CEO Rescue Me!

CEO Rescue Me!
BAB 129 – IT'S RED!



Pukul 11.40 mereka bertiga meninggalkan B Group dengan mobil Bramasta menuju site di Jalan Soekarno Hatta. Mobil pengawal mengikuti dari belakang.


Indra mengemudikan mobil Bramasta. Adisti duduk di belakang sendirian.



“Sudah damai kan kalian? Tadi gue ngecek CCTV ruangan kerja Lu. Penasaran dengan apa yang menyebabkan Adisti menjadi seperti itu. Lu sih Bram.. terlalu fokus dengan kenapa Hans tidak memberi laporan tentang Disti ke Lu..” Indra seperti biasa berbicara tanpa henti, tidak beda jauh dengan Agung, “Gak heran kalau Adisti jadi salah persepsi.”


“Lah terus kenapa Lu ikut-ikutan juga ngomporin dengan menanyakan laporan Hans?” Bramasta melirik Indra dari balik kacamata hitamnya.


“Gue kan cuma ngikutin Lu karena Lu nyari berkas Adisti yang dikirim Hans.”


“Haiissh! Lu seharusnya ngingetin gue. Kan jadinya gak ada kejadian seperti tadi.”


“Bang, kayaknya lebih enak mendengarkan radio deh daripada mendengar kalian saling berdebat untuk hal remeh temeh.”


“Turutin bini Lu.. Nangis lagi berabe..” bisik Indra.


Keplakan keras mendarat di lengan kiri Indra. Indra mengaduh.


“Ngomong apa?!” Adisti memajukan kepalanya berada di antara mereka.


Bramasta tersenyum lebar.


“Nggak.. Abang gak ngomong apa-apa..” Indra melirik Adisti.


“Kalimat barusan sama saja dengan ngatain Disti tukang ngambekan kan?!”


“Nggak, Dis. Gak kayak gitu maksudnya.”


“Then?”


“Braaaam bantuin kek..” Indra menoleh pada Bramasta yang menatapnya dengan tersenyum lebar.


“Makanya jangan comel jadi laki,” Bramasta terkekeh kecil.


“Then??” Adisti bertanya lagi sambil mencondongkan tubuhnya ke arah depan.


“Maksud Abang.. istri itu harus dituruti maunya supaya damai terus. Kalau damai kan tenteram suasananya. Iya kan?” Indra berharap Adisti berhenti mengintimidasi dengan tatapan dan pertanyaannya.


Adisti mendengus.


“Jawabannya gak nyambung,” Adisti menarik tubuhnya meletakkan punggungnya di sandaran.


“Ya Allah... kayaknya gue musti berguru kepada Hans,” Indra mengusap wajahnya.


Bramasta tertawa keras, “Untuk?”


“Supaya gue bisa menjawab pertanyaan dengan kalimat yang tangkas dan cerdas meskipun dibawah tekanan.”


“Bang Indra, Disti sehoror itu ya?” Adisti menatap Indra dari kaca spion dalam.


Indra melirik Bramasta yang tengah mengangkat kedua bahunya. Lalu melirik Adisti melalui kaca spion dalam.


“Abang jawab jujur ya. Iya, kadang Disti semenakutkan itu..”


Adisti meletakkan kedua sikunya di antara sandaran kursi yang diduduki oleh Bramasta dan Indra. Lalu menepuk-nepuk pundak kiri Indra.


“Ma’afin Disti ya Bang..”


Indra melirik sebentar pada tangan Adisti di atas bahunya.


Bramasta memelorotkan kacamata hitamnya memandang tangan Adisti di atas bahu Indra, “Disti... gak perlu menyentuh bahu Indra kali..”


“Eh, iya.. ma’af. Berasa mengobrol dengan kakak sendiri..” Adisti cepat menarik tangannya dari bahu Indra.


Dia menyentuh bahu Bramasta lalu meraih lengan kanannya.


“Salim...” Adisti mencium punggung tangan suaminya, "Minta ma’af..”


Bramasta menatap wajah istrinya. Lalu mengangguk. Bramasta menaikkan kacamatanya. Memandang ke arah depan lagi sambil mengerakkan lehernya untuk menghilangkan pegal. Indra melirik ke arahnya lalu mengerutkan keningnya.


“Wait..! What’s that?”


“What??”


“Lu nunduk, Bram.”


Bramasta menurut. Indra menarik kerah kemeja Bramasta.


Indra terkekeh keras, “Oh My...”


“Apaan sih?”


“Itu hasil perbuatan tadi setelah kalian marahan di kantor?” Indra masih terkekeh hingga air matanya keluar.


“Apaan sih?”


“Leher Lu, Bram. Ada merah kissmark. Bujubune... kalian berdua ya.. Benar-benar deh.. Gue gak nyangka.. Gue kira cupu ternyata suhu!”


Wajah Bramasta memerah. Dia menyentuh belakang lehernya yang kata Indra ada bekas kissmark.


Indra semakin terbahak.


“Bram, jelasin Bram.. Lu yang jelasin..”


“Ah.. Disti nih..” Bramasta menurunkan shading sun yang terlipat di atasnya.


Ada cermin di dalamnya. Bramasta memeriksa leher belakangnya dengan menggunakan cermin tersebut.


“Yaaah kok jelas gini sih?”


Indra masih tergelak, “Terlihat kalau Lu gerakin leher, Bram.”


“Duh, bagaimana dong? Malu, Ndra!”


“Issh! Kalian ini ngomongin apa sih?”


“Ini loh.. ini yang namanya kissmark, Sayang..” Bramasta menekankan kata sayang sambil menunjukkan leher belakangnya.


“Ooh yang ini...” Adisti mendekatkan wajahnya untuk memeriksa, “Tapi tadi pagi gak semerah ini loh Bang. Beneran deh.”


Indra terbahak lagi, “Bini Lu polos banget, Bram..”


“Makanya Disti kalau bangunin Abang jangan anggap Abang sebagai Edward Cullen dari film Twilight Saga lagi ya. Repot nih jadinya..”


Indra tergelak mendengar nama Edward Cullen, vampire tampan yang diidolai banyak wanita walau berkulit pucat.


“Repot kenapa Bang?”


“Lah ini bekas kissmark-nya Disti..”


“Oh My... kenapa gue apes banget ya harus terjebak berada di pembicaraan suami istri kayak gini... Bener-bener ngenes nasib gue hari ini..” Indra menggeleng-gelengkan kepalanya.


“Gitu aja kok repot sih Bang..” Adisti membuka tas selempangnya.


Mengambil dompet kecil berisi make up kit. Mengeluarkan tube kecil concealer.


“Bang Bram mendekat, Bang..”


Bramasta menurut. Dia memiringkan tubuhnya.


Adisti mengoleskan concealer pada tanda merah di belakang leher Bramasta. Menepuk-nepuk ringan untuk meratakannya. Lalu memberi bedak tabur di atasnya.


“Udah beres! Gak kelihatan lagi..”


“Wow!” Indra menatap sekilas, “Keajaiban make up ya.”


“Tapi risih rasanya..” Bramasta memeriksa dari cermin di shading sun.


“Gak usah rewel, Bang. Atau Disti tambahin lagi merah-merah di leher Abang.”


Serentak Bramasta dan Indra menoleh pada Adisti dengan ekspresi yang berbeda. Bramasta tersenyum lebar sedangkan Indra melongo.


“Ayo!” Bramasta melepas seatbeltnya lalu hendak beranjak ke bangku belakang.


Indra menahan bahu Bramasta.


“Duduk dan pasang seatbelt-nya lagi atau gue turunin kalian berdua di sini,”wajah Indra terlihat serius saat mengatakannya.


“Ini mobil siapa?” tanya Bramasta.


“Mobil Lu. Tapi gue gak sudi dijadikan supir sementara kalian berdua gabruk-gabrukan tipis-tipis di kursi belakang.”


Bramasta terkekeh, “Ya Allah.. gabruk-gabrukan tipis-tipis. Istilah baru lagi, Ndra?”


“Hmmm,” Indra melirik tajam pada Bramasta.


“Bercanda, Ndra.. bercanda... Masa gue mau sih melakukannya di dalam mobil. Ada Lu lagi..” Bramasta terkekeh.


“Gak lucu candaannya. Soalnya gue jomblo!”


“Kenapa Mblo? Siapa yang ngasih ide gabruk-gabrukan tipis-tipis?” Adisti menyela sambil membereskan peralatan make up-nya.


Indra mencebik, “Mimpi apa gue semalam ya?”


Bramasta terkekeh puas. Dia melirik arlojinya, “Kita singgah di masjid dulu, Bro. Setelah itu makan siang.”


“Dimana?”


“Tempat biasa saja. Gak terlalu jauh dari site.”


Indra mengangguk.


.


***


Ma'af...


Sedang lelah jiwa raga 🤒