My Trouble Maker Secret Husband

My Trouble Maker Secret Husband
Salah paham



Max dan asistennya masih berkutat dengan berkas juga laptop di hadapan mereka, merasa sudah mengerjakan semua pekerjaannya mereka berniat pulang


Namun saat di dalam lift Max menerima telepon dari kliennya yang meminta mereka bertemu untuk tanda tangan Kontrak, meskipun malas dan ingin cepat pulang tapi Max terpaksa harus datang ke tempat yang di tentukan kliennya


"Hallo sayang.. udah tidur? " tanya Max saat menelpon Allea


"Belum.. tadi Michelle rewel banget, kamu kapan pulang? "


"Aku tadinya mau pulang cuma klien ku minta ketemu buat tanda tangan kontrak, tidur aja gak usah nungguin aku" jawab Max


"Hmm.. hati hati ya, kalo udah beres langsung pulang"


"Iya sayang.. bye.. i love you"


"I love you to"


"Kamu kalo capek pulang aja biar saya sendiri kesana" ucap Max pada asistennya


"Tidak tuan.. saya akan ikut"


"Baiklah"


...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...


Max belum pulang Allea juga kelelahan menenangkan Michelle yang kembali tantrum, meskipun di bantu suster tetap saja mereka berdua kewalahan


Michelle menjerit-jerit mencari papanya yang masih bekerja padahal jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, Allea berulang kali menelpon namun tidak ada Jawaban


Setelah anaknya kembali tidur Allea kembali ke kamarnya merebahkan tubuhnya sambil melihat handphone, status sosial media Miranda memperlihatkan sebuah foto dirinya dan teman-temannya dengan baju yang kurang bahan sepertinya sedang berada di sebuah pesta


Saat Allea memperbesar foto tersebut jauh di belakang Miranda ada Max yang sedang berbincang dengan seorang pria dan wanita, Allea membulatkan matanya melihat foto tersebut dan mencoba mencari tahu tempat itu


"Jadi gitu.. oke" Gumam Allea


Allea mengganti pakaiannya dengan gaun dan berdandan secantik mungkin dan memakai parfum kesukaan Max, Dia berniat menyusul suaminya kesana


Setibanya di sana Allea tidak di izinkan ikut masuk karena tidak punya undangan juga dia sedang hamil, di dalam banyak orang merokok juga minuman yang tidak baik bagi ibu hamil


Allea merasa putus asa dia hendak pergi namun dia bertemu seseorang dan membuatnya urung pergi


"Kok gak masuk? " tanya Vero


"Gak bisa kak gak ada undangan" lirih Allea


"Kok bisa? emang di undang siapa kesini? " tanya Vero


"Gue cuma ngikutin Max, dia kesini gak bilang bilang"


"Ya udah gue bantu" Vero akhirnya bisa membawa Allea masuk


Ternyata ada banyak wanita dengan pakaiannya yang minim, karena villa itu menghadap langsung ke pantai mereka hanya ada yang menggunakan bikini saja karena itu party yang sengaja di buat Gebetan Bisma untuk teman temannya


"Tempat macam apa ini" gumam Allea yang samar Samar terdengar oleh Vero


"Kan tadi penjaganya udah bilang, gak baik orang hamil ikut masuk" ucap Vero


"Gak apa apa deh, kak duduk disana yuk pegel" ucap Allea menunjuk sebuah kursi


Allea sudah melihat Max ada di dekat kursi tersebut dia sengaja ingin melihat reaksi suaminya, Ketika Max mengedarkan pandangannya dia melihat sosok cantik istrinya yang sedang di pegangi tangannya untuk duduk karena kursinya agak tinggi


"Allea" gumam Max


Max masih melihat interaksi Allea dan Vero yang terlihat sedang berbincang dan sesekali tertawa ringan, Padahal yang mereka bahas adalah kegiatan Vero selama ini setelah lama tidak berkomunikasi


"Gue jadi ketua di rumah sakit Max, gue berterimakasih banget sama dia" ucap Vero


"Katanya lo udah baik jagain gue jadi dia percayakan rumah sakit itu sama lo, btw lo udah punya pacar? " tanya Allea


"Awalnya susah buat lupain lo Le, gue sadar lo bukan milik gue dan mustahil gue bisa dapetin lo, tapi ada wanita yang gue cinta sekarang dan dia juga punya perasaan yang sama" Jawab Vero


"Syukurlah... sebenarnya gue merasa bersalah sama lo kak, lo baik sama gue tapi gue gak bisa balas perasaan lo"


"Udah lah semua udah lewat, gue lihat lo bahagia aja ikut bahagia, sekarang lo mengandung anak ke 5 ya? "


"Heemm.. Cepetan nyusul deh biar anak kita nanti jadi temen" ucap Allea


Max melihat mereka masih bicara sambil tertawa tawa membuat Max panas sendiri, Max menghampiri mereka setelah tanda tangan kontraknya selesai


"Ngapain kamu di sini? " tanya Max dingin


"Kamu juga ngapain disini? kok bisa masuk? " Allea balik bertanya


"Kenapa kamu datang ke tempat seperti ini? dia yang bawa kamu? " Max menunjuk Vero


"Tenang Max gue ketemu Allea di depan di usir penjaga jadi gue bawa dia masuk" jawab Vero


"Kenapa gak lo suruh pulang? tempat kayak gini gak cocok buat ibu hamil apalagi angin malam"


"Kamu gak tau apa apa gak usah asal nuduh" Jawab Max


"Kalian lebih baik pulang dulu selesaikan masalah di rumah, malu orang pada liatin" ucap Vero


Max menarik tangan Allea sedikit kasar keluar dari tempat itu, Allea lebih memilih naik mobilnya sendiri dari pada ikut bersama Max


Max khawatir karena Allea pergi sendiri tanpa di temani supir pribadinya, Max mengejar Allea yang mengendarai mobilnya cukup kencang membuatnya jantungan


"Dia pikir cuma dia yang boleh kayak gitu? Enak banget keluyuran padahal anak tantrum seharian nanyain dia" Allea yang kesal memukul mukul Stir sampang klaksonnya berbunyi


"Apa yang dia lakukan? gimana kalo terjadi sesuatu" Max masih mengejar mobil Allea


Setibanya di rumah Allea langsung masuk ke dalam kamarnya di susul Max, saat Allea hendak masuk ke kamar mandi Max menarik tangan Allea


"Ngapain kamu kesana? Vero ngajak kamu? "


"Aku yang harusnya tanya kamu ngapain disana? kamu bohong lagi sama aku? apa tempat seperti itu pantas di buat untuk menyelesaikan sebuah pekerjaan? " bentak Max


"Turunkan nada bicara kamu, Aku suami kamu hargai aku jangan gunakan nada tinggi saat bicara" Max menekankan kata katanya


"Aku capek Max, capek seharian tenangin Michelle yang tantrum nyariin papanya, tapi kamu malah santai santai disana lihat cewek cewek seksi" Allea tidak menurunkan nada bicaranya sedikitpun


"Jangan sembarangan bicara, aku disana ngurusin kerjaan.. aku kerja buat kalian apa pantas aku di curigai seperti ini? " Tanya Max


"Kerja? kerja apa disana? apa bahas kerjaan dengan musik keras dan cewek cewek wara wiri hanya menggunakan b*k*n* bisa konsentrasi kerja? hebat juga kerja kalian"


"Kalo gak ada kerjaan aku juga males kesana, aku tanya kenapa kamu ada disana? kamu lagi hamil datang ke tempat seperti itu dengan laki-laki lain apa tanggapan orang kalo mereka liat kamu? " gerutu Max


"Dan apa tanggapan orang tentang kamu? Aku denger Bisma ngomong apa di kantor aku kira kamu emang bener-bener gak mau datang tapi aku salah"


"Sekarang terserah kamu mau ngapain, mau kemana aja mau main sama cewek mana pun atau tidur sama cewek mana pun aku gak peduli, aku capek aku ngantuk" Allea menepis tangan Max dan masuk ke kamar mandi


Baru saja Allea melangkahkan kakinya Max kembali menarik tangan Allea kebelakang, Allea berbalik menatap dingin wajah suaminya


"Aku capek kerja, aku susah susah dapetin kontrak ini supaya hidup kalian terjamin, aku berusaha sebisa aku agar hidup kalian terjamin sampe sampe jarang tidur tapi ini balasan kamu? kamu selalu curiga curiga dan curiga, kamu pikir aku kerja gak capek?" Max yang sedang di pengaruhi emosi juga kelelahan melempar map kontrak itu ke tubuh Allea


"Cih... " Allea berdecih dengan senyum mirisnya dan mata berkaca kaca seraya berbalik pergi masuk dan mengunci pintu kamar mandinya


"Gue juga bisa kerja sendiri kalo gak punya anak setiap tahun" gerutu Allea mengusap air matanya


"Allea.. buka pintunya" Max merasa bersalah mengetuk pintu kamar mandi


"Aku gak bermaksud gitu, Allea.. sayang buka pintunya"


Terdengar gemericik suara air pertanda Allea sudah mulai mandi namun perkiraan Max salah, Allea sengaja mengalirkan air untuk menyamarkan suara tangisannya


"Gue bisa kerja setelah anak ini lahir dan gue gak akan dengerin lagi kata kata dia yang larang gue buat kerja, dia pikir diem di rumah gak capek apa? " Allea memberangus kesal, bibirnya bergetar karena menangis


Allea keluar dari kamar mandi hanya menggunakan bathrobe, sementara Max berada di balkon bertelanjang dada menghisap rokoknya


Melihat sang istri baru saja keluar Max mematikan rokoknya dan memeluknya dari belakang seraya mengecup tengkuk juga bahu sang istri, Allea melepaskan tangan Max yang melingkar di perutnya namun dia kembali memeluknya


"Maaf.. maafin aku, aku gak bermaksud nyakitin kamu" ucap Max


"Aku yang harusnya minta maaf, aku udah buat kamu bekerja keras cuma buat aku dan anak anak hidup enak " Max tersenyum mencium pipi sang istri merasa lega sepertinya Allea sudah memahami maksudnya, namun perkataan Allea selanjutnya membuatnya cengo


"Kamu bisa sedikit santai setelah aku melahirkan, aku akan kembali kerja buat menghidupi aku dan anak anakku" Ucap Allea


"Hei.. kamu ngomong apa sih? Aku gak akan izinin kamu kerja" Max membalikkan tubuh Allea menyentuh kedua lengannya


"Aku selama ini terlalu santai diem di rumah, Gak mikirin uang belanja, susu anak popok anak dan kebutuhan lainnya, aku minta maaf membebani kamu selama ini"


"Aku gak merasa terbebani sama sekali, kalian tanggung jawab aku, Maafin kata kata aku.. aku cuma lagi emosi" Max mengangkat dagu Allea mata mereka saling menatap


"Aku... " Ucapan Allea terhenti saat Max mencium bibirnya


"Aku kedinginan mau pake baju dulu" Allea sedikit mendorong tubuh Max menjauh


"Sayang.. " Max mengikuti langkah Allea menuju ruang ganti


"Aku ngantuk, aku mau tidur" Max hanya menatap istrinya yang berganti baju di hadapannya lalu melewatinya begitu saja


Max ikut berbaring di belakang Allea memeluknya serta mencium tengkuk dan bahu Allea juga Lengannya, Allea tahu suaminya sedang menginginkannya


"Max cukup.. mandi dan tidur, aku mau tidur" Max membalikkan tubuh Allea jadi terlentang


Max mengungkungnya bagian kepalanya Max berada di perut Allea, Max seolah sedang bicara dengan bayi di dalam perut Allea yang sering merespon dengan menendang


Allea memejamkan matanya pura pura tidur agar Max tidak mengganggunya, Max mengusap serta mencium Perut Allea dan menempelkan pipinya ketika merasakan perut Allea bergerak


"Papa kangen sayang tapi mamanya gak mau, Maafin papa tadi bikin kamu sedih ya? papa gak bermaksud ngomong gitu nak, jangankan cuma waktu tidur seluruh nyawa papa akan papa pertaruhkan buat kalian, maafin papa ya" Max kembali mencium perut Allea


Allea sebenarnya juga merasa bersalah pada Max ternyata Max benar-benar membahas pekerjaan disana, namun karena gengsinya dia enggan mengakui itu