
Indra_Why?_
Agung_Karena Adinda itu sudah menjadi amanah gue. Selain itu, gue gak mau gadis lain selain Adinda untuk menjadi wanita yang mendampingi gue dunia akherat_
Anton_Weisszz. Touching heart answer_
Indra_Understood_
Hans_Adinda butuh lingkungan yang positif untuk pulih. Gue gak yakin Adinda akan bisa tinggal di rumahnya lagi. Terlalu berat buat dia. Diumur begitu muda, orangtua satu-satunya meninggal karena diracun dan dia hampir dijual oleh ibu sambungnya. Too heavy for her_
Indra_Pagi tadi, Mami dan Papi juga membicarakan hal itu, Hans_
Leon_Terus, kira-kira Adinda nanti tinggal dimana sepulangnya dari rumah sakit?_
Indra_Kira-kira, Adinda mau gak tinggal di rumah gue? Mami kan sering sendirian kalau di rumah. Mami cuma sibuk hari-hari tertentu saja buat ngecek tokonya Mami_
Anton_Gue gak yakin Adinda mau, Bro.._
Hans_Gue juga_
Indra_Why?_
Anton_Karena Adinda tidak terlalu dekat dengan mereka. Adinda baru bertemu beberapa kali kan?_
Bramasta_Ayah dan Bunda sudah menganggap Adinda sebagai anaknya sendiri. Pasti setelah Adinda dirawat, Adinda akan pulang ke rumah Ayah dan Bunda_
Anton_Lah, berarti Agung dan Adinda tinggal serumah dong?_
Agung_Tinggal serumah bukan berarti samen laven, Bro.._
Yang lainnya memberikan emot tawa.
Agung_Sampai Adinda pulih secara fisik dan mental, sudah bisa beraktifitas normal dan mandiri, gue bakal cari kost_
Leon_Kok jadi Lu yang nge-kost sih, Gung?_
Agung_Yaiyalah, masa nyuruh Adinda. Gak bakal tega gue. Dia akan aman dalam asuhan Ayah dan Bunda. Gue yang gak aman. Bisa-bisa gue mimisan terus tiap hari karena serumah dengan dia_
Hujan stiker ngakak memenuhi layar.
Hans_Kayak siapa ya, yang mimisan karena lihat cewek... (emot ngakak 3x)_
Bramasta_Isssssh. Jangan disinggung lagi kenapa sih?_
Aneka stiker pengundang tawa memenuhi WAG.
***
Dalam mobil Lexus yang dikendarai pengawal yang menjadi driver, Bramasta dan Adisti membicarakan kondisi Adinda di kursi penumpang.
Seperti yang tiba-tiba teringat dengan sesuatu, Adisti mengambil gawainya lalu menghubungi teman lamanya.
“Assalamu’alaikum, Na.. Kumaha, damang?” jeda.
Adisti terkekeh, “Iya.. ini Adisti teman Lu. Adistinya Bramasta..”
Adisti melirik suaminya yang tersenyum lebar menatap dirinya. Adisti meleletkan lidahnya pada suaminya.
“Alhamdulillah baik. Semuanya baik-baik saja. Si Kecil bagaimana?” Jeda.
“Na, ada yang mau gue tanyakan. Lu kan pernah cerita bagaimana hebohnya Lu ngelahirin....”Jeda.
“Nggak.. bukan itu, Gue belum hamil kok. Cuma mau nanyain aja pengalaman Lu sewaktu dipasang kateter pasca melahirkan dulu..” Jeda lama.
Adisti mendengarkan dengan seksama. Suara teman Adisti tampak bersemangat menceritakan pengalamannya. Adisti tampak meringis. Lalu mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian meringis lagi.
“Serius, Lu?” Jeda.
Bramasta menghembuskan nafas kasar sambil melirik istrinya yang larut dalam obrolannya. Dirinya merasa diabaikan oleh Adisti.
“Ehm!” Bramasta berdehem.
Tapi Adisti menghiraukannya. Akhirnya, Bramasta meraih tangan istrinya. Menggoyangkan tangannya.
“Disti.. udah dong..” bisik Bramasta dengan wajah memelas.
Adisti berbicara tanpa suara, bibirnya bergerak, “Nanti dulu ya.. sebentar lagi..”
Bramasta cemberut.
Adisit menaikkan sebelah alisnya melihat tingkah suaminya. Kemudian beringsut mendekati pintu mobil.
Bramasta yang melihat istrinya makin beringsut menjauh menjadi semakin keki. Wajah cemburunya terlihat jelas.
Adisti tersenyum lebar menatap suaminya. Lalu dia menepuk-nepuk pahanya. Bramasta yang tidak tahu maksud istrinya hanya diam saja, menatap jalanan. Adisti dengan gemas meraih bahu suaminya, menariknya ke arah pahanya.
Bramasta baru paham dengan maksud Adisti. Dia merebahkan kepalanya di atas paha istrinya. Istrinya masih berbicara dengan temannya tetapi kali ini sambil membelai rambutnya.
Rasanya menyenangkan dan menenangkan sekali. Bramasta memejamkan matanya sambil tersenyum.
Bramasta terbangun ketika pipinya ada yang mencubit-cubit kecil. Tidak menyakitkan tapi cukup mengganggu. Dia membuka matanya lalu melihat Adisti tengah menundukkan wajahnya memandanginya.
“Gantengnya Disti udah bangun?” tanya Adisti sambil berbisik lalu tersenyum lebar.
“Issssh...” Bramasta memiringkan tubuhnya lalu memeluk perut istrinya. Menggosokkan wajanya pada perut istrinya dengan gemas. Mendusel-dusel beberapa kali hingga Adisiti terkekeh geli.
“Abang..ih udah Bang..” Adisti menggeliat-geliutkan tubuhnya, “Bang.. malu ih sama Bapak Drivernya.”
Seolah mengerti dengan keinginan tuannya, pengawal yang bertugas sebagai driver itu tahu diri. Meninggalkan bangku kemudinya lalu menutup pintu mobil dengan lembut.
“Tuh, Bang.. sampai pergi tuh Pak Drivernya..”
“Gak apa-apa. Kan Abang yang nyuruh.”
“Pagi tadi. Mereka Abang briefing.”
“Tentang?”
Bramasta mendesah. Menatap mata Adisti meminta pengertiannya untuk diam sejenak. Tapi Adisti menusuk-nusuk pinggangnya membuat Bramasta mau tak mau harus menjawab pertanyaan Adisti.
“It’s about what must to do and should not to do saat bersama kita.”
“Dih!”
“Apa dih?”
“Mereka akan berpikir kita pasangan me$um.”
“Nope. Never. We need our privacy. Our quality time. That’s all.“
Adisti menunduk. Mengecup kening suaminya. Sambil membelai hidung suaminya yang mancung, “Turun yuk.”
“Eh?” Bramasta beranjak duduk, lalu memandang sekeliling basement.
“Kita sudah sampai?”
“Sejak 15 menit yang lalu, Sayang... Paha Disti juga udah kesemutan.”
“What? Are you kidding me? 15 minutes ago??”
“Kenapa? Tidurnya nyenyak banget ya? Sampai gak tega tadi buat Disti bangunin. Makanya Disti tunggu supaya Abang bangun sendiri. Eh.. Lama..”
Bramasta mengeluarkan cengirannya.
“Ma'af..”
“Dima'afin. Abang capek ya.”
Adisti membuka pintu, dengan sigap pengawal yang menunggu di samping mobil membantu Adisti untuk keluar. Bramasta mengikutinya.
“Pak, bunganya biar saya yang bawa,” kata Adisti.
Bramasta mengerutkan keningnya.
“Kapan kita ke florist?” tanya Bramasta heran sambil menggenggam jemari istrinya.
Mereka mulai memasuki lobby lift VIP.
“Bukan cuma ke florist, ke gerai donat untuk membeli pesanan Kakak juga.”
“Berarti Abang tidurnya lama banget ya?”
“Baru nyadar, Tuan Bramasta?” Adisti melepas genggaman Bramasta untuk menggamit lengan suaminya.
Bramasta terkekeh. Mereka memasuki lift diikuti para pengawal yang membawa kantong bawaan Adisti.
Adisti membuka pintu ruang rawat inap sambi mengucap salam bersamaan dengan suaminya. Semua menjawab salamnya.
Para pengawal meletakkan kantong-kantong bawaan Adisti di atas meja pantry. Lalu beranjak pergi dari ruangan.
Adisti dan Bramasta menyalimi Bunda. Juga Agung. Dengan Agung, seperti biasa, mereka hanya melakukan hi five saja.
Mereka menghampiri bed Adinda yang tirainya tertutup rapat. Adisti meminta suaminya untuk menunggu sebentar. Dia melongokkan kepalanya ke dalam tirai bed.
“Assalamu’alaikum, Adinda. Sedang apa?” Adisti menyibak sedikit tirainya lalu masuk ke dalamnya.
Adinda tengah berbaring miring menghadap tembok. Mendengar tirai dibuka, dia berusaha untuk duduk. Wajahnya terlihat lelah dan sembab. Matanya bengkak karena terlalu banyak menangis.
“Teteh...” kedua tangan Adinda terbuka ingin memeluk Adisti.
“Ssssh.. jangan menangis lagi. Sudah tidak apa-apa. Mata Adinda sudah bengkak sekali. Padahal di sebelah bed Dinda itu bednya Kakak. Nanti malah hilang cantiknya kalau menangis terus..” bujuk Adisti.
Adinda yang hendak menangis lagi mendadak menghentikan isaknya lalu mengusap air mata yang sudah terlanjur mengalir.
“Tampang Dinda jelek banget ya Teh?”
“Makanya jangan nangis terus..” Adisti tersenyum pada Adinda, “Sudah makan belum?”
Adinda mengangguk.
“Makannya cuma sedikit. Cuma 3 suap,” kata Bunda dari meja pantry. Bunda tengah membongkar bawaan Adisti.
“Kenapa? Gak enak ya makanan rumah sakit?”
Adinda tersenyum.
“Nah gitu dong.. senyum. Kan jadi enak lihatnya..”
“Saya juga ingin lihat senyum kamu,” Agung menyibak seluruh tirai pembatas. Lalu duduk di tepi bednya menghadap bed Adinda.
Bramasta menyerahkan bunga yang dititipkan istrinya kepada Agung.
“Kakak Ipar saja yang menyerahkan ini ke Adinda. Biar afdhol,” Bramasta terkekeh pelan.
Agung berdiri sambil menggenggam hand bouquet sederhana yang terbungkus kertas berwarna coklat muda dan bagian dalamnya ada kertas tipis berwarna pink lembut.
Beberapa kuntum bunga Peony pink yang setengah mekar dihiasi dengan daun hijau berbeledu.
“Buat Adinda, cepat pulih, tetap semangat. Gak usah sedih lagi. Kami selalu bersama kamu. Kamu gak akan sendirian. Apapun yang terjadi, perasaan saya gak akan berubah,” Agung tersenyum menatap Adinda yang pipinya bersemu dadu.
***
Babang Agung, Author juga mau dong bunganya.. 🤓