CEO Rescue Me!

CEO Rescue Me!
BAB 210 – PERPANJANGAN WAKTU



Adisti terhenyak saat Bramasta memberitahu bocoran hasil autopsi.


“Gila ya mereka. Sesadis itu.. Bukan manusia!”


“Yang kita bingungnya sih bagaimana menyampaikannya pada Adinda tanpa membuat dia down lagi..” Bramasta mengamati Adisti yang tengah menghubungi nomor Bunda.


“Halo.. assalamu’alaikum Bun..” Jeda.


“Iya, ini sekarang Adek dan Abang sedang di jalan mau ke kantor. Bun, nanti jam 9 ada pers release hasil otopsi. Tentang bilur merah keunguan di tengkuk almarhum...” Adisti menceritakan semuanya pada Bunda. Kemudian jeda agak lama.


Adisti melirik suaminya yang tengah memeriksa email yang masuk. Wajahnya serius menatap gawai membuat tingkat ketampanannya berkali lipat.


Adisti mendekatkan wajahnya pada wajah suaminya. Sementara gawainya berada di tangan kirinya sengaja tidak didekatkan ke telinganya membuat suara Bunda terdengar.


Adisti mencondongkan tubuhnya ke atah Bramasta. CUP. Bibirnya mengecup singkat pipi suaminya yang tengah membaca email.


Bramasta terkejut lalu menoleh dengan alis terangkat memandang istrinya yang sudah beringsut menjauh. Lalu berbicara lagi dengan Bunda.


Bramasta memutar tubuhnya menghadap istrinya. Dia menunggu istrinya selesai menelepon.


“Apaan tuh tadi?” sesaat setelah Adisti mengakhiri panggilannya dengan Bunda, Bramasta langsung bertanya.


“Yang mana?”


“Yang ini tadi..” Bramasta menunjuk pipinya.


Adisti tertawa.


“Gemesin tahu lihat Abang. Gantengnya kebangetan.."


"Issh apaan sih?" Bramasta merona sambil terkekeh, “Lagi nelepon Bunda juga..”


“Kan Bundanya gak tahu, Bang..”


“Sini..” Bramasta menepuk tempat di sampingnya.


Adisti beringsut mendekat.


“Ada apa, Bang?”


Bramasta merengkuh tubuh istrinya. Menundukkan wajahnya lalu mengecup pipinya.


“Memangnya cuma Disti aja yang bisa?” bisik Bramasta tepat di telinga istrinya. Ujung hidungnya menyentuh puncak hidung Adisti.


Tangannya meraih tombol di konsol tengah bawah. Sekat partisi muncul dari bawah, membagi area penumpang belakang dengan area driver.


“Abang...” suara Adisti tertahan, terdengar seperti bisikan. Tangannya mencekal lengan suaminya.


“Hmmm?” mata Bramasta meredup, wajahnya semakin menempel dengan wajah istrinya.


Dia hanya menyentuhkan ujung hidungnya ke hidung istrinya. Menyentuh perlahan bibir istrinya dengan bibirnya. Berkali-kali. Nafas keduanya tertahan.


“Hmmmh!” tangan kanan Adisti menahan tengkuk suaminya, sementara tangan kirinya menyentuh rahang bawah. Dia yang memulai.


Indra yang baru datang masuk ke lobby B Group mengerutkan keningnya melihat mobil Bramasta terparkir di teras lobby dengan driver berdiri di luar pintunya.


Indra keluar lagi dari lobby.


“Pak Bramasta dan Bu Adisti sudah datang?”


Driver mengangguk lalu jempolnya mengarah pada pintu penumpang.


“Mereka masih di dalam?” Indra menaikkan kedua alisnya. Tangannya mengambil gawai dari saku dalam jasnya.


Driver hanya tersenyum sambil berdiri membelakangi pintu mobil.


Indra hendak menelepon Bramasta tapi tidak jadi. Menyimpan lagi gawainya sambil menatap jam tangan buatan Swiss yang mempunyai kemampuan solargraph dan kedap air hingga 200 meter.


“Pak, tolong bawa mereka keliling sepanjang jalan Asia Afrika, baru nanti balik lagi ke sini ya Pak.”


“Baik, Tuan Indra,” Driver mengangguk dan membungkukkan badannya ke arah Indra lalu lembali ke balik kemudinya.


Mobil melaju mulus meninggalkan teras lobby menuju luar site.


Indra masuk lagi ke dalam lobby gedung sambil mengetik chat di WAG disertai foto mobil yang menuju luar.


Indra_Buat yang lagi kasmaran, dunia serasa milik berdua. Yang lain cuma ngontrak.. Pak Bos entah sudah berapa lama mobilnya parkir di teras lobby. Tapi Pak Bos dan Istri belum keluar juga. Sementara driver berdiri di luar mobil. Ya sudah gue suruh aja driver buat mengajak mereka keliling jalan Asia Afrika satu putaran..._


Leon_Setelah semalam Hans yang minta pinjam kamar depan, sekarang Bram mau bikin mobil goyang di teras lobby???_


Perang stiker ngakak dimulai..


Hans_Untung mereka pakai mobil itu. Ada sekatnya (emot ngakak)_


Anton_Apa kabarnya dengan yang baru hari pertama berangkat sekolah dan kerja bareng ya?_


Agung_Gue ditinggalin. Begitu temannya menyapa, mereka berdua langsung lari seperti kelinci ninggalin gue di koridor sekolah. Celinga-celinguk gue cari ruang guru..._


Indra_Untung gue kagak pernah tertarik dengan abege..._


Leon_Lu jadi anak buah, pengertian banget ke Bos Lu, Ndra..(Emot tawa)_


Agung_Harus naik gaji tuh. Paling nggak, dapat bonus. Bonus pelayanan ekstra.. (emot ngakak)_


Anton_Nanti gue cek ya berapa lama mobil diam di teras lobby (emot ngakak)_


Di dalam mobil, di kursi penumpang belakang, suara notifikasi pesan chat yang berdentingan dalam waktu dekat membuat Bramasta menarik wajahnya dari Adisti.


Matanya menatap istrinya yang wajahnya memerah. Dia yakin, warna wajahnya pun tak jauh beda dari warna wajah istrinya. Masing-masing saling menarik nafas panjang, mengatur nafas.


Bramasta membaca pesan di WAG.


“Mon Dieu!” seru Bramasta.


Adisti menatap lekat suaminya.


“Kenapa? Ada apa?”


Bramasta menekan tombol di konsol tengah. Sekat turun.


“Pak, kita ada dimana?” Bramasta mencondongkan tubuhnya.


“Tadi saya disuruh Tuan Indra untuk memutari jalan Asia Afrika, Tuan..”


Bramasta memicingkan matanya, melihat jajaran gedung tinggi di kanan kiri jalan.


“Putar balik, Pak. Kami ada meeting pagi..”


Bramasta membuat panggilan kepada Indra. Tangannya meremat jemari istrinya yang menatapnya cemas.


“Assalamu’alaikum.. Ndraaaa, meeting pagi ini, Ndra. Gue bakalan telat. Jalanan padat nih,” Bramasta menatap mobil-mobil yang berjalan lambat di depannya.


“Sialan Lu Ndra.. kalian ghibahin gue di WAG..” jeda.


“OK. Lu handle ya. Assalamu’alaikum..” Bramasta mengakhiri panggilannya.


“Kemeja Abang kusut. Gak bisa dipakai meeting..” bisik Adisti.


“Kerudung dan baju Disti juga sama kusutnya.. Nanti kita ganti baju dulu ya.”


“Terus meetingnya bagaimana?”


“Dihandle Indra dulu. Udah mulai meetingnya..”


“Abang sih...”


“Kok Abang? Yang duluan siapa?”


“Makanya pagi-pagi tuh jangan mancing-mancing..” Adisti mencubit lengan atas suaminya.


“Abang gak mancing kok tadi. Abang cuma kiss Buk Istri aja...” bisik Bramasta sambil merangkul Adisti untuk tetap bersandar di dadanya.


25 menit kemudian, mereka sampai juga di gedung B Group. Bramasta dan Adisti bergandengan tangan menuju lift. Mengabaikan baju mereka yang kusut.


Berganti baju dengan cepat di ruang pribadi Bramasta, saat hendak berpamitan dengan istrinya untuk meeting, tangan Bramasta menangkup sebelah pipi Adisti.


“Jadi gak ingin ikutan meeting...” gumam Bramasta di telinga istrinya. Sementara puncak hidungnya menyusuri hidung Adisti.


"Abang.. nanti telat lagi..”


“Udah tanggung telat..”


“Meetingnya..” bibir Adisti terbungkam.


“Lima menit saja. Janji...” bisik Bramasta.


Di menit ketujuh, Bramasta melepaskan dekapannya dari tubuh istrinya sambil terkekeh. Lalu berjalan menuju ruang meeting di lantai yang sama.


Adisti mendengus sambil mencebik, “Katanya lima menit...”


Tapi sedetik kemudian dia tersenyum simpul dengan pipi merona. Lalu berjalan menuju ruangannya dan mulai menyalakan tombol exhaust.


Tangannya sigap menurunkan lukisannya dari dalam lemari. 30% lagi selesai. Lukisan yang dibuat dengan perasaan penuh cinta.


Adisti bertekad, sebelum berangkat berbulan madu, lukisannya harus sudah selesai. Lukisan untuk suaminya.


.


***


Sampai kusut gitu bajunya, sebenarnya mereka ngapain sih?


😁🤭