CEO Rescue Me!

CEO Rescue Me!
BAB 77 – TOO EMBARASSING MOMENT



“Abang kenapa?” Adisti terisak sambil terus mengelap darah yang keluar dari hidung Bramasta.


Dia berlutut di depan Bramasta dengan masih memakai handuk. Bramasta masih duduk menyandar di sofa. Hidungnya disumpal tisu. Adisti memeluk lutut Bramasta sambil menangis. Kepalanya diletakkan di atas paha Bramasta.


“Please jangan sakit Abangnya… Disti sayang Abang.”


“Disti..” Bramasta memanggil pelan, lututnya bergerak tidak nyaman.


“Iya Bang?” Adisti mendongak.


“Jangan begitu, geli tahu..”


“Apa?”


“Jangan pegang lutut Abang. Abang geli..”


“Oh. Ma’af.”


Adisti berdiri lalu membungkuk ke arah Bramasta. Memeriksa hidungnya. Bramasta mengangkat kedua alisnya.


“Duh!” gumamnya.


“Abang kenapa? Terasa sakit lagi? Yang mana yang sakit?” Adisti menyentuh tangan Bramasta yang sedari tadi menekan pangkal hidungnya, “Eh tangan Abang dingin banget.”


Tangan Adisti *******-***** tangan Bramasta, berharap bisa menghangatkan kedua tangan Bramasta.


Bramasta memejamkan matanya.


“Pusing banget ya Bang..”


Bramasta tidak menjawab. Dia berdiri lalu berjalan ke arah kamar mandi. Adisti mengikutinya. Bramasta mencuci tangannya. Memandang Adisti yang sedang berdiri canggung karena handuk yang mulai longgar ikatannya dari pantulan cermin. Bramasta mencabut tisu yang menyumbat hidungnya sambil menunduk memandang keran air.


Darah masih menetes tetapi tidak sederas tadi. Dia mencuci wajahnya dengan kasar. Tangannya memegang erat tepi meja. Wajahnya masih ditundukkan di wastafel.


“Disti kenapa gak pakai baju?”


“Koper Disti ada di mobil silver. Disti gak punya baju…”


“Terus kenapa keluar cuma pakai handuk seperti itu?”


“Mau ambil baju Abang di lemari.”


Bramasta mendongak. Menatap Adisti yang tengah menatapnya. Lalu bergegas mencabut tisu dari kotaknya untuk disumpalkan lagi di hidung. Melirik lagi ke arah Adisti yang berdiri canggung memegangi handuk.


Antara kasihan dan ingin tertawa dengan keadaan yang serba canggung, akhirnya Bramasta terkekeh pelan.


“Cuci tangan Disti, ada darahnya,” kata Bramasta.


Disti menurut. Mencuci tangannya bergantian dengan canggung. Karena handuknya harus dipegangi agar tidak terlepas. Adisti menatap Bramasta dari pantulan cermin.


“Baju koko Abang ada darahnya..”


“Iya..”


Bramasta membuka 3 kancing baju kokonya lalu melepasnya dari atas kepala.


“Abang ngapain?” Adisti memalingkan wajahnya.


“Mau naruh baju kotor di keranjang cucian.”


“Terus kenapa buka baju di depan Disti?”


“Eh?”


Bramasta menatap pantulan mereka di cermin. Wajahnya memerah. Lalu menarik tangan Adisti. Di depan lemari bajunya, dia mencabut tumpukan Tshirt dengan asal lalu segera memakainya dengan cepat. Mengambil satu lagi lalu disodorkan pada Adisti.


Adisti terdiam dengan wajah bingung. Akhirnya Bramasta memakaikan Tshirtnya pada Adisti dengan cepat. Tshirtnya jadi terlihat sangat kebesaran bagi tubuh Adisti.


“Begini lebih baik,” gumam Bramasta sambil mencabut tisu pada hidungnya, “Jauh lebih baik. Aman.”


“Maksudnya?”


“Nggak…”


“Tolong ambilkan tisu lagi,” kata Bramasta saat merasa ada cairan yang mengallir di dalam hidungnya lagi.


Setengah berlari Adisti mengambil tisu yang berada di meja dekat sofa. Menyerahkan tisu pada Bramasta yang tengah menatapnya dengan melongo sambil menahan nafas.


“Oh My God, this gonna be a very long night_Ya Tuhan, ini bakal jadi malam yang panjang nih!”


gumamnya.


“Ada salep antiseptik Bang?”


Bramasta mengangguk. Dia berjalan lagi ke area wastafel. Kembali lagi dengan salep di tangan.


“Duduk, biar Abang bantu.”


Adisti mengangguk.


“Dilap dulu kulit kepalanya supaya kering, Bang.”


Bramasta mengangguk. Lalu mengoleskannya hati-hati.


“Perih?” tanya Bramasta.


Adisti menggeleng.


“Ada beberapa yang masih merah.”


“Selasa nanti Abang bisa antar Disti ke rumah sakit? Buka jahitan.”


“Insyaa Allah. Abang masih libur kok selasa nanti.”


“Yang di bahu dan punggung, biar sama Disti aja Bang.”


“Are you sure?” tanya Bramasta, “Abang kok gak yakin.”


Bramasta menyingkapkan kaos dari bawah. Untungnya Adisti masih memakai handuk di dalamnya.


“Ini yang waktu itu kebuka lagi jahitannya ya.. jadi berkerut kulitnya.”


Bramasta mengoleskan salep dengan hati-hati.


“Linu Bang, jangan terlalu lama diolesinnya.”


“Ma’af,” gumam Bramasta.


Suara tombol pin pintu ditekan dari luar terdengar. Bramasta menoleh pada Adisti.


“Masuk ke dalam selimut. Jangan keluar kamar. Allright?”


Adisti mengangguk.


“Handuknya?” Bramasta menyodorkan tangan meminta handuk yang masih dikenakan Adisti di dalam Tshirtnya.


Adisti berdiri lalu menarik handuknya dari bawah. Menyerahkannya pada Bramasta. Bramasta masuk ke dalam ruang wastafel dan keluar lagi.


“Abang,” Adisti yang sudah di dalam bedcover memanggil.


Bramasta yang sudah memegang handle pintu kamar menoleh, “Ya?”


“Minta tolong ambilkan minum ya.”


Bramasta mengangguk.


“Ada apa? Kenapa Adek sepanik itu? Adek mana sekarang?”


“Lu sakit, Bram? Mau diantar ke rumah sakit atau mau dipanggilkan dokter saja ke sini?”


Bramasta tidak menjawab. Dia berlalu ke pantry. Mencuci tangan lalu mengambilkan air dalam mug berwarna merah berikut tutupnya.


“Bentar, anterin ini dulu. Nyonya minta minum..” dia masuk lagi ke dalam kamarnya meninggalkan Indra dan Agung yang saling berpandangan bingung.


Tidak berapa lama Bramasta keluar lagi dari kamarnya.


“Kalian kenapa bisa datang bersama?”


“Kami masih di The Cliff tadi. Bang Leon dan Bang Hans sudah pulang setelah Abang pulang.”


“Ngapain?”


“Ngobrol.”


“Nemenin Anton yang sedang mengawasi pembongkaran proyektor-proyektor dan lantai layar sentuh,” Indra menunjuk hidung Bramasta yang masih disumpal tisu, “Itu kenapa?”


Bramasta mengusap matanya. Bingung mau bercerita dari mana.


“Ah, udah deh gak usah dibahas. Yang penting gue gak apa-apa.”


Indra memeriksa dahi Bramasta, “Gak panas, normal.”


“Tadi kenapa Adek sampai teriak-teriak begitu? Kedengarannya panik banget?” Agung menghempaskan dirinya ke sofa.


“Disti cuma panik saja melihat Abang tiba-tiba mimisan.”


“Tadi kita sedang ngobrol di handphone kan?” tanya Agung.


Bramasta mengangguk.


“Terus kenapa lu tiba-tiba mimisan? Kemarin siang lu gak kemana-mana kan? Gak panas-panasan?”


Bramasta menggeleng.


“Lu panas dalam?”


Bramasta menggeleng lagi.


“Terus kenapa?”


Bramasta menatap mereka bergantian.


“Memangnya harus gue ceritain ke kalian?” Mereka mengangguk.


“Gak cukup kalian lihat gue baik-baik saja sekarang?”


Mereka menggeleng.


“Gue kan harus jelasin ke Tante Al, Bram.”


“NO WAY! Awas kalau kalian menceritakan ini ke Mommy atau siapapun!” Bramasta memandang Indra dan Agung bergantian.


“Sebenarnya ada apa sih? Kenapa sih?”


“Tinggal cerita aja ribet amat sih Bang?”


“Too embarassing, you know_Terlalu memalukan, tau_!??”


“Pa an sih?”


“Gue mimisan setelah melihat Disti keluar kamar mandi cuma pakai handuk doang..”


“Whattt???!” Indra dan Agung mendadak kompak.


Keduanya lalu terdiam lama memandangi Bramasta yang tengah menutupi wajahnya dengan bantal sofa.


“Serius, Bang?” tanya Agung.


“Hmmm.”


“What the…” Indra tidak melanjutkan kalimatnya, dia menepuk paha Bramasta dengan keras, “This is so LOL!”


Tak terbendung lagi, keduanya terbahak keras sambil menunjuk-nunjuk Bramasta. Bramasta melirik mereka dari balik bantal sofa dengan sebal.


“Issssh!”


Bramasta berjalan ke pantry, menuang air panas lalu menyeduh teh celup. Indra mengikutinya masih sambil terkikik geli, menyeduh teh juga, “Lu mau juga Gung?”


“Boleh.”


“Bram, gue gak nyangka lu bakal sepolos ini..”


“Bang, Adek udah jadi istri Abang. Kalian tuh udah sah. Kenapa sampai masih menahan diri begitu sih?” Agung menerima mug dari Indra.


“Lah tinggal gabruk aja, apa susahnya sih?” kata Indra sambil terkekeh.


“Disti masih datang bulan.”


Indra dan Agung saling berpandangan lalu meledak tawanya.


“Terus napa?” kompak sekali mereka dini hari ini.


“Ya ngga ada terusnya. Kan gak boleh kalau lagi datang bulan..” Bramasta menelungkupkan wajahnya di meja pantry.


“Ya ampun… suami si Adek polos banget..”


“Kan gak perlu sampai melakukan “itu”, Bram,”Indra membuat gerakan tanda kutip dengan kedua jemari telunjuk dan tengah kanan kiri, “Tipis-tipis saja..”


“Gue gak tega. Bahu dan punggungnya masih cedera. Kasihan kalau tertindih..”


“Yaelah…” Indra dan Agung benar-benar terbahak.


“Gue gak tega..”


“Lu gak tega tapi akibatnya lu mimisan..”


“Pembuluh darah hidung jebol.. Huahahaha…”


Agung dan Indra saling tos sambil terbahak.


“Seneng kalian berdua??” Bramasta memandang sebal, “Puas banget ketawanya.”


“Bener-bener epic ini mah..” Keduanya kian terbahak.


“Dah ah, daripada meladeni kalian mending gue tidur aja,” Bramasta.


“Bram,” seru Indra, Bramasta yang tengah memegang handle pintu kamarnya menoleh, “Langsung gabruk aja…”


Wajah Bramasta memerah hingga telinganya. Malu.


Indra dan Agung terbahak lagi.


***


Calm down, Babang Ganteng gak kenapa-kenapa...


Tinggal gabruk aja apa susahnya sih???


🤣🤣🤣😂😂