
Seorang pria berapron coklat tua dengan logo gerai kopi datang mengantarkan pesanan mereka dengan nampan.
Agung bukan saja memesan minuman melainkan juga kue untuk sarapan. Pelayan tadi menyajikan semuanya di atas meja lalu menyerahkan bill-nya pada Agung.
Agung memberikan 2 lembar uang warna merah.
“Kembaliannya ambil saja ya Mas. Buat keluarga di rumah,” kata Agung sambil menepuk punggung pemuda tersebut.
Pemuda itu membungkukkan tubuhnya.
“Terimakasih banyak, Pak Agung. Semoga cepat sembuh.”
“Eh, iya. Terima kasih...”
Pemuda tersebut berlalu.
“Om kenal dengan dia?”
Agung menggeleng.
“Memangnya kenapa?” Agung menyesap kopi panasnya dengan hati-hati.
“Tadi Om memberi tip sambil bicara, buat keluarga di rumah,” Adinda menyentuh gelasnya, kaget karena ternyata dipesankan minuman panas, “Kirain Om kenal dengan keluarganya..”
Agung tertawa.
“Tapi tadi saya kaget loh sewaktu dia mengenali saya...”
“Yaiyalah. Siapa sih yang tidak kenal Agung Aksara Gumilar, bujangan yang paling diinginkan di +62?” Adinda mencibir.
Agung tergelak. Adinda mencebik.
“Kamu cemburu?”
Adinda tidak menjawab. Dia mengaduk coklat panasnya dengan plastik pengaduk tipis.
“Dinda..” Agung menatap Adinda dengan tersenyum.
“Hmmm?” alis Adinda naik sebelah, menatap Agung sejenak.
Agung tergelak lagi.
“Ya ampun..” Agung menyusut airmata tawanya, “Kamu lucu banget sih?”
Agung membuka tutup mika tempat kue dari gerai kopi bawah, menyodorkannya pada Adinda. Aroma cinnamon, gula dan apel memenuhi penciuman mereka.
“Coba apple pie-nya. Kita bandingkan dengan apple pie gerai donat,” kata Agung, “Dinda potong-potong, ya?”
Adinda mengangguk.
“Kamu kan sudah tahu perasaan saya ke kamu bagaimana, masa masih terpengaruh dengan julukan pers kepada saya sih?”
Adinda menatap sejenak lalu mengangguk malu.
“Jangan terpengaruh lagi ya dengan julukan yang mereka berikan. Makanya saya ingin sekali secepatnya meng-khitbah kamu, salah satu alasannya karena penyematan julukan yang bahkan saya sendiri tidak suka. Saya malah malu dijuluki seperti itu.”
“Memangnya kenapa, Om? Bukannya itu jadi semacam prestise bagi pria dewasa?”
“Saya gak seperti mereka. Siapalah saya? Saya cuma laki-laki biasa. Karyawan yang menerima salary bulanan. Saya bukan berasal dari keluarga kaya. Motor saya bahkan hadiah dari Adek, setelah nilai lukisannya melonjak drastis.”
“Om terlalu merendah. Atau Om sebenarnya merasa inferior?”
Agung terkekeh.
“Kamu sudah baca siapa saja yang ada di dalam list itu kan? Saya gak ada apa-apanya dibanding mereka secara sosial ekonomi.”
Adinda tersenyum. Dia tahu list bujangan yang paling diinginkan di +62. Didominasi dengan CEO muda, lawyer, dokter, artis dan atlit.
Mereka semua berlatar belakang keluarga kaya. Ada nama Indra Kusumawardhani dalam list itu.
“Jadi, kamu mau kan menerima khitbah dari saya?” Agung menatap Adinda dengan serius.
Adinda yang ditatap seperti menjadi salah tingkah. Akhirnya Adinda mengangguk dengan pipi merona.
“Alhamdulillah..” Agung terlihat lega.
Mata Agung melembut menatap Adinda.
“Terimakasih banyak, Adinda Amelia Rahmat. Terimakasih sudah mau menerima khitbah saya. Terimakasih sudah bersedia menjadi calon ibu ana-anak kita.”
Adinda tersipu malu.
“Tumben, Om. Ngomongnya manis banget..”
“Memang biasanya bagaimana?”
“Garing seperti kanebo kering.”
Agung mencebik. Dia menusukkan garpu plastik pada potongan appel pie dan memakanya. Kemudian menaikkan kedua alisnya.
“Kamu cobain deh. Rasanya beda banget..” Agung menyodorkan sepotong apple pie ke mulut Adinda, menyuapinya.
Adinda menggigit apple pie dari garpu yang disodorkan Agung. Kemudian mengangguk setuju.
“Ini.. cinnamonnya kuat banget ya. Sepertinya saat apel dimasak dengan gula, diberi kulit kayu manis dalam jumlah banyak, juga sedikit cengkeh. Terus, topping di atas kulit pie-nya itu icing sugar dan cinnamon bubuk ya? Makanya aroma cinnamonnya nendang banget..”
“Wah, kamu mengerti dunia per-baking-an?” tanya Agung kagum.
“Kalau ini bukan baking, Om. Ini masuknya sudah dunia pastry.”
Agung mengangguk mengerti.
“Kamu suka bikin kue?”
Adinda mengangguk sambil tersenyum malu-malu. Hati Agung meleleh disuguhi wajah seperti itu.
“Kata Papa, Mama dulu jago banget bikin kue. Sempat ingin buka usaha baking & pastry. Sepertinya ini karena faktor genetik, Om,” Adinda tersenyum cerah saat bercerita.
“Mama yang gak pernah saya lihat wajahnya dan Papa yang membesarkan saya seorang diri, sekarang sudah tidak ada lagi membersamai saya..”
“Hey... Dinda.. ikhlaskan ya. Jangan membebani mereka dengan kesedihan kamu. Saya yakin, akan selalu ada hikmah dibalik peristiwa yang menimpa kita.”
Adinda masih diam saja. Matanya menerawang jauh.
“Dinda..” Agung mengangsurkan gelas coklat panas ke arah Adinda, “Diminum coklatnya. Coklat membantu memperbaiki mood.”
Adinda menyesap minumannya.
“Saya tahu tadi kamu kegerahan. Tapi saya pesankan coklat panas karena masih terlalu pagi untuk kamu minum minuman dingin. Saya tidak mau kamu kembung ataupun masuk angin.”
Adinda mengangguk.
“Om, terimakasih. Saya juga sayang dengan Om Agung. Sayang banget.”
Agung tersenyum salah tingkah. Tiba-tiba dia memegang dadanya.
“Kok jadi deg-degan begini ya?”
“Om pikir, saya bicara seperti ini tidak deg-degan?” Adinda menatap Agung.
“Eh, iya. Berarti kita samaan ya?” Agung menggaruk rambutnya yang tak gatal.
“Om.. tentang rencana khitbah..” Adinda berhenti sejenak.
Lehernya terasa tercekat. Sebenarnya ia tidak sanggup untuk membicarakan ini. Dia menyesap minumannya lagi. Wajahnya muram, matanya mulai berkabut.
“Ya? Kenapa?” tanya Agung berhati-hati karena melihat perubahan wajah Adinda.
“Saya.. yatim piatu. Siapa yang akan mewakili saya sebagai keluarga?”
Hati Agung serasa mencelos.
“Nanti kita bicarakan lagi dengan Ayah dan Bunda ya. Yang penting, Dinda sudah bersedia menerima khitbah dari saya.”
Tanpa sadar Agung menatap lama Adinda. Adinda yang ditatap lama menjadi jengah.
“Om..”
Agung tidak bereaksi. Antara melamun dan menatap Adinda.
“Om Agung!” Adinda melambaikan telapak tangannya ke dekat wajah Agung, “Kok malah melamun sih?”
Agung memundurkan wajahnya sembari mengerjap beberapa kali. Adinda tertawa. Dekik di bawah matanya terlihat.
Hati Agung menghangat bisa menyaksikan dekik itu lagi.
“Om kenapa melamun sih? Memangnya melamunkan apa?”
“Kamu.”
“Eh?!” Pipinya bersemu merah sekarang.
Agung tergelak.
“Kamu beneran belum punya pernah punya pacar?”
“Issh apaan sih Om Agung ini..”
“Soalnya kamu cakep banget, Dinda.”
“Om Agung sedang belajar ngegombal?” pipi Adinda benar-benar memerah.
Agung kembali tergelak.
“Udah deh Om. Katanya tadi ngajakin ke sini supaya saya belajar di sini sedangkan Om Agungnya mau mengerjakan pekerjaannya Om Agung.”
“Gak ah. Enakan ngobrol dengan kamu. Kamu belajarnya nanti saja saat saya sudah mulai jam kantor, ya.”
Adinda tertawa lalu mengangguk.
“Oh ya, tadi Ayah mengabari, kepala sekolah dan walikelas nanti akan datang membezuk, siang nanti.”
“Saya harus ngapain, Om?”’
”Ya gak ngapa-ngapain lah. Di atas bed saja, ya.”
“Kalau saya ditanya tentang sakit saya apa, saya harus jawab apa, Om?”
“Jangan khawatir, tidak akan ada yang bertanya tentang sakit kamu. Nanti Ayah dan Bunda dampingi kamu.”
Adinda terlihat lega sekarang.
Agung melirik arlojinya.
“Masuk yuk. Sebentar lagi jam visit dokter. Habiskan dulu apple pie dan minumannya.”
Apple pie tersisa 2 potong lagi. Adinda menyuapkan sepotong untuk dirinya sendiri. Sepotong lagi ia suapkan pada Agung yang sudah berdiri di tepi meja. Agung membungkuk untuk menerima suapan dari Adinda.
“Anak baik,” kata Agung sambil menepuk-nepuk pelan kepala Adinda, “Mau menyuapi Om-nya.”
Adinda mencebik.
“Kok Om-nya sih?”
“Lah, yang keukeuh manggil saya Om, siapa?” Agung memandang jahil pada Adinda.
.
***
Ciyeeee Om Agung belajar ngegombal 🤣
Minta update, merupakan salah satu dukungan moril kepada Author.
Selalu dukung Author ya...