
“Kakak?” Ayah dari kamar mandi keheranan menatap Agung yang tengah memakai jaketnya.
“Mau kemana?”
“Rumah Adinda. Feeling Kakak gak enak semenjak malam tadi, Yah. Ditambah dengan tampilan yang ada pada CCTV ruang tengah rumah Adinda.”
“Maksudnya?”
“Ayah lihat sendiri. Mereka baru muncul sejak hampir jam 4 an, setelah beberapa hari ini menghilang,” Agung menunjuk pada laptopnya.
Ayah bergegas ke bed Agung. Matanya terbelalak sambil beristighfar.
“Yang lainnya sudah tahu?”
Agung menggeleng, “Kakak tidak tahu, Yah. Tapi pasti anak buah Bang Hans tahu.”
“Kakak sudah hubungi Pak Andi?”
Agung mengangguk, “Pak Andi standby di bawah. Di parkiran VIP.”
“Hati-hati di jalan Kak. Ayah titip Adinda. Jaga Adinda.”
“Insyaa Allah, Yah.” Agung menyalimi Ayah.
Jalanan lengang. Tapi Agung meminta Pak Andi untuk bergegas. Matanya tidak lepas dari layar gawainya yang terhubung dengan CCTV ruang tengah rumah Adinda.
Pintu kamar Adinda terbuka. Adinda muncul dengan wajah bangun tidur dan mengenakan hijab bergo warna hitam.
Ekspresi wajahnya tampak terkejut melihat pemandangan di atas sofa tempat Ibu Tiri dan teman prianya saling bertumpuk di atas sofa.
“Astaghfirullahal adzhiim..”
Baju bagian atas tubuh Ibu Tirinya teronggok di atas karpet. Begitu juga baju teman prianya. Tato kupu-kupu yang diceritakan Adisti melalui Bramasta terlihat jelas di kamera.
“Kurang ajar kamu!” tangannya menuding teman pria Ibu Tiri, “Dibiarkan malah melunjak kamu! Pergi kamu dari rumah saya!”
Pria tersebut melepaskan dekapannya dari Ibu Tiri. Menatap Adinda dengan senyum jahat dan culas.
“Kamu kenapa pakai kerudung segala sih?Seperti gadis kampung!” si Pria terkekeh.
Ibu Tiri menatap Adinda sambil duduk.
“Hah! Munafik kamu! Bukannya kamu pelajar plus-plus? Kamu sering pulang diantar pakai mobil innova hitam kan? Jadi baby sugar kan, kamu?”
“Diam kamu! Saya gak habis pikir kenapa Papa mau menikahi kamu. Perempuan yang jauh dari kata baik-baik!”
“Karena Papa kamu bodoh!” teman pria Ibu Tiri tertawa diikuti oleh si Ibu Tiri.
Mata Adinda memerah. Dia betul-betul marah.
“Papa kamu itu gampang diperdaya. Orang baik yang mudah sekali tersentuh hatinya itu sasaran empuk banget,” si Ibu Tiri berkata sambil memperhatian kuku yang dicat warna merah mawar.
“Cintanya pada mama kamu menghalangi guna-guna yang sudah saya buat. Ditambah lagi Papa kamu selalu sholat di masjid. Hhhh!” Dia memandang kesal pada Adinda.
“Jahat kamu! Jadi kamu selama ini berusaha mengguna-gunai Papa??”
Ibu Tiri itu medengus, “Tapi gagal semua. Seharusnya kalau berhasil, kamu sudah disingkirkan jauh dan semua harta menjadi milik saya!”
“Kamu sih lebih percaya ke dukun yang di Garut. Seharusnya kamu ikut saran saya pakai dukun saya yang tinggal di daerah Jampang, Banten,” si Teman Pria memungut kemejanya lalu menyampirkannya di bahunya.
Adinda menatapnya muak.
“Tapi kan akhirnya berhasil mati juga tuh tua bangka..” Ibu Tiri terkekeh.
Teman Prianya ikut terkekeh, “Ide kamu hebat juga walaupun menyontek. Terilhami dari Kopi Mirna, kasus kopi sianida.”
“Terimakasih ya Sayang, sudah menyediakan bubuk ajaibnya..” Ibu Tiri merangkul leher teman prianya.
Adinda membelalakkan matanya, “Jadi.. Papa diracun??! Tega kalian! BIADAB KALIAN!!”
Adinda kalap. Meraih benda apapun di dekatnya untuk dilemparkan ke kedua orang itu.
Sebuah vas bunga dari tembaga melayang dan meluncur cepat. Mengenai bahu si Ibu Tiri. Terdengar suara jerit kesakitan. Disusul suara makian dari si Teman Pria.
Guci terlempar mengenai perut si Teman Pria. Tetapi tidak pecah. Guci ditahan dengan sebelah tangannya yang besar. Lalu meletakkan guci ke atas lantai dengan hati-hati.
Tangannya masih mencengkeram mulut guci dengan erat. Lalu menatap Adinda dengan mata terpicing.
Ada aura bengis dan jahat pada matanya. Adinda beringsut mundur.
“Anak kurang ajar!” suara Ibu Tiri memekik memaki Adinda.
Dia mendadak berdiri. Mehempaskan tangan si Teman Pria dari bahunya. Menerjang maju ke arah Adinda berdiri.
“Kamu mau apa?” tanya si Teman Pria cemas.
“Harusnya sudah lama anak ini aku binasakan seperti si Tua Bangka itu!” tangan Ibu Tiri mencengkeram kuat ujung hijab bergo yang dikenakan Adinda.
“Bunuh aku kalau kau bisa, dasar perempuan tak tahu diri!” teriak Adinda sambil menarik ujung hijab yang dipegang erat oleh si Ibu Tiri.
Dengan hentakan keras, cengkeraman tangan si Ibu Tiri terlepas. Namun detik berikutnya, telapak tangan si Ibu Tiri menghantam keras pipi dan rahang kanan Adinda.
Pandangan Adinda terasa berkunang-kunang. Rasa panas menjalar dari pipi ke telinga hingga ke kepala sebelah kanannya.
“Hah?? Sakit? Puas!!” si Ibu Tiri tertawa mencemooh, “Pasti sebentar lagi menangis nih bocah.”
Adinda menatap nyalang. Dia mengingat pelajaran bela diri singkat yang diajarkan Adisti.
“Jangan terpancing emosi. Gunakan amarahmu sebagai sumber kekuatanmu. Tenangkan dirimu bila emosi mulai merajai. Emosi yang naik hanya akan menyedot energi kita,” begitu kata Adisti.
Dengan gerakan cepat, Adinda meraih pundak ibu tirinya. Membungkukkan tubuh ibu tirinya ke arahnya lalu dengan cepat menghantam perutnya dengan lutut. Suara DUG terdengar keras. Diikuti suara lenguhan dan batuk-batuk.
“HEY!!” si Teman Pria tidak terima kekasih hatinya dianiaya anak bau kencur.
Dia menghampiri Adinda, menarik bahunya dengan kasar lalu mendorongnya ke arah tembok.
“Sayang.. kamu tidak apa-apa?” dia merengkuh tubuh Ibu Tiri lalu membimbingnya ke arah sofa.
“Kamu!” telunjuknya mengarah pada Adinda, “Mau bermain-main dengan kami??”
Teman Pria berdiri. Namun tangannya dicekal oleh Ibu Tiri.
“Kamu tidak boleh menyentuhnya. Uang DP untuknya sudah kita terima. Jangan bermain-main dengan Tuan Bryan. Aku takut dengannya. Apalagi dengan asisten pribadinya,” matanya menatap tajam pada si Teman Pria.
“Kamu jangan khawatir. Aku ingat betul permintaan Tuan Bryan. Mulus bersih tidak bernoda untuk 200 juta,” seringaian muncul di mulut si Teman Pria.
Bulu tengkuk Adinda meremang. Tatapan matanya bergetar karena panik. Instingnya memberitahu akan sesuatu yang buruk yang sangat tidak baik akan menimpanya.
“APA MAKSUD UCAPAN KALIAN ??!”
Ibu Tiri dan Teman Prianya terkekeh geli.
“Panik dia...” Ibu Tiri menyusut air matanya sambil terkekeh senang.
“Makin menarik wajahnya saat panik seperti itu. Tuan Bryan pasti sangat senang sekali.”
“Mungkin dia akan memberi bonus pada kita setelah melihatnya atau mencobainya.”
Keduanya makin terkekeh.
“KURANG AJAR! APA MAKSUD KALIAN? SIAPA ITU TUAN BRYAN??”
“Dia calon pemilik kamu, Dinda Sayang.. Daddy Sugar kamu yang baru. Bule kaya, sangat kaya. Orang kedutaan, kamu bakalan hidup enak. Diajak keliling dunia, jalan-jalan terus..” suara Ibu Tirinya terdengar sangat memuakkan.
“Kalau dia bisa bikin Tuan Bryan senang, tentunya. Kalau nggak, ya sudah. Palingan menyusul kedua orangtuanya pindah alam..” si Teman Pria terkekeh puas.
“Kalian...kalian...” Adinda terbata, dia tidak sanggup untuk menyelesaikan kalimatnya.
“IYA.. KAMU SUDAH DIJUAL SEHARGA 200 JUTA!” suara si Teman Pria menggelegar di ruang tengah rumah Adinda.
.
***
Wah.. Adinda, malang nian nasibnya..