
Pagi-pagi sekali, Adisti dan Bramasta sudah pergi menuju rumah utama. Tidak sarapan di apartemen, namun di rumah utama.
Baru saja melangkah ke pintu ruang tamu, kaki Bramasta ditabrak oleh tubuh gempal berambut jagung milik Eric.
Eric terkekeh saat Bramasta mengangkat tubuhnya.
“Akeuh.. Akeuh Bam!_Uncle..Uncle Bram!”
“Whoa.. kamu semakin berat sekarang..”
Eric memeluk erat leher Bramasta sambil melonjak-lonjakkan tubuhnya. Pipi Bramasta diciuminya, lebih tepatnya dikulum. Meninggalkan jejak basah liur Erick di kedua pipi Bramasta.
“Pipi saja, Ok? Not my nose. Uncle masih ingat dengan gigitan kamu beberapa jam sebelum Uncle jadi pengantin.”
Eric memberengut. Bibirnya mencebik. Adisti tertawa melihat interaksi keduanya.
Mendengar suara Adisti, Eric menoleh. Tangannya langsung terulur pada Adisti sambil tersenyum lebar.
“Oti..Oti Tis.._Aunty.. Aunty Dis_”
“Nggak...sama Uncle Bram aja digendongnya. Kasihan Aunty Disti. Eric berat..” Bramasta memeluk erat Eric.
Eric terlihat marah.
“No... Akeuh Bam. Ei..Oti Tis.!”
“No way..” Bramasta menjauhkan Eric dari Adisti.
“Ih.. udah atuh Bang.. Kasihan Eric. Eric kangen Aunty Disti ya?” tangan Adisti menjawil-jawil jemari Eric.
Eric mengangguk-angguk.
“Berat, Sayang..” Bramasta akhirnya menyerahkan dengan terpaksa tubuh Erick yang sudah miring-miring ke arah Adisti.
“Nggak ya, Eric ya.. Masa anak ganteng kayak gini dikatain ndut sih oleh Uncle..?”
“Siapa yang bilang Eric gendut?” suara Layla dari arah tangga membuat mereka serempak menoleh.
“Tuh..” Adisti menunjuk Bramasta dengan dagunya.
Layla memandang galak pada adiknya.
“Bram cuma ngomong Eric makin berat saja..”
“Mmmmmh... Mmmmh..” Eric mengulum pipi Adisti. Adisti terkekeh.
“No... Eric. She is mine,” Bramasta berdecak. Menggerakkan telunjuk kan ke kanan dan kiri di hadapan Eric.
“Oti Tis... Ei..”
“Gak boleh menciumi Aunty Disti, Ok? Cuma Uncle yang boleh cium Aunty. Eric? No!”
Mata Eric mengembun. Bibirnya mencebik kemudian melebar. Tak berapa lama terdengar lengkingan suara tangis Eric.
“Issh Abang apaan sih?” Adisti menepuk-nepuk pelan punggung Eric supaya berhenti menangis.
“Habisnya Eric ciumin Disti...”
Layla datang sambil mencubit lengan adiknya.
“Yang ciumin Disti itu ponakan Lu. Umurnya juga belum 3 tahun. Rese amat sih jadi uncle?”
“Sakit Kak!”
“Biarin!” Layla membujuk Eric, “Sayang sarapan yuk di dekat kolam Opa.. Lihat ikan.”
“Ika.. Fis..” Eric mengangguk-angguk
.
“Mommy.. Disti bantuin ya?” Disti menghampiri Mommy yang sibuk di pantry.
“Sudah kelar sayang.. Mommy cuma beres-beresin bumbu yang tadi baru dipakai.”
Bramasta menatap hidangan yang sudah tersaji di meja makan. Kemudian mendekati istrinya.
“Buk Istri buatin salad yang seperti kemarin dong..” Bramasta meletakkan dagunya dia atas pundak istrinya.
“Kenapa? Kan udah banyak makanan di meja...”
“Tapi kalau ada salad buatan Buk Istri rasanya lebih afdhol.”
“Salad apaan sih?” tanya Mommy sambil membawa pitcher berisi orange juice, “Buatin aja Dis, daripada suami kamu rewel..”
Adisti tertawa lalu membuka kulkas di pantry. Memilih dan mengambil bahan-bahan untuk saladnya. Untungnya kulkas Mommy mirip department store: serba ada.
Terdengar suara Indra di ruang tamu.
“Ndra, ikut sarapan ya,” panggil Mommy dari arah ruang makan.
Indra menyalimi Mommy lalu melihat Adisti yang sedang mengaduk campuran saus untuk saladnya.
“Masak, Bu?” goda Indra.
“Gak masak, cuma bikin salad. Tuh, Pak Bos minta dibuatin salad padahal menu sarapan juga sudah banyak..”
“Wah.. asyik dong.. Gue juga mau ya Dis.”
Daddy ikut melongokkan kepalanya melewati pantry bar.
“Kelihatannya enak. Daddy juga mau..”
Adisti mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Disti bikin banyak kok..”
Suasana sarapan di ruang makan rumah utama sangat semarak. Apalagi ditambah dengan kedatangan Indra.
Hampir jam 06.30 ketika mereka bertiga pamit pada Mommy dan Daddy juga kepada para istri.
“Iya Bang.. Disti ngerti.”
Bramasta mendekap istrinya sambil berbisik, “Jangan buat Pak Suami cemburu..”
Adisti memandang jengah pada suaminya, “Pak Suami bawel banget sih pagi ini?”
Bramasta terkekeh lalu mengecup kening istrinya singkat.
“Abang pergi dulu ya.. Assalmu’alaikum..”
“Wa’alaikumussalam...” Adisti memandang Indra, “Bang Indra bawa mobil hati-hati ya. Kan bawa pasien..”
Bramasta dan Indra terkekeh.
“Gak.. gak apa-apa dibawa ngebut juga. Biar cepat beres urusannya. Gak bisa berbaring, sakit banget..” kata Leon dengan mata pandanya.
“Baju ganti udah dibawa, Bang?” tanya Indra.
Leon mengangguk.
“OK.. kita berangkat dulu ya..Babay Eric..”
“Kayaknya gue cuma bisa tidur di kursi mobil saja deh,” kata Leon, “Duduk kayak gini, gue merasa nyaman. Gak nyeri seperti saat berbaring di bed.”
“Ya sudah Abang tidur aja dulu. Nanti kalau sudah sampai, kita bangunin,” Indra membelokkan kemudi dengan halus.
Leon mengangguk sambil menguap. Tidak berapa lama terdengar dengkuran halus dari Leon.
“Padahal kita lihat aksinya menghadapi para perampok itu sangat heroik sekali ya. Gak nyangka, Bang Leon cedera seperti itu,” Bramasta mengecek gawainya.
“Kayaknya cederanya itu karena menanduk penjahat bertubuh gempal dengan bahunya. Gila.. bodinya kayak kebo begitu. Pantesan Bang Leon kesleo.”
“Lu udah nelepon si mamang tukang urut yang menangani Gading dulu?” tanya Bramasta.
Indra mengangguk, “Datang saja langsung pagi-pagi sekali. Karena kalau agak siangan, harus ngantri dulu, pasiennya banyak.”
Bramasta mengangguk-angguk.
Sekitar satu jam lebih mereka tiba di Cililin. Beberapa rumah dalam deretan jalan memasang plank besar di depan rumahnya sebagai ahli patah tulang Cimande.
Indra menyalakan lampu sein, mulai memasuki sebuah rumah beratap tinggi dengan halaman lumayan luas.
“Masih sama ya, gak ada yang berubah,” Bramasta melepaskan sunglassesnya.
“Bang Leon..” Bramasta menggoyangkan kaki Leon, “Kita sudah sampai. Bang.. bangun..”
Indra seang berbicara dengan Mamang Urut yang menangani Gading dulu. Bramasta membantu Leon turun dari mobil.
“Assalamu’alaikum, Mang..” sapa Bramasta.
Wajah Leon pucat. Kekhawatiran tergambar jelas di wajahnya.
“Wa’alaikumusalam..” Mang Urut menyalami Bramasta, “Masyaa Allah.. mimpi apa ya saya semalam. Kedatangan selebritis euy..”
Bramasta hanya terkekeh.
“Mamang gak nyangka, Den Bramasta yang dimaksud itu Bramasta yang sering muncul di tipi..”
“Ah, biasa aja Mang..” Bramasta meyentuh lengan Leon, “Kakak Ipar saya bahunya kesleo, Mang. Tolong obati ya Mang..”
“Euleuh.. bule ning_Kok bule_?” Mamang Urut tersenyum memandang Leon.
“Sumuhun Mang... abdi bule. Bule setengah, Mang.”
“Eh, tiasa nyarios Sunda, ning_Eh, kok bisa ngomong Sunda?_” Mamang Urut terkejut.
“Pan abdi bule satengah. Satengahna deui asli Bandung, Mang...” Leon membuka sampiran jaket pada pundaknya untuk menutupi lengannya yang tengah memakai gendongan kain.
“Hayu mangga kalebet_Yuk..silahkan masuk_"..” Mamang Urut mempersilahkan mereka masuk.
“Akang Bule, calik didieu.._duduk di sini.._” Mamang Urut menunjuk dipan lincak bambu.
Leon mengangguk. Dia terlihat segan dan takut-takut. Jemarinya memegang tas yang biasa dia bawa ke gym center, tas tempat baju gantinya.
“Siniin tasnya, Bang. Lu nikmati aja pijatannya si Mamang. Kita berdua menonton aja..” Indra menyengir pada Leon.
“Awas kalau ada yang midioin..” Leon mengancam galak, "No video!"
“Nggak Bang.. kan gak ada Disti atau Agung di sini. Mereka berdua seperti paparazi. Anton yang jadi seksi dokumentasi resmi juga gak ada..” Bramasta terkekeh.
Leon mengangguk. Mulai melepas kemejanya dengan hati-hati. Indra membantu melepas kain gendongan tangannya. Bebatan pada bahu dari rumah sakit pun dilepas oleh Indra.
Mamang Urut mulai menyiapkan piring kecil lalu menuangkan minyak dari dalam botol bekas kecap berwarna coklat. Aroma minyak urutnya menyeruak. Baunya kuat dan tidak enak. Indra dan Bramasta mengernyit.
“Minyak apaan sih Mang? Baunya kok kayak gini banget,” tanya Leon.
Pengucapan bahasa Indonesia Leon beraksen Perancis sedangkan saat dia berbahasa Sunda, sama sekali tidak ada logat Perancisnya.
“Minyak Cimande. Sawios bau ge, sing penting mah cageur_Biarin bau juga, yang penting mah sembuh.._” jawab Mamang Urut.
Leon menggeser tubuhnya menjauh dari Mamang Urut saat dia mulai memejamkan matanya dan berucap basmalah dan membaca al fatihah.
“Hissh.. naha jauh-jauh Kang, calikna?_Hissh.. kenapa duduknya jauh-jauh Kang?_”
Bramasta dan Indra terkekeh lalu menyengir berdua. Bramasta mengedipkan matanya pada Indra. Indra mengangguk. Lalu berdua tersenyum lebar.
.
***
Hayooo Babang Bram dan Babang Indra mau ngapain nih pakai kode kedip-kedip mata segala.
Kelilipan Bang?
😁😁