CEO Rescue Me!

CEO Rescue Me!
BAB 104 – MALAM MENEGANGKAN



(Ma'af baru bisa update lewat tengah malam ini. Untuk lebih enak bacanya supaya feel-nya "dapat" pasca libur update akibat laptop rusak.)


“Gila, Rita bisa mati!” seru Bramasta cemas.


“Ndra, Leon, kalian hubungi ponsel Rita. Juga nomor The Ritz!” perintah Hans, “Pecahkan perhatian Tuan Thakur.”


Hans menyodorkan kartu nama The Ritz yang pernah diberikan Rita paa Leon sewaktu Leon dalam penyamaran.


“Mobilnya!” seru Adisti, “Lakukan sesuatu pada mobilnya. Pria lebih peduli dengan mobilnya daripada apapun!”


Semua menoleh pada Adisti. Indra dan Leon segera tersadar untuk segera menghubungi gawai Rita ataupun telepon The Ritz.


Anton mengangguk mengerti ucapan Adisti. Dia membagi layar laptopnya menjadi beberapa bagian. Mengetik dengan cepat sambil menghubungi anak buahnya yang stand by tidak jauh dari The Ritz.


“Jok, kamu tahu apa yang sedang terjadi di dalam sana kan?” Jeda.


“Sekarang kamu cari batu atau balok besar. Pokoknya sesuatu yang berat. Lemparkan pada mobil Tuan Thakur. Tapi kamu harus berada dalam titik buta CCTV The Ritz. Code dress, mode penyamaran. Sekarang!” Jeda.


“Jangan putusin sambungan telepon ini. Pakai headset. Nanti saya akan pandu ke arah mana kamu bergerak dan kapan harus melempar.” Jeda.


“OK. Cari batu ataupun baloknya. Yang mudah kamu lemparkan saja tapi cukup berat.” Jeda.


“Apa??! Kerucut marka jalan?” Anton memandang Hans dan Indra.


Keduanya mengangguk.


“OK. Pakai itu. Saya sedang berusaha masuk ke sistem CCTV The Ritz sekarang.” Jeda.


Salah satu layar laptop Anton menampilkan kondisi di luar The Ritz. Kamera bergerak ke sebelah kiri.


“Jok, kamu ke arah rambu dilarang parkir.” Jeda


“Iya, yang di dekat bougenville pink fanta itu. Mobil Tuan Thakur ada di belakang semak bougenville. Tunggu dulu. CCTV bergerak 180°. Merunduk Jok. Tetap merunduk. Tunggu sebentar...” Jeda.


Sementara di layar TV, wajah dan leher Rita sudah tampak memerah. Dering gawai Rita dan dering pesawat telepon The Ritz yang berada di front desk berbunyi nyaring. Tuan Thakur tampak terkejut. Cengkeraman tangannya mengendur.


Tubuh Rita merosot ke bawah. Terduduk dengan posisi lutut tertekuk. Lemas tak bertenaga. Menarik nafas dalam sambil memegangi lehernya. Menatap penuh kebencian kepada Tuan Thakur. Berusaha beringsut menjauh dengan merangkak.


Tuan Thakur berjalan geram dengan langkah perlahan mendekati Rita. Dering telepon masih terus berbunyi di ruangan yang sunyi.


“JOK, SEKARANG!”


Sekarang di layar TV terdengar suara dering gawai dan telepon juga suara alarm mobil.


Tuan Thakur yang sudah menjambak rambut Rita langsung menghempaskan rambut Rita. Dia mendongakkan dagu Rita.


“Kamu dengarkan saya! Kali ini kamu selamat. Saat saya mengunjungi kamu lagi, kamu harus menghubungi orang-orang Ferdi bahwa kamu membagi kekuasaan dengan saya! DENGAR KAMU?!”


Kaki Tuan Thakur menyepak tubuh Rita yang terbungkuk bersimpuh di atas lantai. Tubuh Rita ambruk di atas lantai marmer. Tuan Thakur segera berlalu keluar dari The Ritz.


Layar TV terbagi dua sekarang. Satu tampilan ruang tunggu di dalam The Ritz, satu lagi tampilan luar The Ritz dari kamera CCTV The Ritz.


Kualitas gambar kamera CCTV The Ritz tampak berbeda jauh dengan tampilan kualitas gambar dari kamera penyadap milik Anton. Tampilan pada layar TV dari kamera CCTV hanya berupa film bisu, tanpa suara yang terekam.


Tampak Tuan Thakur tengah bertolak pinggang di depan mobilnya, Honda Civic warna silver yang tampak masih baru. Bagian atap mobilnya penyok oleh hantaman kerucut marka jalan. Kerucut marka jalan masih berada di atap mobil sedannya. Dia menoleh ke kanan dan kekiri untuk mencari pelaku pelemparan.


Seorang pria berkemeja kantor melintas di trotoar sambil membawa buku tebal dan jaket yang disampirkan di tangannya. Tuan Thakur menatap penuh curiga pada pria itu. Pria itu balas menatap Tuan Thakur dengan tatapan heran.


“KAMU YANG LEMPAR MOBIL SAYA?!!”


“Lah, saya aja baru turun dari angkot Pak..” menunjuk pada angkot yang bergerak menjauh dari mereka.


Tuan Thakur memandang angkot yang menjauh.


“Memangnya ada apa Pak?” tanya pria itu.


“DIAM KAMU!” Tuan Thakur kembali masuk ke pelataran The Ritz. Membuka pintu mobilnya setelah melempar kerucut jalan dengan penuh amarah ke arah semak.


Pria itu memandangi Tuan Thakur meninggalkan The Ritz. Setelah mobil berbelok, tampak dia tersenyum.


***


“Dia anak buah lu Bro?” tanya Agung pada Anton, “Si Joko itu?”


“Joko?”


“Lah lu kan dari kemarin nyebut Jok Jok melulu..” kata Indra.


“Jok untuk Joker. Nama samaran,” Anton tersenyum lebar. Wajahnya tampak lega sekarang.


“Eh??” Agung dan Indra terkekeh.


“Rita, dia bergerak..” Adisti menunjuk pada layar TV.


“Itu siapa?” Bramasta menunjuk seorang laki-laki dan seorang perempuan yang datang dari arah ruang dalam, membantu Rita untuk duduk lalu memapahnya ke dalam ruangan.


“Mungkin mereka takut karena mereka tahu siapa Tuan Thakur,” kata Agung.


“Atau Rita menyuruh para pegawainya untuk tidak mengganggu mereka,” Anton menunjuk pada ruang yang sekarang tampak kosong.


“Tidak mengganggu mereka karena siapa tahu mereka akan gabruk-gabrukkan lagi tahu-tahunya malah gubrak-gubrakkan..” Adisti mengambil kripik pisang.


Semua mata memandang ke arah Adisti sekarang.


“Apa??” tanya Adisti dengan kripik pisang di bibirnya.


“Gabruk-gabrukkan...” Bramasta mengangkat sebelah alisnya.


“Disti cuma pinjam istilah Bang Indra...” Adisti berucap santai sambil memegangi kripik pisangnya.


“Ah... Bang Indra nih ya.. si Adek jadi terkontaminasi nih pikirannya..” Agung menepuk punggung Indra.


“Biarin deh, udah gede ini..” Indra menaikturunkan kedua alisnya.


Anton membuat panggilan telepon.


“Assalamu’alaikum, Jok. Great job tonight_Kerja yang luar biasa malam ini_” Jeda.


Anton terkekeh.


“Iya, saya juga lihat. Atap mobilnya melesak ke dalam.” Jeda.


“Oh, jadi kamu punya Plan B_Rencana B_. Apa itu?” Jeda.


“Oh my God! Untung tidak jadi kamu lakukan ya. Too risky_Terlalu beresiko_” Jeda.


“OK. Malam ini kamu pulang saja. Sepertinya sampai besok pagi tidak akan ada kejadian apapun. Besok siapa yang jaga?” Jeda.


“Nanti kamu ceritakan kondisi terakhir kepada Sol ya. Jangan sampai terlambat. Standby pukul 6 pagi sudah ada di kondangan.” Jeda.


“Thanks ya Jok. Assalamu’alaikum.” Anton mengakhiri panggilannya.


“Siapa Sol? Nama samaran lagi?” tanya Indra.


“Woiyyyadoooong. Solitaire,” jawab Anton sambil menyeruput kopinya yang sudah suam-suam kuku..


“Kayaknya semua berhubungan dangan permainan kartu remi ya?” tanya Adisti.


Anton mengangguk.


“Jam 6 pagi ke kondangan?” tanya Leon sambil mengernyit.


“Istilah samaran untuk TKP, Bang,” jawab Anton.


“Daebak! Neomu meosjyeo, Oppa Anton!_Daebak! Keren abis, Abang Anton!” ucap Adisti cepat.


Anton menoleh pada Adisti lalu tertawa.


“Oppa???” Bramasta mencebik memandang istrinya, “I’m the only your Oppa, dear!_Cuma Abang satu-satunya Oppa bagimu, Sayang!_”


“Dih... segitunya,” protes Adisti.


“Panggil yang lainnya cukup hyeongje_Abang_ saja,” Bramasta tersenyum lebar.


Bramasta menarik tubuh istrinya yang sedang menggapai wadah keripik pisang. Anton tertawa.


“Segala honje disebut. Honje paling enak dijadikan bahan campuran rujak buah..” Agung mengambil air putih dari dispenser.


Indra dan Leon terkekeh.


Hans memperhatikan Adisti sambil berpikir, “Bagaimana Disti bisa sampai berpikir untuk membunyikan alarm mobil Tuan Thakur?”


“Eh iya,” Leon menatap Adisti.


“Bukannya seperti itu? Laki-laki itu protektif sekali terhadap kendaraannya selain pada gadgetnya?" Adisti memandang Hans dan Leon bergantian.


"Biasanya, kalau penumpang bilang "Bang minggir dulu ke tukang buah", pak supir kadang menurut kadang juga nggak. Tapi kalau penumpangnya ngomong, "saya mau muntah", pak supir auto ngerem mobil terus buka pintu penumpang supaya penumpangnya muntah di luar mobil,” Adisti menjelaskan panjang lebar.


"Ada juga laki-laki yang mobilnya tergores sedikit terus auto naik darah walaupun diasuransikan...” kata Adisti lagi.


“Iya juga sih..” Leon mengangguk.


“So, Disti boleh gabung di WAG Kuping Merah?” Adisti bertanya sambil tersenyum lebar dan menaikturunkan alisnya.


***


Leganya, sudah bisa update lagi.


Maafkan author ya Readers.