CEO Rescue Me!

CEO Rescue Me!
BAB 140 - YANG MARAH DAN DIMARAHI



Sepanjang perjalanan mereka tidak membahas tentang bunga dari Prince Zuko. Gawai Bramasta dan Agung bunyi bersamaan terus menerus sejak tadi.


Bisa dipastikan pasti dari WAG /kuping Merah. Keduanya belum membuka pesan chatnya. Karena masih ada para perawat dan pengawal di sekitar mereka.


Mereka membawa ketiga bunga yang diambil dari lobby. Pengawal meletakkan ketiga bunganya di atas meja.


Agung dan Adinda saling bersitatap. Agung tersenyum. Adinda hanya menatapnya.


Agung mengernyit. Dia tdak tahu apa yang membuat Adinda tiba-tiba seperti menarik diri. Membuat batasan dengan dirinya.


“Dinda kenapa?” tanya Agung saat duduk di sofa bed.


“Ada PR, Om.”


“Dikumpulkan besok?” tanya Agung lagi.


Adinda hanya mengangguk.


Setelah tahu Agung masuk dalam list lajang yang paling diinginkan di negeri ini membuat hatinya makin nelangsa. Dirinya hanya dipandang sebagai anak kecil oleh Agung. Selamanya akan seperti itu.


Adinda menunduk dalam. Menyimpan asa yang layu sebelum bersemi. Dia menghela nafas panjang lalu menghembuskannya kasar.


Dirinya terlalu ge er saat mendengar Abang Indra dan Kak Anton berkata, dirinyalah gadis yang membuat hati Agung jungkir balik.


Matanya mengembun. Tapi dia berhasil menyembunyikannya dengan baik di balik buku paket sekolah yang sudah ia keluarkan dari tadi. Berpura-pura ada tugas merangkum mungkin itu cara yang baik untuk mencegah hatinya terluka lagi.


Bramasta tengah menatap gawainya, sibuk menjawab chat di WAG. Adisti berbincang dengan Bunda di sofa L. Agung menatap lekat pada Adinda yang wajahnya tertutup oleh buku paket.


Agung menyentuh buku paket yang tengah dipegang Adinda. Menurunkannya dengan menggunakan telunjuk. Tepat pada saat itu, air mata Adinda meluncur di pipi.


“Hei.. kenapa?” bisik Agung sambil beringsut mendekati Adinda.


Adinda cepat mengelap air mata dengan punggung tangannya. Dia tampak terkejut. Adinda menggeleng.


“Dari tadi saya perhatikan kamu tiba-tiba menarik diri. Ada apa? Jangan diam kalau memang ada apa-apa. Saya tidak bisa menebak-nebak isi hati dan isi kepala kamu. Saya bukan cenayang,” Agung masih berbicara dengan suara perlahan.


Adinda masih terdiam.


“Adinda Amelia Putri,” Agung memandang lekat mata Adinda, “Katakan kenapa dan ada apa?”


“Tadi saya berusaha membantu Om untuk duduk di kursi roda tapi Om menolak bantuan saya,” Adinda menundukkan pandangannya.


Agung mengingat kejadian tadi.


“Kamu kan tahu alasannya saya menolak sentuhan kamu..”


Mereka berbicara dengan pelan.


“Tapi Om tidak menolak sentuhan perawat tadi. Padahal sama-sama bukan mahramnya kan?”


Agung tersenyum menatap Adinda.


“Tapi kan itu memang tugasnya perawat.”


“Tapi tetap saja bukan mahramnya kan?”


“Iya sih..”


“Tuh kan..”


“Kamu cemburu?”


Adinda menatap tajam pada Agung.


“Saya tahu, saya baru 17 tahun. Dan selamanya Om akan memandang saya sebagai bocil. Iya kan?” Adinda memasukkan buku dan alat tulisnya ke dalam tasnya dengan terburu-buru.


Agung terperangah.


“Saya pamit dulu, Om. Saya gak akan salim ke Om. Bukan mahram.”


“Dinda..” Agung memanggil tetapi Adinda sudah berjalan ke arah sofa L.


Adinda pamit pada Bunda dan Adisti sambil tersenyum.


“Diantar supir ya,” kata Bunda.


Adinda menggeleng, “Gak usah, Bun. Ini masih sore. Dinda pulang sendiri saja.”


“Ya sudah, hati-hati di jalan ya. Fii amanillah.”


“Hati-hati ya,” peluk Adisti.


Adinda mengangguk, “Assalamu’alaikum..”


Bunda dan disti menjawab salam bersamaan.


Adinda menghampiri Bramasta yang tengah mengetik pesan di meja pantry.


“Bang Bram, saya pamit dulu mau pulang.”


Bramasta mendongak, “Sama siapa?”


“Sendiri, Bang. Mumpung masih sore.”


“Gak apa-apa?”


“Biasanya juga kan sendiri, Bang.”


“OK. Becareful ya..”


“Assalamu’alaikum.”


“Wa’alaikumussalam..”


Adinda menoleh pada Agung yang masih termangu menatap dirinya. Dia menghampiri Agung.


Bibirnya melengkung senyum tetapi matanya tidak.


“Selamat ya Om, sudah masuk dalam list lajang yang paling diinginkan di negeri ini. Pasti akan banyak wanita-wanita cantik yang akan mendekati Om. Usia matang tentunya. Bukan bocah macam saya. Assalau’alaikum..”


Adinda membungkukkan badannya lalu berlalu dari hadapan Agung.


Suara Agung yang memanggilnya tidak ia hiraukan. Tubuhnya lenyap di balik pintu.


Adisti memicingkan matanya menatap Agung. Kemudian berjalan mendekati Agung yang masih duduk di sofa bed sambil memandangi pintu.


“Apaan sih Dek?”


“Dinda kenapa?”


“Gak tahu.”


“Gak ada asap kalau gak ada api. Adek bisa lihat tadi, Dinda habis menangis. Kakak apain dia?”


“Gak diapa-apain..”


“Jangan bohong!”


“Kakak gak bohong.”


“Itu buktinya Dinda pulang dengan perasaan terluka.”


“Meneketehe, Dek. Seumurannya kan memang mood swinger banget kan?”


“Ada apa sih?” tanya Bramasta sambil duduk di samping Agung, “Disti sini duduk. Jangan berdiri sambil bersidekap seperti itu, serem lihatnya.”


“Kakak mah harus digalakkin, Bang,” Adisti duduk di kursi depan suaminya.


“Kenapa memangnya?”


“Tuh bikin Dinda menangis. Jahat ih. Gak nyangka Adek punya Kakak ternyata jahat ke cewek..”


Bramasta meringis sambil menatap Agung.


“Kakak Ipar??” Bramasta menggeleng-gelengkan kepalanya, “Ck ck ck..”


“Isssh bukan seperti itu.. Kalian ini ya! Isssh!” Agung berusaha berdiri. Wajahnya mengernyit sakit.


“Mau kemana?” Bramasta ikut berdiri juga. Mengulurkan tangannya untuk dijadikan pegangan agar Agung bisa berjalan dengan lebih mudah.


“Mau tidur. Suntuk ah. Ditanya-tanya mulu dengan hal yang Aa gak tahu jawabannya.”


Bramasta menyengir pada Adisti.


“Kak, jalannya kok diseret begitu sih kakinya? Kapan bisa terbiasa lagi telapak kakinya? Cih.. manja banget,” Adisti mencibir.


“Terus bagaimana?”


“Tiru dong jalannya Adek seperti waktu itu. Banyak dihentakkin, supaya peredaran darah di kaki jadi normal lagi.”


“Let’s do it!” Bramasta menganggukkan kepalanya pada Agung.


"What??" Agung menaikkan sebelah alisnya.


"Just stomp it.”


Agung mencoba. Langsung meringis. Mencoba lagi. Meringis lagi.


“Subhanallah.. rasanya mantap banget,” Agung berhenti mencoba.


“Lah, udahan?” Bramasta mengernyit.


“Gak kuat, Bang. Beneran.”


“Disti.. Kakak Ipar gak kuat katanya.." lapor Bramasta yang langsung membuat Adisti mencibir.


“Lemah.. cengeng tapi ngatain orang lain cengeng..”


Agung menatap tajam pada adiknya.


“Awas loh Dek!”


“Gak boleh ancam-ancam istri Abang!” Bramasta balas menatap Agung.


Adisti terbahak.


“Ciyeeee Kakak, jalannya diseret-seret begitu. Kaya anak gadis yang baru MP saja...”


Keduanya menoleh pada Adisti.


“Jadi Adek kayak gini jalannya? Yang waktu itu sampai digendong-gendong Abang segala? Apa tuh, rumus buatan Adek...” Agung mengingat sejenak, “Ah, ya... ½ +1/4+1/4 \= 1. Iya kan?”


Wajah Bramasta memerah. Juga Adisti.


“Haisssh Disti...”


“Iya Bang?” tanya Agung.


“Tau ah!”


Mereka sudah tiba di bed Agung. Agung duduk di atas bednya. Gawai Bramasta berdering.


“Assalamu’alaikum. Ya Ton?” Jeda.


“Kenapa?” Jeda. Bramasta melirik Agung.


“Iya. Antarkan saja. Jangan didesak dulu." Jeda.


"Ya sama.. di sini juga kondisinya sedang galau..” melirik Agung lagi.


“OK.. Wa’alaikumussalam.”


Adisti mendekat menggenggam jemari Bramasta.


“Siapa?” tanyanya.


“Anton,” Bramasta melirik Agung, “Dia bertemu Adinda di tepi jalan, tengah menunggu angkot tapi sambil berurai airmata.”


Agung menoleh. Wajahnya antara panik, kaget dan merasa bersalah.


“Terus, Bang?” tanyanya.


.


***


Tuh kan..