CEO Rescue Me!

CEO Rescue Me!
BAB 142 – HADIAH BRAMASTA



APARTEMEN LANDMARK


PENTHOUSE


Adisti baru saja selesai membuat asinan campur Bogor. Campuran antara buah dan sayuran mentah. Dia memasukkannya ke dalam kulkas.


“Udah boleh dicoba?” Bramasta meneguk liurnya sendiri setelah melihat warna kuah asinannya.



“Tunggu 2 jam dulu, Bang supaya benar-benar meresap..” Adisti membereskan dapur.


“Daddy ingin coba asinan buatan Disti..”


Adisti menoleh dengan dahi mengernyit, “Kok Daddy bisa tahu?”


“Kan Abang tadi kirimin Daddy video..”


Adisti terkekeh.


“Memangnya Daddy mau ke sini?”


“Tadinya sih...”


“Terus?”


“Abang bilang aja nanti besok dibawain ke kantor. Soalnya kalau Daddy ke sini, pasti Mommy ingin ikutan. Kan mau ada Prince Zuko nanti. Khawatir Mommy jadi rempong.”


Adisti terkekeh. Dia mengambil kotak plastik kedap udara dari lemari bawah. Mengeluarkan lagi asinan yang baru saja ia masukkan ke dalam kulkas.


Dengan hati-hati, menata irisan kol, tauge, timun lalu disiram dengan kuah merah beraroma manis dan asam berisi irisan buah-buahan dan umbi bengkuang dan ubi kuning. Tak lupa menaruh kacang tanah goreng ke dalam plastik ziplock sebagai taburannya.


“Kenapa harus nunggu besok? Kasihan banget Daddy. Minta driver anterin ke rumah utama. Bilang ke Daddy, dimakan 2 jam dari sekarang. Masukkan ke pendingin dulu supaya lebih segar.”


“Eh iya ya.. Abang lupa,” Bramasta terkekeh, “Jadi makin sayang ke Buk Istri nih..”


“Pak Suami..” panggil Adisti saat melihat suaminya selesai menghubungi driver, “Anterin Disti buang sampah ya. Sampah basah buah-buahan. Kalau dibiarkan sampai besok nanti ruangan jadi bau dan banyak ureng-urengnya.”


“Sebentar ya, nunggu driver naik dulu.”


“Disti sudah pesan makan malam untuk kita semua, Bang. Kapan mereka datang?”


“Sebentar lagi mungkin. Mereka semua sedang di jalan.”


Bunyi bel pintu terdengar. Bramasta melirik layar kamera pintu depan. Ada driver di belakang pintu.


Adisti menyodorkan paper bag kecil kepada Bramasta.


“Sudah lengkap semuanya.”


Bramasta menerimanya sambil tersenyum lebar. Lalu mencuri kecupan di bibir Adisti. Adisti terkejut.


“Isssh Abang..”


Bramasta hanya terkekeh sambil menenteng paper bag kecil. Membuka pintu depan lalu berbicara dengan driver.


Adisti mengenakan bergo instannya sambil menenteng plastik sampah yang sudah terikat rapi. Memeriksa apakah plastiknya bocor atau tidak.


“Sudah?”


Driver sudah tidak tampak di pintu. Bramasta menahan pintu depan untuk Adisti.


“Let’s go!”


Mereka berjalan ke arah belakang lift. Tempat adanya shaft service area. Shaft untuk sampah ada 2 pintu kecil stainless pada dinding. Sampah basah dan sampah kering dengan logo yang berbeda.


Adisti memasukkan plastik sampah pada pintu stainless dengan logo daun. Pintu kecil terdorong ke dalam. Selesai.


“Kalau buang sampah sendirian ke sini, berasa spooky deh Bang. Sepi.. Hanya kadang-kadang saja ada petugas pembersih ataupun penghuni lain yang buang sampah.”


“Abang selama tinggal di sini belum pernah berpapasan dengan penghuni lainnya deh..”


“Dih. Abang kali terlalu cuek gak memperhatikan sekitarnya.”


“Maybe..” Bramasta menggeser menjaga jarak dari Adisti saat Adisti hendak memeluk lengannya.


“No way. Tangan Disti kotor habis buang sampah..”


“Isssh Abang ih!”


“Bawa handsanitizer dong saat mau buang sampah..” Bramasta masih menghindar.


“Abang ih. Gitu amat!”


“Biarin. Don’t touch me sebelum Disti cuci tangan pakai sabun..”


Bramasta berlari menghindar. Adisti mengejar sengaja sambil mengulurkan kedua tangannya di depan.


“Disti.. jangan gitu dong tangannya. Beneran nih Abang geli banget dengan tempat sampah umum..” Bramasta berlari menghindar.


“Tahu gitu, Abang tadi yang seharusnya buang sampah..” seru Adisti mengejar Bramasta.


“Kalian sedang apa?” Hans memandang Bramasta dan Adisti yang berlarian.


“Kalian lagi main mumi-mumian? Pantas dibel gak ada yang nongol buka pintu. Mana nomor password-nya diganti pula,” Indra menatap kesal pada mereka berdua.


“Woyyadong diganti. Kan gawat kalau gue lagi gabruk-gabrukan di sofa tengah terus, Lu nongol di depan kami..” Bramasta tersenyum lebar menatap Indra yang dongkol.


Hans terkekeh.


“Dih!” Indra menyengir teringat kejadian pagi tadi, “Takut kejadian pagi tadi terulang lagi ya?”


Bramasta mendelik. Adisti menyembunyikan wajahnya di balik punggung Bramasta.


“Ada apa tadi pagi?” tanya Hans.


“Awas loh kalau cerita-cerita..” bisik Bramasta pada Indra sambil menekan tombol password.


Pintu terbuka, Bramasta masuk sambil mengucap salam. Adisti langsung melesat ke pantry untuk cuci tangan.


“Ndra, kenapa tadi pagi?” bisik Hans, “Lu nge-gep mereka?”


“Isssh kok Lu tahu Bang?” Indra menatap heran pada Hans.


Hans terkekeh, “Gue gitu loh.. Gampang banget sih. Pasti gak jauh-jauh dari kejadian memalukan terkait gabruk-gabrukan, apalagi mereka sedang bucin-bucinnya.”


“Ndraaaaa!” teriak Bramasta dongkol.


“Gue kagak cerita. Hans udah tahu duluan. Bisa nebak sendiri dia..”


Hans terbahak, “Gak percuma dong gue jadi ketua Shadow Team..”


“Hyung Anton mana?” tanya Adisti sambil mengelap tangannya dengan tisu dapur.


“Masih di jalan. Dia dari site Bandung Timur,” ujar Indra.


“Dis, dah pesan makanan?” tanya Hans.


“Sudah dong. Ditunggu aja. Kalian minum teh aja dulu ya.”


“Issh nih tamu ngelunjak banget deh,” gerutu Bramasta.


“Gerah Bro! Hari ini bawaannya gerah melulu..”


“Sirup markisa, mau?” Adisti memeriksa laci persediaan.


“Mau banget.”


Hans dan Indra kompak menjawab.


“Dis, buat Abang...”


Belum sempat Hans selesai bicara langsung dipotong oleh Adisti, “Iya.. 7 keping es batu. Disti udah diberitahu oleh Mbak Hana..”


“Kapan?” tanya Hans dengan wajah kepo, “Kok Hana gak cerita ke Abang ya?”


“Tadi siang. Bang Indra mau berapa es batunya?”


“5 keping aja Dis. Thanks ya..”


Adisti mengangguk. Menatap heran pada suaminya yang membawa paper bag kecil dari arah foyer.


Empat gelas bening bertangkai dengan sirup markisa plus es batu tersedia di atas nampan kayu bundar di meja pantry.


Hans dan Indra sudah mengambil gelasnya masing-masing. Mencicipi kesegaran isinya. Alis Indra terangkat sebelah.


“Bujubune... kita tahu kalian pasangan bucin. Tapi gak segininya kali...” Indra menyodorkan gelasnya.


Bramasta dan Adisti menatap heran pada Indra.


“Tuh, es batu sampai dicetak bentuk hati begitu...”


“Haisssh norak Lu Ndra..” Hans terkekeh sambil menyandarkan tubuh besarnya pada sofa.


“Disti punya yang bentuk bola. Mau? Tapi gak afdhol dengan suasananya. Cocoknya buat nobar sepakbola atau basket..” Adisti tersenyum lebar pada Indra.


Bramasta dan Hans terkekeh. Indra geleng-geleng kepala.


Adisti mengelap meja pantry. Bramasta mengangsurkan paper bag pada Adisti, “This is for us.”


“Apaan sih?”


“Buka aja sendiri.”


Adisti mengeluarkan sebuah kotak persegi besar berwarna hitam bertuliskan emas. Terlihat ekslusif kotaknya.


Hans menyikut Indra lalu menunjuk ke arah pantry dengan dagunya. Mereka berdua menjadi penonton.


Adisti dengan hati-hati membuka kotaknya.


“Waaaah! Cantik banget. Suka banget!”


Bramasta tersenyum lebar. Dia suka sekali dengan ekspresi wajah istrinya. Juga tingkah istrinya saat diberi surprise manis.


“Apaan sih Dis? Lihatin dong hadiahnya,” Indra memanjangkan lehernya. Penasaran dengan isi kado.


Adisti mengeluarkan benda dalam kotak dengan hati-hati. Sepasang mug berwarna hitam dan putih dengan gagang mug berbentuk cincin emas bertahtakan satu berlian.



Adisti mengelus pelan berlian pada pegangan mug. Mengingat tiara yang dikenakannya saat menikah, ia menatap cemas pada benda di hadapannya.


“Kenapa?” Bramasta merasakan perubahan Adisti.


“Ini... asli berlian?”


Bramasta terkekeh.


“Nggaklah. Paling juga zircon.”


“Alhamdulillah...”


“Memangnya kenapa kalau itu berlian asli, Dis?” tanya Hans penasaran. Mereka berdua mendekati meja pantry karena penasaran.


“Disti gak bakal berani pakainya. Akan jadi barang yang sia-sia dibeli. Mubazir.”


“Tapi itu emasnya asli loh..” kata Bramasta sambil menunjuk kemasannya. Tertulis 18K gold plated.


“Ah cuma 18K, ketebalannya dalam satuan mikron pula,” Indra bersidekap sambil membaca kemasan.


Adisti tidak berkomentar apa-apa lagi. Dia mengambil panci besar, mengisinya dengan air hingga hampir penuh lalu membawanya ke atas kompor.


Mug yang sedang dipegang oleh Indra dan Hans diambilnya lalu dimasukkan ke dalam panci. Kompor dinyalakan.


Bramasta bengong. Hans dan Indra melongo.


“Dis.. ngapain?”


“Merebus mug baru,” Adisti menjawab sambil mengambil gelas berisi sirup markisanya.


“Dis, Lu gak suka hadiahnya? Buat Abang juga mau kok,” Indra melirik cemas pada mug di dalam panci.


Adisti cemberut, “Beli sendiri noh.. Duitnya banyak juga.”


Bramasta terkekeh.


“Nah itu direbus mugnya?” Indra penasaran.


“Peralatan pecah belah baik yang baru, selalu Disti rebus dulu hingga mendidih. Setelah mendidih, matikan kompornya. Jangan langsung diangkat dari airnya. Biarkan airnya dingin, baru bisa dicuci dan bilas seperti biasa. Terus dipakai deh.”


‘Kenapa?” tanya Hans mengerutkan keningnya.


“Supaya lebih awet umurnya, gak mudah pecah atau gompal terkena benturan.”


“Masa sih?”


“Kan mugnya sudah terkena panas berkali-kali, Dis? Saat masih berupa lempung yang baru dibentuk dan pada saat pemberian lapisan glazuur.”


“Dipanaskan sekali lagi dalam air, apa salahnya? Toh selama ini terbukti benar. Cara ini cara kuno loh..” Adisti memandang ketiga pria di depannya bergantian.


Kemudian Indra terkekeh.


“Untung cuma batu zircon, Bram.. Gue gak bisa banyangin, melihat Disti merebus real diamond dengan diameter ukuran batu zircon di mug itu, pasti sekitar 1 carrat ya?"


Ketiganya tertawa bersamaan. Hans mengetikkan sesuatu pada gawainya.


“Harga berlian 1 carrat, dimulai dari 100 juta – 350 juta tergantung jenis, kejernihannya dan lain-lain,” kata Hans sambil melihat layar gawainya.


Adisti mendadak batuk tersedak.


.


***


Mugnya keren ih. Jadi mupeng nih Authornya 🤓