CEO Rescue Me!

CEO Rescue Me!
BAB 163 – BAGAIMANA JIKA



Ayah sudah berangkat tadi. Pamit dulu pada Bunda dan Adinda.


Hati Agung menghangat melihat Adinda salim dengan takzim pada Ayah. Terlihat normal seperti perilaku remaja pada umumnya.


Adinda sudah diwashlap tubuhnya oleh Bunda. Walau Adinda merasa risih tapi Bunda bersikeras membersihkan tubuh Adinda.


Wajah Adinda terlhat lebih segar. Dia mengenakan kerudung bergo milik Bunda berwarna biru navy. Cantik sekali. Warnanya kontras dengan kulitnya yang terang.


Agung tengah larut dengan laptop dan gawainya. Gawainya dipakai untuk membuka emai-email tentang pekerjaannya sedangkan laptopnya memunculkan tabel excel yang berisi angka-angka. Beberapa lembar berkas memenuhi meja kopi sofa bed.


“Dinda mau kemana?” tanya Bunda dari arah pantry saat melihat Adinda menurunkan kakinya dari bed.


“Cuma ingin lihat jendela saja, Bun. Bosan di sini terus.”


“Sebentar, Bunda dekatkan tiang infusannya dengan Adinda. Tiang infusannya digandeng ya, Din kalau jalan,” canda Bunda.


Adinda terkekeh. Kemudian melirik Agung yang masih tenggelam dala pekerjaannya.


"Jangan gandeng Om Agung, sedang gak bisa diganggu dia,” canda Bunda lagi.


“Bukan mahromnya ya Bun?” kekeh Adinda lagi.


Bunda tertawa, “Anak gadis Bunda sudah pintar sekarang..”


Adinda berdiri. Belum juga berdiri tegak, dia sudah terjatuh terduduk di atas tepi bednya. Dia mencoba lagi. Kali ini, baru mulai untuk bangkit, dia terduduk lagi.


“Dinda?” suara Bunda terdengar cemas.


“Bun...” Adinda menoleh pada Bunda dengan tatapan panik, “ Bun, Dinda gak bisa berdiri!”


“KAKAK!” panggil Bunda panik.


***


Adisti masih termangu takjub melihat perubahan pada ruang kerja suaminya. Bramasta tersenyum menatap istrinya sambil bersidekap.


“Bagaimana? Buk Istri suka?”


Adisti menoleh sambil tersenyum lebar. Lalu menghambur ke arah Bramasta sambil merentangkan tangannya.


Bramasta tertawa. Lalu menangkap tubuh istrinya yang terasa ringan bagi dirinya.


“My Thinkerbel is flying!” Bramasta mengangkat tubuh istrinya tinggi-tinggi sambil memutar tubuhnya.


Adisti tertawa senang.


“Udah..udah.. Bang stop. Pusing nih.”


Bramasta terkekeh. Lalu menuruti istrinya. menurunkan tubuh istrinya dengan perlahan.


Mengecup kening, puncak hidung dan bibir istrinya. Mereka saling tatap dari jarak dekat. Bramasta belum menurunkan tubuh istrinya sepenuhnya.


Wajah Adisti merona diperlakukan seperti itu oleh suaminya.


“Udah dong.. Nanti malah Abang ngajakin yang iya-iya lagi..”


Bramasta terkekeh senang. Semakin mendekap tubuh istrinya yang tergantung dan menempel pada tubuhnya yang tinggi.


“Makasih Pak Suami. Buk Istri senang banget dengan ruangan barunya.”


“Abang dapat hadiah gak?”


“Maunya hadiah apa?”


“Baju tidur kemarin malam, pakai lagi ya,” bisik Bramasta dengan pipi merona.


Adisti menggeleng.


“Please...” mata Bramasta memohon.


Adisti menggeleng sambil tersenyum.


“Gak ah...”


“Disti...”


“Nggak mau kalau pakai baju yang sama. Disti masih punya warna lain. Burgundy.”


Bramasta terkekeh senang.


Suara pintu diketuk dan tak lama dibuka dari luar.


“Eh, kalian sedang apa?” Indra menaikkan kedua alisnya keheranan.


“Ngajarin Disti terbang, jadi Thinkerbel,” sambil menurunkan tubuh istrinya.


“Dih!” Indra berjalan ke arah sofa sambil bernyanyi reffrain lagunya Westlife, “I believe i can fly.. I believe I can touch the sky..”


Adisti terkekeh.


“Suara Bang Indra keren!”


“Woyyaadoooong.”


Bramasta mencibir.


“Bagaimana ruangan Disti? Suka?” tanya Indra.


Adisti mengangguk.


“Dia baru lihat luarnya aja sudah sesenang itu, Ndra. Sampai minta diterbangin seperti Thinkerbel,” seloroh Bramasta sambil duduk di samping Indra.


“Jadi dia belum lihat di dalamnya?”


Bramasta menggeleng.


“Duduk di kursinya?”


Bramasta menggeleng lagi.


“Buka laptopnya?”


Bramasta lagi-lagi menggeleng.


Lagi-lagi Bramasta menggeleng sambil terkekeh.


Indra menatap Adisti, “Lu ngapain aja dari tadi, Buk?”


“Isssh Bang Indra nih..”


“Buruan lihat dan cobain semuanya,” perintah Indra, “Bentar lagi Bram dan gue mau meeting.”


Adisti menurut. Memasuki ruang kerjanya yang tersambung dengan ruang kerja suaminya.


Banyak terdengar suara “Waaah.”


Kemudian pekikan senang. Bramasta dan Indra yang sedang membahas materi meeting terkekeh dengan tingkah Adisti.


Kemudian terdengar bunyi dengung halus dari ruangan Adisti. Adisti tengah mencoba exhaust untuk menghisap keluar aroma cat minyak lukisannya.


Suara kekaguman terdengar lagi. Lalu bunyi dengung berhenti. Disusul dengan bunyi derap kaki yang berlari namun teredam oleh karpet empuk yang menutupi area kantor Bramasta.


Adisti langsung berlari menuju suaminya. Menerjangnya yang saat itu tengah mengamati laptopnya di meja sofa bersama Indra.


Punggung Bramasta membentur sandaran sofa.


“Heiyyy..” Bramasta menepuk punggung Adisti yang tengah memeluk lehernya dengan erat.


“Kenapa Dis?” Indra keheranan menatap Adisti, “Seperti baru ketemu setan aja... Atau jangan-jangan ruangan Disti ada setannya?”


“Ndra.. Lu baru kemarin kan bertingkah seperti orang kesurupan. Lu mau kesurupan beneran hari ini?” Bramasta mendengus kesal.


Indra hanya menyengir lebar.


“Bang Indra tuh.. paling jago patahin semangat Disti.. Disti kan jadi lupa lagi mau ngapain sekarang,” protes Adisti.


Indra tergelak senang.


“Oh ya.. baru Disti ingat. Disti mau ngomong: thankyou-thankyou-thankyou...” Adisti menatap mata suaminya dari jarak dekat sambil tersenyum.


“Lah, tinggal ngomong many thankyou atau thankyou so much, lebih praktis dan gak belibet juga dengarnya,” cibir Indra.


“Itu sudah main sream, Bang,” seloroh Adisti.


“Untuk Pak Suaminya Disti yang ganteng, baik hati dan super keren ini, Disti gak mau ngasih yang main stream. Harus out of the box.”


Bramasta terkekeh lalu mengecup kening istrinya.


“Laaah Bram!”


Adisti membalas kecupan berkali-kali di pipi kanan dan diri Bramasta dengan gemas.


“Laaaah Disti lagi!”


Dengan gerakan cepat, Adisti menyesap leher suaminya yang membuat Bramasta membelalakkan matanya dengan tatapan senang dan bahagia.


“Issssh kalian berdua ini ya. Tidak menghargai banget senior yang masih jomblo!” Indra berdiri sambil berkacak pinggang.


“Disti..” bisik Bramasta.


“Ma’af Bang. Disti kelepasan. Leher Abang gemesin banget sih. Wangi lagi. Jadi pengin jadi nyamuk..”


“Hisssh!” Indra kehabisan kata dengan tingkah Adisti.


“Bang,” Adisti mendongak pada Indra, “Buruan cari jodoh Abang, gih.”


“Lah, ini juga sambil nyari. Tapi kayaknya jodoh Abang masih betah main petak umpet..” Indra menatap arlojinya.


Gawai Indra dan Bramasta berdering bersamaan, pesan chat dari WAG Kuping Merah.


Agung_Adinda terbangun dengan tidak mengingat apa yang terjadi pada dirinya. Barusan, saat Adinda mencoba untuk turun dari bednya, dia tidak bisa berdiri. Kakinya tidak kuat menopang tubuhnya_


Bramasta dan Indra saling berpandangan.


“Bukannya tadi pagi dijelaskan hasil CT Scan-nya baik dan tidak ada gejala amnesia?” tanya Bramasta.


Indra mengangguk.


Lalu mengetik di WAG. Tak berapa lama, Agung membalas.


Agung_Ini masih menunggu visit dokternya_


Bramasta_Sekarang bagaimana keadaan Adinda?_


Agung_Histeris dan panik_


Bramasta_Perlu Adisti gak untuk menenangkan Dinda?_


Agung_Tidak usah. Adinda mengenali Ayah dengan baik. Ayah dan Bunda tengah menenangkan Adinda_


Bramasta_Insyaa Allah, kami makan siang di rumah sakit, Kakak Ipar_


Agung_Jujur, gue takut... _


Indra_Jangan khawatir, Bro. We are with you_


Leon_Gung, kita dampingi Adinda bareng-bareng. Jangan terlalu dipikirkan nanti bakal bagaimana-bagaimana. Jalani saja_


Anton_Lu takut Adinda lumpuh permanen, Bro?_


Agung_Bukan begitu. Kondisi fisiknya saat ini pasti akan mempengaruhi mental dan emosinya. Dia bisa down banget_


Indra_Kita ngomong pahitnya aja dulu. Bagaimana kalau Adinda lumpuh permanen?_


Bramasta_Ndra... please!_


Indra_Kelihatannya omongan gue itu kejam tapi gue ingin tahu sikapnya Agung. How if, this gonna be worse?_


Agung_Gue bakal tetap menjalankan rencana gue. Gue akan tetap menikahi Adinda_


.


***


Babang Agung warbiyasah...