
Layar monitor menampilkan sekumpulan pria dengan tuxedo. Seorang di antaranya adalah Bryan Amsel.
“Slow motion, Ton..” suara Hans terdengar.
Kamera menyorot dalam gerak lambat. Mendekati 3 orang pria yang masing-masing memegang gelas champagne tengah mengobrol. Seorang diantaranya melemparkan candaan. Membuat ketiganya tertawa.
Bryan terbahak dengan melemparkan kepalanya ke belakang. Membuat langit-langit mulutnya dan gigi atasnya yang gingsul di dalam terlihat. Gingsul pada gigi atas sebelah kanannya.
Anton mem-freeze dan men-zoom gambar. Hans menunjuk pada gigi Bryan.
‘’Gotcha!” Leon terdengar puas sekali, “Sekarang kita lihat kondisi punggung dari korban Bryan.”
Anton meng-klik foto punggung mayat korban Bryan. Beberapa bagian dia zoom.
“I can’t see it_Gue gak bisa melihatnya..._”
“Hold on, Ton_Bertahanlah Ton..” Indra menepuk-nepuk punggung Anton.
“Itu..” Bramasta menunjuk pada punggung sebelah kiri.
“Dan itu.. itu juga..” Hans ikut menunjuk, “Sebelah situ juga ada..”
“Cetakan gigi Bryan?” Indra menatap Hans dan Bramasta.
Keduanya mengangguk yakin.
“Positif!” keduanya serempak berbicara.
“Bryan memang gila dan seorang bedebah!” Leon menatap wajah Bryan di layar proyektor dengan geram.
“Ton, kita ambil gambar di pesta dan zoom bentuk gingsulnya. Lalu zoom foto punggung mayat. Kita juga ambil adegan Bryan menggigit Elise,” Hans berbicara dengan cepat.
Anton mengangguk sambil mencatat pada buku catatannya.
“OK, kita lanjut lagi di rekaman CCTV nightclub ya. Speed normal,” Hans mengeklik mousenya.
Bryan masih berada di atas tubuh Elise tapi tidak bergerak. Dia menoleh ke arah Helena yang tengah merokok dengan ekspresi wajah puas. Keduanya berkeringat. Bryan berkata sesuatu yang membuat Helena terbahak.
Helena mengenakan pakaiannya. Lalu menoleh pada gadis yang tidak sadarkan diri setelah dihajar olehnya. Tangannya membuka dompet lalu melemparkan beberapa lembar uang kertas pada wajah Irma. Ada darah yang menetes dari mulutnya.
Sementara Bryan mulai menarik dirinya. Tubuh Elise yang menelungkup dibiarkan begitu saja. Darah mengalir di antara kedua pahanya. Menetes di bawah kakinya.
Anton berdiri dengan tiba-tiba dari kursinya. Tubuhnya terhuyung ke belakang. Semua menoleh padanya. Anton menutupi mulutnya lalu berlari ke luar ruangan.
“Gung...” Hans memanggil Agung yang duduknya terdekat dengan pintu.
Agung mengangguk lalu bergegas keluar menyusul Anton.
Semua terdiam. Tayangan video dipause oleh Hans.
“Sepertinya kita semua baru tahu kalau Anton seorang hemotophobia,” Bramasta memandang semua orang.
“Setiap orang punya kelemahan..” Indra bergumam.
“Dia sudah merasa cemas dan pucat saat tayangan pertama berakhir,” Leon meneguk ice lemon teanya yang sudah mencair.
“Kita lanjutkan lagi tanpa Anton dan Agung?” Hans meminta pendapat mereka.
Mereka mengangguk menyetujui usulan Hans. Hans menarik adegan saat Bryan menarik diri dari tubuh Elise. Semuanya menatap proyektor dengan wajah muak.
Bryan melepas pengamannya lalu mengikatnya agar cairannya tidak tumpah. Ada sedikit warna merah di karet tipis pengaman yang berwarna biru muda.
Kemudian dia mengacungkannya pada Helena. Bibirnya bergerak yang membuat Helena tertawa. Bryan memasukkan bekas pengamannya ke dalam saku mantelnya.
“Kalian lihat?” Indra menunjuk proyektor, “Bibir Bryan saat berbicara dengan Helena. Dia berbicara dengan Bahasa Inggris. Hans, putar ulang lagi. Kita baca gerakan bibir Bryan..”
Hans menggerakkan mousenya. Lalu memutarnya dalam slow motion.
Saat mengacungkan bekas pengamannya pada Helena, bibir Bryan bergerak membentuk kalimat, “My collection.”
“Iya. Kalimat berbahasa Inggris: My collection,” Indra menunjuk proyektor.
Hans mengangguk setuju.
“Artinya, dia menyimpan bekas pengamannya sebagai suvenir untuk dikenang. Kalau polisi setempat bisa menemukan lokasi penyimpanan suvenirnya Bryan, pasti banyak kasus yang akan terungkap.”
“Kita bukan hanya berurusan dengan orang yang orientasi s3k su4lnya adalah sadisme tetapi juga orang gila. Psikopat mereka berdua...” Leon memandang muak pada layar proyektor.
Hans memutar lagi video dalam speed normal.
Bryan berpakaian dengan cepat. Tangannya meraih dompetnya lalu mengambil beberapa lembar uang dan meletakkannya di tangan Elise yang masih menelungkup di sofa.
Dia membelai rambut panjang kecoklatan Elise lalu menciumi puncak kepalanya. Kemudian dia bangkit dan tersenyum lebar ke arah Helena.
Helena menunjuk pada genangan darah di kaki Elise. Bryan hanya mengangkat bahu tak peduli. Mereka berdua keluar dari ruangan VIP nightclub itu sambil berangkulan.
Dia keluar dari ruangan. Tak berapa lama datang lagi dengan seorang pria lainnya. Membungkus kedua tubuh gadis itu dengan selimut lalu membereskan barang-barang pribadi keduanya. Mereka berdua menggendong kedua gadis itu keluar dari ruangan itu.
“Pelayan itu Lothar Schuemaker?” Hans memandang Indra.
Indra mengangguk, “Ya, itu dia. Wajahnya sekarang tidak berubah banyak. Lelaki yang bersamanya itu pasti penjaga pintu belakang nightclub.”
Video berakhir. Layar proyektor menggelap. Bersamaan dengan masuknya Anton dan Agung.
“Sudah selesai?” Agung menatap semuanya.
“Baru saja..” Hans kembali ke kursinya.
“Anton, are you OK?” Bramasta memandang prihatin wajah Anton yang pucat.
Anton mengangguk, “Ma’af..”
“Gak usah minta ma’af. Itu bukan kesalahan kok,” Leon menepuk pundak Anton.
“Sejak kapan Lu takut sama darah?” Hans memandang Anton.
Anton berusaha mengingat.
“Sejak gue menemukan tubuh Buddy di depan pagar. Penuh darah.”
“Buddy?” semua serempak bertanya.
“Anjing peliharaan gue. Jenis Dalmatian.”
“Dibunuh?”
Anton mengangkat bahunya.
“Entah ada yang membunuh atau mencelakainya. Terlihat seolah-olah seperti tabrak lari. Padahal anjing gue gak pernah berkeliaran di luar pagar tanpa gue.”
“Kelas berapa kejadiannya?”
“Kelas 2 SMA.”
“Artinya, ada seseorang yang anjing Lu kenal mengajaknya keluar pagar?” Hans menaikkan sebelah alisnya.
Anton seperti terperanjat kaget. Dia terdiam tidak menjawab. Meraih tisu di atas meja dan menyeka pelipisnya.
Hans tidak mendesak Anton untuk menjawab.
“Prince Zuko tampil lagi malam ini?” Bramasta memandang semuanya, “Lebih cepat kita upload, lebih baik kan?”
“Jangan terburu-buru, Bram. Kita harus menyiapkan semuanya dulu. Nanti saat Anton sudah menyusun potongan video yang akan kita upload, baru kita siap...” Hans menatap Anton yng melambaikan kedua telapak tangannya.
“Ma’af Bang.. Gue rasa gue gak sanggup untuk menonton video itu lagi. Gue gak bisa ngedit videonya. Tapi untuk lapooran forensik dan foto-fotonya, gue sanggup..”
“OK, nanti biar Ari saja yang mengerjakannya. It’s OK Ton. Do not feeling guilty, K?” Hans tersenyum pada Anton.
“Malam ini Lu tidur di tempat gue aja, Ton. Lu gak boleh bawa mobil Lu sendiri,” Indra menepuk punggung Anton.
“Gue gak apa-apa, Bang. Gue udah terbiasa sendiri..” Anton merasa tiak enak hati.
“Nurut aja ke abang Lu napah sih? Sebagai si Bungsu, Lu harusnya nurut aja. Kita, para abang Lu sedang mengkhawatirkan Lu. Lu gak sendiri lagi sekarang. Ada kami..” Indra berkata diangguki oleh yang lainnya.
“Betul apa yang dikatakan Bang Indra, Ton. Lu sedang berada dalam kondisi yang tidak baik-baik saja sekarang. Lu ikut pulang ke rumah Bang Indra. Supaya dia bisa jagain Lu kalau ada apa-apa. Gue yakin Lu bakal mengigau malam nanti...” Agung menatap Anton dari kursinya.
“Babeh dan MakNyak?” Anton menatap Indra.
“Gue udah kabari mereka. It’s OK. Beside, Lu udah jadi keluarga kami sama seperti Adinda.”
“Thanks a lot, Bro..”
Agung memandang Hans, “Apa yang sudah kami lewatkan?”
“Bryan Amsel menyimpan bekas pengamannya sebagai suvenir. PR bagi kepolisian setempat untuk mencari tempat Bryan menyimpan harta karunnya itu.”
“What???!” Agung meringis jijik membayangkannya. Dia melirik Anton yang tampak termangu shock.
.
***
Catatan Kecil:
Hematophobia atau hemaphobia adalah seseorang yang karena sebab tertentu menjadi takut saat melihat darah.
Babang Taehyung-nya B Group ternyata trauma melihat darah. Betul kata Babang Indra,setiap orang punya kelemahan.
Mereka ganteng, berbakat, cerdas, tajir tapi mereka masih manusia biasa karena ada kelemahannya.