
Semua terkejut dengan ucapan Anton.
“Sholat dulu. Sekalian cooling down,” suara Bramasta terdengar tegas tak terbantahkan.
Mereka sholat berjama’ah di ruang tengah setelah menggeser coffee table yang berada di tengah sofa. TV dan exhaust sudah dimatikan sebelum mereka sholat. Mereka bertingkah seolah-olah tidak mengetahui ada penyadap di dalam apartemen.
Walaupun kamera penyadap hanya bisa melihat area foyer tetapi suara mereka dari ruang tengah tengah hingga ruang treadmill bisa terdengar karena layout ruangan yang open space tanpa sekat.
Selesai sholat, Indra kembali menyetel TV dengan suara keras dan Anton menyalakan exhaust di pantry. Suara mereka akan terhalang dengan suara TV dan juga mesin exhaust, mesin penghisap asap dan panas kompor dari kompor.
“Kita ke balkon,” kata Bramasta.
“Jangan, masih Maghrib,” cegah Adisti.
“Oh iya, Abang lupa.”
“Kenapa?” tanya Anton.
“Rasulullah memerintahkan kita untuk menutup pintu dan jendela rumah kita pada waktu menjelang dan saat Maghrib,” jawab Adisti.
“Kenapa begitu?” tanya Anton.
“PR buat kamu, Ton, untuk mencari tahu kenapanya. Kalau masih belum jelas, tanyakan pada Ayah,” kata Bramasta. Semua anggota Kuping Merah memanggil Bapak dan Ibu Gumilar dengan sebutan Ayah dan Bunda.
“Siap Bos..”
Indra dari tadi mengetikkan pesan chat pada WAG Kuping Merah mengenai kamera penyadap yang ditemukan di apartemen Bramasta. WAG langsung ramai. Mereka tidak bisa berkomunikasi dengan lisan sekarang karena khawatir ucapan mereka terdengar oleh penyadap.
Leon_Kalian semua turun. Buat percakapan seolah-olah kalian hendak makan malam di bawah. Kita bicara di bawah, lebih aman_
Indra_OK Bang. Kita otewe turun_
Di depan bunga Anggrek Bulan, mereka bersikap wajar. Obrolan ringan saat hendak turun untuk makan malam.
Bramasta_Hans, di kantor apakah Daddy menerima bunga dari pengirim yang tidak jelas? Juga di rumah utama.._
Hans_Gue ada di rumah utama. Gue sudah menanyakan kepada Daddy atau Mommy, meeka tidak menerima kiriman yang mencurigakan. Nanti gue kumpulkan para asisten rumah tangga dan sekuriti rumah_
Indra_B Group, Clear. Gue udah cek front desk ataupun sekuriti. Negatif_
Leon_Bram, yang bersihin apartemen masih dari rumah utama kan?_
Bramasta_Iya. Kenapa?_
Leon_Hans, pastikan mereka bukan orang baru. Team lu bisa cek mereka untuk memastikan mereka clear?_
Hans_Insyaa Allah_
Mereka sudah berada di lift.
“Ada berapa kamera yang lu lihat di tangkai bunga?” tanya Bramasta pada Anton.
“Gue cuma melihat 1 nyala titik merah. Tapi gue belum yakin penyadapnya hanya satu.”
“Kira-kira sama dengan yang lu beli di Jepang, gak?” tanya Indra.
Anton menggeleng, “Yang gue beli gak pakai lampu indikator kamera menyala. Terlalu mudah dikenali dalam ruangan gelap, sekecil apapun lampunya. Makanya gue beli yang dari Jepang itu.”
Bramasta, “Aktifkan kamera yang lu taruh di The Ritz.”
“Sudah dari pagi tadi, Pak Bos..”
“Ada ide, kira-kira siapa pengirim bunganya?” tanya Indra, “Selain Rita Gunaldi?”
“Mantan Nyonya Hilman Anggoro,” jawab Adisti lugas, “Prasetyo Anggoro.”
Bramasta menoleh pada istrinya. Sejak dari tadi, tangan istrinya berada dalam genggamannya. Dingin dan basah. Dia menarik tubuh istrinya untuk mendekat ke arahnya. Mereka masih berjalan di lobby.
“Disti kedinginan?” tangannya bergerak merangkul tubuh istrinya, “Ma’af ya, Disti harus mengalami kejadian tidak mengenakkan seperti ini.”
“Abang sudah pernah?”
Bramasta mengangguk, “Beberapa kali di kantor. Persaingan antar pebisnis yang tidak sehat. Berusaha mendapat info yang sebanyak-banyaknya tentang perusahaan yang akan kita ajak kerja sama ataupun info tentang apa yang akan kita buat atau lakukan.”
“Penyadap juga?” tanya Adisti.
“Penyadap suara dan penyusup.”
“Jadi kamera penyadap ini baru pertama kali?”
Bramasta mengangguk. Wajahnya muram, “Dan dikirimkan ke rumah kita. Tempat privasi kita.”
Mereka sampai di atrium apartemen. Banyak gerai-gerai makanan di sana.
“Mau makan dimana?” tanya Bramasta.
“Jangan di tempat sarapan pagi tadi. Gak ada nasinya,” jawab Adisti.
Bramasta dan yang lainnya terkekeh mendengar jawaban Adisti.
“Lapar Bu?” tanya Indra sambil tertawa.
“Itu di sana, gerai makanan Indonesia,” Anton menunjuk pada gerai dengan kanopi hijau.
Jam makan malam. Meja semua penuh terisi. Mereka keluar lagi dari gerai. Indra menunjuk arah taman di dekat kolam renang.
“Kita ke sana saja,” ajak Indra, “Ton, beritahu Agung, kita ada di dekat kolam renang.”
“Agung sudah ada di apartemen, baru sampai katanya,” Anton mencari-cari keberadaan Agung dengan gawai di menempel di telinganya, “Lu dimana sih?”
“Lewat atrium. Masuknya lewat atrium...” Anton mengarahkan Agung.
Tidak berapa lama, Agung sudah bergabung dengan mereka.
“Wa’alaikumussalam..”
Adisti langsung salim pada kakaknya. Agung memeluk adiknya sambil berbisik, “Ayah menceritakan apa yang Adek lakukan di The Cliiff tadi. Kakak sangat bangga pada Adek..”
“Masih lama meluknya??” Bramasta memandang Agung sambil mencebik.
“Dih, ke adik sendiri juga...” Agung menatap Bramasta dengan kesal.
Anton dan Indra terkekeh.
“Abang, salim ke Kakak..” perintah Adisti.
“Whatttt?” keduanya memandang tak percaya pada Adisti.
Anton dan Indra kembali terbahak.
“Assalamu’alaikum.”
Serempak mereka menoleh.
“Wa’alaikumussalam.”
“Bang Hans!” seru Agung.
“Gila ya kalian, di rumah utama Tuan Alwin sedang misuh-misuh gegara video penyadap di apartemen Bram, kalian malah sempat-sempatnya ketawa-ketawa..”
“Cooling down, Hans..” kata Indra.
“Kalau dituruti ya pasti spenneng kita,” Bramasta menggeser duduknya.
“Tante bagaimana?” tanya Indra.
“Nyonya berusaha menenangkan Tuan Alwin. Dia meminta Tuan Alwin supaya mempercayakan masalah ini kepada kita,” Hans duduk di dekat Bramasta.
“Besok Leon kemari bersama temannya, agen CSI Singapore. Membawa alat detektor penyadap.”
“Good,” kata Bramasta, “That’s better.”
“Alhamdulillah..”
“Coba kita runut ya,” Bramasta menyandar pada sandaran bangku, “Kemarin malam kita sampai lobby sekitar pukul 9 malam, ya kan, Sayang?”
Adisti mengangguk.
“Kata sekuriti ada kiriman bunga tapi bukan dia yang menerima bunga tersebut melainkan sekuriti siang. Bunga datang sebelum pergantian shift.”
Adisti mengangguk.
“Tidak ada daftar tertulis tentang siapa kurirnya, dari toko bunga apa?” tanya Hans.
Bramasta dan Adisti menggeleng.
“OK. Kita tanyai sekuriti kemarin malam dan kemarin siang,” kata Indra, “Ton, lu cek CCTV lobby lift penthouse. Tidak sembarang orang bisa masuk ke lobby khusus penthouse.”
“Dari kamera penyadap yang lu simpan di The Ritz bagaimana?” tanya Agung.
“Siang sampai sore tadi tidak ada pergerakan yang berarti,” Anton mengecek arlojinya, “Masih jam buka butik dan salonnya ya sekarang?”
“Sampai jam 21.00, karyawan pulang jam 22.00,” jawab Indra.
“Hafal banget, Ndra...” komentar Agung, “Kok gue tiba-tiba teringat dengan Andri Dhani ya?”
Yang lainnya terkekeh mengingat penyamaran Indra di The Ritz. Hanya Adisti yang terdiam karena tidak tahu apa yang mereka bicarakan.
“Bukan begitu.. ini gue ingat sewaktu menyelidiki Prasetyo Anggoro. Dia selalu masuk ke The Ritz saat lewat pukul 22.00,” Indra membeku saat menyadari sesuatu.
Bramasta menatap tajam ke arahnya. Begitu pula Agung. Semua menoleh ke arah Adisti.
“Eh, ma’af... gue keceplosan... Ma’af...” Indra memandang Adisti dengan tidak enak hati.
Adisti memandang Indra dengan tatapan heran.
“Kalian kenapa sih? Bang Indra menyebut nama Prasetyo Anggoro kok kalian seperti yang kesambet begitu?” Adisti menatap mereka semua.
“Kakak kira Adek bakal gimana-gimana...” Agung meraup wajahnya.
“Kalau Adek bakal gimana-gimana, berarti Adek masih ada rasa sama dia. Adek biasa-biasa aja tuh saat Bang Indra menyebut nama Prasetyo Anggoro,” Adisti berdiri lalu berjalan, “Kalau bandingin si Tiyo dengan Abang Bramasta? Cakepan juga suami Disti. Jauh bedanya. Gak apple to apple.”
Semuanya melongo memandang Adisti.
Bramasta berlari menyusul istrinya.
“Disti mau kemana?”
“Disti lapar Bang. Mau makan di tempat tadi udah keburu ilfil duluan,” Adisti memandang Anton, “Bang Anton..! Bawa kunci mobil?”
Anton mengangguk lalu mengeluarkan kunci mobilnya dari saku celananya.
“Ayo, kita pakai satu mobil saja supaya praktis. Cuma mobil Bang Anton aja yang cukup bawa kita semua. Lagian Disti juga tahu, Abang Bramasta dan Abang Indra ninggalin kunci mobil di pantry bar.”
“Terus kita mau kemana?”
“Sate ayam Madura,” jawab Adisti, “Kaki lima. Malam ini kita dinner a la rakyat jelata. Keep down to the earth, Guys.."
Semuanya terkekeh mendengar ucapan Adisti.
***
Ma'af telat up 🙏🏼
Hari ini double up dengan nanti malam ya..