CEO Rescue Me!

CEO Rescue Me!
BAB 275 – UNDANGAN DARI RADITYA



21.10


KEDIAMAN KELUARGA SANJAYA


Para tamu sudah pulang. Tersisa para keluarga. Agung dan Adinda masih mengobrol di taman samping sambil melihat orang-orang catering membereskan peralatannya.


Raditya terlihat sibuk membalas pesan di gawainya. Sesekali juga menelepon.


Anggota Kuping Merah masih seru mengobrol, seringkali terdengar suara tawa mereka.


Para orangtua mengobrol di tepi kolam ikan koi.


“Dinda suruh nyanyi aja. Suaranya OK. Pengetahuan lagu nostalgianya juga keren,” usul Mommy.


Daddy meminta pelayan menyediakan peralatan karaokenya untuk dibawa ke tepi kolam.


Pak Dhani menghampiri Adinda dan Agung.


“Din, kamu nyanyi ya. Peralatannya sudah disediakan oleh Daddy. Ayo Gung, kamu ikut temani Dinda..”


Adinda berdiri kemudian berpandangan dengan Agung, meminta pendapatnya. Agung mengangguk.


“Turuti saja. Kamu hibur para orangtua, OK?” Agung mengusap kepala Adinda yang tertutup hijab.


Agung mengantar Adinda ke area kolam ikan koi. Ada taman dinding yang asri di belakangnya. Aneka warna hijau memanjakan mata. Peralatan karaoke sudah terpasang dengan rapi.


Adinda tersenyum sambil memperhatikan kolam koi yang luas. Ada air yang mengalir melalui celah-celah batu tebing. Tidak ada air terjun apalagi air mancur yang hanya membuat kolam menjadi berisik serta sudah ketinggalan trend.


“Din, ayo!” panggil Mommy.


Adinda memilih lagu ditemani Agung. Agung menunjuk beberapa judul lagu dalam list. Adinda mengangguk-angguk.


Intro lagu Hotel California dari The Eagle mengalun. Orang-orang yang berada di dalam ruangan menghampiri area kolam ikan. Suara Adinda yang jernih mengalun merdu. Memukau yang mendengarnya.


Lagu pertama usai. Saat hendak lanjut ke lagu berikutnya, peralatan karaoke mengalami trouble. Agung dan Anton mengulik peralatan.


Raditya mendekati Ayah dan Bunda,


“Pak Gumilar dan Ibu, saya meminta bantuannya besok jam 9 pagi..”


Ayah mengernyit.


“Ada apa?”


“Saya tidak punya siapa-siapa yang bisa saya ajak ke acara pelantikan besok. Kedua orangtua saya sudah tidak ada. Istri saya juga sudah tidak ada. Kiranya Bapak dan Ibu bersedia hadir di acara pelantikan saya? Sebagai orangtua saya..?”


Ayah berpandangan dengan Bunda.


“Kenapa kami, Nak Radit?"


“Beberapa malam ini saya tinggal bersama Agung, sebelumnya beberapakkali saya mengunjungi rumah Pak Gumilar, saya diperlakukan seperti anak sendiri dan saya merasa sangat beruntung bertemu dengan Bapak dan Ibu Gumilar. Saya merasa seperti mempunyai orangtua lagi.”


“Kenapa tidak mengundang mertuanya Nak Raditya. Orangtua almarhumah istri Nak Radit?” Bunda bertanya.


Raditya menggeleng.


“Sejak Masayu meninggal, ayahnya menderita stroke. Hanya bisa berbaring di tempat tidur. Dan pemberitaan kemarin oleh Prince Zuko, keduanya menyalahkan saya atas kematian anaknya,” Raditya menunduk menatap kedua tangannya yang saling menggenggam.


“Subhanallah.. bagaimana bisa?” Bu Dhani menatap Raditya.


“Mereka menganggap kematian Masayu karena saya lalai menjaganya hingga dia menjadi target pembunuhan musuh saya,” Raditya berkata pelan, “Dan memang saya juga menyalahkan diri saya seperti itu...”


“Semua hal terjadi karena takdir Allah. Ikhlaskan apa yang terjadi agar tidak memberatkan almarhumah,” Daddy menepuk punggung Raditya, “Jangan salahkan dirimu atas peristiwa itu. Kamu sendiri tidak menginginkan hal itu terjadi kan?”


Raditya menggeleng.


“Saya tidak pernah membayangkan hal itu terjadi pada kami. Kematian Masayu, bagaimanapun menjadi tanggung jawab saya selaku suaminya. Saya terima apapun yang dikatakan orangtua Masayu tentang saya.”


“Nak Raditya sudah meminta kepada orangtua Masayu untuk menemani Nak Raditya di acara besok?” Bunda bertanya pada Raditya.


“Sudah Bu..”


“Panggil saya Bunda, seperti yang lainnya. Panggil juga Ayah pada ayahnya Agung dan Adisti.”


“Terimakasih, Bun..”


“Lalu bagaimana dengan tanggapan orangtua Almarhumah?”


“Mereka menolaknya. Mereka tidak mau berhubungan lagi dengan pembunuh putrinya,” Raditya menunduk, “Mereka meminta saya untuk tidak menghubungi mereka lagi..”


“Ah, begitu..” Bunda mengangguk mengerti.


“Walau istri Nak Radit sudah meninggal, tetap hargai orangtuanya sebagaimana orangtua sendiri. Tetap do’akan mereka, semoga Allah melunakkan hati mereka. Tetap jalin komunikasi walau mendapat balasan yang tidak kita inginkan. Tetap memberi walaupun ditolak.”


“Bagaimana Bun? Bunda bisa hadir besok?” Ayah memandang Bunda.


“Insyaa Allah.. Besok jadwal Bunda kosong, Yah.”


“Jam berapa acaranya?” tanya Hans.


“Jam 09.00 di Jakarta, Tuan Hans.”


“Baik. Nanti Ayah dan Bunda berangkat dari rumah pukul 06.45. Berangkat bersama Pak Raditya saja ya supaya lebih mudah untuk pengawasan dan pengawalannya. Nanti akan ada 2 mobil, mobil yang akan dinaiki kalian satu lagi mobil yang akan dinaiki oleh para pengawal.”


Raditya mengangguk. Dia menurut dengan pengaturan dari Hans mengingat kondisi saat ini tengah genting dan dia tidak bisa mempercayai orang-orang di institusinya sebelum dilakukan pembersihan besar-besaran.


‘’Bram, pakai mobil Lu yang silver ya. Akselerasinya bagus. Driver dari gue.”


“Pakai saja..” jawab Bramasta.


“Besok, Ayah, Bunda dan Pak Raditya pakai rompi kevlar,” Hans memandang Bunda yang tampak melongo, “Rompi anti peluru, Bun. Untuk berjaga-jaga.”


Agung dan Adisti salling berpandangan.


“Ayah dan Bunda yakin akan hadir?”


“Iya. Insya Allah tidak ada kejadian apa-apa. Yakin saja dengan perlindungan dari Allah.”


Raditya tidak enak hati.


“Tidak apa-apa bila Ayah dan Bunda membatalkan untuk hadir di acara besok. Tadi saya lupa dengan keadaan yang tidak menguntungkan bagi saya saat ini..”


Ayah mengibaskan tangannya.


“Kami sudah menyanggupinya. Kami tahu resikonya. Kami percaya dengan kemampuan orang-orang Nak Hans dan juga teman-teman Nak Raditya di sana.”


“Nak Hans,” Bunda memandang ragu pada Hans, “Rompi anti peluru itu apakah berat sekali?”


Hans tersenyum dan menggeleng.


“Tanyakan kepada Tuan dan Nyonya Alwin yang sudah beberapa kali memakainya.”


Bunda tersenyum lega.


“Gak Bun. Rompi yang dimiliki AMANSecure itu yang terbaik dan teringan. Tidak terasa sesak dan gak bikin kita tampak gendut juga,” Mommy tersenyum lebar.


Bunda mengangguk setuju.


“Tuan Hans, saat di tempat pelantikan, orang-orang Tuan Hans tidak bisa masuk ke dalam tempat acara kan?” Raditya menatap lurus pada Hans, “Saya hanya memiliki satu undangan untuk Ayah dan Bunda saja.”


Hans tersenyum.


“Jangan khawatir. Kalian tetap akan dilindungi oleh orang-orang saya. Orang-orang saya bukan hanya dari AMANSecure saja yang sipil tetapi dari rekan Pak Raditya juga. Sesama anggota.”


Tinggi badan mereka sama jadi mata mereka sejajar.


“Jangan khawatir dengan undangan masuk. Saya bisa mengusahakan dua undangan untuk orang-orang saya dari AMANSecure yang sipil untuk masuk ke tempat acara dan duduk di belakang Ayah dan Bunda. Insyaa Allah, kalian aman.”


“Syukurlah. Saya lega mendengarnya,” Raditya tersenyum lebar menatap Hans juga kepada Ayan dan Bunda, “Kalau begitu, saya akan pulang dulu ke rumah saya untuk mengambil perlengkapan untuk besok pagi.”


Agung yang sedari tadi memegangi dada kirinya yang terasa tidak enak semenjak mendengar pembicaraan tentang rompi kevlar mendadak berdiri di depan Raditya.


“Tidak. Tidak boleh!” tangan Agung bergerak menghalangi Raditya, “Tidak boleh pulang ke rumah Abang. Malam ini, Abang tidak boleh pulang. Kalau Abang butuh untuk mengambil sesuatu, minta tolong pada anak buah Bang Hans saja.”


Raditya mengerutkan keningnya. Semua terkejut mendengar ucapan dan tingkah laku Agung yang tidak biasa.


“Gung?” Indra mengangkat kedua alisnya menuntut penjelasan.


“Saya tidak bisa menjelaskan kenapanya,” Agung menggunakan bahasa formal, “Tapi di sini...” Agung menunjuk pada dadanya, “Saya merasakan ada sesuatu yang akan terjadi malam ini di sana. Tolong, dengarkan saya, Bang Radit. Saya takut terjadi hal-hal yang buruk akan terjadi malam ini...”


.


***


Babang Agung kok bisa begitu ya? Sebenarnya ada apa sih dengan Babang Agung?


Psssst, Author bisikan ya.


Kondisi Babang Agung dijelaskan oleh Babang Agung sendiri di novel Mr. Secretary : Destiny Bound, novelnya Babang Indra.


Kondisi yang membuat panik bagi semua anggota Kuping Merah kecuali Bang Leon, karena pada saat dia bercerita, Bang Leon sedang di Canberra.


Jangan lupa like-nya untuk penilaian retensi pembaca bagi Author.