CEO Rescue Me!

CEO Rescue Me!
BAB 44 – KELUAR DARI THE RITZ, LEON!



“Maaf, bagaimana?” Leon berusaha menutupi keterkejutannya dengan bertanya.


“Mister bisa berbahasa Sunda?”


“Ah ya.. vocabulary bahasa Sunda saya hanya hatur nuhun dan punten,” Leon memandang pria gemulai tanpa berkedip, “Bagaimana pengucapan saya? Is that right_Apakah benar_?”


“Perfect!” pemuda dengan krim pewarna rambut mengacungkan dua jempolnya.


Kapster dan pria gemulai bertepuk tangan sambil tertawa.


“Hebat Mister..hebat. Nanti kalau mau belajar Bahasa Sunda di sini saja ya, kita ajari lebih banyak lagi,” pria gemulai mengedipkan sebelah matanya.


Leon tertawa. Dia bisa bernafas lega.


[Alhamdulillah… untung teu kanyahoan_untung gak ketahuan_]


Leon berjalan ke arah kasir membayar pangkas rambutnya. Berjalan ke arah keluar dia melewati lagi butik aksesoris branded. Dia tertarik dengan sebuah tas tangan, modelnya terlihat sama dengan yang ia belikan untuk Layla tetapi tidak serupa. Leon menyentuh risleting pada saku depan tas itu. Bandul resletingnya logo huruf yang menjadi ikon brandnya tapi dengan ukuran yang lebih kecil dari bandul risleting utama. Bibir Leon mengerucut memikirkan apa yang salah pada tas ini.


[Ah, ya.. tas Layla saku depan tidak memakai risleting tetapi kancing logam dengan emboss logo huruf di tengahnya]_Leon tiba teringat. Dia tersenyum puas.


“That’s a new collection from brand XX_ _,” sebuah suara wanita yang berat dan mendayu terdengar di belakang Leon.


Leon menoleh cepat. Seorang wanita cantik berbusana terusan serba hitam yang seperti dikelilingi kunang-kunang tersenyum ke arahnya. Leon hampir tertawa melihat penampilannya di tengah hari seperti ini. [Kunang-kunang di siang hari? Yang benar saja]_Leon menilai dalam hati.


“Bonjour Madame_Selamat siang Nyonya_,” sapa Leon sambil tersenyum ramah.


“France_Perancis_?” tanya Rita dengan mata berbinar.


Leon mengangguk.


“I’m Rita Gunaldi_Saya Rita Gunaldi_. The owner of The Ritz_Pemilik The Ritz_,” Rita mengulurkan tangannya.


“Saya Louis Dubois,” Leon menggunakan nama Perancis yang terlintas di pikirannya pada saat penulisan di buku tamu. Leon tidak menyambut uluran tangan Rita. Dia hanya memandanginya saja. Akhirnya Leon menangkupkan kedua telapak tangannya di dada.


Rita menunjukkan wajah tersinggung. Hari ini sudah dua kali uluran tangannya ditolak oleh 2 pria tampan.


“Maaf, saya seorang mysophobia. Saya tidak bersentuhan dengan orang asing,” Leon membungkukkan sedikit tubuhnya.


Rita menatapnya bingung tidak mengerti dengan maksud ucapan yang pria di depannya.


“OK. Whatever_EGP_..,” Rita mengibaskan tangannya, “Bisa berbahasa Indonesia?”


“Sedikit,” Leon tersenyum.


“Sudah lama di Bandung?” Rita mulai bersikap ramah lagi setelah melihat senyum Leon.


“Baru 6 bulan.”


“Bisnis atau…?”


“Saya ekspatriat untuk perusahaan telekomunikasi.”


“Wow,” Rita semakin percaya diri, dia yakin pria yang di depannya adalah pria yang kesepian. Dan mungkin juga seorang petualang.


Dia mendekati Leon, jemarinya menyentuh simpul dasi, menyibakkan ujung dasinya hanya untuk mengintip label brand di belakangnya. Dia tersenyum puas membaca label brand dunia pada dasi pria tampan di depannya. Tangannya bergerak merapikan dasi.


Leon mengetatkan rahangnya. Dia tidak suka sentuhan wanita kunang-kunang kesiangan ini. Apa kata Layla bila istrinya itu tahu apa yang tengah diperbuat wanita itu pada suaminya.


[Pokoknya, semua ini karena Daddy. Dia yang memberikan tugas sulit ini. Demi Daddy. Demi Bramasta. Demi Adisti, wanita yang dicintai adik iparnya]_Leon terus meyakinkan hatinya.


Rita semakin berani. Tubuhnya maju semakin menempel pada tubuh Leon. Leon merasa jengah. Jemari Rita ada di kerah bagian belakangnya. Lalu Rita mundur setengah langkah. Telunjuknya menyusuri bagian bahu hingga dada jasnya. Bermain-main di depan saku jasnya.


Leon terperangah. Dia teringat pena kamera yang ada di saki jasnya. Bisa gawat kalau ketahuan. Leon menggeser tubuhnya ke etalase dompet. Wajahnya ditundukkan seolah sedang melihat-lihat dompet yang dipajang di sana.


“Bisa lihat yang ini?”Leon asal tunjuk pada deretan dompet.


“Ana..” Rita memanggil seorang pegawainya. Lalu mendekati Leon lagi.


Aksinya berhenti saat pegawainya datang dengan memebawa kunci etalase dan membukanya. Leon tersenyum penuh rasa terimakasih kepada pegawai tersebut.


“Which one, Sir_Yang mana, Tuan?” tanyanya.


“Yang ini,” Leon menjawab dengan bahasa Indonesia.


Gadis muda itu mengangguk senang. Dia mengambil dompet panjang dengan model sederhana berwarna coklat kemerahan. Leon memeriksanya. Ada embossan brand pada bagian dalamnya. Leon tidak tahu itu asli atau tidak. Kulitnya memang lembut. Ketebalan dan warna benangnya membuat dompet itu terlihat mewah dalam tampilannya yang sederhana.


“Berapa harganya?”


Tidak masalah kalau dia bisa menggunakan kartu ataupun transaksi elektronik. Tapi kali ini adalah situasi yang khusus, dia tidak diperkenankan memakai kartu pembayaran apapun ataupun transaksi elektronik.


“Yang itu, Rp 9.750.000,- Tuan.”


“OK, saya ambil. Tolong bungkus yang rapi ya.”


Gadis itu mengangguk.


Leon mengeluarkan amplop panjang coklat dari saku jas bagian dalam. Menghitung sejumlah uang lalu memberikannya pada si gadis.


“Ini 10 juta. Lebihnya buat kamu, ya,” Leon tersenyum.


“Terimakasih banyak, Tuan,” Gadis itu membungkukkan badannya.


“Cash?” alis mata Rita terangkat.


“Yupz. Itu untuk hadiah seorang teman. Lebih mudah mengunakan cash. Tidak akan ada pertanyaan dari istri. Berbeda kalau bayar memakai kartu. Akan ada pertanyaan panjang yang bikin pusing kepala.”


Rita tertawa senang. Lalu wajahnya di dekatkan pada telinga Leon, “Mampirlah kemari di lain waktu untuk menemuiku, Louis,” matanya menatap Leon yang terdiam tak mengerti. Lalu mengedipkan sebelah matanya. Leon mendadak merinding ngeri.


“Mengapa?” tanya Leon sambil menatap kuku-kuku panjang wanita di hadapannya yang dicat silver pearl.


Rita tersenyum tak percaya dengan pertanyaan Leon, “Karena sekarang ada suamiku di sini.” Rita berbisik sambil membelai telinga Leon. Leon menggeleng keras menolak sentuhan tangan wanita itu.


Leon menggeser berdirinya. Dirinya benar-benar merasa muak dengan kunang-kunang kesiangan ini. Rita menunjukkan dua kartu nama. Yang satu berwarna krem dengan tulisan emas dan yang satunya berwarna tosca dengan tulisan perak.


“Ini,” Rita mengacungkan kartu berwarna krem, “Salah satu yang aku kelola. Klien-kliennya adalah para pria dan wanita pilihan, eksklusif. Aku memilihmu, Louis. Berbanggalah. Ada full private service di dalamnya. Para gadis-gadis muda ataupun pria-pria muda akan siap melayani Anda kapan pun Anda membutuhkannya.”


Dia menyelipkan kartu krem pada saku depan kemeja Leon. Leon membelalakkan matanya karena terkejut.


“Dan ini,” Rita mengacungkan kartu berwarna tosca, “Adalah bisnis suamiku. Bisnis tempat hiburan malam suamiku salah satu yang terbesar dan terbaik di Batam. Mainlah ke Batam. Sebut namaku pada bartender di sana, maka Anda akan mendapatkan pelayanan VIP.”


Leon hanya tersenyum. Tidak mengangguk ataupun menggeleng.


“OK, thanks for everything_Baiklah, terimakasih untuk semuanya_,” dia berjalan ke arah foyer, tempat penerima tamu berada.


Seorang pria tampan berkulit terang menyender di dinding melengkung, mengamati interaksi antara Rita dan Leon sambil bersidekap. Wajahnya tersenyum kecil. Dia melihat ke arah Leon. Menganggukkan kepalanya pada Leon lalu berjalan ke tempat Rita berdiri. Leon merasa pernah melihat wajah pria itu tapi lupa dimana ia pernah melihatnya.


“Hai Sayang..” pria tersebut mengecup pipi Rita.


Leon mengangkat bahu.


Langkah kaki Leon terasa ringan meninggalkan tempat itu. Beban seolah terangkat dari tubuhnya. Tubuhnya terasa lebih ringan. Paper bag kecil bertuliskan The Ritz berayun-ayun di tangannya. Membuka pintu mobilnya lalu memasuki mobilnya. Saat hendak memindahkan persneling, tiba-tiba pintu utama The Ritz menjeblak terbuka. Pria yang tadi mengecup pipi Rita melihat langsung pada Leon. Menatapnya tajam. Lalu setengah berlari ke arahnya.


“Wait, Sir_Tunggu, Tuan_!”


Leon mencelos [Duh Gusti_Ya Tuhan_… kunaon yeuh_kenapa nih_? Aya naon deui_Ada apa lagi_. Kabur weh kitu_Kabur aja gitu_?]


Pria tersebut membungkuk di jendela samping kemudi. Dia mulai mengetuk jendelanya.


[Secepat itu, sudah terbongkarkah penyamaranku?] tangan dan tengkuk Leon berkeringat dingin. Lagi!


Catatan Kecil:


Mysophobia adalah kondisi yang membuat pengidapnya cenderung mudah merasa jijik dan takut kuman.