
Bramasta menceritakan apa yang dibicarakan di WAG. Ia menyuruh salah seorang pengawal untuk menjadi driver mobilnya.
Anton_Bang Hans, spill data ibu sambungnya Adinda dan teman laki-lakinya di sini, dong. Jadi penasaran seperti apa tampang mereka_
Indra_Iya Hans. Gemes banget dengan kelakuan mereka_
Agung_Adinda pernah cerita, papanya menikahi si ibu sambung hanya karena kasihan saja. Tidak tahunya malah seperti ini_
Leon_Kacang gak ada kulitnya ya?_
Bramasta_Bang Leon ngobrolin apa sih? (emot tawa)_
Leon_Pepatah itu loh.. kacang dan kulit.._
Indra_Bagai kacang lupa dengan kulitnya_
Leon_Iya.. maksud gue itu. Eh tapi kan sama saja maksudnya kan?_
Anton_Beda Bang.. (emot ngakak)_
Hans_Dasar bule kawe.._
Bramasta_Kacang gak ada kulitnya, telanjang dong... (emot ngakak)_
Hans_Ciyeee pengantin baru, obrolannya telanjang-telanjang mulu.._
Bramasta_Hisssh! Kena lagi dah gue.. (emot menangis)_
Perang stiker ngakak di WAG Kuping Merah.
Hans_Tentang ibu sambung dan teman laki-lakinya, besok saja ya. Sudah malam. Kasihan anggota team gue_
Anton_ OK Bang_
Agung_Bang Bram, tentang biaya sekolah Adinda, biar saya yang akan membiayainya_
Bramasta_Tadi sudah diberi oleh Ayah. Saat Disti hendak memberikan ongkos sekolah untuk Adinda, Adinda menolak. Katanya, dia masih punya uang tabungan. Lalu Ayah melarang Adinda untuk memakai uang tabungannya. Kata Ayah, Adinda sudah dianggap sebagai anak Ayah dan Bunda, jadi semua biaya sekolah Adinda ditanggung Ayah_
Hans_Tuh, Gung. Lampu hijau dari Ayah. Sudah, langsung saja..._
Agung_Dih Bang Hans.. Kasihan Adindanya, masih bocah_
Leon_Lu bilang Adinda masih bocah? Dia udah bisa bikin bocah loh..(emot mata love dan ngakak)
Indra_Haissh Bang Leon... Bikin nyesek yang jomblo aja_
Semua memberi emot ngakak pada chat Leon.
***
Hampir pukul 11 ketika Bramasta dan Adisti sampai di penthouse mereka.
“Kapan rancangan tata ruang yang baru dari Hyung Anton?” tanya Adisti saat mereka sedang gosok gigi bersama setelah membersihkan diri.
"Kenapa? Udah gak sabar?" Bramasta tersenyum menatap pantulan wajah istrinya di cermin.
"Disti ingin sesuatu yang lebih terorganisir saja. Inginnya, keluar dari area kamar mandi ini, kita sudah rapi berpakaian.”
Bramasta meletakkan sikat giginya lalu berkumur.
“Memang Abang buat seperti itu nantinya.”
“Beneran, Bang?”
“Hmmm.”
“Meja wastafel ini kuat gak Bang?”
Bramasta mengernyit, “Kenapa?”
Adisti tidak menjawab. Dia langsung melompat ke meja wastafel untuk duduk di atasnya.
Bramasta terkekeh, “Disti ngapain?”
Adisti menggeleng sambil tersenyum. Tangannya menarik lengan suaminya supaya berada di depannya.
“Abang gak bosan terlihat tampan terus?”
Bramasta tergelak.
“Cih, pertanyaan apa itu?”
“Gak boleh nanya seperti itu?” Disti mencebik.
“Kok Abang berasa dirayu oleh Disti ya?” Bramasta masih terkekeh, “Tumben...”
Adisti memegang kedua rahang suaminya.
“I think, it’s my biology time.._Kayaknya, sekarang waktu biologinya Disti, deh_"
Bramasta mengernyit.
“Biology time?_Waktu biologi?”
Adisti mengangguk.
“Biology scheduele..._Jadwal biologi.."
“Speaking clearly, please.._Ngimong yang jelas, dong... ” bisik Bramasta.
“Masa subur Disti, Bang. You know? Saat ovarium melepaskan ovum...”
Belum sempat Adisti selesai berbicara, Bramasta langsung meraih tubuh Adisti. Menggendongnya dalam sekali rengkuhan. Menuju kamar.
“Silent, please_Dah, diam saja_,” bisik Bramasta.
“OK. No more talk_Ya udah, gak ngomong lagi_” Adisti tersenyum lebar, “Just do it_Lakukan saja_”
***
Sarapan pagi itu keduanya penuh senyum. Lebih tepatnya saling melemparkan senyum satu sama lainnya.
“Yakin gak mau makan nasi?” tanya Bramasta.
“Gak.. belajar mengikuti selera suami,” Adisti tersenyum lebar pada Bramasta sambil membawa croissant chicken sandwich yang ia buat.
Gerai pastry and bakery di lantai bawah mengirim plain sandwich pagi tadi sesuai pesanan semalam.
“Nanti kalau di kantor lapar lagi saat belum jam makan bagaimana?” tanya Bramasta lagi.
Adisti memandang Bramasta, “Suami Disti kaya ini, pasti sanggup dong jajanin istrinya di kafetaria kantor.”
Bramasta terkekeh lalu menggigit potongan besar. Kemudian mengangguk. Menyetujui rasa croissant chicken sandwich buatan Adisti.
“Black pepper-nya terlalu banyak gak Bang?” tanya Adisti.
Bramasta menggeleng, mulutnya masih penuh. Dia mengacungkan kedua ibu jarinya.
“Saladnya masih ada gak? Abang mau lagi dong. Salad buatan Disti enak banget.”
“Bentar, Disti ambilkan dulu ya..”
“Terimakasih Wifey..” kata Bramasta saat Adisti menyendokkan salad ke piringnya.
“Your always welcome, Hubby..” Adisti kemudian tertawa.
“Kenapa?” Bramasta keheranan.
“Jadi ingat Abang Hans dan Mbak Hana..”
Bramasta ikut tertawa, “Pasangan kelinci.”
“Jadi, apa panggilan kesayangan masing-masing dari kita?” Adisti mulai menyantap sandwich croissantnya.
“Haruskah?” Bramasta menatap Adisti sambil tersenyum.
“Sebenarnya, Disti agak geli kalau kita pakai panggilan kesayangan seperti Bang Hans dan Mbak Hana,” Adisti bergidik.
Bramasta tertawa.
“Ya sudah, jangan dipaksakan.”
Adisti mengangguk.
“Disti...” Bramasta berdehem.
Adisti mendongak karena merasa Bramasta akan berbicara sesuatu yang serius.
“Tentang semalam... biology time..”
Kedua pipi Adisti terasa hangat sekarang. Matanya menunduk, bibirnya tersenyum malu.
“Hey.. lihat Abang..” Bramasta menyentuh tangan Adisti, “Isssh masyaa Allah, istri Abang imut banget sih?”
“Apaan sih Abang ini..”
“Tentang semalam itu, Abang lupa menayakannya pada Disti."
"Apa?"
"Disti gak keberatan kan kalau kita tidak menunda untuk punya momongan?”
Adisti menggeleng dengan senyum dikulum.
"Disti mah sedikasihnya Allah saja. Diberi segera, alhamdulillah. Diberi nanti juga tetap disyukuri karena kita bisa lebih lama pacarannya."
Bramasta tersenyum lebar, "Alhamdulillah.. berarti Disti buka penganut childfree ya."
Adisti membelalakkan matanya, “Ih, Abang.. memang Disti cewek keren apaan sampai disangka penganut childfree.”
“Gak keren ya childfree?” Bramasta sengaja memancing opini Adisti.
“Bagi Disti, perempuan sehat yang sebenarnya mampu punya anak kemudian menjadi penganut paham childfree adalah perempuan yang bodoh dan buta agama."
"How?"
"Dalam agama kita, wanita yang menjadi ibu begitu dimuliakan. Apalagi saat dia sedang mengandung, para malaikat selalu mendo’akan wanita tersebut.”
Bramasta mengangguk setuju.
“Lalu saat melahirkan, perjuangannya saat melahirkan mendapat ganjaran yang sangat besar darii Allah. Bahkan apabila si ibu meninggal saat melahirkan bayinya, ditetapkan syahid.”
Bramasta tersenyum sambil membenahi rambut Adisti.
“Tapi itu hanya berlaku bagi ibu yang melahirkan bukan dari hasil perzinahan.”
Adisti mengangguk, “Kabarnya gadis-gadis yang melahirkan dari hasil pacaran kelewat batas itu mudah sekali ya prosesnha. Tanpa rasa sakit yang dialami seperti para perempuan yang melahirkan secara sah. Makanya ada yang melahirkan di toilet umum, di kamarnya seorang diri, dll. Dimudahkan oleh Allah karena tidak ada keberkahan di dalamnya."
"Tapi anak hasil perzinahan tetaplah bayi yang suci. Tidak ada dosa perzinahan yang ditanggung oleh si bayi hingga dewasa nanti,” kata Bramasta sambil menyeruput kopinya.
Adisti mengangguk lagi, “Dan masa menyusui, malaikat akan mendo’akan para ibu yang sedang menyusui bayinya. Lalu masa pengasuhan anak, saat anak sakit, bagaimana ibu akan selalu terjaga dan siaga untuk menjaga anaknya.”
“Ah, pokoknya banyak banget rahmat yang Allah berikan kepada wanita yang mempunyai anak,” Adisti mengambil mug yang berisi teh tawar.
“Lalu bagaimana dengan para wanita yang tidak bisa memiliki keturunan?” tanya Bramasta.
“Allah menguji kesabaran dan ketaatan wanita dan pasangannya. Insyaa Allah akan ada banyak pahala menyertai mereka. Apalagi bila mereka mau mengasuh anak-anak yang kurang beruntung,” Adisti menatap mata suaminya, “Bang, kita ke panti asuhan yatim piatu yuk.”
Bramasta tersenyum memandang istrinya. Mengecup sayang kening istrinya.
“Kita sudah menjadi donatur tetap di beberapa panti asuhan yatim piatu dan kaum dhuafa.”
“Alhamdulillah.. tapi sekali-kali Disti ingin kita main ke sana. Berinteraksi langsung dengan mereka.”
“Insyaa Allah. Abang akan usahakan.”
“Kalau Abang sibuk, Disti pergi sendiri juga gak apa-apa kok.”
“Terus Disti yang dapat rahmat seorang diri? Gak mau ah. Ajak Abang juga,” Bramasta menaruh dagunya di atas kepala Adisti sambil berdiri di tepi balkon.
“Kesimpulannya tentang childfree?” Bramasta memeluk Adisti dari belakang.
“Childfree hanya ada di kepala orang yang somplak, arogan, bodoh, dan kekanakan. Apalagi bila orang tersebut sampai menghina orang yang sedang berusaha mempunyai anak.”
“Abang gak habis pikir bagaimana perasaan orangtua ataupun mertua dari orang yang menganut childfree.”
“Mereka pasti sedih. Apaplagi saat alasan childfreenya adalah untuk menjaga agar awet muda,” Adisti mencibir, “Cetek sekali pemikirannya.”
“Padahal untuk awet muda alami bukan dengan childfree,” Adisti melanjutkan lagi dengan bersemangat, “Melainkan dengan terpenuhinya kebutuhan nafkah lahir dan batin, otomatis produksi kolagen di bawah permukaan kulit akan meningkat. Itu yang membuat kulit menjadi lebih kenyal dan muda. Belum lagi aura wajah menjadi cerah.”
“No wonder your face is looking so glowing today_Pantas saja wajah Disti glowing banget hari ini_,” Bramasta terkekeh sambil menggigiti kecil telinga istrinya, “Glowing just like a diamond_Glowing seperti berlian_"
“Issssh geli, tahu...” Adisti menghindar tapi Bramasta semakin mengetatkan pelukannya.
“Abang mau membalas yang kemarin.."
“Semalam kan udah. Ini bekasnya juga masih ada..” Adisti menunjuk pada merah-merah di lehernya.
Bramasta memperhatikan leher Adisti, “Wah.. ternyata banyak juga ya. Untung tertutup kerudung ya..”
“Udah ah.. Disti mau beresin bekas sarapan kita.”
“Bawa saja ke bak cuci piring, Disti bersiap ya, kita berangkat setelah Abang selesai cuci piring.”
“Baik banget deh Pak Suami..” Adisti memeluk Bramasta dengan erat.
Bramasta hanya terkekeh melihat kelakuan istrinya.
.
***
Childfree? no way.
Childfree demi awet muda? sesat itu!
Btw, is today your biology time?
Qqqqqqq 😁😁