
Bramasta dan Indra hanya bisa menggelengkan kepalanya saja. Setelah uang cash mereka di dalam dompet dikuras habis oleh Leon, sekarang uang di saku mereka pun menjadi sasaran Leon.
“Saku celana gue, kosong,” ujar Leon.
“Nih, 5 ribu. Kembalian beli bensin pagi tadi,” Indra menyerahkan selembar uang kertas berwarna coklat dari saku celananya.
“Gue cuma ada... 3 ribu,” Bramasta mengeluarkan uang dari saku jaketnya, “Gue lupa lagi itu sisa kembalian apa..”
Indra memeriksa laci dashboardnya. Ada 5 keping uang koin seribuan. Dia mengambil 2 keping lalu menyerahkannya kepada Leon.
“Nih, Bang. Pas sepuluh ribu ya. Yang 3 keping koinnya untuk bayar parkir.”
“Terus, yang beli ke sana siapa?” tanya Leon.
Bramasta dan Indra menghela nafas kesal. Untung saja Leon menikah dengan Kak Layla, kalau tidak, mana mau mereka dibuat susah dan kesal seperti itu oleh Leon.
Bramasta memejamkan mata sejenak.
“Yang ingin es goyobod siapa?”
“Gue.”
“Yang maksa minta duit sampai harus ngecek recehan di saku siapa?”
“Gue.”
“Jadi, yang harus beli siapa?”
“Gue??” Leon menunjuk dadanya sendiri.
“Pinterrrr!”
“Tapi kan duitnya recehen begitu..” Leon masih berkilah.
”Abang malu dengan uang recehan?” Bramasta menaikkan alisnya.
Leon memandangi penjual es goyobod pikul.
“Allright! Ndra, Kita cabut sekarang!”
“Eh, jangan!” Leon menengkeram kursi Indra dan Bramasta, “Gue turun sekarang. Kalian tunggu aja di mobil, ya.”
Tanpa basa-basi lagi Leon turun dari mobil. Berbaur dengan ibu-ibu yang mengantri membeli es goyobod.
“Rese ih Bang Leon,” Indra meraup wajahnya.
“Duit sejuta gak akan jadi sejuta kalau jurang seribu atapun lima ratus rupiah. Ya gak Ndra?”
Indra mengangguk.
“Beda jauh ya antara pewaris dan perintis,” Bramasta melirik Indra yang terkekeh.
“Padahal es goyobod itu asalnya dari Garut. Kenapa Bang Leon gak minta beli di Garut aja ya?” Bramasta memegangi dagunya yang tercukur licin.
Indra langsung menoleh cepat pada Bramasta, “Awas loh kalau Lu menghembuskan ide beli es goyobod di daerah asalnya..”
Bramasta terlonjak kaget, “Gak.. gak bakalan. Ini aja kita sudah repot..”
Matanya menatap gawainya.
“Kurang dari 100 meter di depan, ada ATM,” Bramasta menunjuk arah di depannya.
“Jalan saja ke sana ya. Recehan parkirnya gak ada lagi.”
Bramasta mengangguk.
“Eh, Bang Leon??” Bramasta menatap tidak percaya pada jendela sampingnya.
“Kok dia bawa 3 cup es goyobod sih? Memangnya duitnya cukup?” Indra mengerutkan keningnya.
“Bram.. bukain pintunya dong..” Leon berdiri di samping pintu penumpang tengah dengan lengan sibuk membawa 3 cup es goyobod.
“Oper aja ke kita, Bang. Memangnya itu 3 cup mau buat Abang semuanya?” Indra terkekeh.
Bramasta menurunkan lagi jendelanya. Dia mengambil 2 cup yang dibawa oleh Leon. Lalu memberikan satu pada Indra.
“Masyaa Allah.. orang Cililin ramah banget deh,” Leon memasuki mobil.
Begitu duduk langsung menyeruput es goyobodnya.
“Hmmm enak. Rasanya sama seperti yang dulu Abah belikan di alun-alun Tegalega sewaktu diajak jalan-jalan sama Abah.”
“Jaman kapan tuh?”
“Jaman gue masih SD.”
“Terus ini bagaimana ceritanya sampai duit ceban bisa dapat 3 cup es goyobod?”
“Ooh itu karena Mamang dagangnya senang banget dibeli sama bule. Apalagi setelah gue cerita habis berobat di Mang Urut. Makin bersimpati dia..”
“Bukan bersimpati, Bang. Tapi pikarunyaeun_kasihan_. Ada bule dengan outfit keren yang beli es goyobod pakai duit recehan,” Indra terkekeh geli diikuti Bramasta.
“Isssh Lu tuh Ndra.. Gak kayak gitu ceritanya. Si Mamang terkesima dengan bule yang bisa berbahasa Sunda. Jadi weh dikasih bonus. Apalagi dia tadi melihat ke arah mobil, ada 2 teman gue yang ada di dalam mobil. Makanya dia kasih 3 cup.”
“Memangnya berapaan 1 cupnya, Bang?”
“6 ribuan.”
“Bang, kurang dari 100 meter di depan ada ATM. Kita ke sana jalan kaki. Karena duit parkirnya habis.”
“Yaa Salaam...” Bramasta meraup wajahnya, “Gue bahkan gak ingat jumlahnya berapa, Bang.”
Bramasta berusaha mengingat, “Kalau gak salah gue semalam masukin 2 juta ke dalam dompet. Pagi tadi gak mengeluarkan duit dari dompet.”
“Gue pagi tadi masukin duit cash ke dompet 1,5 juta. Pagi tadi udah dipakai beli bensin 150 ribu,” jawab Indra.
“OK.. 2 juta dan 1,5 juta,” Leon mengangguk.
“Bukan 1,5 dong.. kan udah gue pakai 150 ribu.”
“Dilempengin aja biar gampang, Ndra,” Leon bersikeras melakukan pembulatan.
Indra menggeleng, “Gak mau. Nanti jatuhnya malah jadi riba. Sesuai jumlah saja Bang.”
Bramasta mengangguk setuju.
“Iya Bang, ke Indra berarti Rp 1.350.000,-.”
Leon mengangguk lagi. Lalu memandang ke arah penjual es goyobod yang tadi.
“Setelah dari ATM si Mamang masih stay di situ gak ya?”
“Kenapa? Abang mau beli lagi?”
Leon tidak menjawab hanya mengangkat kedua bahunya saja.
Mereka bertiga berjalan bersama di trotoar jalan. Keberadaan mereka menarik perhatian warga.
Leon dengan kebuleannya. Bramasta dan Indra dengan postur tubuh dan wajah rupawan mereka. Ketiganya memakai sunglasses karena matahari bersinar terik.
Untung saja tidak ada antrian pada ATM. Jadi Leon bisa langsung masuk ke dalam ruangan ATM. Semburan hawa sejuk dari pendingin ruangan terasa sangat nyaman bagi Leon.
Baru saja dia masuk ke dalam ruangan, kepalanya ditongolkan ke arah luar.
“Kalian yakin mau menunggu di luar? Gak mau ngadem di dalam sini?”
Bramasta dan Indra terkekeh senang. Keduanya langsung memasuki ruangan ATM. Ketiganya tertawa bahkan melambaikan tangannya ke arah kamera CCTV di dalam ruangan ATM.
Bramasta mendengus lalu menggosok hidungnya.
”Gile bener... ruangan ATM beraroma minyak urut Cimande dan jahe...”
Indra menutup hidungnya, “Ih, iya ih.Parfum Lu yang harganya puluhan jeti sampai kalah aromanya dengan minyak Cimande, Bang!”
Leon mencebik kesal. Tapi dia memang menyadari juga aroma minyak Cimande memang kuat banget.
“Gue kan pasien!”
“Iya..iya.. Lu pasien, Bang..” Bramasta terkekeh.
Kembali lagi ke arah mobil, tangan Bramasta menarik tangan Indra ke dalam toko oleh-oleh Cililin.
Dia menuding pada makanan khas Cililin yang disebut Wajit Cililin. Dodol ketan, kelapa parut dan gula aren yang dibungkus kulit jagung berbentuk piramid.
“Kita beli oleh-oleh ya. Lu gak mau beli buat Babeh dan MakNyak?” Bramasta mulai mengambil plastik.
“Bang Leon gak beli oleh-oleh untuk Abah?!” teriak Indra pada Leon yang tidak sadar berjalan seorang diri di depan.
***
“Kenapa Lu beli kue simping?” Indra memandang belanjaan mereka di bagasi mobil.
“Kesukaannya Ayah dan Bunda. Simping kencur. Kenapa memangnya?”
“Simping mah khasnya Purwakarta.”
“Biarin aja. Yang penting kita belinya di Cililin,” Bramasta tersenyum lebar, “Bang Leon mana?”
“Noh..” Indra menunjuk, “Balik lagi ke tukang es goyobod.”
“Setdah.. ngidam kali ya Bang Leon..”
Leon memang berharap tukang es goyobod belum beranjak dari tempatnya mangkal.
“Mang, hatur nuhun tadi esnya ya..” Leon menepuk bahu si Mamang.
“Eh, Aden Bule. Kunaon? Mau beli lagi?”
“Henteu, Mang_Nggak Mang_, saya cuma mau ngucapin terimakasih saja ke Mamang. Ini ada sedikit rejeki buat Mamang dan keluarga. Terus berbuat baik pada sesama ya Mang. Saya dan teman-teman mau pulang ke Bandung sekarang. Urusan di sini sudah beres,” Leon memasukkan beberapa lembar uang merah pada saku kemeja tukang es goyobod.
“Eh.. Den!” Mamang es goyobod memegangi tangan Leon, “Hatur nuhun pisan nya Den. Mugia makin berkah dan lancar semua urusan juga rijkina_Terimakasih banyak ya Den. Semoga makin berkah dan lancar semua urusan dan rejekinya juga_.”
Leon menepuk-nepuk bahu si Mamang.
“Assalamu’alaikum, Mang.”
“Wa’alaikumussalam. Tiati Den!”
.
***
Babang Leon gemesin ih. Jadi pengen narik pipinya...🤭