
Asisten sekretaris Hans keluar dari ruangan. Dia memandang pada Kinanti.
“Nona, silahkan masuk,” tangannya menahan pintu untuk gadis yang tengah berdiri dan merapikan rok hitamnya.
“Terima kasih,” Kinanti mengangguk lalu berjalan memasuki ruang kerja Hans.
Saat dirinya memasuki ruangan Hans, asisten menutup pintu tanpa bersuara. Dia tidak meninggalkan ruangan, pria muda itu mengarahkan Kinanti untuk duduk di kursi yang berada di depan meja kerja Hans. Kemudian ia berdiri tegak di belakang Kinanti.
Hans masih menandatangani berkas.
“Tuan Alwin sudah datang?” tanyanya sambil meletakkan berkas di atas meja lalu memandang asistennya.
“Belum, Tuan. Drivernya memberi kode kemacetan parah di Simpang Lima.”
“OK.. Let me see..” Hans memicingkan mata di depan laptopnya lalu mengangguk. Lalu menatap ke arah Kinanti yang memandanginya dengan takut-takut.
“Kamu dari divisi accounting?”
“Iya Tuan..”
Hans menatap Kinanti sekilas dengan tajam lalu berdehem.
“Saya memanggil kamu kesini bukan karena alasan pekerjaan. Tapi untuk alasan pribadi.”
Kinanti masih menunggu kelanjutan kalimat Hans dengan jemari saling meremat.
“Ini tentang Adinda..”
“Adinda??” dahi Kinanti berkerut, “Adinda yang katanya sebagai calon istrinya Pak Agung yang masih SMA itu, Tuan?”
Hans menatap agak lama. Menilai dan mempelajari wajah Kinanti. Hans mengerutkan keningnya. Mengapa semakin melihat wajah Kinanti dia jadi teringat dengan seseorang, entah siapa dia lupa lagi.
Dipandangi seperti itu membuat Kinanti bergidik ngeri tetapi juga tersipu-sipu.
[Jangan-jangan, Tuan Hans menaruh hati padaku...] Kinanti menunduk tersipu sambil menyelipkan rambut di belakang telinganya.
Pergerakan Kinanti menyadarkan Hans dari lamunannya. Dia tidak meyukai gestur tubuh Kinanti. Suara Hans berubah menjadi ketus dan sikapnya lebih dingin, menjaga jarak.
“Adinda memang calon istri Pak Agung,” Hans menyandarkan tubuhnya.
Kinanti merasa mendapat angin untuk bercerita.
“Hmmm begini Tuan.. kemarin Adinda berada di ruangan Pak Agung setelah mereka sebelumnya makan siang bersama diluar jam istirahat kantor, Tuan..”
“Oh ya?” Hans memiringkan wajahnya, terlihat seperti bersedia mendengarkan lebih jauh.
“Mmm itu.. Pak Agung kan orang baru di Sanjaya Group, mungkin Beliau belum tahu peraturan di kantor ini. Mungkin di kantor lamanya dibebaskan membawa orang dari luar ke dalam ruangannya. Apalagi status gadis iitu adalah calon istrinya...” Kinanti tersenyum kecil sambil menyelipkan lagi rambutnya di belakang telinganya.
“Lalu?” Hans menatap sepintas asistennya yang tengah tersenyum simpul di belakang Kinanti.
“Saya khawatir mereka berkencan di kantor, Tuan. Apalagi didahului dengan makan siang bersama..” suara Kinanti terdengar tidak segemetar sewaktu dia baru masuk ruangan. Senyumnya pun mengembang saat dia selesai lancar bercerita.
“Oh, begitu ya?” Hans mengambil gawainya lalu membuat panggilan telepon dan menekan tombol loudspeaker.
Suara remaja yang ceria terdengar di ujung sana.
“Halo assalamu’alaikum. Bang Hans, tumben nelepon.. Bang, mumpung Abang sedang ditelepon, sebentar lagi masuk nih Bang. Dinda mau nanya, Finlandia negara monarki bukan? Ibukotanya apa.. Dinda lupa lagi..”
“Wa’alaikumussalam. Ya Allah.. Dinda. Abang belum jawab salam aja kamu udah memberondong Abang dengan banyak pertanyaan seperti itu. Makanya belajar yang benar.”
“Bang Hans, plis lah.. Buruan, bentar lagi masuk nih.”
“Finlandia bukan negara monarki tapi republik parlementer. Ibukotanya Helsinki. Kamu sedang apa dan dimana sih?”
“Lagi di kantin Bang. Lagi makan gorengan...hhhhhh, Ya Allah, Bu.. rawitnya pedes banget sih.. hhhhh Airnya Bu.. jadi berapa?” terdengar suara ibu-ibu yang menjawab Adinda.
“Din.. hitung gorengannya yang benar loh,” Hans tertawa, “Jangan makan tiga ngakunya satu..”
“Dih, sorry lah yaw. Hhhhh pedes..” terdengar suara temannya yang memanggil menyuruhnya bergegas, “Bang Hans udah dulu ya. Dinda mau lari ke kelas. Salam untuk Baby Andra dan Mbak Hana. Ajak ke rumah lagi ya. Seru ada kalian. Assalamu’alaikum Bang Hans..”
Adinda sudah mematikan sambungan teleponnya tanpa menunggu jawaban salam dari Hans.
Hans menjawab salam Adinda sambil menatap gawainya dengan tersenyum lebar, [Benar kata Agung, dasar bocil..]
Senyum di wajah Hans lenyap dengan cepat saat memandang wajah cantik di hadapannya. Sekarang, Kinanti menatapnya dengan tatapan bergetar. Ekspresi panik terihat jelas di wajahnya.
“Adinda adik saya.”
“Mmmma’af Tuan. Saya tidak bermaksud untuk..”
Kemudian melanjutkan ucapannya, perubahan raut wajah Kinanti menjadi hiburan tersendiri bagi Hans. Dia tidak menyukai sikap nyinyir dan sok tahu yang cenderung memfitnah orang lain.
“Sanjaya Group tidak merekrut karyawan kaleng-kaleng apalagi memakai jalur katabelece. Bahkan meskipun Pak Agung baru saja mengalami musibah dia tidak menjadi cengeng dan manja dengan meminta cuti sakit yang lama. Kamu tahu sendiri kan dia mengikuti rapat dengan baju pasien di atas bed rumah sakit? Juga memeriksa laporan accounting mingguan dan bulanan tepat waktu kepada Tuan Kusumawardhani?”
Kinanti mengangguk gugup. Bibirnya terkunci. Jarinya saling meremat lagi.
“Pak Agung juga sudah menjadi seperti keluarga bagi saya. Tentang Adinda, walaupun dia masih berseragam SMA, tetapi dia berhak berada di gedung ini karena dia adalah putri angkat Tuan dan Nyonya Alwin Sanjaya juga Tuan dan Nyonya Kusumawardhani.”
Kinanti tersedak. Terbatuk-batuk lalu terdiam.
“Saya tidak mau kamu menghembuskan rumor yang tidak berdasar tentang Adinda atupun tentang Pak Agung,” tegas Hans berkata pada Kinanti yang menunduk membuat rambutnya menutupi separuh wajahnya.
“Sssaya ti..dak..”
“Bila saya atau orang-orang saya mendengar rumor tentang adik-adik saya, maka saya tahu darimana rumor tersebut berasal, “ Hans menukas ucapan Kinanti yang belum selesai.
“Satu lagi, tentang peraturan kantor, saya akan meminta karyawati Sanjaya Group yag tidak berhijab untuk merapikan rambutnya. Terutama karyawati yang berambut panjang seperti kamu. Ini kantor, atmosfirnya untuk bekerja sebagai team work, bukan sebagai sarana tebar pesona dengan menggerai rambut panjang, kibas sana-sini, sebentar-sebentar harus merapikan rambutnya... gunakan ikat rambut atau penjepit rambut untuk menjaga rambutmu tetap rapi. Jangan samakan kantor di dunia nyata dengan kantor di drakor ataupun Hollywood.”
Kinanti menunduk semakin dalam.
“Mengerti kamu?”
“Iiyaa Tuan..” suara Kinanti terdengar pelan.
“Kalau kamu merasa tidak setuju dengan aturan yang ada di Sanjaya Group, silahkan ajukan surat pengunduran diri. Perusahaan akan membayar semua pesangon dan gaji kamu dengan pantas.”
“Ssa..ya.. masih ingin bekerja di Sanjaya Group, Tuan..”
“Bagus. Patuhi peraturannya. Dan saya tidak mau perusahaan yang saya perjuangkan menjadi tempat ghibah ataupun beredarnya rumor-rumor yang tidak jelas,” Hans memicingkan matanya lagi memperhatikan raut wajah Kinanti sambil mengingat-ingat raut wajah siapa yang mirip dengan wanita itu.
“Satya,” Hans menatap asistennya.
“Ya Tuan Hans?”
“Kamu punya karet gelang? Berikan pada Nona ini.”
Satya berjalan menuju lemari dinding di samping kiri Kinanti. Mengambil folder dan melepas karet gelang yang mengikat salah satu dokumen di sana.
“Nona, silahkan pakai ini untuk mengikat rambutnya.”
Kinanti menerima karet gelang berwarna hijau itu dengan tangan bergetar. Lalu mengikat rambutnya secara sederhana. Dia menundukkan wajahnya lagi.
“Satya, antar Nona ini keluar. Pastikan aturan yang saya buat tadi beredar di seluruh divisi saat ini juga ya.”
“Baik Tuan Hans.”
Kinanti berdiri lalu membungkukkan badannya di depan Hans.
“Ma’afkan kelancangan saya sudah menjelek-jelekkan Adinda dan Pak Agung tadi, Tuan Hans. Sssaya berjanji tidak akan mengulanginya lagi...”
Hans mengangguk, “Ya..ya.. Jangan diiulangi lagi.”
Dia mengambil berkas lalu membukanya untuk memulai membaca isinya.
“Saya pamit. Terima kasih banyak, Tuan Hans..”
“Hmmm,” mata Hans tetap pada berkas yang ia baca.
Saat asistennya sudah menutup pintu ruangannya, Hans menyandarkan punggungnya. Bibirnya mencebik. Tangannya mengetuk meja dengan teratur, tanda dia sedang berpikir.
Ekspresi wajah dan mata yang panik dan ketakutan itu terlihat familiar bagi Hans. Tapi siapa? Kenapa dia bisa lupa?
Sementara di dalam lift, Kinanti tidak hentinya menyesali kebodohannya. Bagaimana dia bisa melupakan keterangan Agung bahwa Adinda adalah adik angkat Hans Alvaro juga?
Melihat bagaimana interaksi Adinda dan Hans saat di telepon, semua orang juga akan tahu seberapa akrab mereka. Bahkan Hans yang berwajah dingin mendadak tertawa dan tersenyum lebar saat mendengar suara Adinda.
Dia mengusap peluh yang terasa mengalir di pelipisnya, padahal lift yang ia naiki terlalu sejuk hawanya untuk membuat orang berkeringat.
.
***
Tuh kan, makanya jangan jadi Lambe Turah..
Malu kan jadinya?
Btw, Babang Hans teringat wajah siapa sih?