
Semuanya sedang menikmati donat dan kopi saat mereka keluar dari kamar.
“Kalian kalau pakai baju selalu saling menyesuaikan warna?” tanya Leon.
“Nggak..” jawab Bramasta, kemudian memeriksa bajunya dan baju istrinya yang senada warnanya, “Eh, sama ya?”
Adisti hanya tersenyum kecil.
“Kita berangkat sekarang?” tanya Bramasta.
Semuanya berdiri, Agung dan Indra membereskan gelas-gelas ke bak cuci piring.
“Tinggalkan saja di situ, Bang, Kak. Nanti Disti yang cuci,” kata Adisti.
“Sudah bisa jalan sekarang, Bu?” goda Indra diikuti kekehan Agung.
Bang Leon memandang mereka bertiga.
“Kenapa memangnya Disti?” kemudian memandang Bramasta, “Oh itu.. Layla juga begitu dulu. Sering dipakai gerak aja kakinya, nanti juga biasa lagi. Malah kalau cuma duduk diam, jadi berasa sakit semua badannya.”
Wajah Adisti dan Bramasta merah padam. Indra dan Agung terbahak sampai mengeluarkan air mata.
“Gile benerrr. Bule kalau ngomong gak pakai tedeng aling-aling,” Indra menyusut sudut matanya.
“Produk impor lagi nih yang ngomong..” Agung menepuk-nepuk punggung Indra.
“Udah jalan..” akhirnya Bramasta bersuara.
Mereka tiba di Gedung B Group dengan kendaraan masing-masing. Leon dan Danniel Chow dengan mobil BMW putih milik Layla, Bramasta dan Adisti dengan sedan silver, Indra dengan New Civic hitamnya sedangkan Agung dengan motor CBR hitam.
Anton sudah menunggu mereka di teras lobby. Melihat Adisti, Anton langsung berwajah jahil.
“Disti sehat?”
Indra, Agung dan Leon langsung terkekeh.
“Terus aja ejekin... Nanti kalau Bang Indra, Kakak ataupun Bang Anton menikah, terus istrinya merasakan apa yang saat ini Disti rasakan, Disti bakal jadi orang yang pertama menertawakan kalian..” Adisti menaikkan dagunya.
Bramasta terkekeh.
Mereka berkumpul di ruang rapat yang telah dipindai. Anton membawakan kotak kardus bekas biskuit. Lalu menyodorkannya pada Danniel Chow.
Danniel menumpahkan isi kotak. Buntelan sarung tangan menggelinding keluar.
“It’s inside the glove_Ada di dalam sarung tangan_,” kata Anton.
“Smart idea,” gumam Danniel.
Dia memakai sarung tangan medis dan mengambil kaca pembesar juga pinset dari dalam tasnya.
Memisahkan yang mana bagian dari penjepit dan bagian mana yang kamera. Memisahkannya ke dalam plastik klip kecil.
“Ini bagian penting dari kameranya,” Danniel berkata dalam bahasa Inggris, “Setahu saya, kamera jenis ini ada dalam daftar belanja salah satu instansi negara ini.”
“Kamu yakin?” tanya Leon.
Danniel mengangguk.
“Berarti Inspektur Thakur melakukan penyalah gunaan wewenang ya, memakai barang milik instansinya untuk dipakai kepentingan pribadi,” Indra menatap bagian kamera yang sedang dipegang oleh Danniel dengan menggunakan pinset.
Daniel memandang Indra sambil tersenyum miring, senyuman: yunowlaaah.
“Ini jenis kamera mikro ya?” tanya Anton.
Danniel mengangguk, “Bagiannya masih bisa dilihat pakai mata telanjang meskipun kecil-kecil. Kalau kamera nano, bagiannya hanya bisa terlihat dengan memakai mikroskop.”
Danniel memasukkannya ke dalam plastik klip setelah sebelumnya ia foto perbagiannya.
“Kalian akan apakan benda ini?” tanya Danniel.
“Saya rasa cukup disimpan saja saat ini untuk dijadikan barang bukti bila diperlukan nanti. Yang penting kita sudah tahu kamera penyadap ini milik siapa dan berasal dari mana,” jawab Bramasta.
Leon dan Indra mengangguk setuju.
“OK. Sekarang kita pindai ruang CEO dan sekretaris ya,” Danniel menyerahkan kembali kepada Anton, kotak biskuit yang sekarang berisi 2 plastik kedap udara yang berisi pecahan bekas jepitan tangkai bunga dan pecahan kamera penyadap.
Kantor B Group dinyatakan clear. Selanjutnya mereka menuju Gedung Sanjaya Group. Anton tidak ikut karena kesibukannya.
Hans sudah menunggu mereka di dalam lobby. Sebelumnya Indra sudah mengirim pesan teks kepada Hans untuk tidak menyinggung tentang video di apartemen kepada Adisti kalau tidak ingin terkena serangan balik dari Adisti.
Agung dan Indra melaporkan pada Hans tentang kamera penyadap itu.
“Mr. Danniel, nanti bisakah Anda memberi kami rincian tentang jenis kamera tersebut?”
“Boleh juga..” Hans ikut terkekeh.
Ruangan para petinggi Sanjaya Group sudah selesai dipindai. Semua clear.
Mereka menuju ke rumah utama sekarang. Agung tidak ikut karena dia harus mempersiapkan meeting sore nanti.
“Bang Bram,” Adisti memanggil suaminya setelah beberapa lama mereka saling berdiam diri semenjak berangkat dari apartemen.
Bramasta menoleh ke arahnya.
“Disti gak ikut ke rumah utama ya. Disti di sini saja sama Kakak.”
Agung mengernyitkan dahinya. Apalagi setelah Bramasta mengangguk pada Adisti. Memeluk istrinya sebentar sambil menepuk-nepuk punggungnya lalu pergi bersama rombongan ke rumah utama.
“Kalian marahan?” tanya Agung saat mereka tiba di ruangannya.
“Gak tahu..”
“Kok gak tahu sih? Karena Abang melarang Adisti untuk pergi-pergi sendirian lagi?”
Adisti diam terpekur menatap karpet warna abu kehijauan di bawah kakinya.
“Adek takut dengan sifat posesifnya Abang. Apalagi Adek punya tanggung jawab di madrasah komplek.”
“Abang tahu gak dengan kegiatan Adek?”
“Kayaknya nggak deh.”
“Ya beritahu dong. Cerita ke Abang. Kakak yakin, Abang bukan orang yang picik.”
“Tapi Kak..”
“Dek, masalah yang kalian hadapi itu bukan masalah sepele. Yang kalian hadapi itu bukan hanya Rita yang bisanya jambak-jambakan doang. Tapi yang kalian hadapi sekarang ini orang di belakang Rita yang mempunyai kekuasaan dan akses kemana-mana. Jangan remehkan musuh kalian,” Agung duduk di mejanya sambil membuka komputer PC dan laptopnya.
“Kakak bisa mengerti jalan pikiran Abang yang sangat mencemaskan Adek. Sama, Kakak juga sangat mencemaskan keselamatan Adek. Karena kami sama-sama sayang sekali kepada Adek. Plis deh Adek sekarang mengerti..”
“Adek gak tahu kan bagaimana Abang seperti orang gila saat Adek pingsan dengan kepala berdarah setelah dijambak Rita? Bagaimana Abang mengamuk di UGD sebelum akhirnya pingsan karena disuruh menunggu di luar sementara Adek ditangani dokter dan perawat? Bagaimana kami semua termasuk Daddy dibuat panik dengan kondisi Abang saat itu?”
Adisti mendongakkan wajahnya menatap kakaknya yang mulai serius menatap layar komputernya.
Agung tidak membutuhkan jawaban adiknya. Karena dia hafal betul bagaimana adiknya saat dinasehati olehnya. Adiknya akan berdiam diri bukan karena acuh melainkan karena sedang mencerna ucapannya. Dia menenggelamkan dirinya pada laporan untuk meeting nanti.
Beberapa anak buahnya yang keluar masuk ruangannya kaget dengan Adisti yang tertidur di sofa. Seorang anak buahnya membawakan selimut tipis untuk Adisti.
“Pak Agung, Bu Adisti diselimuti saja, kasihan. Khawatir masuk angin,” katanya sambil menyerahkan selimut kepada Agung.
“Ini punya siapa?” tanya Agung.
“Punya saya, Pak.”
“Memangnya kamu sering tidur di kantor?”
“Nggak Pak. Itu dipakai saat saya merasa kedinginan saja dengan AC-nya saat saya merasa AC-nya terlalu dingin untuk saya,” kata anak buahnya itu.
“OK..” sahut Indra.
Anak buahnya hendak meninggalkan ruangannya.
“Kinan, terimakasih banyak ya. Nanti saya kembalikan,” kata Agung lagi.
Karyawati yang bernama Kinanti itu mengangguk dengan pipi merona. Dia memandangi wajah Agung yang tengah serius menatap layar laptopnya.
Merasa dipandangi, Agung mendongak.
“Ya? Masih ada yang perlu dibicarakan?” tanya Agung.
Kinanti tergagap. Menggeleng lalu meninggalkan ruangan Agung dengan kepala tertunduk dan wajah memerah.
Agung mengangkat kedua bahunya lalu mengusap rambutnya.
“Resiko jadi orang good looking...”
***
Babang Agung pede banget ya 🤣
Btw, siapa tuh Kinanti?
Khususon malam tahun baru, double up buat yang mantengin CEO Rescue Me!
❤️