CEO Rescue Me!

CEO Rescue Me!
BAB 212 – MAKAN SIANG



Hans mengirimkan tentang apa yang tadi ia dapatkan dari Pak Dhani.


Indra_Gue pernah ketemu dengan yang bernama Lothar Schuemaker. Gue gak nyangka Papi punya teman yang berhubungan dengan Helena Schmidt_


Bramasta_Kita ketemuan saja sore nanti di markas Shadow Team sambil undang Babeh untuk ikut meetingnya kita. Kita bahas keterkaitan teman-teman Babeh dengan Helena_


Leon_Iya tuh. Kayaknya lebih enak yang menanyakan itu Babeh deh daripada Lu, Hans. Bagi mereka Lu itu stranger_orang asing_


Indra_Untuk Lothar Schuemaker biar gue ngobrol aja langsung dengan yang bersangkutan_


Hans_OK siip, Ndra. Gung, Lu masih dengan Babeh? Sampaikan undangan meeting dengan Prince Zuko kepada Babeh ya_


Agung_Iya masih. Sedang di ruangan Babeh. Menunggu pers release hasil otopsi. Wah... dah mulai.. Kakak Ipar gak nonton?”


Indra_Kami sedang meeting, Bro.. Pak bos lagi bicara dengan CEO perkapalan.._


Hans dan Leon mengirimkan emot tawa.


Agung_Ton, Lu kok gak ada kabarnya?_


Indra_Anton udah terbang sama Ayah ke Garut, 10 menit yang lalu.._


Hans_Ya udah ya, fixed nih kita ketemuan di maskas Shadow Team sore ini. Sampai ketemu sore nanti ya, insyaa Allah. Gue mau siap-siap terbang bareng Big Boss_


Bramasta_Hans, tolong bawain paket gue yang dialamatkan ke kantor Jakarta ya_


Hans_Paket apaan?_


Bramasta_Dari florist yang di Grand Indonesia_


Indra_Bucin mode on pokoknya ya.. Gue lihat di CCTV tadi, kalian berdua turun dari mobil dengan baju kusut..(emot ngakak)_


Stiker ngakak bertebaran.


Bramasta_Hisssh ngeres kalian semuanya. Gue sama Disti gak ngapa-ngapain. Gak sampai gabruk-gabrukan dalam mobil. Gak ada tuuh mobil goyang.._


Hans_Gue gak habis pikir kalian chat seperti ini di depan klien kalian. Warbiyasah banget memang kalian berdua ini ya. Petakilan banget kalian tuh.._


Leon_Gak sampai gabruk-gabrukan berarti nyaris gabruk-gabrukan ya. Pantesan baju kalian kusut seperti itu (emot ngakak 3x)_


Bramasta_Buat Indra, Agung dan Anton, tolong kalian gak usah bayangin adegannya ya. Demi kebaikan kalian sendiri.. (emot ngakak)_


Dan WAG dipenuhi stiker ngakak dari para suami...


Agung masih mengerjakan laporan keuangan di ruangannya ketika pintu ruangannya di ketuk.


“Ya masuk..!” seru Agung sembari matanya tidak lepas dari layar laptopnya.


Suara handle pintu diputar. Seraut wajah belia berbalut hijab putih muncul dari ambang pintu.


“Assalamu’laikum, Om..” Adinda melangkah masuk. Dia menatap Agung tidak berkedip.


“Wa’alaikumussalam.. Masuk Dinda. Duduk aja dulu ya, saya masih tanggung menyelesaikan ini..” Agung masih tidak berpaling dari layar laptop.


Matanya melirik pada jam di bagian kiri bawah laptop, 13.35. Dan dia masih belum makan siang demi menunggu Adinda.


Adinda memilih duduk di sofa yang paling dekat dengan pintu. Dia duduk dengan baik dan rapi. Beberapa kali mencuri pandang pada Agung.


“Kenapa lihatin saya terus?” tanya Agung tiba-tiba tanpa memalingkan matanya dari layar laptop.


“Nggak.. Sok tahu, Om Agung.”


“Saya tahu kok kamu dari semenjak masuk melihat ke wajah saya terus. Kenapa? Naksir ya? Cinta ya?”


“Diiih. Narsistik banget,” Adinda mencibir.


“Terus kenapa?”


“Saya cuma merasa aneh saja melihat Om Agung memakai kacamata..”


“Oh ini. Ini saya pakai saat bekerja saja. Bukan minus ataupun plus, hanya sebagai pelindung mata dari sinar biru laptop dan gadget. Kan saya menghabiskan waktu lama saat di depan laptop...” Agung mendongak menatap Adinda, “Bagaimana? Makin ganteng kan?”


Adinda tidak menjawab. Karena semakin dijawab, Agung akan semakin menyebalkan menurutnya. Dia mendekati Agung.


“Om sedang mengerjakan apa sih?”


Adinda berdiri di belakang kursi Agung.


Membuat Agung tidak bisa berpikir. Kuduknya meremang. Jantungnya berdebar. Mendadak nafasnya jadi terasa berat.


“Kenapa? Saya ganggu Om?” Adinda mencebik.


“Eh.. nggak. Bukan begitu..” Agung berpikir cepat supaya tidak menyinggung perasaan Adinda, “Coba kamu buka lemari yang di bawah itu. Iya.. geser aja pintunya. Pilih cemilan yang kamu suka..”


Adinda menurut. Dia berlutut untuk melihat lemari camilan Agung. Adinda hanya mengambil keripik kentang dalam tabung.


“Ng... kalau mau minuman dingin, ambil sendiri di kulkas kecil di dalam lemari sebelahnya ya..” Agung memalingkan wajahnya lagi ke layar laptop. Tangannya masih memegangi dadanya.


Adinda mengangguk. Dia mengambil sekaleng soda.


“Kamu belum makan siang kan?” tanya Agung sembari menatap soda di tangan Adinda.


“Belum. Kan katanya kita mau makan siang bareng. Tadi saat perjalanan ke sini, saya beli cilok tiga ribuan..”


Mendadak Agung menginginkan cilok.


“Ah tahu gitu tadi saya titip cilok ke kamu ya. Cilok sekolahan kan enak..”


Adinda terkekeh. Selera Agung akan camilan sama dengan selera bocil SD.


“Memangnya Om Agung belum makan siang? Ini kan sudah lewat jam makan siang?”


Agung mengangguk, “Kan saya sudah janji mau makan siang bareng kamu. Ya sudah.. sekarang aja yuk kita ke kafetaria.”


Agung men-save pekerjaannya lalu mematikan laptopnya.


“Om, gak malu makan siang dengan saya?” Adinda bertanya dengan ragu.


Agung memberi perhatian penuh pada Adinda sekarang.


“Kenapa?”


“Karena saya gak sekeren orang-orang di kantor ini. Saya masih berseragam SMA..” Adinda menundukkan pandangannya.


Agung melepas kacamatanya. Lalu mendekati Adinda.


“Kata siapa kamu gak keren? Kalau kamu gak keren, mana mau saya sama kamu kan? Sebagai cowok keren, saya juga mau dong dapat pasangan keren..” Agung tersenyum lebar menatap Adinda.


“Mulai lagi deh..” gumam Adinda.


“Kamu bicara apa?”


“Nggak.. Yuk udah lapar banget nih.”


“Dinda, kamu pakai cardigan kamu ya. Saya gak mau orang-orang yang kepo membaca nama kamu dan badge sekolah kamu,” Agung menyodorkan cardigan Adinda yang dileakkan di atas sofa.


“Beneran alasannya karena itu, Om? Bukan karena Om malu jalan dengan anak masih sekolah?”


Agung tidak menjawab. Dia hanya menyodorkan cardigan. Menatap Adinda dengan serius.


“Saya bukan tipe pria romantis. Sepertinya saya harus belajar banyak pada Bang Bram, Bang Leon dan Bang Hans supaya saya bisa menyampaikan ketidakberatan saya dengan seragam kamu dengan cara yang romantis,” Agung memegang handle pintu, membiarkan Adinda keluar duluan dari ruangannya.


“Kellihatannya seperti sesuatu yang rumit untuk menjadi romantis, ya,” Adinda melirik Agung, "Menurut saya, gak perlu menjadi romantis kalau jadinya malah meperumit sesuatu yang sederhana dan malahan bisa berujung salah pengertian.”


Agung tersenyum. Mereka berjalan beriringan dengan tetap menjaga jarak. Beberapa pegawai menyapa Agung. Agung hanya mengangguk kecil dan tersenyum pada mereka. Dan kebanyakan mereka menatap Adinda dengan penuh rasa ingin tahu.


Kafetaria sudah sepi di jam segitu. Agung bersyukur untuk itu. Dia khawatir bila kafetaria masih ramai maka akan terjadi kehebohan yang membuat Adinda menjadi tidak nyaman.


“Bagaimana sekolahnya?” tanya Agung.


Adinda bercerita dengan ceria. Diam-diam Agung mengetik chat dengan adiknya. Sekali-kali menanggapi celoteh Adinda sambil matanya memeriksa layar gawainya.


Agung_Dek, lagi ngapain? Kakak lagi bareng Adinda, mau makan di kafetaria bawah. Butuh advice dari Adek, bagaimana caranya terlihat romantis tanpa terlihat bucin ataupun gombal?_


Mereka mengambil nampan lalu masuk ke jalur memilih makanan. Adisti masih belum mambalas chat Agung. Jangankan membalas chat, membuka pesannya juga belum. Masih centang dua abu-abu.


Agung_Dek, buruan jawab napah..? (emot jengkel)_


Bahkan hingga mereka duduk di kursi mereka di dekat jendela besar menghadap taman, chat Agung masih centang dua abu-abu.


Agung_Punya adek jahara beud dah!_


.


***


Babang Agung ngambek kan ke Adisti. Tom & Jerry lagi nih kalau ketemu..