi!”
Adisti mendongak menatap suaminya. Tersenyum 3 jari hingga makin lebar senyumnya seelum akhirnya terbahak. Suaminya mencebik.
Mereka sampai di depan ruangan Indra. Pintunya terbuka. Dari luar terdengar lagu old memories. Daddy tampak bersenandung bersama Mommy sementara Indra sedang fokus menatap layar laptopnya.
“Assalamu’alaikum..”
Mereka yang ada di dalam menengok ke arah pintu sambil menjawab salam. Bramasta dan Adisti langsung masuk menyalimi Daddy dan Mommy
Semua menatap Bramasta dan Adisti silih berganti. Indra mengerutkan kening. Mommy bahkan sampai memegang lengan atas Adisti lalu memperhatikan wajah menantunya dari jarak dekat.
“Sayang.. kamu gak kenapa-napa kan?” Mommy berkedip cepat.
“Bram gak bikin kamu sakit hati kan?” jeda sejenak setelah menatap Bramasta dengan tatapan jutek, “OK.. Mommy tahu dia akan bertindak yang menyakiti perasaan kamu. Tapi please jangan dimasukkan ke dalam hati ya..”
Adisti menatap suaminya. Lalu menatap Indra yang tengah tersenyum lebar ke arahnya. Adisti akhirnya tersenyum menatap Mommy sambil mengangguk.
“Gak apa-apa Mom. Disti gak kenapa-napa. Disti tahu, kami masih sama-sama belajar untuk saling mengenal. Saling menerima kelebihan dan kekurangan masing-masing..”
Mommy dengan cepat memeluk Adisti.
“Masyaa Allah... Bram, dengar nih.. istri kamu baik banget seperti ini.”
“Ayo duduk dulu semuanya,” kata Daddy.
Daddy menatap Bramasta dengan tatapan intens.
“Son, seharusnya kamu menyadari istri kamu itu seorang yang berpikir secara impulsif dan kompulsif secara bersamaan.”
Bramasta menatap Daddy dengan kening berkerut.
“Sebagai seorang seniman, dia akan menjadi impulsif dalam artian baik, bukan impulsif destruktif ya. Tapi secara bersamaan, dia tahu apa yang dia lakukan. Terorganisir dengan baik di sini,” Daddy menunjuk pada kepalanya.
Bramasta menggosok cuping hidungnya dengan ujung telunjuk, “Bram baru ingat saat kita meeting di Sanjaya Group, saat Adisti masuk membawa mendoan. Disti meminta ijin untu berbicara saat peresmian The Cliff kepada wartawan tentang Rita Gunaldi. Dia meminta kita agar dia sendiri yang akan mengatasi Rita Gunaldi. Tetapi saat ditanya apa yang akan hendak dia lakukan, Disti menolak membeberkannya.”
Daddy mengangguk, “Bahkan Tuan Armand langsung menyetujui gagasan Disti.”
Bramasta langsung memiringkan duduknya agar bisa berhadapan dengan istrinya. Dia meraih jemari istrinya lalu menciumi telapak dan punggung tangannya.
“Ma’afkan kekhilafan Abang, ya..”
“Udah dong, Bang. Dari tadi minta ma’af terus..”
“Menyesal rasanya sudah buat istri Abang ini sedih..” dia menghujani kepala isttrinya dengan kecupan.
Indra mencibir setelah sebelumnya sebelah alisnya terangkat.
“Jadi, tadi kalian sedang ngapain saat Daddy tadi di luar kantor kamu, Son?”
“Ng.. itu..tadi..” Bramasta dan Adisti saling berpandangan. Bingung.
Keduanya kemudian terdiam untuk berpikir.
Daddy dan Mommy menunggu jawaban mereka dengan alis terangkat.
Bersamaan mereka menjawab dengan ekspresi berbeda.
“Sedang presentasi,” jawab Adisti dengan wajah tegang.
“Sedang ikhtiar,” jawab Bramasta dengan senyum di wajahnya.
Adisti menatap suaminya dengan heran. Bramasta hanya memberikan cengirannya. Mommy dan Daddy mengerutkan kening. Indra langsung menutupi wajahnya dengan sebelah tangannya.
“Tadi.. Disti sedang presentasi ke Abang Bram tentang proposal proyek fashion..” Adisti terbata.
Mommy memalingkan wajahnya menghadap Bramasta yang bertahan dengan cengiran di wajahnya.
Adisti menoleh cepat pada suaminya dengan mata membulat.
“Jadi Disti presentasi sambil bikin cucu untuk Daddy dan Mommy?” Mommy terkesiap.
“Untuk Ayah dan Bunda juga, Mom..” Bramasta meralat ucapan Mommy.
Daddy menggeleng-gelengkan kepalanya. Indra langsung berdiri dari kursinya. Tangannya terangkat di samping kepalanya, menyerah.
“Gini amat nasib jomblo...” kakinya melangkah keluar dari lingkup meja kerjanya.
“Mommy cariin ya buat kamu, Ndra..”
“Ogah. No, thanks, Tante. Biar Indra cari sendiri,” Indra melambaikan kedua telapak tangannya pada Mommy.
“Memangnya mau kamu cari dimana?” tanya Mommy.
“Di mall, Mom. Siapa tahu aja ketemu..”
”Dih!” Mommy mencibir.
“Teringat kalimat Disti tentang jodoh kamu, Ndra,” Daddy ikut bicara, “Bagaimana kalau ternyata jodoh kamu itu janda?”
Indra dan Bramasta saling berpandangan dengan alis terangkat.
“Kenapa?” tanya Daddy.
Indra yang tadinya hendak melarikan diri ke kafetaria segera mengambil tempat duduk di sofa.
“Ceritain aja, Ndra. Siapa tahu Daddy atau Mommy bisa bantu..” kata Bramasta sambil mengambil botol air mineral di hadapannya.
“Memangnya ada apa sih?” Daddy penasaran.
Indra mengusap tengkuknya yang tiba-tiba terasa merinding. Lalu mulai menceritakan semuanya. Mommy tampak sangat tertarik dengan mimpi Indra. Daddy menyimak perkataan Indra. Hanya Adisti yang terlihat biasa saja.
“Kalau benar mereka bakal jadi anak-anak kamu, berarti kamu berjodoh dengan janda beranak dua, Ndra..” Mommy berkata sambil menerawang.
Indra mengangguk.
“Mommy yakin, kalau Pak Dhani sih tidak masalah dengan siapapun jodoh kamu.. tapi Mommy gak yakin dengan Bu Dhani. Mengingat kamu adalah anak semata wayang mereka.”
Indra terdiam. Matanya terpekur. Dia tidak memikirkan hal itu sebelumnya. Bramasta menatap iba pada sahabatnya.
“Kalem aja, bro, Gue bakal bantuin Lu buat meyakinkan Om dan Tante Dhani siapapun jodoh Lu,” Bramasta membesarkan hati Indra.
“Tapi itu kan baru mimpi. Indra juga belum bertemu dengan anak-anak tersebut..” Daddy menengahi.
“Kalau mimpi itu berlanjut lagi baru deh kamu harus memikirkan hal selanjutnya..” kata Daddy menambahkan lagi.
“Perlu dua kali mimpi lagi untuk bisa bertemu dengan anak-anak tersebut, Bang.”
Semua menoleh pada Adisti sekarang. Menatap bertanya sekaligus heran.
“Eh?! Apa?? Kenapa kalian memandang Disti seperti itu?” Adisti terperangah.
“Ah.. mulai lagi deh ni bocah..” Indra mengeluh sambil menatap Bramasta yang mengangkat kedua bahunya.
“Sama saja artinya dengan tungguin saja mimpi Lu bakal datang lagi atau nggak,” Bramasta menggenggam tangan istrinya.
“Assalamu’alaikum..”
Serentak mereka semua menengokkan kepalanya ke arah pintu masuk. Begitu tahu siapa yang datang semuanya terperangah.
“Kok Lu ke sini sih?” Bramasta memperhatikan dari atas hingga bawah.
“Kenapa? Memangnya gak boleh?”
“Kaget kita Bang. Mau ngapain?” tanya Adisti.
“Kalian anterin gue ke CIlilin ya, berobat di ahli tulang Cimande..”
“Setdah!” Indra menggigit bibirnya.
Sementara Daddy dan Mommy sudah terbahak keras hingga berurai air mata.
***
Siapa tuh yang baru datang terus minta dianterin ke ahli tulang tradisional Cimande?
Catatan Kecil:
Kepribadian Impulsif adalah kepribadian yang mempunyai dorongan untuk melakukan sesuatu berdasarkan insting, tindakan dan keputusan yang diambil tidak terencana.
Kepribadian Kompulsif adalah kepribadian dengan dorongan untuk melakukan sesuatu berdasarkan intuisi, tindakan dan keputusan yang diambil terencana dan terorganisir.