
Leon memandang Raditya tak berkedip.
“Memangnya Pak Raditya mau ke Jakarta sekarang juga?”
Raditya terkekeh, “Ya nggaklah. Saya baru saja sampai Bandung. Lagipula saa baru saja mengalami kejadian yang tidak mengenakkan di jalan tol tadi..”
Indra menggosok dagunya sambil menelengkan kepalanya.
“Kira-kira, ke Jakarta dalam waktu 30 menit, naik apaan ya?”
“Pinjam pintu ajaibnya Doraemon, Bang,” Agung terkekeh pelan.
“Pak Raditya serius ingin isi flashdisk ni tersebar ke publik?” Anton mencabut flashdisk dari laptopnya.
“Memangnya kenapa?” Raditya balik bertanya.
“Banyak rumah tangga yang akan terkena badai sebagai imbasnya,” Anton memandangi flashdisk itu.
“Ada seseorang yang kamu kenal baik dari daftar itu, Ton?” Hans tersenyum tipis.
Anton mengangguk.
“Ada papahnya Aline di dalam list..”
“Kamu terkejut?” Bramasta bertanya pada Anton.
Keberadaan Raditya di sana membuat mereka memakai bahasa formal “saya-kamu”.
Anton menggeleng.
“Saya akan merasa aneh jika Papahnya Aline tidak berada di dalam list itu. Keluarga besarnya sudah tahu tabiatnya.”
“Istrinya tahu?”
Anton mengangguk.
“Aline pun tahu. Tapi peran wanita di dalam keluarganya tidak dihargai sama sekali. Istri hanya sebagai barang yang dipamerkan di publik sebagai properti yang berharga. Mempunyai keluarga yang bahagia dan harmonis merupakan pencitraan yang sangat biasa di kalangan mereka.”
“Siapa Alline?” Raditya menatap Anton.
Anton mengalihkan pandangannya. Memilih tidak menjawab pertanyaan Raditya.
“Mantan terindahnya,” Indra yang menjawab.
“Hisss. Gue udah move on, Bang!” Anton menatap sebal pada Indra.
Yang lainnya terkekeh.
“Edarkan saja daftar itu ke publik. Supaya ada efek jera untuk yang lainnya. Jangan bermain api bila tidak ingin terbakar,” Raditya meluruskan kakinya.
“Sepertinya saya tahu kemana arah dari semua ini,” Hans memandangi Raditya.
Raditya hanya tersenyum dan mengangguk.
“Apa Hans?” Leon penasaran.
“Dari ucapan Pak Raditya saat diawal tadi. There is a line that we can’t cross,” Hans menjeda ucapannya untuk menatap Raditya, “So, let the public make it through to cross the line_Jadi, biarkan publik berhasil melewati batasnya_. Karena tidak ada yang dapat menahan keinginan publik. The power of medsos.”
“Sepertinya nanti akan ada perombakan besar-besaran karena gejolak di medsos dan masyarakat. Keinginan publik,” Bramasta mengangguk mengerti.
Gawai Hans berdering. Ada panggilan masuk.
“Assalamu’alaikum. Ya, langsung laporkan.” Jeda agak lama.
“Sudah dikroscek?” Jeda lagi.
“Siapa saja yang bergabung?” Jeda lagi.
“Nanti saya periksa. Alamatnya tolong dikirim ya.” Jeda agak lama.
“Iya. Biarkan saja seperti itu. Pantau terus ya. Seperti biasa.” Hans memutuskan panggilannya.
Senyum terbit di wajahnya. Seperti puas akan sesuatu.
“Hepi banget, Hans,” Indra menatap Hans.
“Iya dong...” Hans terkekeh.
Raditya mengambil sepotong cake buatan Adinda. Dia menatap Bramasta.
“Anda tidak berhoneymoon?”
Bramasta terkekeh, “Belum sempat. Terlalu banyak kejadian beruntun yang menimpa kami. Insyaa Allah, nanti setelah semuanya sudah agak reda.”
“Pergi saja setelah persidangan Liliana Sukma yang kedua untuk mendengarkan saksi-saksi. Nona Adisti ikut menjadi saksi kan? Juga Ibu Gumilar? Nyonya Alwin Sanjaya sebagai saksi utama.”
Bramasta mengangguk-angguk.
“Nanti akan saya pikirkan lagi. Saya tidak mau saat saya dan istri sedang honeymoon lalu tiba-tiba ada panggilan sidang atau apalah yang mengganggu kami..” Bramasta terkekeh.
“Memangnya honeymoon itu ngapain aja sih?” pertanyaan absurd dari Anton membuat mereka semua tertawa.
“Udah..bocil diam aja..” bisik Indra keras.
Hans berdehem. Ruangan menjadi hening lagi.
“Agung mengenali pelaku penyerangan pagi tadi sebagai anak buah Tuan Thakur yang pernah berusaha menyusupkan kamera penyadap di kediaman Tuan Bramasta.”
Anton sigap. Dia menggerakkan mouse untuk mengklik rekaman video CCTV dari lobby lift untuk penthouse.
“Freeze, Ton,” perintah Hans saat si Kurus meletakkan bunga di atas meja security, “Zoom in.”
Wajah si Kurus tampak jelas terlihat.
“Ya, dia Herman. Salah satu anggota kami. Tuan Thakur merekrutnya untuk menjadi bagian dari tim dunia gelapnya.”
“Kenapa dia bisa luput dari penangkapan saat yang lainnya tertangkap?” Indra menunjuk si Kurus bernama Herman itu.
“Karena pada saat peristiwa The Ritz, Herman sedang bertugas di luar kota untuk penyelidikan kasus pemerasan online,” Raditya menunjuk pada pria bertubuh tambun berjaket kulit di sebelah si Kurus, “Sedangkan temannya Herman sudah ditangkap karena dia ikut serta berperan dalam peristiwa pembantaian di Tosca Imperium, Batam.”
“Mereka abdi setia Tuan Thakur” Leon mengernyit.
“Bisa dibilang begitu..” Raditya memandangi Bramasta, “Ma’af, kenapa saya baru mendengar ada peristiwa penyelundupan kamera penyadap di kediaman Anda, Tuan Bramasta?”
“Saya tidak melaporkannya kepada pihak yang berwajib. Toh semua bisa ditangani oleh Tuan Hans dan anak buahnya dari AMAN Secure.”
“Bagaimana Anda tahu ada video penyadap di rumah Anda?”
“Tadinya saya tidak tahu. Saya meletakkan bunga itu di meja foyer. Anton yang melihat ada nyala kedipan merah kecil dari penjepit tangkai bunga.”
“Masyaa Allah. Allah masih melindungi Anda dan keluarga. Untung ada yang melihatnya, ya.”
“Itu juga secara tidak sengaja, Pak,” Anton tersenyum.
“Memangnya Anda punya masalah apa dengan Tuan Thakur sehingga dia menargetkan Anda, Tuan Bramasta?”
“Tidak secara langsung. Saya yakin dia melakukan itu berdasarkan permintaan teman wanitanya.”
“Siapa?”
“Rita Gunaldi. Saya tidak tahu bagaimana persisnya hubungan mereka tetapi sepertinya mereka friends with benefits_teman tapi mesra_.”
“Saya masih kurang paham,” Raditya mengerutkan keningnya.
“Sebelum saya dan istri saya bertemu, dia adalah calon menantu Keluarga Anggoro.”
Raditya menaikkan kedua alisnya. Mulutnya terbuka heran.
“Tepat satu bulan menjelang hari H, saat mereka fitting baju pengantin, Adisti melihat dengan matanya sendiri bagaimana calon suaminya berselingkuh dengan Rita Gunaldi yang saat itu sebagai desainer baju pengantin sekaligus MUA.”
“Astaghfirullah..” Raditya menatap Agung. Agung menganggukkan kepalanya.
“Sejak saat itu, Keluarga Gumilar memutuskan untuk membatalkan pertunangan Adisti dengan putra Keluarga Anggoro.”
“Keluarga Anggoro tidak terima terutama Nyonya Hilman Anggoro yang waktu itu masih menjadi istri dari Tuan Hilman Anggoro. Dia dendam kepada Keluarga Gumilar juga dendam kepada Rita Gunaldi yang telah merusak rencana yang sudah rapi,” Bramasta menghela nafas panjang.
“Nyonya Hilman menolak membayar semua baju-baju yang sudah dipesannya. Juga menceritakan buruknya Rita Gunaldi dan The Ritz kepada teman-teman sosialitanya. Membuat Rita Gunaldi mengalami banyak kerugian.”
“Ah.. jadi itu sebabnya terjadi peristiwa yang sangat viral di dunia maya yaitu Tendangan Memutar Adisti?” Raditya berkata dengan terkekeh.
“Jangan-jangan... peristiwa di rumah sakit yang sedang disidangkan saat ini terkait dengan dendamnya kepada Adisti dan Ibu Gumilar?”
Bramasta dan Agung mengangguk.
“Jadi, target sebenarnya itu Adisti dan Ibu Gumilar?”
Bramasta mengangguk lagi.
“Tapi sayangnya, Mommy berada di posisi pertama yang akan terkena troli makanan yang meluncur dari ramp UGD bila troli tersebut tidak dihentikan lajunya oleh para pengawal Mommy.”
“Itu sebabnya, Nyonya Alwin menganggap peristiwa secara pribadi. Apalagi ini menyangkut keselamatan calon menantu dan besannya. Istilahnya: Lu jual, gue borong,” Indra ikut menjelaskan kepada Raditya.
Semuanya terkekeh mendengar penjelasan Indra.
“Tuan Hilman Anggoro sendiri sekarang bagaimana?”
“Beliau secara pribadi sudah meminta ma’af kepada kami sekeluarga. Dia menyadari kekeliruannya. Saat dia meminta ma’af di rumah ini, Disti masih di rumah sakit bersama Abang Bramasta. Beliau datang bersama putranya, mantan tunangannya Adisti.”
“Apakah karena istrinya terjerat hukum lalu dia menceraikannya? Seperti yang dibicarakan orang-orang?” Raditya menyandarkan punggungnya.
.
***
Jadi flashback cerita yang sudah lewat..
Readers, mampir ke Mr. Secretary: Destiny Bound ya. Sudah bab 6 di sana.
Mohon dukungan likenya 🙏🏼
Sepi banget.