CEO Rescue Me!

CEO Rescue Me!
BAB 253 - TALENTA ADISTI & TALENTA ANTON



RUANGAN CEO B GROUP


Mereka masih saling berpegangan tangan saat Bramasta membuka pintu ruangannya sambil mengucap salam.


Dia tertegun di ambang pintu. Meremat jemari istrinya.


“Apa itu?”


“Surprise!” Adisti berjinjit untuk mengecup pipi suaminya.


Mata Bramasta terpaku pada benda persegi yang ditutupi dengan kain berwarna silver dengan penyangga kayu kuda-kuda lukisan.


Perlahan mendekati benda yang ditutupi kain silver itu.


“Abang buka ya?”


Adisti tersenyum lebar sambil mengangguk.


Bramasta menarik kain silver itu dengan perlahan. Kain yang licin itu menggelincir pelan sebelum akhirnya luruh ke lantai. Kedua alisnya terangkat menatap lukisan yang ada di atas kanvas berukuran besar itu.


“Masyaa Allah, Buk Istri...It’s very....Awesome. Gorgeous!” Bramasta memeluk istrinya. Mengecup pipi dan dahinya bertubi-tubi lalu memandangi lukisan yang dibuat istrinya.


“Seperti pernah lihat dalam bentuk gambar....” Bramasta memandang lekat, “Buku sketsa Disti ya?”


Adisti mengangguk sambil tersenyum.


“Abang gak nyangka jadinya akan sekeren ini...”


“Terimakasih untuk kebahagiaan dan cinta dari Pak Suami Untuk Buk Istri...” Adisti memeluk erat suaminya.


“Kalian belum juga ganti baju?” suara Indra terdengar dari arah pintu yang terbuka.


Tak lama kemudian matanya melebar saat melihat lukisan Adisti.


“Keren!” Indra berbisik membuat Anton yang di belakangnya menyembulkan kepalanya karena penasaran.


“Apaan sih?”


Indra melangkah mendekati mereka berdua yang tengah berpelukan di depan lukisan. Diikuti Anton yang menatap lukisan Adisti dengan mata berbinar.


“Disti yang buat?” Indra memandang Adisti.


“Ekspresionisnya jelas banget terlihat ya. Pemilihan warna dominannya sangat B Group banget...” Anton mendekat ke arah lukisannya. Memeriksa detil lukisan dari jarak dekat.


“Ini... Akan Disti jual ke Lunar Art?” Indra mengikuti Anton.


“No way. Ini buat Pak Suami..”


“Bingkainya saja bukan bingkai biasa. Ini sih masterpiece membingkai masterpiece lainnya. Double masterpiece!” Anton menyentuh bingkai lukisan dengan ujung jarinya.


Adisti tertawa, “Disti pesan khusus jauh hari sebelum lukisan itu selesai karena pengerjaannya yang rumit dan handmade.”


Bramasta menatap istrinya tak percaya.


Anton mengangguk setuju.


“Ini ukiran tangan ya? Kerajinan perak..”


“Kota Gede, Yogyakarta?” Indra menoleh pada Adisti.


Adisti mengangguk sambil menyengir.


“Yang desain Disti sendiri?” Bramasta kembali menarik istrinya ke dalam pelukannya.


Adisti hanya terkekeh lalu mengangguk.


“Terimakasih banyak Buk Istri..” berbisik tepat di telinga istrinya.


Indra dan Anton yang tengah mengamati lukisan tidak memperhatikan apa yang dilakukan sepasang suami istri itu.


“Terus ini rencananya mau dipajang dimana? Di apartemen kan gak mungkin, Bram. Gede banget kan?” Indra memandang Bramasta dan Adisti bergantian.


“Di lobby aja di area sofa,” Anton mundur untuk melihat ukuran lukisan berikut frame-nya.


Bramasta menggeleng.


“Terlalu show off_pamer_. Gue gak suka seperti itu. Kesannya perusahaan ini berdiri karena one man show. Padahal kan nggak..”


“Tuh di dinding belakang sofa saja. Plafon ruangan ini kan tinggi. Mengisi kekosongan dinding,” Adisti menunjuk dinding warna abu-abu muda.


“Bagus juga tuh idenya,” Indra mengangguk setuju.


“Mau dipasang sekarang? Saya hubungi orang-orang saya ya?” Anton mengambil gawainya. Anton berjalan ke arah belakang lukisan untuk melihat belakang piguranya.


“Buk Bos, ini beratnya berapa kg?” Anton mengelus tepian pigura yang terbuat dari perak.


“Piguranya saja sekitar 15 kg,” Adisti menatap Anton, “Kalau dengan lukisannya mungkin sekitar 20 kg.”


“Seberat Eric,” Bramasta terkekeh.


Saat orang-orangnya Anton bekerja, Bramasta menarik tangan Adisti ke ruangan privatnya untuk berganti baju.


Sesampainya di ruangan, Bramasta membalikkan tubuhnya dengan cepat. Mengurung Adisti yang menyandar pada pintu dengan kedua lengannya.


“I really... Really wanna kiss you since I saw your painting_Abang ingin.. Ingin sekali mencium Disti sejak melihat lukisan itu,” mata Bramasta meredup, memandang sayu pada istrinya.


“Kiss me!” bisik Adisti sambil berjinjit dan melingkarkan kedua tangannya pada leher suaminya yang membungkuk.


*


Mereka semua sudah berkumpul di ruangan rapat Shadow Team. Serangan para hacker mulai berkurang pasca dihack-nya website milik instansi tempat Raditya bekerja.


“Semalam berapa hacker yang tumbang pasca mencoba masuk ke Prince Zuko?” tanya Agung.


“Yang gue bikin gosong beneran ada 27, yang cuma dikepret aja sih di atas 40 an..” Anton menyesap teh yang diseduh Adisti. Teh kiriman dari Bu Dhani khusus untuk Anton.


“Wuih... keren!” Indra mengacungkan kedua jempolnya.


“Hyung Anton memang keren. Kakak yang malu-maluin. Datang ke markas kirain mau bantuin Hyung Anton, malahan cuma numpang tidur doang di sini,” Adisti meletakkan piring kue di tengah meja.


Semua memandang Agung sambil terkekeh.


Agung tampak malu dengan memamerkan cengiran tengilnya.


“Yang penting kan niatnya. Awalnya, berniat bantuin Anton. Tapi berhubung saat gue datang Anton tampak pulas banget di sofa bed, jadinya gue jadi pengen ikutan gabung menyambung mimpi...”


“Dih!” Indra mencibir.


“Tadi Raditya jadi ke kantor Lu, Hans?” Bramasta menyandarkan punggungnya dengan santai memandang Hans.


Hans mengangguk. Menelan potongan kue sebelum menjawab pertanyaan Bramasta.


“Jadi..” Hans meneguk tehnya, “Ada yang akan gue bicarakan dengan kalian sebelum Prince Zuko tampil malam ini ya. Ini ada hubungannya dengan Raditya.”


Semuanya memandangi Hans dengan penuh perhatian. Menunggu Hans melanjutkan kalimatnya tapi Hans ingin menghabiskan kuenya terlebih dahulu.


Anton menyodorkan tisu pada Hans. Hans menyeka mulut dan tangannya.


“Tadi siang, saat kami berdua sedang makan siang di ruangan gue, Tuan Al... maksud gue Daddy, menghubungi gue. Beliau sudah membaca laporan yang team gue buat tentang Raditya.”


“Terus?” Indra mengubah duduknya.


“Daddy ingin Raditya menjadi orang dengan jabatan yang berpengaruh di instansinya. Agar pembenahan bisa semakin cepat dilakukan.”


“Raditya ini.. baru bintang dua kan?” Bramasta meletakkan ujung telunjuknya di cuping hidungnya.


Hans mengangguk.


“Sebentar lagi dia akan menjadi perwira tinggi dengan bintang tiga di pundaknya. Katalisnya, kasus The Ritz, Adinda dan Bryan Amsel.”


“Dia tahu tidak?” Agung mengerutkan keningnya.


Hans menggeleng.


“Gue rasa dia gak tahu dan tidak mau tahu tentang hal itu. Kasak-kusuk yang beredar di kalangan pejabat teras sampai di telinga Daddy.”


“So, what should we do?_Terus, kita harus apa?_” Anton mengambil sepotong kue.


“Setuju tidak bila kita spill tentang petugas yang baik tapi harus menerima ancaman dari orang-orangnya Tuan Thakur, malam ini? Kita masih punya bukti rekaman CCTV jalan tol itu kan, Ton?” Hans memandang ke semuanya sebelum memusatkan pandangannya pada Anton.


Anton mengangguk dan mengacungkan jempolnya.


“Bahkan rekaman CCTV dari dalam GOR Saparua juga sekitar lapangan parkir sudah gue dapat, Bang. Begitu juga CCTV di pasar bunga Wastu Kancana dan toko kue kincir angin itu.”


.


***


Singgah ke cerita Babang Indra ya, Readers.


Mr. Secretary : Destiny Bound (Ikatan Takdir)


Udah ketemuan tuh mereka semuanya... 😁😁