
Rumah Keluarga Gumilar
13.47
Mereka berkumpul di gazebo setelah makan siang.
Adisti mengupas mangga, Bramasta duduk di sebelahnya mengecek email dan laporan pekerjaan.
“Ayah, ceritakan ke Adek saat Tuan Hilman berkunjung ke rumah ini saat Adek di rumah sakit,” Adisti memandang Ayah, “Tadi Abang Bram sudah menceritakan apa yang sudah terjadi pada mereka.”
Ayah memandang Bramasta. Bramasta mengangguk.
“Malam itu saat ba’da Isya, Kakak, Tuan Alwin dan Hans datang. Tidak lama setelah makan malam, Tuan Hilman datang bersama Prasetyo. Kakak mempersilahkan mereka masuk maka kita wajib menerimanya dan menghormatinya sebagai tamu.”
Adisti mengangguk, “Terus?”
“Bunda membalikkan kalimatnya dulu saat mereka berkunjung kemari. Ah.. Bunda jadi menyesal sudah melakukannya,” kata Bunda.
“Memangnya Bunda bilang apa?” Adisti berhenti sejenak dari kegiatannya untuk menatap Bunda, lalu kembali lanjut memotong-motong buah mangga dan membaginya ke dalam dua piring.
“Bunda menanyakan untuk apa datang ke tempat kita yang kumuh ini. Mereka kan pernah menyebut rumah kita sebagai rumah kumuh. Sakit hati Bunda pada saat itu,” Bunda cemberut, Ayah tersenyum menatap Bunda.
Bramasta yang melihat Bunda cemberut tidak bisa menyembunyikan senyumnya. Cemberutnya Bunda sama dengan cemberutnya Adisti.
Adisti menyodorkan piring buah kepada Bramasta dan Ayah-Bunda. Masing-masing mengambil garpu. Selesai menelan potongan mangga, Ayah mulai menceritakan semuanya. Juga tentang uang yang dibawa Tuan Hilman yang berlebih banyak.
Adisti terdiam menyimak. Dia menundukkan pandangannya hingga terlihat seperti sedang terpejam. Bramasta memperhatikan wajah Adisti dengan cemas.
“Disti..” dia menyentuh tangan istrinya.
Disti bergeming.
“Adek kenapa?” tanya Bunda, “Adek marah karena kami menerima uang permintaan ma’afnya?”
Disti masih bergeming.
Bramasta menatap Bunda. Lalu beringsut duduknya lebih mendekat pada Adisti. Tangannya membelai punggung istrinya.
“Disti... marah?”
Disti menghembuskan nafas kasar. Lalu berdiri dan meninggalkan gazebo tanpa berucap. Dia berjongkok di petak rawit hijau membelakangi gazebo. Tangannya bergerak cepat mencabuti gulma rumput liar di lubang plastik mulsa.
“Ayah, Disti menangis?” tanya Bramasta saat melihat punggung istrinya bergerak-gerak.
“Ayah gak yakin..”
Bramasta menghampiri Adisti dengan perlahan. Saat tahu apa yang dilakukan istrinya dia berbalik lagi ke Gazebo.
“Bun, ada sarung tangan berkebun?” tanya Bramasta.
Bunda langsung berbalik dan mengambil sarung tangan berkebun pada lemari laci di belakangnya.
“Satu lagi Bun..” pinta Bramasta.
“Adek sedang apa?” tanya Ayah.
“Mencabuti rumput liar sambil bergumam sendiri,” jawab Bramasta membuat Ayah mengangguk dan tersenyum.
“Biarkan saja dia. Itu caranya dia melepas semua beban pikirannya.”
Bramasta mengangguk.
Bramasta menghampiri istrinya. Disodorkannya sarung tangan berkebun. Adisti hanya melirik sekilas sambil terus bergumam.
“Pakai ini..” kata Bramasta.
“Sudah tanggung.”
“Pakai..”
“Gak.”
“Nanti kalau ada tanah yang masuk ke dalam kuku bagaimana? Masa istri Bramasta cacingan?”
Adisti melirik tajam suaminya.
“Mau do’ain Disti supaya kremian??”
Bramasta setengah mati menahan tawanya.
“Nggak..”
Adisti mendengus.
“Pakai,” Bramasta menyodorkan lagi sarung tangan berkebun pada Adisti.
“Maksa ih.”
“Emang,” Bramasta berjongkok di samping Adisti lalu berbisik, “Pakai ini, atau Abang cium Disti sekarang juga di hadapan Ayah Bunda..”
Adisti menoleh cepat ke arah Bramasta. Lalu merebut sarung tangan yang disodorkan suaminya. Langsung memakainya dengan kasar.
“Jangan malu-maluin!” Adisti bersungut-sungut.
Bramasta terkekeh pelan sambil memakai sarung tangannya.
Bramasta berjongkok agak jauh dari Adisti. Sengaja membuat jarak agar Adisti bisa lega mengeluarkan uneg-unegnya pada rumput liar.
Dia mulai mencabuti rumput liar mengikuti Adisti. Mereka bekerja dalam kesunyian. Hanya sesekali Bramasta mendengar ocehan istrinya yang terdengar oleh telinganya.
“....orang kaya... menilai semua dengan uang... mikir dong... siapa yang salah... lu pikir duit segitu sebanding? dasar... meremehkan... anaknya... gantengan juga suami gue... dih bikin sebel... istrinya...”
Antara ingin tertawa dan gemas dengan tingkah laku istrinya, Bramasta terkikik sambil terus mencabuti rumput di depannya.
Kemudian sunyi. Tidak ada suara gerutuan ataupun gumaman Adisti lagi.
“ABANG!” teriakan Adisti disertai keplakan di lengannya membuat Bramasta tersentak kaget, “Abang lagi ngapain???”
“Nyabutin rumput seperti yang Disti lakukan..”
Adisti memukul lengan suaminya lagi dengan gemas.
“Ih.. sakit tau..!”
“Biarin!”
“Disti udah dong..”
“Dek...!” seru Bunda dari gazebo, “Kenapa Abang dikeplakin seperti itu??”
“Biarin Bun. Ngeselin banget soalnya. Kucaynya dicabutin hampir semuanya!”
“Kan Abang gak tahu itu kucay. Abang sangka rumput...”
Bunda mendekat. Melongo melihat banyaknya kucai yang tercabut.
“Gak boleh ngeplakin suaminya seperti itu,” Bunda mengeplak tangan Adisti, “Baru juga menikah 2 hari...”
“Aww.. sakit Bun...” Disti mengaduh.
“Lain kali kalau mau nyabutin tanaman, nanya-nanya dulu..” Bunda mengeplak tangan Bramasta.
“Duh... ma’af...” Bramasta mengaduh.
Bunda memandang mereka berdua bergantian.
“Kalian berdua, beresin ini semua.”
“Tanam lagi, Bun?” tanya Bramasta.
Bunda menatap Bramasta dengan kesal.
Adisti menyenggol suaminya, “Jangan ngarang deh...”
Bramasta balas menyenggol istrinya, “Kan Abang nanya...”
“Nanti Adek buat tempe tepung, Bun..”
“Hmmm...”
“Sisanya nanti Adek bawa ke apartemen.”
“Hmmm...”
“Bagi dua buat ke rumah utama, ya,” bisik Bramasta.
“Beresin,” Bunda berlalu.
“Iya Bun..” kompak suami istri menjawab.
Di gazebo, Ayah menyambut Bunda dengan kekehannya.
“Adek bagaimana?” tanya Ayah.
“Sepertinya sudah bisa menerima semuanya, pasti karena ulah suaminya.”
Ayah terkekeh.
“Tapi tanaman Bunda jadi korbannya..”
Ayah makin terkekeh, “Udah...udah.. nanti Ayah bantu tanam lagi.”
Bramasta menghubungi Mommy minta dijemput oleh driver Mommy. Sekalian menceritakan insiden kucay di kebun.
“Alhamdulillah.. dapat pasokan fresh kucay.. “ seru Mommy, “Harusnya Mommy yang panenin ya.. Mommy pengen banget metik-metik sayuran.. Lagian heran deh, anak Mommy kok gak bisa bedain mana rumput dan mana kucay sih??”
Tidak berapa lama, gawai Bunda berdering. Panggilan masuk dari Mommy. Dan keduanya berbincang lamaaaaa sekali.
Notifikasi chat masuk di gawai Bramasta berbunyi. WAG Kuping Merah.
Indra_Yang ada di dekat TV, nyalain TV XX. Rita ada di tayangan infotainment. Gw nonton di TV Kafetaria kantor_
Leon_Gw masih meeting. Apaan sih?_
Anton_Tar gw bagi link siaran tundanya ya_
Agung_Jauh dari TV. Tapi tadi ngecek berita online, nyesek gw bacanya. Adek gw dikata-katai seperti itu. @Abang Bramasta, tolong, Adek ataupun Ayah Bunda jangan sampai lihat TV dulu sore ini ya.._
Hans_Gw cek dulu_
Bramasta menulis chat setelah membuka berita online.
Bramasta_Hans, hubungi Tuan Armand. Gue gak terima istri gue dipermalukan seperti itu!_
Hans_Tuan Alwin sedang murka saat ini. @Agung, lu naik gih. Bantu gue tenangin Beliau_
Bramasta_Besok peresmian The Cliff, apa bisa kita pukul balik si Rita saat momen peresmian?_
Hans_Nanti kita pikirkan lagi_
Bramasta_Gue nunggu jemputan dulu, nanti langsung ke Sanjaya Group_
Indra_Gue nyusul nanti_
Anton_Gue nyusul juga. Gue masih di The Cliff, meubelair dan kitchen set sedang ditata_
Leon_Minus gue ya. Gue harus pulang ke Singapura sore ini juga_
Hans_It’s K Bang_
***
Yang belum tahu tanaman kucay/kucai, jangan salahkan Babang Ganteng yang mengiranya sebagai rumput liar ya.. 😁
Apalagi yang udah tumbuh bunganya untuk dijadikan biji/benih...
pssst... dukungan buat Author jan lupa ya..