My Trouble Maker Secret Husband

My Trouble Maker Secret Husband
Mertua berhati busuk



Allea baru saja selesai mandi kakinya melangkah keluar dari kamar mandi, Max juga baru selesai mandi di kamar mandi dapur


Max masuk ke kamar hanya menggunakan handuk yang di lilit di pinggangnya, sementara Allea menggunakan bathrobe. Dengan cepat Allea membalikkan tubuhnya membelakangi Max


"Kenapa? bukannya kamu udah liat semuanya? " goda Max


Allea tidak menjawab dia berjalan menyamping seperti kepiting namun Max mengungkungnya dari belakang tangannya menahan Allea di meja, menekan tubuh Allea dengan dadanya hingga sedikit condong ke meja rias


"Kamu mau ngapain? " pekik Allea


"Aku cuma mau ngambil ini" Jawab Max meraih hairdryer di dekat kaca


Max mendudukan Allea di kursi dan mulai mengeringkan rambutnya, Allea tersenyum samar kekesalannya sedikit terobati


"Sarapan udah ada di meja" Ucap Max lalu mengecup pipi Allea, karena rambutnya sudah kering Max mengambil baju lalu masuk ke kamar mandi


"Cukup manis" gumam Allea mengembangkan senyumnya


Setelah sarapan Max dan Allea hendak berangkat ke sekolah saat membuka pintu mereka di kejutkan dengan keberadaan Gibran disana


"Ayah" Gumam Allea


"Jadi ini alasan kamu pergi dari rumah? kamu mau bebas hidup di luar dengan laki laki? " tanya Gibran sorot matanya penuh intimidasi


"Allea hanya cari perlindungan di luar, dari dulu Max selalu melindungi Allea " jawab Allea


"Siapa yang tau apa yang kalian lakukan di belakang orang tua kalian? apalagi sudah tinggal satu atap"


"Apapun itu Allea rasa kami sudah cukup dewasa " ketus Allea


Plak


Satu tamparan mendarat di wajah Allea, Allea terhuyung dengan sigap Max menangkap tubuh Allea dan memeluknya, Max menyingkap rambut Allea yang menutupi wajahnya bekas tamparan itu memerah di wajah Allea


"Om apa gak bisa semuanya di bicarakan baik baik? " Gibran semakin naik pitam dia menarik kerah baju Max dengan kedua tangannya


Allea berusaha memisahkan ayahnya namun tanpa sengaja Gibran mendorong Allea hingga tersungkur, Allea memegangi dahinya Yang tertutup rambut


"Kamu gak apa apa? " Max berlutut menarik dagu Allea mendongakkannya


"Kita pergi aja" Allea bangun menarik tangan Max pergi dari sana tidak mendengarkan Gibran yang memanggilnya


"Dahi kamu berdarah" Max menyingkap rambut Allea dan mengambil kotak obat di dashboard mobil


Allea hanya diam saat Max mengobati lukanya, Setelah memberinya plester Max mengecup luka Allea lalu membawanya ke pelukannya


"Sakit? " tanya Max


"Enggak, Makasih" Ucap Allea menjauhkan tubuhnya


"Kamu masih marah? pulang sekolah aku ajak kamu kerumah sakit nanti kamu sendiri yang bicara sama Arabella" mendengar itu Allea menoleh memicingkan matanya


"Senyum dong" goda Max menangkup kedua pipi Allea hingga bibirnya menggembung seperti ikan


"Uku guk busu sunyum" ucapan Allea tidak jelas karena Max menjepit kedua pipinya


Cup cup cup


"Udah gak usah senyum, ini udah lebih dari cukup" ucap Max setelah mengecupi bibir Allea


...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...


Gita sedang berada di rumah sakit untuk periksa kandungan di temani ibunya, Saat sedang duduk menunggu tiba tiba ibu Dito berdiri di hadapan mereka


Ibu Dito tidak sengaja melihat Gita lalu berniat mempermalukan mereka, Gita dan ibunya tidak menyapanya mereka pura pura tidak melihat padahal ibu Dito tepat berada di hadapannya


"Mau periksa anak haram ya? " sungutnya, semua pasien menatapnya dengan tatapan sinis


"Maaf jangan buat keributan disini" ucap Ibu Gita


"Saya tidak pernah malu memiliki anak seperti anak saya, seharusnya anda yang malu sebagai orang tua anda bukannya menasehati anaknya agar bertanggung jawab malah mendukung anaknya lepas tanggung jawab" pasien yang sedang menunggu mulai berbisik bisik


"Bu.. kita pergi aja" ucap Gita menggenggam tangan ibunya


"Kenapa malu ya? kalau saya jadi kamu saya gak akan sanggup berkeliaran takut teman-teman sekolah lihat" Gita tertunduk malu


"Jangan mempermalukan diri anda sendiri, bagaimana pun bayi ini juga darah daging anda dia cucu anda" pernyataan ibu Gita membuat semua orang terkejut


"Saya gak punya cucu haram, gara gara kamu goda anak saya hidupnya berantakan sekarang" ibu Dito menyalahkan Gita


"Berantakan? seperti apa itu berantakan? anda tidak tahu seperti apa hidup anak anda bersama kami dia di hormati, di sayangi meskipun saya dan suami saya masih marah padanya"


"Hidupnya baik baik saja kami memperlakukannya seperti anak kami sendiri, bahkan dia masih bisa sekolah kumpul sama teman temannya, lihat anak saya putus sekolah bahkan keluar saja tidak bebas"


"Mempunyai mertua berhati busuk seperti anda, hidup anak saya yang berantakan hidup anak saya yang sial mengenal keluarga anda" Hardik ibu Gita


Semua pasien ikut menyalahkan dan membicarakan ibu Dito dan menasehati Gita agar tidak memikirkan perkataan Ibu Dito agar tidak berpengaruh pada janinnya


Ibu Dito pergi dengan rasa malu karena di usir pasien lain, Sepanjang di periksa oleh dokter Gita hanya melamun bahkan tidak mendengarkan perkataan dokter hingga pulang kerumah Gita langsung masuk ke dalam kamar dan mengunci diri di dalam kamar


"Gita mana bu? " tanya Dito yang baru saja pulang sekolah


"Sepulang dari dokter dia gak mau keluar kamar, tolong bujuk dia belum makan" tidak biasanya ibu Gita berkata dingin pada Dito


"Emang ada apa bu? "


"Tanya mama kamu" singkatnya lalu pergi meninggalkan Dito


"Sayang.. buka pintunya" Dito mengetuk pintu


"Sayang... kita beli ice cream yuk? "


"Mau beli seblak gak? "


"Kita nonton mau gak? "


Sudah sekitar satu jam Dito mengetuk pintu namun tidak ada sahutan dari Gita, Dito yang khawatir mendobrak pintu membuat penghuni rumah yang lain berhambur keluar


"Sayang aku kira kamu kenapa napa" Dito menghampiri Gita yang duduk di tepi ranjang


Pantas saja dia tidak mendengar kupingnya di Pakaikan earphone, Gita memandangi tirai dengan tatapan kosong sepertinya dia sedang terpukul dengan perkataan ibu Dito tadi


"Sayang kamu kenapa? " Dito duduk di sampingnya membuka earphone dari telinga Gita


Tanpa berkata apapun air mata Gita mengalir bibirnya mengatup menahan suaranya agar tidak keluar, Dito menatap Gita pilu dia menarik tubuh istrinya kedalam pelukannya


"Maaf sayang.. maafin aku, aku yang salah" Dito mengecupi kepala Gita


"Jangan pikirin apapun kasihan bayi kita, jangan siksa diri kamu dan anak kita sekarang makan dulu ya" bujuk Dito


"Aku nyusahin kamu ya? aku jadi penghambat buat masa depan kamu? " lirih Gita


"Gak sayang itu gak bener, aku sayang sama kamu jangankan masa depan hidup aku hari ini aku kasih sama kamu. Kamu hidup aku mana mungkin aku merasa kamu jadi penghambat masa depan aku"


"Aku sayang sama kamu, Jangan peduliin mama " Ibu dan ayah Gita merasa sedih bagaimana bisa ibu Dito begitu jahat sementara kedua anak itu saling menyayangi


Ibu Gita tak kuasa menahan tangisnya dia pergi dari depan kamar Gita diikuti Ayah Gita


"Sekarang makan ya"


"Aku pusing mau tidur aja" jawab Gita


"Tunggu bentar ya" Dito keluar dari kamar menuju dapur, tak lama kemudian Dito kembali membawa beberapa roti isi


"Sini, Tidur sambil makan ya" Dito tidur sambil menyuapi Gita dengan roti sesekali Dito mencium pipi istrinya itu juga mengelus perutnya


"Jangan terlalu banyak yang di pikirin kasihan dede bayinya, Aku sayang sama kamu ingat itu baik baik.. gak akan ada wanita lain di hati aku cuma kamu.." ucap Dito menempelkan keningnya dan kening Gita lalu mencubit gemas pipi Gita dan memberi kecupan singkat di bibirnya, Gita memeluk suaminya menyembuhkan wajahnya di dekapan Dito