
Danendra membawa Allea hingga ke belakang acara, dia menarik tangan Allea kasar karena merasa kesal dengan tindakan Max yang seolah sangat peduli pada Allea
"Kamu kenapa bisa sama dia? " tanya Danendra
"Dia jemput aku" jawab Allea santai
"Terus kenapa kamu mau? ini pasti dari dia kan dan kado itu pasti dia juga yang beli" tanya Danendra penuh penekanan
"Iya, aku udah nolak tapi dia maksa soal kado aku gak tau dia beliin itu" jawabnya jujur
"Kalo dia maksa kenapa kamu gak lebih maksa tolak dia? apa kalo dia maksa buat tidur sama kamu, kamu juga pasrah aja gitu? '' tanpa sadar Danendra bicara seperti itu
" Kamu anggap aku rendah sama kayak ayah kamu, Aku percaya Max lebih berhati nurani di banding kamu" Allea mendorong tubuh Danendra dari hadapannya dan pergi
"Allea bukan gitu maksud aku, Allea tunggu" sampai di pesta Danendra masih mengejar allea meraih tangan Allea dan menahannya
"Kita putus aja, aku emang gak pernah cocok sama kamu" Allea menepis tangan Danendra lalu benar benar pergi
"Kamu gak bisa putusin aku gitu aja" teriak Danendra
Kejadian itu sontak membuat mereka menjadi tontonan, Cindy merasa di acaranya malah Allea seperti pemeran utama yang selalu menjadi pusat perhatian menjadi geram terlebih Cindy menganggap Allea sok kecantikan meminta putus dari Danendra
Allea yang malu menundukkan wajahnya desas desus kembali terdengar saat Allea melewati mereka, Danendra masih berniat mengejar Allea namun saat Allea melewati Cindy dia sengaja menjegal kaki Allea agar tercebur ke kolam di sampingnya... dan
Byuuuurrrr
Allea memiliki refleks yang bagus saat akan terjatuh tangannya meraih tangan Cindy hingga dia ikut jatuh kebawah, tiga pria terjun begitu saja setelah melihat Allea yang tidak bisa berenang kewalahan hingga menghilang di dalam air
Setelah ketiganya melepas jas lalu masuk ke dalam kolam, Cindy yang melihat Danendra masuk pura pura tidak bisa berenang melambaikan tangannya dan ikut menenggelamkan diri
Perhatian Sam, Danendra dan Max hanya tertuju pada Allea, karena posisi Max lebih dekat dia berhasil meraih tubuh Allea dan mengangkatnya ke atas. Allea pingsan dan Max berusaha memberikan pertolongan pertama
Tidak ada reaksi juga Max menggelengkan kepalanya seraya mengucapkan kata maaf lalu memberikan nafas buatan, Danendra kembali terpancing emosi dan menarik Max saat dia baru melepaskan Allea
Nahasnya Cindy kedua pria itu kembali naik begitu saja setelah melihat Allea sudah diangkat oleh Max mau tidak mau dia kembali muncul dari air membuatnya jadi bahan tertawaan karena aktingnya tidak dapat menarik perhatian keduanya
Danendra menarik bagian kerah belakang Max namun Allea terbatuk batuk refleks memegang tangan Max, kedua orang tua Max dan Cindy sampai menghampiri mereka melihat keadaan Allea
"Max gue mau pulang" lirih Allea setelah membuka matanya dengan wajah memerah menahan tangis
Tanpa bicara Max mengenakan jasnya pada Allea dan mengangkat tubuhnya pergi dari sana, Danendra berusaha mengejar namun tangannya di tahan oleh bundanya
"Biarkan Allea tenang dulu, dia sepertinya tertekan" bunda sangat hafal dengan sifat Danendra yang akan kembali menyerang Max dan Allea dengan kata kata tidak mengenakan
Acara menjadi kacau teman teman sekolah membicarakan tentang mereka berempat, mereka juga melihat jelas Cindy sengaja mengangkat sebelah kakinya untuk menjatuhkan Allea mereka juga bisa menilai Cindy yang penuh siasat saat berada di kolam Pura pura tenggelam
"Kalian yang ngomongin gue mending pergi.. pergi.. gue gak butuh kalian" teriak Cindy marah marah sampai menumpahkan satu meja penuh makanan
Teman temannya memilih bubar begitu pun keluarga Danendra, bunda semakin bisa melihat bahwa anak sahabat suaminya ini memiliki perangai yang buruk, dia semakin tidak setuju untuk menjodohkan Danendra dengannya
"Kamu lihat sendiri yah sikapnya sangat buruk" ucap Lydia ketika berada di dalam mobil
"Dia hanya sedang kesal, siapa yang tidak kesal jika acaranya di hancurkan seseorang" Damian mengelak
"Tapi dia yang hancurkan pestanya sendiri, begitu jahat berniat membuat orang lain jatuh" Lydia juga melihat Cindy ingin menjatuhkan Allea
"Dia cuma cemburu... "
"Bun udahlah jangan bahas dia sama ayah, kayaknya ayah sama Cindy cocok suruh ayah aja yang di jodohin sama dia" sambar Danendra dari kursi belakang
"Anak kurang ajar, kamu berani sekarang" bentak Damian
"Danendra memang benar kamu saja yang Terima perjodohan itu, Ayo sayang kita pulang" Lydia membuka pintu mobil begitu pun Danendra memilih pulang berdua menaiki taksi
Setelah pergi dari sana Allea menangis menatap ke luar jendela meski begitu Max tau sebenanya dia sedang menangis lalu menghentikan mobilnya
"Kenapa? " tanya Max
"Sini" Max menarik Allea kedalam pelukannya dan benar saja Allea kembali menagis sesegukan, Max hanya mengusap punggung Allea tanpa bicara sepatah kata pun
Max bisa sangat pengertian seolah sudah mengerti bahwa wanita hanya perlu tempat menumpahkan keluh kesahnya tanpa memberikan solusi atau kata menenangkan lainnya, merasa isak tangisnya mulai mereda Max melonggarkan pelukannya
"Pulang sekarang? " tanya Max dan di angguki Allea
"Mau cerita? " lanjutnya lagi dan Allea menggeleng
"Kita cari Makan dulu ya, tapi kita beli baju dulu gue kedinginan" Ucapnya masih fokus menyetir
Setelah mendapatkan baju ganti untuk keduanya Max membawa Allea makan di mall tersebut namun Allea menolak dia ingin makan di tempat lain saja, Max hanya menuruti keinginan Allea dan mengikuti petunjuk yang di berikan Allea
"Kenapa makan disini? " tanya Max
"Enak aja sepi, gue juga udah banyak abisin uang lo mana tega gue makan di tempat mewah"
"Cewek lain tuh seneng di ajak makan di restauran mahal lo malah nolak"
"Gue bukan mereka, yuk turun jangan bilang lo gak bisa makan di tempat kayak gini? " tanya Allea
"Gak, selow aja gue bisa makan apa aja kok" jawab Max
Mereka memesan makanan dan duduk jauh dari orang orang, Allea menatap lampu lampu terang disebrang sana dia berkali kali menghembuskan Nafas kasar
"Lo beruntung Max" ucap Allea tiba tiba membuat Max berhenti menyuapkan makanan ke mulutnya
"Kenapa? "
"Lo kaya, orang tua masih bisa sama lo dan ahh pokoknya lo beruntung" ucapnya
"Orang hanya bisa menebak nebak kehidupan orang lain Allea, terkadang melihat hidup si A si B seperti baik baik aja senang senang aja padahal mereka juga punya masalah cuma kita gak tau aja" jawab Max
"Menurut lo apa hidup gue menyenangkan? " tanya Allea
"Tentu aja karena gue selalu bisa liat lo senyum, bahagia, cantik" godanya
"Gue serius" gerutu Allea
"Gue juga serius, dengan melihat lo setiap hari yang semangat dan selalu tertawa orang akan mengira lo baik baik aja dan mereka yang punya masalah tentu aja akan merasa 'ahh sepertinya hidup Allea menyenangkan ' pasti gitu" Max seolah meniru ucapan orang lain
"Mana ada begitu, lo ngarang" Allea sedikit tersenyum
"Tapi bener itu yang gue rasain waktu pertama ketemu sama lo, gue kagum sama lo yang selalu mempunyai respect sama orang lain tapi lo gak pernah tunjukin ke orang lain bahwa lo juga butuh orang respect sama lo" mendengar ucapan Max Allea mendongak
"Gue pinjem bahu lo boleh? " tanya Allea
Max tidak menjawab dia menggeser piring piring dari hadapan mereka lalu menarik Allea kedalam dekapannya, berdua menatap gedung gedung dengan lampu menyala di sebrang sana. Allea menyandarkan kepalanya di bahu Max dan tangan Max memeluk tubuh Allea
" Lo punya masalah apa sih? " tanya Max
''Gue gak bisa cerita sekarang, gue cuma butuh tenang saat ini''
Max tidak meneruskan pertanyaannya dia mengelus lengan dan bahu Allea dan gadis itu memeluk tubuh Max dan menyembunyikan wajahnya di ketiak Max dengan nyaman membuat Max sempat terkejut namun tidak menunjukkan reaksi apapun
"Udah malem pulang kita pulang" ucap Max namun tidak ada jawaban dari Allea
"Ya ampun, gue ngerasa jadi ibu ibu yang ngelonin anaknya" gerutu Max saat mendengar dengkuran halus Allea yang tertidur
Dia membawa Allea masuk ke mobilnya setelah mendudukkan Allea dan dia duduk di kursi kemudian Max menatap wajah Allea lalu tersenyum merapikan anak rambut Allea kebelakang telinganya
"Lo hal terbaik yang hadir di hidup gue'' ucap Max lalu menjalankan mobilnya mengantar Allea pulang