CEO Rescue Me!

CEO Rescue Me!
BAB 217 – MENUNGGU



Hans mengambil tablet milik Anton. Dia meletakkan di atas tatakan logam di mejanya.


Apa yang ditampilkan di layar tablet sudah berpindah pada layar-layar di meja masing-masing mereka. Suara decak kagum terdengar.


“Boleh tuh..” Indra menatap detil alat-alat tersebut.


“Lu pesan berapa, Ton?” tanya Bramasta.


“Untuk sample, Gue baru pesan 10 unit, masing-masingnya Bang.”


Bramasta mengangguk setuju.


“Kalau barangnya OK, kita pesan dalam jumlah besar. Hitung saja, member Kuping Merah berikut anak dan istrinya juga para orangtuanya juga.”


Anton mengangguk.


“Siap Bang.”


“Made in Japan lagi?” Leon mengamati detil dari layar di mejanya.


“Iya Bang..” Anton terkekeh.


“Seberapa besar sih ini ukurannya?” Pak Dhani juga mengamati detil dari layar di mejanya.


“Itu sejenis mikro chip, Beh,” Anton menambahkan, “Pemasangannya cukup menggunakan lup tidak perlu mikroskop.”


“Tapi masalahnya, kita kan gak pakai jam ataupun sabuk yang sama setiap harinya?” seloroh Indra sambil tertawa.


“Kuping Merah hanya meng-cover masing-masing 2 unit untuk tiap pelacak. Kalau kalian ingin lebih, pakai duit sendiri. Untuk pengadaan barangnya bisa kita fasilitasi,” Bramasta menyandarkan punggungnya.


“Ribet amat sih? Kalian yang udah merid bisa saja pasang alat pelacaknya di cincin nikah kalian. Kalian gak ganti-ganti cincin nikah kan?” seloroh Agung.


“Eh iya ya..” Leon yang penggila mode tersenyum lebar, “Pinter Lu Gung..”


“Bang Indra juga pakai cincin blue safir terus, gak pernah gue lihat ganti cincin lainnya,” kata Agung lagi.


“Itu cincin dia satu-satunya, Gung..” Babeh terkekeh.


“Cincin dari mantan terindah?” tanya Anton penasaran.


“Impossible,” Bramasta menjawab untuk Indra membuat Hans tergelak keras.


“Hisssh!” Indra menyugar rambutnya, mata blue safir pada cincinnya berkerlip terkena cahaya biru Laut Kaspia, “Ini pemberian orang Turki sewaktu gue umroh. Tiba-tiba dia melepas cincin yang sedang dipakainya lalu memberikannya ke gue. Halal..halal.. katanya, for you. Ya gue terimalah dengan senang hati.”


“Terus Lu bales ngasih dia apa, Bang?” Agung terkesima mendengar cerita Indra.


“Di tas ID gue selain dompet dan ID Card, cuma ada sunglasses. Ya sudah, gue kasih sunglasses gue walau itu merupakan barang favorit gue..” Indra terkekeh.


“Kan kata Rasulullah kalau kita memberi barang ke orang lain sunnahnya adalah dari barang yang kita sukai bukan barang yang kita tidak sukai lalu kita berikan ke orang lain..” Bramasta tersenyum lebar.


“Sunglasses model aviator yang dulu Lu beli bareng gue di Singapura itu?” tanya Leon dengan alis terangkat.


Indra mengangguk.


“Kan lumayan harganya, Ndra..”


“Uang bisa dicari lagi..” Babeh terkekeh pelan.


“Tapi, sepertinya orang Turki itu juga memberikan barang terbaiknya pada gue kok. Gak sengaja sewaktu mengantar Mami ke butiknya Mommy, gue iseng-iseng ngecek. Bunyi nyaring alatnya..”


“Terus?”


“Dicek sama petugasnya, diperkirakan harga batu safirnya saja 7,5 kali lipat harga sunglasses gue..” Indra memandang cincinnya.


“Wah..”


“Ciyus, Bang?”


“Tuh kan.. semua tergantung dari niat..” Adisti memandang takjub pada cincin Indra.


“Mumpung sedang kumpul ya, gue mau memberitahu,” Bramasta memandang semuanya, “Gue dan Disti mau berangkat ke New Zealand, Senin nanti..”


Hans mengerutkan keningnya. Lalu menggeleng.


“Gak bisa, Bram. Pending dulu beberapa hari..”


“Kenapa? Mr. Zuko kan sudah launching, Agung juga sudah pindahan..” Bramasta memandangi Hans.


“Justru karena Mr. Zuko baru launching yang menimbulkan musuh baru dari luar negeri, kalian harus pending dulu ya. Lihat dulu perkembangannya. Nanti kalau sudah reda dan ke handle semuanya baru kalian boleh bepergian ke luar negeri.”


“Saya setuju,” Babeh alias Pak Dhani mengangguk.


“Lagipula, besok sidang pertama Liliana Sukma versus Nyonya Almira Sanjaya. Disti dan Bunda harus menghadiri beberapa sidangnya sebagai saksi.”


“Ah iya.. tadi pagi Disti sudah diingatkan Bunda tentang sidang besok. Kirain cuma menghadiri sidang pertama saja..” Adisti memandang suaminya dan Hans bergantian.


“Ada beberapa kali persidangan yang harus Disti dan Bunda hadiri. Nanti detailnya tanyakan pada Tuan Armand saja,” Hans membuka catatan di gawainya.


“Tuh.. enak kan?” Indra memandang Bramasta, “Boardingnya di lounge khusus, gak pakai antri pula...”


“Hatur nuhun Bang Leon..” Bramasta tersenyum lebar pada Leon.


“Sawangsulna..”


“Jadi pembicaraan tentang Mr. Zuko malam ini sudah selesai?” tanya Anton.


Hans mengangguk lalu menutup pertemuan.


***


SANJAYA GROUP


09.25


KUBIKEL DIVISI ACCOUNTING


Seorang pemimpin tim dari beberapa tim di divisi tersebut menghampiri seorang karyawati yang memakai blouse lengan panjang berwarna biru muda dengan corak bunga abu-abu di kubikelnya. Dia berbicara dengan nada rendah.


“Kamu bikin masalah apa dengan para petinggi?” tanyanya.


‘’Saya?” wanita berwajah manis itu terlihat kebingungan, “Kapan Pak?”


“Entahlah, mana saya tahu. Kamu pikir-pikir saja sendiri..” Pria tersebut memandang lekat pada anak buahnya itu.


Wanita tersebut menggeleng pelan membuat rambutnya yang tergerai panjang ikut bergoyang.


“Saya masih tidak mengingat apapun Pak. Sebenarnya ada apa, Pak?”


“Kamu ditunggu di ruangan Tuan Hans Alvaro pukul 09.45. Ingat, Tuan Hans sangat disiplin dengan waktu. Dia tidak mentolerir keterlambatan. Jangan sampai terlambat.”


“Ada apa ya, Pak?”


“Kalau kamu merasa tidak berbuat kesalahan bisa jadi panggilan ini karena kamu akan mendapatkan sesuatu yanng baik bagi karir kamu. Sudah sana buruan.”


Wanita tersebut mengangguk lalu berdiri dan memperbaiki baju dan rok span selututnya.


“Saya pergi dulu, Pak.”


Lift berdenting. Dia melangkahkan kakinya keluar dari lift di lantai yang tidak semua orang pegawai Sanjaya Group boleh naik ke lantai ini. Di lantai ini juga, terdapat ruangan owner dari Sanjaya Group. Hatinya berdebar.


Kakinya gemetar saat mulai menginjak karpet berwana burgundi. Suara langkahnua teredam oleh tebalnya karpet. Lobby lift dan koridornya bernuansa burgundi dan emas dengan sedikit aksen krem. Sudah pasti mewah.


Mengikuti arah petunjuk, dia berbelok ke sebelah kiri. Koridornya meluas membentuk foyer. Ada ruang tunggu berisi sofa krem yang nyaman. Aroma wangi bunga , akar dan kayu memenuhi indera penciumannya.


Langkah kakinya membawanya ke depan meja bergaya maskulin. Seorang pria muda berkacamata berwajah dingin menatapnya tanpa senyum. Sekretaris Tuan Hans Alvaro.


“Anda Kinanti dari divisi accounting?”


Wanita tersebut mengangguk gugup. Tangannya saling terpilin.


“Iya Pak. Katanya saya diminta menghadap Tuan Hans?”


Pria berkacamata itu melirik arlojinya.


“Silahkan menunggu. Masih 6 menit lagi,” telapak tangannya terarah ke sofa.


Kinanti masih berdiri di depan mejanya. Dia menggosokkan kedua telapak tangannya.


“Ada apa lagi?” pria tersebut menatap Kinanti dengan tidak sabaran. Berkas di mejanya masih banyak yang harus ia tangani.


“Ma’af Pak.. saya dipanggil untuk urusan apa ya?” suara Kinanti terdengar bergetar.


Pria tersebut menggeleng tak acuh sambil membetulkan letak kacamatanya.


“Saya tidak tahu. Sebaiknya Anda duduk menunggu saja di sofa, Nona. Pekerjaan saya masih banyak."


“Oh.. ma’afkan saya,” Kinanti membungkukkan badannya lalu berlalu menuju sofa.


Dering interkom di meja pria itu berbunyi. Tangannya secara otomatis menekan tombol interkomnya. Lalu berdiri dan masuk ke dalam ruangan sambil membawa berkas. Meninggalkan Kinanti sendirian di ruang tunggu.


Kinanti mengamati ruangan itu sambil berpikir bagaimana pria dingin itu bisa betah bekerja di tempat yang sunyi dan sepi seperti ini. Wajah pria itu walaupun tampan tapi dingin sekali. Sama dengan tuannya, Hans Alvaro.


.


***


Nah loh.. kira-kira Kinanti bakal bagaimana saat bertemu Hans yang dingin?


Apakah Hans akan me”roasting” Kinanti yang diindikasi sebagai biang gosip?


Issssh sering kali rasa kepo itu berubah menjadi bumerang sama dengan rasa iri hati akibat tidak terpilih oleh orang yang disukai.