CEO Rescue Me!

CEO Rescue Me!
BAB 97 – KOPI FRANCHISE GERAI LUAR NEGERI



Anton meletakkan jari telunjukknya di depan bibirnya. Meminta mereka untuk tidak bersuara. Anton mengangkat pot tanamannya lalu meletakkanya di lantai foyer yang basah. Dia berlutut dan mulai membongkar isi potnya.


Dengan hati-hati mengeluarkan tanaman anggreknya lalu membongkar media tanamnya. Memilah-milah media tanamnya dengan jemarinya. Memastikan tidak ada lagi penyadap di dalamnya.


“OK. It’s clear!” seru Anton.


Semua menghembuskan nafas lega. Adisti mengambil alih tanaman anggrek. Dia merapikan lagi tanaman anggrek dengan media tanamnya.


Indra yang hafal dengan apartemen Bramasta mengambil pel bergagang dari lemari janitor dibantu Anton yang membawa vacum cleaner.


Bramasta tengah membuat panggilan telepon dengan Daddynya.


“Assalamu’alaikum Dad..” Jeda.


“It’s OK now. Don’t worry, we can handle it_Sudah beres sekarang. Jangan khawatir, sudah kita tangani_” Jeda.


“Perkiraan kami, ini ada hubungannya dengan Rita dan Tuan Thakur.” Jeda.


“Ya... Hans dan Agung sedang mencari tahu sekarang. Mungkin sebentar lagi mereka datang.” Jeda.


“Besok, jangan ada meeting dulu di kantor sebelum teman Bang Leon memeriksa ruangan dengan alat detektor. Meeting diadakan di luar kantor saja.” Jeda.


“OK Dad.. salam buat Mommy.. don’t be worry, K..” Jeda sejenak.


“Assalamu’alaikum.”


Suara bel pada pintu, Anton mengecek di monitor pintu. Hans dan Agung tengah berdiri di depan pintu. Anton bergegas membukakan pintu untuk mereka.


“Assalamu’alaikum,” ucap Hans dan Agung.


“Wa’alaikumussalam.”


“Sudah beres?” tanya Hans.


Anton mengangguk sambil mengacungkan kedua jempolnya. Anton memperlihatkan buntelan sarung tangan Agung yang diletakkan di dalam kotak bekas biskuit.


“Di dalam sarung tangan?” tanya Agung terkekeh. Anton mengangguk.


“Terus itu mau dibuang?” tanyanya lagi.


“Gak, kita minta temannya Bang Leon untuk identifikasikan penyadap ini jenis apa dan siapa yang membuatnya, juga pembelinya,” kata Hans.


“Wah.. bisa diidentifikasi seperti itu?” Agung bertanya kagum.


“Kenapa harus ke temannya Bang Leon sih?” tanya Adisti yang muncul dari arah pantry sambil membawa teh dan kopi dalam teko, “Bang Bram, tolong buka pintu balkon..”


“No one we can trust here_Gak ada yang kita bisa percayai di sini,” ucap Hans sambil mengikuti Adisti berjalan ke balkon.


“Karena kita belum tahu siapa yang menjadi Inspektur Vijay...” Indra menyahut.


“Bagaimana hasil investigasi kalian?” tanya Bramasta sambil menggenggam jemari istrinya yang duduk di sampingnya.


“Kebetulan sekuriti yang saat ini bertugas adalah sekuriti yang kemarin siang bertugas,” jawab Agung.


“Terus?”


“Dia mengakui bunga anggrek itu sudah ada di mejanya saat dia sedang ke toilet,” kata Agung lagi.


“Means?”


“Dia gak bertemu dengan kurir pengantar bunganya. Karena kartu bunganya tertulis untuk Adisti, dia menyimpannya di meja sekuriti.”


“Hans?” Bramasta memandang Hans.


“Ini,” Hans mengacungkan gawainya, “Rekaman 10 menit sebelum, saat dan setelah meja sekuriti kosong saat petugasnya ke toilet.”


“Bang Hans serem banget tadi... sekuritinya sampai ngeper jiper begitu. Juga orang-orang yang berada di ruangan kendali CCTV. Makanya rekaman yang diminta diberi tanpa banyak basa-basi,” cerita Agung.


“Hans berubah ya kepribadiannya?” kekeh Indra.


Agung mengangguk, “Berasa lihat mafioso...”


Anton memandang Agung tidak percaya, “Ciyus? Sesakti itu?”


Adisti mengamati lekat wajah Hans, “Kira-kira, Baby Andra bakal kayak bapaknya nggak ya?”


Hans mencebik kesal pada Adisti. Semuanya terkekeh.


“Kita tonton di dalam saja, pakai TV, jadi supaya bisa ditonton bersama-sama,” kata Bramasta.


Agung membawa nampan berisi teko dan gelas kembali ke dalam meja coffee table di ruang tengah. Anton menghubungkan gawai Hans dengan TV dengan kabel khusus. TV mulai memutar rekaman CCTV.


Beberapa penghuni hilir mudik di lobby penthouse, disapa oleh sekuriti dengan ramah. Ada yang membalas sapaannya dan ada yang berjalan acuh.


“Abang kenal dengan tetangga Abang?” tanya Adisti.


Bramasta menggeleng, “Gak pernah bertemu mereka.”


“Itu..” Agung menunjuk layar TV, “Bukannya dia selebriti yang beberapa waktu lalu menghebohkan dunia infotainmen karena diduga menjadi simpanan pejabat?” Agung menunjuk seorang wanita muda berparas cantik dengan baju kurang bahan.


“Yang itu, anaknya konglomerat pemegang merk mobil Jepang itu ya?” Indra menunjuk seorang pria yang bercelana pendek dan T Shrit.


Bramasta menonton dengan telunjuk menyentuh cuping hidungnya.


“Sultan ya sekuritinya... Disti saja baru dua kali minum kopi di gerai itu. Mihil. Sayang banget duitnya buat jajanan berharga mahal seperti itu..”


Agung mengangguk setuju, “Kita mah kaum mendang-mending, Dek... daripada beli ngopi di tempat itu mending beli kupat tahu Gempol.”


“Ho oh. Masih bisa buat beli klepon dan teman-temannya juga ya...”


Semuanya terkekeh mendengar Disti mengungkit klepon.


Bramasta meraih bahu istrinya lalu memeluknya erat sambil bersandar di sofa, “Ngungkit-ngungkit klepon lagi nih?”


“Gak Bang.. ampun deh!”


“Jangan-jangan karena minuman itu, sekuriti jadi sakit perut makanya dia pergi meninggalkan posnya?” Anton menatap layar TV dengan serius.


“Artinya ada yang sengaja memberi sekuriti itu dengan minuman kopi? Smart enough. Untuk kaum mendang-mending, siapa sih yang bisa menolak pesona kopi franchise luar negeri yang tidak terjangkau kantongnya?” Agung mengambil cangkir tehnya.


Hans memandang Anton dan Agung bergantian lalu berjalan ke dinding tempat telepon interkom tergantung di sana. Dia menekan tombol sekuriti.


“.. malam. Pak Danang, ini dari Hans yang tadi berbicara dengan bapak terkait kiriman bunga. Beberapa saat sebelum kiriman bunga itu datang, darimana Bapak mendapat kopi merk gerai yang di bawah?” Jeda.


“OK.. Bapak kenal dengan orang itu?” Jeda.


“Pernah melihatnya di sekitar lobby penthouse ataupun sekitaran apartemen?” Jeda.


“Ciri-cirinya?” Jeda.


“Saya bisa pegang omongan Bapak?” Jeda.


“OK. Lain kali saat sedang bertugas, jangan menerima makanan atau minuman dari orang yang tidak Bapak kenal.” Jeda.


“Terimakasih banyak.”


Hans kembali ke sofa. Semuanya memandang ke arahnya.


“Seperti yang kita duga, sekuriti menerima kopi dari orang yang tidak dia kenal, bukan penghuni penthouse ataupun orang yang biasa terlihat di apartemen ini.”


“Dia masih ingat ciri-cirinya?” tanya Indra.


Hans mengangguk, “Jaket kulit hitam, kaos putih, perawakan kurus, rambut pendek, kulit sawo matang.”


“Sepertinya dia terlihat di CCTV.. bersama temannya yang memegang pot anggrek,” Bramasta menunjuk pada layar TV, “Anton, besok bisa print gambar mereka?”


Anton mengangguk.


Gawainya berdering. Anton menerimanya.


“Assalamu’alaikum, ya Jok, bagaimana?” Jeda.


“OK. Gue cek sekarang. Udah makan belum? Pesan delivery saja, nanti gue gantiin.” Jeda.


“Keep in touch ya. Thanks a lot.” Jeda.


“Wa’alaikumussalam.” Anton mengakhiri panggilan.


Dengan terburu membuka tasnya untuk mengambl laptopnya. Setelah laptop menyala, dia mengetik dan mengklik beberapa ikon.


“Ada apa?” tanya Bramasta.


“Mobil Mr. Thakur baru saja memasuki The Ritz. Sepertinya dia mengunjungi Rita Gunaldi.”


“Perlu dihubungkan dengan TV?” tanya Hans.


Anton menggeleng, “Kelamaan.”


“Jam berapa sekarang?” tanya Indra.


“22.10,” jawab Agung.


“Bang Hans udah pamit ke istri pulangnya telat?” tanya Adisti.


“Hans per 30 menit sekali vicall dengan istri dan anaknya, Sayang...” Bramasta menggengam tangan istrinya, “See, ada yang lebih bucin dari kita kan?”


Adisti terkekeh. Hans menatap Bramasta sambil mencibir.


“Suami takut istri..” ejek Indra.


“Bukan. Tapi suami sayang istri dan anak..” Hans menjawab sambil meraih gelas kopinya.


Layar laptop Anton menampilkan ruang tunggu butik. Sudut viewnya luas. Lampu utama sudah dimatikan karena jam operasional sudah selesai. Digantikan dengan lampu-lampu dinding dan plafon yang temaram.


"Halo Cantik..," Tuan Thakur tampak berjalan tersenyum kepada Rita yang datang menyongsong dengan lengan terbuka untuk memeluknya.


“Long time no see,” suara Rita terdengar mendayu.


Lalu terdengar suara tawa Tuan Thakur. Dia menyambut pelukan Rita dengan hangat. Tidak ada percakapan yang terdengar. Mereka hanya saling tatap satu sama lain. Lalu...


“Setdah!” Indra menatap layar laptop tak berkedip, “Langsung gabruk???!”


***


Etdah Bang Indra, Depoknya langsung keluar 🤣🤣😁