My Trouble Maker Secret Husband

My Trouble Maker Secret Husband
Rencana tes DNA



Max membawa Allea ke UKS untuk mengobati lukanya, mungkin sekolah sudah sepi sekarang hanya ada beberapa siswa yang belum pulang, Max membersihkan luka Allea membuatnya meringis


"Akkhh pelan pelan" rintih Allea


"Ini juga pelan, coba tahan dulu" jawab Max


Allea terus saja bicara 'pelan pelan, jangan di tekan, Max pelan dikit, perih' membuat Max kesal belum menyentuh pun Allea sudah bicara panjang lebar, Max dengan sengaja menekan luka Allea siapa sangka Allea yang kesakitan menendang Max yang berjongkok di hadapannya


Mendapat tatapan tajam dari Max Allea segera mengalihkan pandangannya pura pura melihat kesekitar, Max bangun berdiri di hadapan Allea mengungkungnya ke dinding


Merasa bersalah gadis itu menunjukkan wajah memelasnya dengan puppy eyes yang di kedip kedipkan, Gemas satu kata yang ada di batin Max. Max menjauh dan memalingkan wajahnya tapi Allea meraih tangannya dan menaruhnya di paha Allea


"Lo kenapa liatin gue kayak gitu? " Alle menipis tangan Max yang dia taruh sendiri di pahanya


Dengan polosnya dia menutupi paha dan dadanya dengan tangannya saat Max menatapnya aneh, Max menatap Allea dengan sensual mengangkat sebelah alisnya dan menggigit sedikit bibir bawahnya


"Lo sendiri yang naruh tangan gue disitu, lo mau goda gue? " goda Max


"Ehh.. enggak.. itu.. anu" Allea di buat gelagapan


"Gak usah malu malu sini" Max semakin mendekat merentangkan tangannya


"Stop.. stooppp" pekik Allea namun Max tidak berhenti dia mendekat hingga mencondongkan tubuhnya, kedua tangannya dia letakan di sisi tubuh Allea


Wajah Max semakin mendekat Allea memejamkan matanya erat dan mengepalkan tangannya, wajah Max berada tepat di dekat telinga Allea hingga hembusan nafasnya menyapu permukaan kulit Allea


"Mmphh.. Hahhahaa" awalnya Max menahan tawanya hingga dia merasakan tubuh Allea gemetar membuat tawanya pecah di dekat telinga Allea


"Lo sialan bener bener " Allea memukul pundak Max yang masih tertawa dengan posisi yang sama


"Lo hhaha.. lo kenapa? " Max berusah menghentikan tawanya


Max berbicara dengan wajah tepat di depan Allea tapi tubuhnya tidak berubah sedikitpun, wajah Allea memerah melihat wajah Max sangat dekat bahkan hidung mancung mereka pun hampir bersentuhan. dengan jahilnya Max memiringkan kepalanya seperti hendak mencium bibir Allea


Dan dengan bodohnya Allea diam mematung bahkan memejamkan matanya seolah menunggu Bibir Max menyentuh bibirnya, satu jari telunjuk mendarat di bibir Allea membuat Allea membuka matanya. bibir Allea mengerucut entah kecewa atau apa tapi Max benar benar gemas


Max mencium bibir Allea yang terhalang telunjuknya, wajah Allea bersemu merah


"Lo kecewa ya? " godanya


"Ihh apaan sih enggak, gue mau pulang" Allea mengerucutkan bibirnya dan memberangus kesal


"Lo nakal sekarang" bisik Max membuat Allea semakin malu


Allea tidak menjawab Max kembali membersihkan luka di lutut Allea dan memberi perban, ketika Max hendak membantu Allea berdiri Allea menepis tangannya sepertinya dia marah sekarang, Allea berdiri dan pergi berjalan dengan tertatih tiba tiba kakinya tersandung dan dia kembali jatuh


"Ayo katanya mau pulang kenapa duduk disitu? " ucap Max seperti sindiran melewati Allea


Max berjalan menjauh tapi melihat Allea kesusahan berdiri dia kembali dan membungkukkan tubuhnya di hadapan Allea, senyum tipis tercetak di bibir gadis itu tanpa basa basi dia mengalungkan tangannya ke leher Max dan dia menggendongnya


"Lo jangan terlalu gampang di bodohin cowok, kalo lo cuma pasrah di apa apain nanti mereka tambah berani" ucap Max menasehati Allea


"Awalnya mungkin cuma cipika-cipiki, cium bibir nanti lama lama tangannya menjalar kemana mana dan.. lo pasti tau selanjutnya apa yang terjadi, gue cuma gak mau cowok berbuat kurang ajar sama lo meskipun sama sama suka" Allea hanya mendengarkan perkataan Max dan menyandarkan kepalanya di bahu Max


"Denger gak? " ucap Max


"Iya... gak ada yang kurang ajar sama gue kecuali lo" ketus Allea


"Sorry... mungkin gue gak sadar lakuin itu tapi dengan kesadaran gue, gue gak akan lakuin hal kotor sama lo meskipun lo yang minta duluan" ucapnya


"Hei dasar sialan" Allea memukul bahu Max tapi dia malah tertawa


"Gue bercanda" ucap Max dengan tawanya


Sepanjang perjalanan mereka melihat kedekatan allea dan Max, bahkan ada salah satu dari mereka memotret Max menggendong Allea dan sedang tertawa bersama


"Besok ada berita hangat di sekolah" batinnya


...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...


"Tuan ini semua data yang anda minta, semuanya sudah dapat di pastikan kebenarannya" orang suruhan Gibran menyerahkan Map berisi data tentang Allea


Air mata Gibran luruh seketika saat mengetahui jika Allea adalah anak Naina dengan bukti dari rumah sakit dan data sekolah, dia berpikir kenapa tidak langsung kesekolah menanyakan data Allea dia benar benar bodoh


Nama Allea tertulis dengan wali hanya nama ibunya saja dan nek Mar, tapi apakah dia anaknya atau anak orang lain hal itu masih bergelut di pikirannya


"Baiklah Terima kasih, ini sisanya aku tambahkan bonus untukmu" Gibran mengerah amplop tebal berisi uang


"Aku harus lakukan tes DNA" gumamnya


Dia melihat Allea turun di bantu oleh Max dan pemuda itu membukakan helm Allea membuat siapapun yang melihat itu akan menyangka mereka berpacaran, Gibran turun menghampiri mereka


"Bukannya kamu pacar anak Damian? kenapa kamu dekat dengan dia? " tanya Gibran


"Tuan ini terlalu ikut campur" ketus Allea


"Kamu akan di anggap gadis tidak baik" ujar Gibran


"Max bantu gue masuk" Titah Allea lalu Max memapah Allea masuk


"Kamu kenapa? " tanya nek Mar khawatir


"Gak apa apa nek luka kecil" Jawab Allea


"Masa luka kecil sampe di papah begini? " gerutu wanita paruh baya itu


"Allea kamu kenapa? " tanya Gibran


"Anak om dorong dia sampe jatuh" jawab Max yang tidak suka dengan Gibran yang sama saja seperti ayahnya selalu menyimpulkan sesuatu dengan terburu buru


"Gak mungkin" sangkalnya


"Percuma Max ngasih tau orang tuanya mereka pasti akan belain anaknya mati matian meskipun anaknya salah" ucap Allea seraya duduk menarik tangan Max agar ikut duduk


"Tuan anda tidak tau kelakuan anda pada Allea selama ini" ucap Max


"Udah Max jangan bicara lagi biarin dia pergi"


"Tuan sebaiknya anda pergi dan jangan temui cucu saya lagi atau istri dan anak anda akan mengira kalian punya hubungan dan itu akan mengancam Allea" ucap Nek Mar


"Anak istriku tidak seperti itu bi" jawab Gibran


"Iya tuan anak istri anda orang yang baik sangat sangat baik, sudahlah anda pergi saja" usir Allea


Bukannya pergi Gibran malah masuk ke kamar mereka membuat nek Mar dan Allea berjalan tertatih mengejar Gibran


"Tuan anda tidak sopan masuk ke kamar seorang gadis tanpa izin" pekik Allea


Setelah mendapatkan apa yang dia cari Gibran pergi begitu saja meskipun Allea menahannya


"Hei apa yang anda ambil? kembalikan padaku" Allea melihat Gibran menyimpan sesuatu di saku jasnya


"Maaf Allea aku harus pergi" Gibran pergi begitu saja


"Hei kembali" teriak Allea hendak mengejar namun nek Mar mencekal tangannya


"Lihat apa yang hilang dari kamar kamu" ucap nek Mar


Allea masuk ke kamarnya dia mengira Gibran mengambil kalung dari ibunya yang dia simpan di meja rias ternyata dia salah


"Sisir Allea hilang nek" ucap Allea mencari sisir kesayangannya bergambar unicorn


"nek beli nek" teriak seseorang dari luar


"Iya sebentar"


Nek Mar keluar untuk melayani pembeli meninggalkan Allea yang mencari sisirnya


"Sebenarnya ada hubungan apa om Gibran sama lo? " tanya Max yang ikut masuk


"Gak tau" jawab Allea tanpa melihat Max


"Jujur" Max menangkup wajah Allea menatap matanya dalam dalam


"Hah dia bokap gue" lirih Allea


"Jadi ini alasan lo nangis di pesta Cindy ? "


"Gue gak nangis" protes Allea


"Iya hampir" Max masih menangkup wajah Allea


"Gimana gue gak sedih Cindy dia sayang, sedangkan gue jangankan kasih sayang dia kenal aja baru sekarang" lirih Allea menahan air matanya


"Kalo mau nangis nangis aja" Max memeluk Allea yang menyembunyikan wajahnya di dada bidang Max