CEO Rescue Me!

CEO Rescue Me!
BAB 242 – TAK BISA MENAHAN DIRI



Agung menyalakan TV swasta nasional. Sepertinya tayangan breaking news. Seorang humas instansi tersebut tengah menjelaskan kronologi insiden pengemudi ojol yang tewas terlindas iring-iringan mobil pejabat.


“Jadi sebenarnya, pengemudi ojol tersebut tiba-tiba membelokkan kendaraannya ke jalur iring-iringan. Sedangkan iring-iringan tersebut melaju dengan kecepatan tinggi, Tidak bisa menghentikan laju kendaraannya dengan tiba-tiba. Posisi pengemudi ojol tersebut juga berada dalam titik buta kendaraan terdepan dari iring-iringan tersebut,” pejabat itu tersenyum.


“Sayang sekali CCTV jalan di TKP sedang rusak jadi tidak bisa meliaht kronologinya secara jelas. Video yang beredar di medsos juga tidak ful, hanya terlihat sesudah peristiwa terjadi. Kita tidak bisa menghakimi sesuatu dari video yang tidak utuh,” pejabat tersebut tersenyum lagi.


Daddy menunjuk TV dengan gemas.


“Big 8ull$h1ttt!”


Semua menatap Daddy dengan mata melebar dan melongo.


“Eh, ma’af. Saya kelepasan..”


Ayah menepuk-nepuk punggung Daddy sambil terkekeh.


“Sama, saya juga ingin berkata kasar mendengar dia berbicara seperti itu.”


“CCTV rusak??!” Leon menunjuk pada layar proyektor, “Terus yang tadi kita tonton itu apa?”


“Ton, Lu udah sedot semuanya kan?” Indra ingin meyakinkan dirinya, “Gue yakin, rekaman CCTV yang ada sekarang ini dimusnahkan.”


Iklan berakhir. Tayangan dilanjutkan. Sepertinya saat iklan, ada wartawan yang bertanya tentang siapa pejabat yang dikawal mobil Barakuda itu.


Pejabat humas itu tampak berusaha mengulur waktu dengan terkekeh.


“Tentu saja orang penting. Pejabat penting yang mempunyai urusan mendesak sehingga harus dikawal sedemikian rupa agar sampai ke tempat tujuan dengan aman dan tepat waktu.”


“Aman bagi pejabat tersebut tetapi tidak aman bagi pengguna jalan lainnya ya Pak?” seorang wartawan yang berani mengomentari langsung.


Pejabat tersebut langsung berhenti terkekeh. Dia menatap tajam pada wartawan yang tadi mengomentarinya.


“Anda tahu tentang peraturan di jalan raya tidak? Tentang iring-iringan pengawalan pejabat? Anda pelajari SOPnya tidak?!” matanya melotot memandang wartawan tadi, bicaranya berapi-api.


“Tapi sampai ada korban jiwa loh Pak. Mereka bahkan tidak ada yang berhenti untuk melihat keadaan korban,” seorang wartawan lain tanpa takut ikut mengomentari.


“Jangan asal bicara ya kamu! Dari media mana kamu??!” wajah pejabat tersebut memerah, tangannya menuding, “Kalau tidak tahu SOP, lebih baik diam. Tidak usah ikut mengomentari dan memperkeruh masalah! Tentang pengemudi ojol yang meninggal, sudah saya sampaikan di awal tadi, kami turut berdukacita. Tentang kematiannya, itu karena sudah takdirnya!!”


Seorang petugas berseragam menarik tubuh pejabat itu ke belakang. Dari pangkat yang ada pada pundaknya, dia juga dari kalangan perwira. Dia mengambil alih sesi wawancara.


“Ma'af rekan-rekan wartawan, sesi wawancara ini kita akhiri sampai di sini. Kepada keluarga korban, kami sampaikan dukacita sedalam-dalamnya. Kami akan memberikan santunan yang layak kepada keluarga yang ditinggalkan. Kami harap peristiwa ini tidak terjadi lagi,” tubuh jangkung perwira itu dibungkukkan saat selesai berbicara. Lalu berbalik ke dalam ruangan di belakangnya sambil menggamit lengan rekannya yang tadi berbicara.


Agung mematikan TV melalui remote.


“Apakah dia tidak sadar sedang berada di acara live? Memalukan sekali..”


Indra membuka medsos burung biru, kemudian terkekeh.


“Langsung dibahas di burung biru.. Netizen +62 memang luar biasa.”


“Pasti pejabat itu habis dimaki-maki oleh atasannya,” Anton ikut memeriksa burung biru dari gawainya.


“By the way, pejabat yang tadi ditelepon oleh Raditya, diamuk dan dimaki oleh Tuan Thakur karena menyuruhnya pulang tapi perwira yang meminta menemuinya tidak kunjung datang,” Hans memandang semuanya dengan senyum lebar.


“Kita jadikan tampil malam ini ya. Krusial banget soalnya. Ini menyangkut nyawa pengemudi ojol yang tak dianggap oleh mereka,” Bramasta mengambil botol air mineral mini di atas meja.


“OK. Sepertinya kita bagi beberapa segmen ya. Tidak mungkin kita tampilkan semuanya sekaligus. Durasinya terlalu lama juga bahasannya berbeda,” Hans akhirnya mengambil stoples keripik singkong lalu meletakkan di atas pangkuannya.


Indra mengangguk setuju, “Malam ini, bahas kejadian aktual hari ini saja. Judulnya kita buat menarik simpati masyarakat: Tribute To Taxibike Driver. Tulang punggung keluarga yang nyawanya tidak dihargai atas nama SOP.”


“Wah.. PR Raditya pasti bertambah karena tayangan nanti,” Hans menatap Indra yang mengangkat kedua bahunya.


“Kenapa?” Hans menatap Bramasta heran, “Lu mau juga?”


Anton yang tengah menulis mendadak mendongak, melihat Hans dan Bramasta bergantian.


“Nggak.. gue cuma heran aja lihat Lu, Hans. Dari tadi ngegiling melulu tuh mulut. Baby Andra mau punya adik?”


“Eh??” Hans berseru kaget lalu menatap keripik yang tinggal beberapa keping lagi dalam stoples, “Ini enak banget tahu. Gak bisa berhenti makannya..”


Ayah tertawa mendengar ucapan Hans.


“Hans.. Hans.. Lu yang biasanya jaim, dingin dan selalu menahan diri begitu ketemu keripik singkong langsung lupa diri..” Daddy menggelengkan kepalanya.


“Seperempat Italia menyerah dengan citarasa keripik singkong rasa original,” Agung terkekeh keras.


“Eh beneran loh Gung, ini enak banget. Beli dimana?”


“Di Mang Sardi. Kalau sore dia mangkal di depan sampai malam.”


“Dijual di gerobak?” alis Hans terangkat heran.


Agung mengangguk, “Goreng di gerobaknya juga. Apalagi saat masih hangat dimakannya, wuihhhh mantap!”


Leon menatap stoples berisi keripik singkong di depannya. Tangannya membuka penutup dan langsung mengambil beberapa keping. Kepalanya mengangguk-angguk.


“Original. Enak. Garing tapi empuk,” lalu memandang Agung, “Jam segini sudah buka belum?”


Agung melirik arlojinya.


“Bentar lagi Bang.. Mau bawa buat Abah dan Maman juga?”


Leon menyengir malu lalu mengangguk.


“Ya sudah nanti biar Bunda aja yang ke depan,” kata Ayah.


“Eh, jangan Yah. Kasihan Bunda. Malah merepotkan,” sergah Leon menatap Ayah.


“Gak apa-apa. Bunda malah hepi kok kalau ke depan komplek. Banyak jajanan.”


“Jadi ingin ikut...” Leon menyengir lagi.


“Laaah kebiasaan Lu Bang. Lihat jajanan langsung bawaannya jajan mulu. Gak peduli kalau duit di dompet sudah ludes, sampai duit receh parkiran di dashboard mobil pun diambil...” Indra menatap Leon dengan gemas saat mengenang aksi Leon yang mendadak ngotot ingin es goyobod di Cililin.


“Masih ingat aja Lu, Ndra..”


“Ya iyalah. Gue trauma, Bang.. trauma jalan sama Lu. Makanya keingetan terus tuh,” Indra mendramatisir kalimatnya.


“Lebay lu Ndra. Buruan merid, ntar kalian honeymoon di Singapura, gue yang traktir,” Leon terkekeh menatap Indra.


“Catat ya.. catat nih ucapannya Bang Leon.”


“Gak usah dicatat, Ndra. Kita semua dengar kok. Jadi saksi,” Bramasta terkekeh.


“Udah intermezonya? Lanjut lagi gak nih rapatnya?” Hans meletakkan stoples yang sudah kosong ke atas meja, “Sampai mana tadi?”


.


***


Tuh kan Author jadi pengen keripik singkong original yang dijual di gerobak.. 😁