CEO Rescue Me!

CEO Rescue Me!
BAB – 108 RASA INI



Bramasta dan Adisti bergandengan tangan saat berjalan dari teras lobby apartemen menuju lobby penthouse.


“Kenapa? Kok dari tadi diam?” tanya Bramasta sambil mengeratkan genggamannya.


“Deg-degan tahu Bang.”


“Kenapa? Kita gak ngapa-ngapain kok tadi di mobil,” Bramasta melirik Adisti.


“Disti khawatir Abang ngapa-ngapain tadi. Soalnya wajah Abang serius banget,” Adisti balas menatap dengan pipi merona merah.


Bramasta tersenyum lebar menatap Adisti. Senyumnya makin lebar hingga rasanya tidak tertahan lagi untuk tertawa geli.


“Abang ih, kenapa?”


“Jangan-jangan, Disti berharap banget untuk diapa-apain oleh Abang ya tadi?” kekeh Bramasta.


“Nggak ih. Ngarang Abang!”


“Sabar ya, bentar lagi kita sampai rumah. Abang kan gak mungkin ngapa-ngapin Disti di dalam mobil sementara ada para pengawal di luar mobil.”


“Pak Suami nyebelin deh!”


Bramasta terkekeh keras.


Saat memasuki foyer, Bramasta langsung menaruh kresek berisi kupat tahu di meja foyer. Lalu dengan cepat mendorong Adisti ke arah sofa. Mengungkung tubuh Adisti di bawahnya.



Matanya menatap intens mata Adisti. Wajahnya serius saat menyentuh garis tepian kerudung yang membingkai wajah istrinya.


“Sekarang Bu Istri boleh ngapa-ngapain Pak Suami...”


Adisti sejenak terperangah. Lalu tertawa keras sambil mendorong tubuh suaminya. Tertawa sambil memegangi perutnya.


“Ya Allah... Abang...”


“Disti.. Abang serius loh.”


Adisti memandang Bramasta.


“Kupat tahunya bagaimana?”


“Biarkan menunggu.”


Adisti terkekeh sambil menutup mulutnya.


“Abang kenapa gemesin banget sih?”


“Abang memang gemesin, since was born_sejak orok_”


Adisti melepas jarum pentul pada kerudungnya. Menyematnya pada ujung pashmina. Lalu meletakkan pashmina di atas coffee table.


Adisti menyentuh tepi rahang suaminya dengan ujung telunjuknya.


“Jadi ingat pertemuan pertama kita di atas dahan pohon di tengah jurang,” suara Bramasta terdengar serak.


“Hmmm.”


“Disti...”


“Hmm?”


***


Adisti berada di sofa balkon dengan handuk menutupi rambutnya. Menganginkan rambutnya yang basah sambil menatap lukisannya.


“Sudah jadi lukisannya?” Bramasta menghampiri dengan rambut yang masih basah juga.


Dia duduk di samping Adisti lalu memintanya untuk memiringkan duduknya supaya dia bisa membantu mengeringkan rambut istrinya.


“Tinggal finishing.”


“Apa judulnya?”


“Great Sunrise.”


“Are you sure?”


Adisti mengangguk.


“Any idea?” berbalik memandang suaminya.


Bramasta mengangkat kedua bahunya, “Why Great Sunrise?”


“Soalnya, itu pemandangan sunrise saat Disti dibuat gak bisa jalan oleh Abang..."


“Mancing nih?” Bramasta terkekeh.


Adisti menggeleng cepat sambil terkikik.


Suara bel pintu membuat mereka menoleh ke arah dalam melalui jendela. Ada wajah Agung pada layar monitor untuk pintu.


“Kakak.. “ seru Adisti bergegas ke arah pintu diikuti oleh Bramasta.


“Assalamu’alaikum”, kata Agung saat pintu terbuka.


Dia memandang Bramasta dan Adisti bergantian.


“Kalian baik-baik saja?” tanyanya cepat.


Bramasta dan Adisti saling berpandangan dengan wajah bingung.


“Kenapa?”


“Ada apa?”


“Apa yang terjadi di Gempol 2 jam yang lalu? Apa yang kalian pikirkan saat hendak membeli kupat tahu sendiri di tengah situasi sedang memanas terkait Rita Gunaldi? Kenapa harus senekat itu beli sendiri ke sana? Kenapa tidak menyuruh orang saja untuk membelikannya?” Agung menatap mereka berdua dengan gusar.


“Kakak Ipar tahu darimana?”


Agung mengacungkan gawainya.


“Pro dan kontra tentang kejadian Gempol tengah ramai dibicarakan di sosmed.”


Bramasta mengambil gawainya dari atas coffee table. Memeriksa sosmed.


“Padahal kami hanya sekedar ingin membeli kupat tahu,” Bramasta mengusap kasar wajahnya.


“Adek juga sudah berbicara seperti itu pada mereka. Tapi mereka malah terus maju.”


Bramasta mengangguk membenarkan ucapan istrinya.


“Pokoknya sekarang kalian tidak boleh ke tempat publik, ke tempat dengan kerumunan banyak orang di tempat yang tidak ada petugas pengamanannya,” Agung berkata sambil meletakkan paper bag ke atas coffee table yang selama ini ditentengnya, “Kalau kalian butuh apa-apa, perintahkan saja orang lain untuk membelinya.”


Bramasta dan Adisti mengangguk. Agung sedang memposisikan diri sebagai kakak sekarang. Kakak yang mengkhawatikrkan keselamatan adik-adiknya.


“Kakak yakin, sebentar lagi Daddy akan menelepon setelah mendengar laporan dari Bang Hans.”


Tidak berapa lama, gawai Agung dan Bramasta berbunyi dering notifikasi pesan masuk. Sudah bisa ditebak, WAG Kuping Merah. Mereka membalas chat.


Adisti membuka paper bag yang dibawa Agung. Mengeluarkan kotak makanan, mengintip isinya yang beraroma wangi empal.


Lalu membuka paper bag kecil. Sejumlah peralatan lukis termasuk botol minyak untuk cat akriliknya.


Kotak makanan dari Bunda ia masukkan ke dalam kulkas. Lalu menyiapkan peralatan makan dan membawa bungkusan kupat tahu ke meja makan.


Setelah selesai Adisti menghampiri suami dan kakaknya yang sedang membalas chat di sofa.


“Makasih banyak ya, sudah bawa peralatan Adek. Bawa masakan Bunda juga,” Adisti merangkul kakaknya.


“Iya sama-sama. Tapi gak usah pakai rangkul-rangkulan segala. Nanti suami Adek yang cemburuan jadi jutek banget ke Kakak.”


“Abang gak pernah jutek kok!” Bramasta mencebik.


Agung dan Adisti saling pandang lalu mencibir bersamaan.


Agung tertawa keras apalagi setelah melihat ekspresi adik iparnya.


“Eits! Do not be upset to me_Gak boleh ngambek ke Disti_” Adisti memeluk leher suaminya, mengayunkan tubuhnya ke kiri dan ke kanan, kemudian berbisik di telinga suaminya, “Love you more.”


Bramasta terkekeh, Agung cemberut.


“Sudah yuk, kita makan. Kupat tahunya sudah menunggu kita,” Adisti menarik tangan suami dan kakaknya ke meja makan.


Mereka makan tanpa banyak bersuara. Menikmati setiap suapannya.


“Thanks ya Dek, dibelikan kupat tahu,” kata Agung sambil menyeka mulutnya dengan tisu.


“Sama-sama..”Adisti mengambilkan air putih untuk Agung dan Bramasta.


“Terus, Kakak mau ke rumah Adinda?” Adisti memandang kakaknya dengan menaikturunkan alisnya.


Agung menatap Bramasta. Yang ditatap hanya tersenyum simpul balas menatap.


“Dih, nggak lah.”


“Pedekate, Kak..pedekate, you know?” Adisti menendang pelan tulang kering kakaknya dari bawah meja makan.


“Isssh Dek. Sakit, tahu,” Agung meringis menahan sakit lalu memandang kembali pada Bramasta, “Bang Bram, istrinya tuh tolong dijinakkan dulu..”


“Halaah, pelan juga,” cibir Adisti.


“Kakak Ipar jadi ke TKP?” tanya Bramasta.


Agung mengangguk sambil melihat arlojinya. “Sebentar lagi Aa pergi. Nanti mampir dulu ke gerai donat. Sekalian beli kopi juga untuk mereka.”


“Jadi ceritanya Kakak mau SMAK?”


“Woyyyaadooong.”


“Apa itu SMAK?” tanya Bramasta.


“Sudah Makan Angkat Kaki,” Adisti terkekeh.


Bramasta ikut terkekeh.


“Kuping Merah bahas apa?” tanya Adisti saat mereka berpindah ke sofa balkon setelah sholat dhuhur berjamaah.


“Bahas gempol. Indra membagi salah satu video yang beredar saat Disti berbicara sebelum orang-orang merangsek maju.”


“Terus?”


“Ya intinya sama dengan yang Kakak Ipar tadi bicarakan ke kita. Kita jangan berada di tempat publik dahulu.”


“Alhamdulillah Allah masih menjaga kalian lewat bantuan para pengawal yang datang di saat krusial.”


Adisti memeluk lengan suaminya erat. Bramasta menepuk-nepuk punggung tangan istrinya.


“Hingga kasus ini selesai, hingga publik berkurang rasa ingin tahunya kepada kalian berdua,” Agung memandang mereka bergantian, “Tahanlah diri kalian untuk tidak berjalan-jalan di tempat umum.”


Bramata memeluk Agung.


“Thanks a lot, Kakak Ipar.”


“Don’t mention it.”


Adisti menatap kakaknya dengan penuh rasa sayang.


“Kakak mau pergi sekarang? Gak nanti saja?”


“Kenapa?” Agung menaikkan sebelah alisnya.


“Gak tahu kenapa perasaan Adek kok seperti yang kangen banget dengan Kakak. Seperti yang sudah lama gak ketemu Kakak.”


“Lah, tiap malam juga Kakak mampir ke sini kok,” Agung terkekeh memandangi adiknya.


Bramasta mengacak-acak rambut istrinya.


“Lebay amat sih Disti?”


“Ish kalian tu gak ngerti perasaan Disti..” Adisti mencebik.


“Iya..iya.. Kakak mengerti. Love you too, Dek. Baik-baik di rumah ya, selalu nurut sama Abang. Jangan ngeyel lagi.”


Agung memandang adiknya dengan senyum hangat seorang kakak yang peduli pada adiknya.


“Ayah dan Bunda titip salam untuk kalian.”


“Wa’alaikumussalam,” Bramasta dan Adisti kompak menjawab salam Ayah dan Bunda.


“Nanti Adek telepon rumah..”


Agung mengangguk.


“Sebenarnya Kakak kesepian di rumah. Sepi gak ada Adek yang bisa Kakak jahilin setiap waktu,” Agung terkekeh saat Adisti memukul lengan atasnya.


“Dek, jangan lupa latihan taekwondonya. Kakak Ipar juga jangan lupa latihan karatenya. Masa seperti ini, kita gak pernah tahu apa yang aka terjadi. Setidaknya kita bisa membela diri dan melakukan perlawanan saat ada yang berusaha mencelakakan kita.”


Agung melihat arlojinya.


“Udah ah. Kakak pergi dulu ya. Assalamu’alaikum.”


“Wa’alaikumussalam. Fii amanillah Kak. Terimakasih ya sudah kemari.”


Agung mengangguk.


Masih memegang handle pintu, dia berbalik menatap Bramasta dan Adisti, “Kalian berdua, yang rajin bikin keponakan lucu buat Kakak ya.”


“Isssh Kakak Ipar...”


Agung tergelak keras melihat ekspresi keduanya. Dia melambaikan tangan ke arah mereka.


“Kakak... bener-bener deh ya,” gumam Adisti.


Tapi kemudian dia terdiam. Hatinya mencelos sepeninggal kakaknya. Entah kenapa.


“Ada apa?” tanya Bramasta menggandeng Adisti ke arah sofa sambil meraih remot TV.


Adisti menggeleng. Dia mengambil gawainya untuk melakukan panggilan video dengan Bunda.


***


14.17


GERAI DONAT


Agung memarkirkan motornya di pelataran parkir yang disediakan. Saat melepas helmnya, dari sudut matanya, dia melihat seorang remaja berhoodie kuning tengah didorong-dorong oleh beberapa remaja laki-laki.


“Bullying!” geram Agung.


Bergegas dia menghampiri mereka. Remaja berhoodie kuning tengah melindungi kepaladan tubuh bagian depannya dengan kedua tangannya sambil menundukkan kepalanya dalam-dalam.


Seorang remaja laki-laki mendorong lagi bahu remaja berhoodie kuning.


“Nangis lu sekarang! Coba kalau lu terima Ivan jadi cowok lu!”


“Makanya jadi cewek gak usah jual mahal!”


Agung terhenyak mendengar pembicaraan mereka. Remaja ber-hoodie kuning itu ternyata seorang perempuan!


“HEY!! KALIAN SEDANG APA??!!” Agung bertolak pinggang, tubuhnya melindungi tubuh remaja putri ber-hoodie kuning.


Mereka kaget dengan kehadiran Agung.


“Woiyy kabur woiyy!”


“Ngapain kabur? Kita berempat, dia cuma sendiri. HAJAR!!”


***