CEO Rescue Me!

CEO Rescue Me!
BAB 219 – SIDANG PERDANA LILIANA SUKMA



Langkahnya gontai saat keluar dari lift. Kepalanya tertunduk. Dia melangkahkan kakinya menuju ruangan divisi accounting. Saat melewati ruang rapat, pintunya tiba-tiba terbuka dari dalam.


Melihat pintu ruang rapat terbuka, bergegas dia menepi. Tuan Kusumawardhani keluar dari ruang meeting diikuti para manajer, termasuk Agung.


Saat Tuan Kusumawardhani lewat, wanita itu membungkukkan tubuhnya. Saat dia menegakkan tubuhnya lagi dia melihat Agung sedang menatap ke arahnya. Dia buru-buru menundukkan pandangannya. Menghindari tatapan Agung.


Agung menaikkan sebelah alisnya saat melewati Kinanti. Dia mengambil gawainya untuk mengaktifkan lagi suara deringnya. Beberapa pesan yang masuk lebih menarik minatnya daripada melihat penampilan Kinanti yang lain dari biasanya, kusut dan lusuh.


Ketua timnya menghampiri Kinanti.


“Bagaimana?” tanyanya penuh rasa ingin tahu.


Kinanti menggeleng.


“Ma’af Pak.. saya harus ke toilet dulu...” Kinanti meninggalkan ketua timnya dengan bergegas menuju toilet.


Di depan cermin besar washtafel, dia menatap pantulannya. Lalu bergegas mencuci wajahnya. Air matanya turun saat dia membasuh wajahnya. Merutuki kebodohannya sendiri.


Saat Pak Agung menjelaskan tentang siapa Adinda terasa berbeda dengan saat Tuan Hans menjelaskan siapa Adinda. Bagi Kinanti, saat Pak Agung menjelaskan tentang Adinda, terdengar biasa saja, tidak ada yang istimewa terhadap gadis itu. Dia menilai gadis itu dibawah dirinya.


Tapi saat Tuan Hans menjelaskan tentang siapa Adinda, mendadak dia merasa dirinya jauh dibawah Adinda. Dia berdecih lalu membasuh wajahnya lagi dengan kasar. Suara pintu yang dibuka membuatnya ingin segera mengakhiri kegiatannya. Dia menyambar tisu dari kotak yang tergantung di samping kanannya.


Dua orang wanita yang ia tahu ketua tim dari kelompok lain dari divisi accounting menghampiri washtafel. Kinanti bergeser.


“Kamu sedang apa?” tanya seorang di antaranya.


“Cuci muka, Bu. Tadi saya agak mengantuk..” Kinanti mencoba tersenyum.


“Kerah blouse kamu jadi basah tuh..”


Kinanti menatap pantulannya di cermin untuk memeriksa.


“Ah, iya...” dia menepuk-nepuk tisu di bagian depan blousenya.


“Eh, peraturan baru dari kesekretariatan yang baru saja beredar, kira-kira siapa yang berulah ya?”


“Iya.. Penasaran saya, siapa wanita yang membuat pihak sekretariat semurka itu.”


Kinanti bergegas menyelesaikan kegiatannya untuk berlalu dari ruangan itu.


Agung sedang memperhatikan layar laptopnya saat gawainya berbunyi notifikasi email. Mengerutkan kening saat melihat pengirim emailnya, Divisi Sekretariat Sanjaya Group.


Dia membaca email yang berisi pemberitahuan mengenai aturan tatanan rambut bagi wanita yang berambut panjang. Dia meringis saat teringat tadi bertemu Kinanti di koridor dengan bahu layu dan wajah kusut.


[Jangan-jangan peraturan ini karena gadis itu. Bang Hans pasti gerah dengan sikapnya yang acap kali menyelipkan rambut di telinganya dan bila berjalan mengibaskan rambutnya] Agung terkekeh sambil menatap emailnya.


Pesan notifikasi chatnya berbunyi.


Hans_Lu udah baca peraturan baru?_


Agung_Sudah Bang. Ini ada hubungannya dengan Kinanti, ya?_


Hans_Yupz. Gak sreg aja lihatnya, per berapa menit sekali menyelipkan rambut di telinganya atau mengibaskan rambutnya.._


Agung_Berasa jadi model shampo kali Bang..(emot ngakak)_


Hans_Saat memperhatikan raut wajahnya, kok gue seperti familiar ya. Mirip seseorang tapi gue lupa siapa orang itu.._


Agung_Masa sih Bang?_


Hans_Kamu gak pernah merasa dia mirip seseorang yang kenal dengan kita?_


Agung_Gak tahu, Bang. Mungkin karena saya jarang menatapnya lebih dari 3 detik.._


Hans_Kalau menatap Adinda?_


Agung_Sedikit lebih lama dari itu, Bang_


Hans_Sedikit? Why?_


Agung_Malu. Degdegan juga. Takut khilaf.._


Hans_(emot ngakak)_


Agung_Bang, ada kabar dari sidang perdana Liliana Sukma?_


Hans_Belum ada kabar dari Tuan Armand. Disti dan Bunda hadir?_


Agung_Tadi Adek kabari sedang otewe ke kantor pengadilan_


Hans_Bareng Bram?_


Agung_Nggak. Bang Bram ada meeting pagi.


***


Adisti meremat tangan Bunda saat melihat Liliana Sukma dibawa masuk ke dalam ruangan.


“Bun...” bisik Adisti.


“Kenapa?” tanya Mommy yang duduk di sebelah Adisti, “Terlihat jauh berbeda ya..”


“Kok Bunda jadi kasihan ya melihatnya seperti itu.”


“Keluarganya ada yang datang tidak ya?” Adisti menoleh ke belakang, mencari-cari orang yang ia kenali.


“Mantan suaminya tidak akan datang, pasti Tuan Hilman merasa sakit hati dan malu dengan kelakuan mantan istrinya,” Mommy berbisik sambil membetulkan kerudungnya.


‘’Tiyo juga tidak akan datang,” bisik Bunda, “Semalam dia menghubungi Bunda.”


Adisti menoleh cepat ke arah Bunda.


“What?? Bunda masih berhubungan dengan dia?”


“Jangan memutus silaturahmi, Dek. Kita sudah mema’afkan mereka maka berlakulah sewajarnya.”


Mommy mengangguk setuju.


“Tiyo ngomong apa aja Bun?”


“Dia masih menganggap Bunda sebagai orangtua yang dia hormati. Dia meminta Bunda untuk sesekali mengunjungi Dimas, adiknya.”


Adisti terdiam. Pikirannya tertuju pada Dimas. Anak laki-aki yang santun dan pemalu.


Perhatian semua orang dalam ruangan teralihkan dengan sosok yang baru datang. Seorang pria berumur dengan wajah tampan diikuti dengan dua orang pria yang usianya jauh di bawahnya.


Mommy mendekatkan wajahnya ke telinga Adisti.


“Tuan Gunawan Tan, Komisaris Buana Raya.”


“Jadi dia pacarnya Nyonya Liliana?” Adisti menyenggol lengan Bunda, “Orang yang memecat Kakak dari Buana Raya, Bun.”


“Biarin. Kan jadi ada hikmahnya. Kakak bisa bekerja dan lebih berkembang di Sanjaya Group, perusahaan yang jauh lebih besar daripada Buana Raya,” Bunda menggerakkan tangannya dengan acuh.


“Kabarnya, Buana Raya sekarang sedang kolaps,” Mommy berbisik lagi, “Sering terjebak dengan salah mengambil keputusan.”


“Hmmm akibat dari ketidakbecusan pimpinannya..” Adisti melirik ke arah Gunawan Tan. Kebetulan Gunawan Tan juga sedang menatap ke arahnya.


Adisti tetap menatapnya, Gunawan Tan tampak rikuh dan mengangguk mencoba tersenyum ke arah Adisti. Adisti tidak membalas senyumnya hanya terus menatap Gunawan Tan hingga pria yang seumuran dengan Daddy itu mengalihkan pandangannya ke arah lain.


Persidangan berjalan lancar. Selama persidangan, Liliana Sukma selalu menundukkan pandangannya. Beberapa kali gawai Gunawan Tan berdering mengganggu jalannya persidangan sehingga Gunawan Tan harus diingatkan Hakim atau harus meninggalkan ruang sidang.


“Kesombongannya didapat dari harta Tuan Hilman Anggoro. Setelah dia tidak lagi menyandang sebagai Nyonya Hilman Anggoro lagi, dia tidak berkilau lagi. Bahkan Gunawan Tan sendiri tidak dapat membuatnya tampil seperti saat masih bersama Tuan Hilman Anggoro..” Mommy berkata sambil memandang Lilian Sukma yang dibawa pergi oleh petugas pengadilan setelah persidangan usai.


Adisti memperhatikan mantan calon mertuanya itu. Memang terlihat menyedihkan. Kulit wajahnya tidak seglowing dulu, tidak ada perhiasan mahal berlian yang selalu berkilauan di jemari ataupun pergelangan tangannya. Koleksi arloji mewahnya pun tidak dapat dikenakannya lagi.


“Mereka sudah menikah?” tanya Bunda kepada Mommy.


“Siapa? Liliana dan Gunawan Tan?” Mommy tertawa, kemudian menggeleng.


“Kenapa Mom?” tanya Adisti.


“Kalaupun mereka menikah,keluarga Gunawan Tan tidak akan merestuinya. Beda kasta,” Mommy menatap punggung Liliana Sukma.


“Nah loh. Dia kemakan omongannya sendiri...” Adisti melebarkan matanya.


“Berarti mereka tidak menikah?” Bunda menatap Gunawan Tan yang tengah berbicara dengan pengacara Liliana.


“Hubungan cinta terlarang mereka itu terbentur kasta sekarang. Keluarga Gunawan Tan akan menarik aset-aset mereka dari perusahaannya bila dia tetap nekat menikahi wanita yang dicintainya,” Mommy berdiri, mengajak mereka meninggalkan ruang sidang.


“Mommy tahu sedetil itu?” Adisti menatap Mommy.


Mommy mengangguk, “Adik Gunawan Tan, teman Mommy. Dia yang bercerita sendiri..”


Saat diambang pintu, Mommy menatap Adisti, “Loh, Bunda mana?”


Mereka membalikkan tubuh ke belakang, melihat ke tempat tadi mereka duduk. Tidak ada Bunda di sana. Tetapi Bunda sedang berjalan ke arah Gunawan Tan yang masih berdiskusi dengan pengacaranya.


“Disti, Bunda...” Mommy tercekat.


“Ngapain Bunda ke sana?” Adisti terdengar khawatir.


.


***


Diam-diam Bunda ternyata punya rencana sendiri. Ngapain sih Bun...


Kita khawatir loh Bun...