
Adinda meringkukkan diri lagi di pangkuan Agung. Menggelung tubuhnya seperti bola, seperti saat di dalam kamarnya shubuh tadi.
“Sssh..ssshh.. Tidak apa-apa, Dinda. Dia Dokter Felix. Dokternya Om Agung dan Teh Adisti juga. Gak apa-apa, OK? Om Agung temani kamu. Sssh...” Agung memeluk Adinda sambil berbisik pelan.
“Bunda juga akan temani Dinda. Dinda gak sendiri lagi. Jangan takut..” Bunda mengelus punggung Adinda.
“Dokter Felix, ma’af, ada dokter perempuan? Adinda tidak bisa didekati ataupun diajak bicara oleh pria kecuali saya,” Agung menjelaskan pada Dokter Felix.
“Dokter jaga pagi ini kebetulan hanya dokter laki-laki semuanya, Tuan. Pasien sepertinya trauma sekali ya,” Dokter Felix memandang kepada perawat, “Siapkan valium 10 mg/2mL.”
“Baik Dok.”
Injeksi valium diberikan. Agung memalingkan pandangannya saat tindakan medis dilakukan. Tidak berapa lama, Adinda mulai tenang.
Tubuhnya tidak bergetar dan berkeringat dingin lagi. Walau nafasnya masih tersengal. Dia bernafas menggunakan mulutnya.
Tak berapa lama, Adinda tertidur. Agung bisa turun dari bed. Langsung menitipkan Adinda pada Bunda dan Adisti. Bergegas dia ke mushola untuk menunaikan shubuh yang terlambat.
Bramasta tengah berbicara dengan Daddy saat Agung menghampiri. Bramasta melambaikan tangannya pada Agung lalu mengakhiri pembicarannya dengan Daddy. Ada Hans juga yang sudah bergabung di ruang tunggu UGD.
“Bagaimana Adinda?” tanya Ayah saat Agung mengambil duduk di sampingnya.
Agung menggeleng, matanya sendu. Wajahnya terlihat sangat lelah.
“Dia trauma dengan suara laki-laki yang mengajak berbicara dengannya. Trauma dengan parah. Bang Hans dan Bang Bram juga tadi dibentak oleh Dinda untuk tidak menyentuhnya. Tadi juga Dokter Felix dibentaknya,” Agung mengusap wajahnya. Lelah.
“Andai gue tahu Adinda akan seperti ini, seharusnya dari awal gue terobos rumahnya, Bang,” kata Agung kepada Hans.
“Semua sudah qodarullah, Kak. Jangan menyesali apa yang sudah terjadi. Kita bantu Adinda untuk pulih lagi,” kata Ayah sambil merangkul pundak sulungnya.
“Pengorbanan Adinda yang sudah menerima pukulan dan hinaan akan sia-sia, Gung. Akan banyak korban gadis-gadis belia lainnya yang menjadi mangsa Tuan Bryan. Walaupun bukan dengan perantara si Teman Pria ibu tirinya,” kata Hans.
“Terus bagaimana?”
“Kasus ini diambil alih oleh Polda Jabar. Karena mereka menilai kasus ini merupakan kasus besar. Woman trafficking yang melibatkan anggota kedutaan asing yang notabene mempunyai imun hukum karena hak istimewa mereka sebagai diplomat itu bukan kasus main-main,” Hans menyelonjorkan kakinya.
“Mereka bisa serius tidak menyelesaikan kasus ini?” tanya Agung.
“Kita pantau bersama,” kata Bramasta sambil mengusap dagunya yang terasa gatal karena ditumbuhi bakal janggut.
Gawai mereka berbunyi bersamaan. WAG Kuping Merah.
Anton mengirim gambar Tuan Bryan. Berikut screen shot surat kabar berbahasa Inggris dan Tagalog, jejak samar Tuan Bryan terkait aktifitas pedofilnya.
Agung memforward chat Anton pada Ayah supaya Ayah bisa membaca profil Tuan Bryan.
Surat kabar berbahasa Inggris dari harian Australia, tentang pelecehan sek su al yang menimpa anak-anak di acara kemah yang diadakan sebuah organisasi seni dan budaya setempat.
Acara yang juga diikuti oleh Tuan Bryan sebagai tamu dari negara asing. Pelaku yng dihukum adalah ketua organisasi tersebut. Sifat pedofilnya terungkap saat penyelidikan berlangsung.
Surat kabar berbahasa Tagalog dari harian Filipina memberitakan adanya penculikan dan pelecehan sek su al yang dialami seorang remaja puteri setempat yang diakhiri dengan pembunuhan.
Tubuh remaja tersebut ditemukan di sebuah gudang tepi hutan di area vila yang dijadikan tempat Kedutaan Jerman mengadakan acara.
Tuan Bryan menjadi ketua panitia dalam acara tersebut. Kasus tersebut hingga hari ini tidak terpecahkan.
Sebuah foto Tuan Bryan dikirimkan. Seorang pria Ras Kauskasia berumur 56 tahun dengan rambut yang sudah menipis tampak memandang ke arah kamera dengan anggun. Dia mengenakan tuxedo hitam dan dasi kupu-kupu berwarna merah.
“Ini Tuan Bryan??” Indra mendecih.
“Ekspresinya saja sudah menyebalkan seperti itu ya. Ada aura sadisnya,” Bramasta berkomentar.
Ayah memandang keempat anak muda di hadapannya, “Kenapa para pedofil mempunya profil wajah yang sama ya?”
Keempatnya tampak terperanjat.
“Maksud Ayah?”
“Setiap ada kasus pedofil yang terungkap di media, Ayah selalu memperhatikan wajah para pelaku.”
Hans menaikkan alisnya, bertanya.
“Karena Ayah tidak mau anak-anak Ayah, kepononakan, ataupun cucu-cucu Ayah berhadapan dengan pelaku pedofil. Pedofil itu sangat berbahaya, perilakunya menular pada sebagian besar korbannya. Pelaku pedofil biasanya mempunyai latar belakang pernah menjadi korban pedofil pada masa lalunya.”
“Lalu Ayah membuat pemetaan wajah pedofil?” tanya Bramasta.
Ayah melanjutkan lagi, “Kasus dari Australia, ada foto pelakunya kan?"
Mereka membandingkan foto keduanya.
“Jadi menurut Ayah, pelakunya ini memang seorang pedofil?” tanya Indra.
“Sesama pedofil bisa bekerja sama kan? Orang-orang dengan kelainan biasanya saling bekerja sama untuk memenuhi keinginannya yang menyimpang.”
“Kok berasa nonton film thriller ya?” seloroh Indra.
“Terus tentang Tuan Bryan ini bagaimana?”tanya Agung.
“Mereka ada janji ketemu untuk menyerahkan Adinda di Hotel P pukul 15.00,” kata Hans.
“Kita akan menjebak Tuan Bryan dan asisten pribadinya di Hotel P.”
“Kita?” tanya Ayah.
“Orang-orangnya Hans dan polisi, Yah,” jelas Bramasta.
“Polisi tidak akan curiga pada Hans lalu dikaitkan dengan Prince Zuko?” Ayah memelankan suaranya.
Hans menggeleng.
“Insyaa Allah, nggak Yah. Jangan khawatir.”
“Gue dapat cerita dari anak buah Lu di TKP, polisi-polisi yang datang sampai jiper menghadapi Lu, Hans?” seloroh Indra yang membuat semuanya tertawa, kecuali Agung yang hanya tersenyum kecil saja.
Bramasta yang melihat Agung langsung membelokkan pembicaraan.
“Kakak Ipar tidak ke dalam lagi?”
Agung menggeleng, “Kata Adek, Adinda harus dipasang selang kateter karena kondisi psikisnya tidak memungkinkan untuk bisa beraktifitas normal.”
Semuanya mendengarkan dengan raut wajah tegang.
“Sampai berapa lama?” tanya Hans.
Agung menggeleng.
“Visum juga baru bisa dilakukan setelah Adinda tertidur karena pengaruh obat penenang yang tadi diberikan.”
“Sebenarnya, apa yang dilakukan lelaki bajing an itu kepada Adinda di kamarnya?” Indra berkata dengan nada geram.
“Mungkin bisa kita lihat dari hasil visum,” Bramasta melirik arlojinya.
“Kita sarapan dulu yuk,”katanya lagi.
“Kalian dan Ayah makan saja, gue lagi gak ingin makan apapun..” Agung berdiri.
“Kakak..” suara Ayah mampu menghentikan langkah Agung, “Sini.”
Agung kembali ke kursinya.
“Ayah tahu, dan para Abang kamu juga tahu kalau kamu sedang bersedih. Tapi bukan berarti kamu abai dengan kebutuhan tubuh kamu sendiri. Cuma kamu, satu-satunya dari kami yang bisa berbicara dengan Adinda. Kamu harus kuat untuk bisa tetap menenangkan Adinda.”
“Bro, buat menggendong Adinda kemana-mana itu butuh energi yang besar. Lu kudu makan, Bro,” kata Indra.
“Apapun yang terjadi, kita tetap support Adinda untuk sembuh. Kakak Ipar jangan khawatir.”
“Untuk masalah hukum, jangan khawatir, Shadow Team punya orang-orang yang kuat di instansi. Meskipun si Bryan ini mempunyai kekebalan diplomatik, kita akan buat dia membayar semua hal jahat yang pernah dilakukannya,” Hans memegang lengan Agung.
“Petang nanti, gue ke Jakarta. Bertemu dengan menteri luar negeri terkait masalah ini,” Hans berdiri, Ayah juga ikut berdiri.
.
***
Catatan Kecil:
Dari Konvensi Wina 1961, disebutkan bahwa utusan diplomatik mendapat fasilitas kekebalan dari segala kasus kriminal di negara penerima. Dia juga mendapatkan kekebalan dari kasus perdata dan administratif kecuali pada kasus kepemilikan pribadi benda tak bergerak di negara penerima, terlibat suksesi kepemimpinan di negara penerima dan adanya aktifitas komersial atau profesional di luar tugas resminya.
Kekebalan diplomatik ini juga berlaku bagi anggota keluarganya.