
Agung berjalan menunduk begitu keluar dari pintu ruang VIP. Dia nyaris menabrak seorang pengunjung. Agung meminta maaf sambil menunduk.
Pengawal yang tadi mengawal Agung dan Adinda menyambut di teras. Lalu mengantar Agung ke mobil.
Pengawal duduk di depan, Agung di bangku tengah. Di dalam mobil Agung tidak melepas topi ataupun maskernya. Dia menyandarkan kepalanya di tempat sandaran.
“Kita ke rumah sakit, Tuan?” Driver menatap Agung dari spion dalam.
“Ke arah Dago Pakar, Pak.”
Driver mengangguk dan mulai menyalakan mesin. Mobil melaju dalam keheningan.
Agung yang biasanya ramai mendadak jadi pendiam malam ini. Dia hanya menatap lurus ke kaca depan. Seperti yang sedang menikmati jalan di depannya padahal pikirannya entah kemana.
Memasuki area Dago pakar, Driver bertanya lagi.
“Sebenarnya Tuan mau kemana?”
“Saya tidak tahu, Pak.”
Pengawal dan Driver saling berpandangan. Mobil terus melaju.
“Tuan mau ke kawasan Tebing Keraton?”
“Di mana itu?”
“Masih kawasan Hutan Dago Pakar.”
Agung menggeleng.
“Kawasan wisata. Terlalu banyak orang. Saya tidak mau bertemu banyak orang.”
Pengawal dan Driver saling berpandangan lagi.
Mobil melaju lagi memasuki wilayah yang lebih tinggi. Jalanan menyempit. Banyak bagian aspal jalan yang sudah terkelupas. Sebelah kiri jalan, pemandangan Kota Bandung di malam hari.
“Tuan, di depan sana ada sedikit lebih luas..”
“Parkir di sana.”
Driver mengangguk. Mobil diparkirkan dengan hati-hati karena sebelah kiri jalan adalah kebun penduduk yang lumayan dalam.
Pengawal turun, memeriksa tempat tersebut.
“Tuan.. di bawah pohon yang itu, ada bangku yang dibuat untuk orang yang beristirahat di sini. Viewnya juga bagus..”
“Terima kasih Pak,” Agung menuruni mobil.
Angin malam hawa gunung yang dingin menampar kulit wajahnya. Dia berjalan ke arah bangku yang dimaksud. Pemandangannya memang luar biasa indah.
Dia menyandarkan punggungnya pada sandaran bangku yang terbuat dari beberapa dahan pohon yang dipasang horizontal. Beberapa kali Agung menghirup nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya lagi, berharap semua masalah dan kekusutan di kepalanya terurai dengan sendirinya.
Tangannya mengambil gawainya. Mengabadikan view yang dilihatnya saat ini. Berharap suatu saat nanti ia akan ke tempat ini lagi dalam suasana hati yang berbeda.
Dia menunduk melihat hasil fotonya. Lalu membaginya di sosial media miliknya.
“Menepi dari hiruk pikuk.”
Itu caption yang ia tulis.
Kemudian ia menonaktifkan gawainya. Matanya menatap kejauhan yang dipenuhi titik-titik lampu kawasan Bandung Raya. Hati dan pikirannya tengah sibuk memilah.
“Tuan Agung kunaon_kenapa_?” Driver menoleh pada pengawal yang baru saja masuk lagi ke dalam mobilnya.
“Teuinglah_Gak tahu lah_, nafas pengawal beraroma rokok, “Dimarahin Tuan Hans, meureun_mungkin_...”
“Kunaon nyaa?” Driver yang penasaran menariki bakal janggut di dagunya.
“Urang lapor weh nyaa ka Pak Man,” Pengawal mengambil gawainya dan membuat panggilan dengan Man.
Agung menghela nafasnya lagi. Bahkan dia tidak tahu kenapa ia merasa sejenuh ini. Jenuh? Bukan..bukan jenuh tapi penat.
Dan Agung merasa, dia akan menjadi lelaki yang paling egois di dunia bila melanjutkan semuanya.
Suara gemerisik membuat Agung menoleh pada semak di sebelah kanannya. Seekor sanca dengan diameter seukuran lengan orang dewasa melintas. Binatang nokturnal yang wajar berada di habitatnya.
Agung mengikuti pergerakannya dengan matanya. Kemudian ia berdiri. Reflek ia sedikit menengadah ke ranting yang menjulur.
Lagi, seekor hewan melata nokturnal berwarna hijau daun mendesis dan meloncat menyerang ke arah wajahnya.
Agung memundurkan tubuhnya ke belakang. Kemudian berjalan merunduk dengan cepat menjauhi ranting pohon. Tempat itu indah tapi ternyata sarang ular.
Saat tiba di depan mobil, pengawal baru saja selesai memberikan laporan kepada Man. Agung membuka pintu mobil. Lalu masuk.
Bulan purnama di atas membuat sekitar Dago Pakar yang biasanya gelap menjadi sedikit lebih terang. Dari dalam mobil, Agung bisa melihat seekor ular cincin emas tengah mengejar tikus di antara bebatuan berlumut. Agung bergidik ngeri.
“Kita jalan sekarang, Tuan?” tanya Driver lagi.
Agung hanya mengangguk. Dia menyandarkan tubuhnya ke kursi mobil. Lututnya masih terasa lemas mengingat kejadian di tempat tadi.
“Kita turun saja, Pak. Saya harus kembali ke rumah sakit.”
Agung memejamkan matanya. Kelelahan yang dirasakannya membuatnya ingin terlelap sebentar saja agar saat bangun nanti dia merasakan tubuhnya bugar lagi. Sandaran kursi direbahkan. Ia mulai mencoba untuk tidur.
Agung mengambil handuk dan bergegas masuk ke dalam kamar mandi. Mencoba membuang segala penat dengan guyuran shower di atas kepalanya.
Badannya terasa lebih segar pikirannya juga terasa lebih ringan setelah ia selesai berpakaian. Agung mendekati bed Raditya. Menarik pelan kursi di samping Raditya lalu memperhatikan wajah Raditya.
“Kenapa Gung?” tiba-tiba Raditya membuka matanya.
Agung terperanjat.
“Abang bukannya sedang tidur?”
“Memangnya enak kalau sedang tidur lalu ada yang melihati kita secara intens seperti yang kamu lakukan?” Raditya menggeser tubuhnya.
“Ma’af Bang.. Saya hanya merasa bersalah sudah meninggalkan Abang sedemikian lama. Ma’af mengganggu tidur Abang..”
Raditya mengibaskan tangannya ke udara.
“Apaan sih? Kamu seperti baru kenal saja dengan saya. Saya juga pernah muda. It’s OK..”
Raditya menurunkan handrail bed kanan lalu mencoba untuk duduk. Agung membantunya.
“Abang mau ke kamar mandi?”
Raditya mengangguk. Agung memegangi tubuh Raditya. Jalannya masih harus dipapah.
Sambil menunggu Raditya selesai, Agung merebus air di pantry. Mengecek persediaan teh celup yang hampir habis. Besok pagi ia akan berbelanja di supermarket di dekat rumah sakit sekalian jogging.
Raditya keluar dari kamar mandi dengan rambut basah bagian depannya.
“Abang wudhu?”
Raditya mengangguk.
“Mau mengaji sambil menunggu kantuk datang,” Raditya menatap Man yang tertidur lelap, “Kasihan.. Capek sekali sepertinya dia.”
Agung mengangguk. Dia menuntun Raditya kembali ke bednya. Mengambilkan Qur’an untuknya.
Agung sedang menyeduh teh saat terdengar suara Raditya membaca al Qur’an. Suara Raditya yang jernih dan bacaannya yang tartil menyejukkan hati Agung yang tengah galau.
Agung mengantarkan teh panas untuk Raditya. Raditya menghentikan membaca. Menoleh pada Agung.
"Thanks, Gung. Kamu mau tidur sekarang?”
Agung menggeleng.
“Saya mau mengerjakan proyek saya, Bang. Mumpung lagi mood. Saya di sofa depan ya Bang. Kala butuh apa-apa, panggil saya saja..”
Raditya mengangguk.
“Jangan terlalu larut. Kamu juga harus istirahat.”
Agung mengangguk. Lalu beranjak mengambil laptopnya di lemari dinding.
Tidak berapa lama dia sudah tenggelam dalam pekerjaannya. Beberapa kali menatap layar dan buku catatannya bergantian. Lalu mengetikkan rumus ataupun perintah-perintah pemrograman dari keyboardnya.
***
APARTEMEN LANDMARK
UNIT PENTHOUSE
Bramasta mengerutkan keningnya ketika gawainya berdering. Panggilan masuk dari Hans. Hal yang jarang terjadi.
Adisti sudah tertidur setelah membersihkan diri. Bramasta beranjak menuju ruang tengah. Ia tidak mau mengganggu tidur istrinya.
“Assalamu’alaikum, Hans..” Bramasta mendudukkan tubuhnya di atas sofa.
“Wa’alaikumussalam. Disti sudah tidur, Bram? Ada yang mau gue bicarakan. Nanti gue buat panggilan berkelompok ya.”
“Disti sudah tidur. Panggilan telepon di WAG?”
“Nggak di WAG. Gak bisa kita bicarakan ini di WAG. Nanti gue jelasin. Gue hubungi yang lainnya dulu. Assalamu’alaikum..”
“OK. Wa’alaikumussalam..”
Bramasta mengernyit. Ada apa? Kenapa tidak di WAG? Kenapa harus telepon?
.
***
Yuk nungu panggilan telepon berkelompok dari Hans bareng..
Catatan Kecil:
Hewan Nokturnal adalah hewan yang aktif mencari makan pada malam hari.
Beberapa jenis ular termasuk ke dalam hewan nokturnal.
Jangan lupa baca Qur’an 🌷