
Leon berkali-kali menghembuskan nafasnya dengan keras sebelum turun dari mobilnya, bukan, bukan mobilnya tapi mobil mertuanya, karena mobil-mobilnya ada di Singapura.
Menutup pintu sedan Mercedes silvernya yang bullet proof, membuatnya benr-benar merasa menjadi agen rahasia. Dia tersenyum kecil membayangkannya. Keluar dari pintunya sambil mengucap basmalah. Merapikan jasnya lalu melirik ke arah mobil Grandmax Putih yang diparkir di tepi jalan tak jauh dari mobilnya berdiri. Drivernya sedang menikmati gorengan bala-bala yang masih mengepul. Leon menelan ludahnya. Iri melihat bala-bala panas.
Dia melangkahkan kakinya dengan mantap dan terlihat tidak peduli dengan lingkungannya, ciri khas bule. Bibirnya mengerucut ketika melihat handle pintu The Ritz yang berbentuk kepala Medusa yang sama persis dengan logo Gianni Versace. Wajahnya tersenyum ketika melihat seorang gadis penerima tamu berseragam pendek menyapanya.
“Welcome to The Ritz Boutique & Salon_Selamat datang di The Ritz Salon dan Butik_. Good morning_Selamat pagi_. What can we do for you, Sir_Apa yang dapat kami bantu untuk Anda, Tuan_?”
“Bonjour Mademoiselle_Halo Nona_," Leon menjawab sapaan gadis itu dengan sapaan khas Perancis.
“Do you speak bahasa_Bisa berbahasa (Indonesia)_?”
“Ya, saya bisa sedikit,” Leon memakai dialek dan ritme Perancisnya.
Gadis itu tersenyum lalu mengangguk, “Sudah bikin janji temu?”
“Owh maaf, saya langsung datang ke sini. Apakah harus membuat janji temu terlebih dahulu? Saya ingin merapikan rambut saya sedikit,” Leon memperagakan kata sedikit dengan mendekatkan jari telunjuk dengan jempolnya.
Gadis itu menganguk ramah, “Tentu, tidak apa-apa Tuan. Dengan siapa Anda ingin dirapikan rambutnya, Tuan?”
Leon memandang gadis itu dengan tatapan tidak mengerti, “Pardon me_Maaf_?”
Gadis itu tampak berusaha mengingat latihan percakapan bahasa Inggrisnya. Lalu tersenyum pada Leon, "With whom do you want to get your hair done, Sir_ Dengan siapa Anda ingin dirapikan rambutnya, Tuan_?”
“Owh I See_Oh saya mengerti_...” Leon mengangguk, “Saya baru kunjungan pertama ke tempat ini. Saya belum mengenal hair dresser di sini.”
“Baiklah, akan saya cek siapa yang sedang kosong saat ini ya.”
“OK.”
“Silahkan duduk dulu, Tuan.”
Leon memilih duduk di dekat guci besar berisi bunga hortensia yang mirip dengan aslinya. Matanya menyapu ruangan untuk menilai. Kemudian menoleh ke arah bunyi detak sepatu. Gadis itu sudah kembali dengan senyum ramahnya.
“Silahkan ikuti saya, Tuan,” Gadis itu memandu jalan di depannya.
Leon memasuki ruangan yang dipenuhi rak-rak kaca dengan lampu sorot berisi tas-tas wanita dengan logo-logo designer dunia, dompet dan jepitan dasi pada etalase kaca, ikat pinggang pria pada laci kaca, tergulung rapi dengan gesper diletakkan pada bagian depan.
“Very interesting_Sangat menarik_,” kata Leon sambil berjalan ke dalam.
Gadis itu mengangguk, “Silahkan Anda bisa melihat-lihat koleksi kami setelah rambut Anda selesai dirapikan, Tuan.”
Leon duduk menghadap cermin. Ada beberapa meja dengan kaca berjajar di samping kanan dan kiri Leon. Seorang pria muda dengan kepala dibungkus silikon khusus untuk pewarnaan rambut highlight duduk di samping Leon, memandang Leon sejenak dengan acuh lalu matanya sibuk melihat layar gawainya, asyik bermain Candy Crush Saga. Oleh petugas kapster, rambutnya dikeluarkan dari lubang-lubang yang terdapat pada pembungkus silikon lalu diolesi dengan krim.
“Is that hurt_Sakitkah_?” tanya Leon pada pemuda tersebut. Si Pemuda terperangah, bingung mau menjawab apa.
“N…no..” si Pemuda menjawab sambil tersenyum malu.
Leon menunjuk gawai si pemuda, “What level are you_Sudah level berapa_?”
Pemuda tersebut bingung.
“Candy Crush Saga, what level are you?”
“Oh, seratus enam dua.”
“Pardon me?”
“Duh, Teh,” si Pemuda berkata pada kapster yang sedang memberi krim warna pada rambutnya, “Basa inggrisna seratus enampuluh dua teh naon?”
“Tingalikeun weh A, HPna_Lihatin aja HPnya, A_. Pan aya tingkatan lepel na tah_Kan ada tingkatan levelnya_.”
Leon tersenyum saat pemuda tadi memperlihatkan layar gawainya, “Owh, a hundred and sixty two_Oh, seratus enam puluh dua_.”
“Where you from, mister?”
Leon tersenyum lebar mendengar kacaunya grammar bahasa Inggris yang diucapkan Pemuda itu.
“I’m from France_saya dari Perancis_,” Leon menambahkan, “Perancis.”
“Can speak Indonesia?” tanya pemuda itu lagi.
“Oui_Ya_. Tapi sedikit.”
Seorang pria gemulai memakaikan kain pelindung yang membungkus tubuh Leon. Leon menegakkan duduknya.
“Dirapikan saja sedikit, ya,” kata Leon.
Pria tersebut tersenyum kepada Leon sambil memasangkan penjepit pada bagian belakang kain, “Ih Mister Bule ini ganteng amat siiiy. Guemes eyke..”
Leon mengepalkan tangannya. Dia baru ingat, pena kamera di saku jasnya tertutup oleh kain.
“Bisa cepat diselesaikan?”
Leon mengangguk.
Pemuda di sebelahnya berbicara lagi pada petugas yang memberi krim warna, “Teh Rita tumben hari ini pakai baju celana panjang dan lengan panjang. Kan biasanya juga pakai rok mini mengembang seperti ballerina. Cantik, segar dan seksi.” Sepertinya pemuda itu pelanggan tetap salon terlihat dengan akrabnya obrolan mereka.
Kapster salon terkekeh, “Naksir A? Seeur da nu naksir ka si ibu. Da geulis pisan ibu teh._Banyak loh yang naksir ke si Ibu. Karena si Ibu cantik banget_”
Pemuda itu terkekeh, “Resep weh ningalina_Seneng aja melihatnya_. Pemandangan indah.”
“Mun salakina uih mah selalu panjang-panjang bajuna_Kalau suaminya pulang, dia selalu memakai baju yang serba panjang_.”
“Kunaon_Kenapa_? Salakina ustat_ _?”
Petugas salaon dan lelaki gemulai yang sedang memotong rambut Leon terkekeh.
“Ya Allah… nyeri kulit beuteung yeuh salaki si ibu disebut ustat_Sakit kulit perut nih gegara suami si Ibu disangka ustad_,” pria gemulai terkekeh genit, “Yey mah sok ngabodor wae_Kamu mah suka ngelawak aja_!”
“Kunaon atuh_Kenapa dong_?”
“Eta..make nu pararanjang teh buat nutupin bekas sabetan_Itu.. pakai yang panjang-panjang buat nutupin bekas sabetan_,” kapster salon berbisik, “Si Ibu mun maen sareng salakina sok disabetan wae_Si Ibu kalau sedang main dengan suaminya selalu disabeti_. Ngeri nguping sorana ge_Ngeri mendengar suaranya_. Walaupun ruangannya kedap suara, tapi suaranya masih kedengeran di tangga. Tapi si Ibu resepeun, ceunah_Tapi si Ibu senang katanya disabeti_.”
Si Pemuda wajahnya meringis, “Ih,, geulis-geulis teh kitu nya..”
“Isssh, tos ah. Ulah ngomongkeun deui. Bahaya,” pemuda kemayu mendadak bersuara lelaki normal. Wajahnya serius menatap kapster yang tertunduk, “Untung di sebelah kamu itu saya. Coba kalau orang lain. Bisa habis kamu dilaporin ke Ibu. Untung saya lagi menangani bule yang cuma bisa sedikit ngomong Indonesianya.”
Di dalam kain pelindung potongan rambut, Leon mencubit-cubit lengannya sendiri. Bertahan untuk tidak ikut nimbrung dalam pembicaraan berbahasa Sunda tadi. Gawainya berdering, dia mengeluarkan gawainya dari kungkungan kain pelindung. Ada nama Hans di sana. Leon mengerucutkan bibirnya.
“Assalamu’alaikum, ya?...Yes I’m still not yet done with my hair… Yes sure, I’ll do my best. OK, see you soon.”
Semua orang menoleh pada Leon sekarang. Leon merasa aneh.
“Ada apa?” tanyanya pada pria gemulai di belakangnya.
“Mister muslim?”
“Iya, kenapa? Tidak boleh?”
“Waaah.. kita jarang lihat bule muslim, Mister.”
“Ah, saya kira ada apa..” Leon tampak lega, “Are you finish yet_Sudah selesai belum_?”
Sementara itu di lantai atas, Ferdi Gunaldi tengah menyesap kopi pertamanya sambil mengamati CCTV. Dia tertawa melihat aksi isrinya yang gagal merayu pemuda yang tampan di ruang kerjanya. Di layar kaca tampak istrinya bersungut-sungut menyelesaikan pekerjaannya untuk diserahkan ke tim produksi. Ferdi hampir saja menumpahkan kopinya ketika tiba-tiba di layar kaca tampak istrinya menatap tajam ke arah CCTV, seolah tahu dia sedang menertawakannya. Ferdi semakin kencang tawanya.
Pundaknya dicekal keras dari belakang. Ferdi menoleh. Rita memandangnya dengan geram. Ferdi terkekeh.
“Pemuda itu seperti yang tidak berminat sama sekali padamu. Bahkan dia cenderung ketakutan terhadapmu,” Ferdi masih terkekeh melihat wajah kesal istrinya, “Salah strategi. Kamu terlalu agresif buat pemuda itu, Rita Sayang..”
Sebelum istrinya marah, Ferdi menunjuk pada layar CCTV salon, “Itu, lihat bule itu.”
“Kenapa?”
“Dia tidak semuda pemuda tadi. Tapi dia tampan dan berkelas. Mau main dengan bule?”
Rita terkekeh genit. Dia mengambil alih kursi di depan layar CCTV. Zoom in wajah bule yang dimaksud suaminya.
“Hmmmm..” guman Rita menilai wajah si bule.
“Tawari dia dengan jasa private service online mu. Juga tempat hiburan malamku. Dia ladang emas kita. Nanti malam ada pameran berlian di Mall XX. Kamu mau kesana? Aku belikan gelang berlian, bagaimana?”
“Ini sogokan?”
“Ini bayaran untuk wonderful night semalam dan juga sogokan untuk jadi sales promotion girl-ku terhadap bule tadi. Bagaimana?”
Rita terkekeh senang, “Deal_Setuju_.”
Di ruang salon, pria gemulai tampak luwes membersihkan potongan-potongan rambut yang menempel pada wajah dan tengkuk Leon. Leon merasa geli tidak nyaman.
“OK, cukup,” kata Leon sambil berdiri.
Pria gemulai itu cemberut kesal pada Leon.
“Hasil kerja kamu rapi. Saya suka,” Leon memuji.
Pria gemulai itu tampak senang. Dia tersenyum manis pada Leon.
“Nanti datang lagi ke sini ya Mister. Ingat kalau ke sini minta ditangani oleh Martin alias Martina.”
Leon mengangguk sambil tersenyum lebar, “Hatur nuhun_Terima kasih_.”
“Eh, Mister kok bisa basa Sunda?”
Tengkuk dan telapak tangan Leon terasa dingin. Penyakit keceplosannya kambuh.