
Indra pamit setelah Virgo meninggalkan ruangan Agung.
“Bro, nanti gue suruh driver antar mobil Lu ke sini.”
Bramasta mengangguk sambil mengacungkan kedua jempolnya.
Hans sudah menghubungi Pak Dhani terkait permintaan Agung. Pak Dhani setuju dengan syarat Agung tidak boleh memaksakan diri.
“Besok akan ada yang mengantarkan laptop dan berkas Lu kemari, Gung.”
“Thanks Bang.”
Hans mengangguk lalu pamit kepada semuanya karena ada panggilan dari Tuan Alwin.
Adisti memesan makanan untuk mereka semua dan para pengawalnya. Setelah makan malam yang lebih awal, mereka bersiap mengantarkan Adinda.
“Bunda tidak apa-apa sendiri di sini?” tanya Ayah.
“Bunda gak sendiri, Yah. Kan ada Kakak menemani Bunda,” kata Agung.
“Kebalik, Kak. Yang ada sekarang ini Bunda yang menemani Kakak. Kakak kan masih belum bisa turun dari bed sendiri,” kata Adisti sambil membereskan bekas-bekas kotak makanan mereka dibantu oleh Adinda.
“Besok Dek.. Kakak akan minta perawat untuk membolehkan Kakak turun dari tempat tidur.”
“Jangan memaksakan diri, Kakak Ipar. Bekas jahitan Kakak Ipar harus diperlakukan dengan hati-hati,” Bramasta mengambil garpu plastik yang jatuh di lantai lalu memasukkannya ke kresek sampah yang sedang dipegang istrinya.
“Tuh dengerin, Kak. Jangan petakilan deh..” Bunda berdecak pada Agung.
Adinda terkikik geli.
“Yuk, sudah semua?” tanya Ayah.
“Sebentar Yah, Adek siap-siap dulu..”
“Bilang aja mau dandan. Adek masih ganjen aja ih,” Agung mencibir.
Bramasta tertawa.
“Yeeey Kakak tahu apa tentang cewek. Adek sekarang dandan bukan untuk diri Adek sendiri tapi juga untuk Abang Bram. Masa cuma Abang Bramasta saja yang kinclong sementara istrinya kucel?”
Bramasta memberi jari love kepada Adisti. Ayah dan Bunda tertawa melihat kelakuan anak-anaknya.
“Kamu jangan kaget ya, mereka seperti ini kalau bertemu, selalu ramai,” kata Bramasta kepada Adinda yang tampak terkesima dengan suasana keakraban di Keluarga Gumilar.
Adinda mengangguk sambil tersenyum, “Mereka akrab sekali ya.”
“Ini yang membuat saya jatuh cinta dengan keluarga Gumilar, bukan hanya jatuh cinta pada anak gadisnya saja,” Bramasta menatap istrinya keluar dari kamar mandi.
“Sudah? Cepat banget.”
Adisti terkekeh, “Disti mah dandan GPL, sat set sat set, beres deh..”
“Sudah nih? Yuk, supaya tidak terlalu malam,” Ayah berdiri.
Bunda salim pada Ayah.
“Kak, kami pergi dulu ya. Do’akan para warga di sana mendukung kita,” kata Ayah sambil berjalan ke bed Agung.
Agung meraih tangan Ayah untuk salim.
***
Perjalanan ke rumah Adinda ditempuh 45 menit karena lalu lintas yang padat. Mereka memakai mobil Bramasta. Bramasta memegang kemudi, Ayah duduk di depan sementara Adisti dan Adinda duduk di bangku belakang. Mobil pengawal mengikuti dari belakang.
Bramasta berhenti di depan rumah Adinda. Rumahnya tampak gelap. Lampu luar tidak dinyalakan.
“Ibu sepertinya pergi lagi..” Adinda membuka pintu mobil.
Mereka bersama-sama memasuki halaman rumah Adinda.
Bramasta terlihat mengambil gawainya lalu membuat panggilan dengan Hans. Memberitahu bahwa rumah Adinda dalam keadaaan kosong saat ini.
Baru saja gawainya hendak dimasukkan ke dalam saku jaketnya, notifikasi pesan chat berbunyi. WAG Kuping Merah.
Anton_Ini hasil video rekaman CCTV yang berhasil gue sedot dari minimarket di seberang Gerai Donat. Ma’af baru sempat upload sekarang_
Leon_Weisszz bahasa Lu, Ton.. sedot.._
Indra_Pakai sedotan bekas teh botol?_
Anton_Sedotan pompa air, Bro.._
Emot ngakak memenuhi WAG.
Salah satu pria tersebut memakai seragam polisi sedangkan yang lainnya berbaju sipil dan berjaket. Pada video, tampak mereka turun dari dua mobil warna silver dan hitam lalu berjalan menuju gerai donat.
Hans_Penampakan wajah mereka ada yang lebih jelas lagi, Ton?_
Anton_Ini dari CCTV di depan pintu masuk gerai donat_
Durasi video entrance gerai donat lebih singkat. Wajah-wajah mereka terlihat sangat jelas.
Bramasta_Yang pakai kemeja marun, dia sering terlihat di layar TV ya?_
Indra_Bagian humas kah?_
Hans_Nanti kita pindai wajah mereka saja. Biarkan komputer yang spill data diri mereka_
Leon_Wow, Lu keren Hans!_
Hans_Lu baru nyadar gue keren, Bang?_
Leon_Gue salah! Maksud gue, team Lu yang keren.._
Hans_Sorry Bro, gak bisa diralat lagi pernyataan Lu_
Emot ngakak lagi bermunculan.
Agung_Prince Zuko bakal spill pertemuan mereka?_
Bramasta_ Aman gak buat Virgo dan anak buahnya? Khawatir mereka nanti yang akan dituduh sebagai pembocor CCTV ke Prince Zuko_
Anton_Makanya saya tadi memberi rekaman CCTV dari seberang gedung sebagai pembuka_
Hans_CCTV dalam ruangan ada audionya gak Ton?_
Anton_Ada tapi kurang jelas. Terlalu banyak noise dari musik raungan dan juga percakapan pengunjung lainnya_
Leon_Cari cara lain saja untuk bisa dispill oleh Prince Zuko_
Indra_Tampilkan video dalam ruangan saat mereka sedang berbincang, Ton_
Anton_OK.. Sebentar ya_
***
“Nak Dinda tidak apa-apa tinggal seorang diri di rumah itu?” tanya Ayah ketika duduk di ruang tamu.
“Sejak Papa tidak ada, saya harus membiasakan diri, Yah.”
“Kenapa?”
“Untuk mempertahankan rumah peninggalan Papa dan Mama. Kalau saya pergi, Ibu bisa dengan mudah menguasai rumah ini. Bahkan sekarang ini, saat saya masih tinggal di rumah ini pun, Ibu berani mengotori rumah ini dengan membawa laki-laki yang bukan mahromnya bermalam di sini.”
Bramasta berbicara dengan para pengawalnya di luar. Ada 3 orang pengawal. Bramasta memerintahkan seorang pengawal untuk menunggu orangg-orangnya Hans di rumah Adinda sedangkan 2 lainnya ikut bersama rombongan ke rumah pak RT.
“Ayah, kita pergi sekarang?” tanya Bramasta.
Ayah mengangguk sambil berdiri, “Ayo.”
“Dinda, pintu depan tidak usah dikunci ya. Nanti ada pengawal yang menjaga rumah kamu sambil menunggu orang-orangnya Bang Hans.”
Adinda mengangguk. Dia sudah diberitahu rencana mereka setelah diberitahu oleh Adisti. Dan dia menyetujuinya.
Mereka beriringan menuju rumah Pak RT. Jalanan menuju rumah Pak RT terlihat lengang. Bramasta mengenakan topi hitam dan masker agar tidak dikenali orang. Adisti juga mengenakan masker. Kejadian di warung kupat tahu Gempol tempo hari membuat mereka lebih berhati-hati.
Di sebuah rumah bercat hijau bolu pandan dengan teras dipenuhi tanaman kuping gajah, Adinda berhenti. Dia mengucap salam dari luar pagar. Suara seorang wanita terdengar menjawab salam Adinda sambil membuka pintu rumah.
“Adinda? Masuk, Nak. Wah bawa rombongan..” wanita tersebut tersenyum, “Silahkan masuk semuanya. Bapak sudah menunggu.”
Rumah Pak RT rapi dan resik walaupun tidak besar. Ruang tamunya tidak cukup menampung mereka semua. Akhirnya Pak RT meminta mereka untuk duduk di ruang tengah.
“Sebentar ya Pak, saya panggilkan bapak-bapak tetangga terdekat dari rumah Adinda,” Pak RT mengambil gawainya lalu mulai melakukan panggilan dengan beberapa orang.
Tak berapa lama, bapak-bapak yang lainnya sudah tiba di rumah Pak RT. Kursi-kursi ditambahkan. Ada 3 bapak-bapak tetangga Adinda yang ikut bergabung.
Sebelum Ayah mulai membicarakan maksud dan tujuannya, Bramasta membuka topi dan maskernya. Adisti mengikuti membuka maskernya. Para bapak-bapak menatap Bramasta dan Adisti dengan wajah bingung.
.
***
Nah loh.. kenapa mereka bingung melihat Bramasta dan Adisti?