
Max memeluk tubuh istrinya di bawah guyuran shower dia mengecup pundak istrinya, rasa bersalahnya semakin dia rasakan ketika bayinya menendang perut Allea
"Apa yang aku lakukan? Kalau Allea tahu dia akan terluka, kenapa aku se brengsek ini" Batin Max dia tidak henti hentinya mengecup bahu istrinya seraya mengusap perutnya yang bergerak gerak kecil
Max memakaikan Allea handuk lalu membawanya duduk di hadapan meja rias, Max menyisir rambut Allea juga mengeringkan rambutnya Allea tidak bicara apapun dia hanya diam membiarkan suaminya
"Sayang bicara aku gak suka kamu diam begini" Ucap Max
"Aku tahu kamu sering bohong selama ini, kamu bilang lembur tapi sekretaris kamu bilang kamu udah pulang.. Aku gak tahu kamu pergi kemana sama siapa aku cuma mencoba percaya sama kamu" Sekalinya Allea bicara malah membuat Max bungkam
"Aku nemu bill restoran mewah, aku pernah lihat kamu makan berdua sama cewek, aku pernah lihat kamu diam aja waktu kamu di pegang pegang, aku merasa sifat Alexander masih melekat di diri kamu"
"Aku tahu tapi aku diam sampai hari ini seseorang buat aku sadar, ternyata aku memang udah gak menarik lagi, aku gendut, aku gak terurus, aku semakin cerewet aku gak bisa ngurus kamu dengan baik karena aku sibuk dengan anak anak" Mendengar semua hal yang di katakan sang istri membuatnya tidak tahan lagi
Max menangkup wajah Allea mencium seluruh wajahnya lalu bersimpuh meletakkan kepalanya di pangkuan Allea, Allea hanya memainkan kukunya dia tidak menyentuh suaminya sama sekali seperti biasanya
"Maafin aku.. Maaf selama ini aku gak pernah jujur sama kamu, maafin aku yang gak bisa jaga perasaan kamu, aku memang egois aku hanya mementingkan egoku sendiri" Suara Max memberat dadanya serasa sesak mendengar perkataan istrinya
"Kamu gak perlu minta maaf, aku harusnya yang minta maaf gak bisa mengerti kamu.. Bukannya hal yang wajar kalau seorang pria yang punya banyak uang memang selalu mempunyai banyak wanita? "
"Sayang jangan bicara seperti itu, aku salah aku minta maaf tapi sumpah Demi apapun aku gak punya wanita lain selain kamu" Max menahan tangisnya dia benar-benar merasa bersalah
"Akkh.. Sakit" Allea meremas ujung handuknya meringis kesakitan
"Sayang.. Kenapa? Sayang mana yang sakit? " Max khawatir segera membantu Allea berdiri untuk memindahkannya ke ranjang
"Sakit.. Aaaakkhh " Ketika Allea berdiri cairan mengalir dari kakinya bercampur darah
"Sayang.. Tenang tarik nafas.. Buang" Setelah Allea merasa tenang Max memakaikannya baju lalu menggendongnya ke mobil, seisi rumah ikut panik melihat Allea kesakitan terlebih lagi anak anaknya yang menangis tidak tega melihat ibu mereka
"Tuan.. Apa tuan akan ke rumah sakit memakai handuk? " Tanya bibi, Max baru sadar dia belum berpakaian lalu kembali berlari ke kamarnya
"Bi.. Sus.. Titip anak anak, kalian jangan nakal ya" Max segera masuk dan membawa mobilnya keluar dari halaman rumah
"Tuan panik banget sampe lupa pake baju" Bibi dan suster menggeleng melihat kelakuan tuannya
...🥝🥝🥝🥝🥝🥝...
Sesampainya di rumah sakit Allea di tangani oleh Ririn sementara Max mendampingi, di luar Gibran juga orang tua Max sudah menunggu dengan rasa cemas
"Kamu keluar aja aku mau di temenin bunda" Lirih Allea
"Gak.. Aku gak mau keluar"
"Ma.. Aku gak mau dia ada disini" Lirih Allea
"Kenapa sayang? Dia suami kamu, apa kalian ada masalah? "
"Ma.. " Allea kesakitan dia memilih menggenggam tangan Ririn
"Keluar dulu ya.. Ini buat kebaikan Allea dan bayinya juga "
"Gak bisa ma.. Allea istri aku kenapa aku harus keluar? " Protes Max
"Allea gak akan tenang, kalian bisa selesaikan masalah kalian nanti tolong kali ini dengarkan mama" Dengan berat hati Max keluar dan di gantikan dengan Lydia
Max duduk dengan menopang tangannya di kening dia terisak mengingat Allea, dia benar-benar bodoh Max menyesal karena telah berubah dan membuat Allea terluka
"Kenapa kamu menangis? Bukannya kamu pernah mendampingi istrimu melahirkan?"Tanya Gibran
" Kenapa juga kamu malah menyuruh bunda menggantikanmu? " Tanya Damian
"Pasti ada yang tidak beres diantara mereka" Ucap Gibran
Tidak lama setelah itu terdengar suara bayi menangis kencang, Max langsung terbangun dari duduknya ketika mendengar suara tangisan bayinya
"Sus bagaimana keadaan keduanya? " Tanya Max pada suster yang keluar buru buru
"Masih dalam penanganan" Suster berjalan terburu buru membuat Max khawatir
"Ada apa ini? " Max berniat menyerobot masuk namun Gibran menahannya
"Kamu mau kemana? Kamu mau di usir? Sabar dulu lah" Suster berlari kembali ke dalam sepertinya di dalam terjadi hal yang gawat
"Yah aku harus memastikan keadaan Allea baik baik aja"
"Max kamu harus cari pendonor darah untuk Allea stok disini habis, keadannya memburuk" Ucap Ririn
"Apa? " Max hendak menyerobot masuk namun dia cegah
"Cepat cari donor darah untuk Allea keadaannya semakin memburuk dia kehilangan banyak darah"
"Aku saja.. Aku ayahnya" Ucap Gibran
"Kamu hipertensi gak bisa jadi pendonor"
"Gak apa apa jangankan darah nyawa aku kasih buat Allea" Ucap Gibran berusaha menahan tangisnya
"Tidak bisa itu peraturan rumah sakit, Max sekarang pergi cari di bank darah" Tanpa bertanya lagi Max berlari keluar dengan air mata yang terus mengalir tidak peduli dengan tatapan orang-orang
Tubuhnya yang kekar menangis keluar dari rumah sakit membuatnya jadi pusat perhatian semua orang, Max mencari ke beberapa bank darah namun tidak tersedia golongan darah O-
"Sial.. " Teriak Max di mobilnya, Damian juga ikut mencarikan donor darah untuk Allea namun belum menemukannya
Ketika Max melanjutkan perjalanannya Lydia menelpon memberitahu agar Max segera kembali, tanpa mendengarkan perkataan Lydia lebih lanjut Max mematikan teleponnya dan segera pergi kembali ke rumah sakit
Di depan pintu ruangan bersalin Max tidak melihat ayah dan ibunya namun dia mendengar dia suster yang sedang membicarakan tentang pasiennya
"Kasihan ya dia kehabisan darah gak lama setelah itu bayinya juga ikut meninggal"
"Iya.. Mana suaminya lagi cari donor darah lagi, dia pasti terpukul banget" Keduanya bicara seraya keluar dari ruang bersalin
"Dimana sekarang pasien itu Sus? " Tanya Max dia sudah tidak bisa membendung air matanya
"Tuan suaminya? "
"Cepat katakan dimana? " Bentak Max
"Tadi sempat di bawa ke ruang anggrek tuan lalu tidak tertolong" Max berlari mencari ruangan tersebut
Jasad seorang wanita di tutupi kain putih dengan jasad bayi kecil di sampingnya, Max menangis memeluk jasad tersebut dia tidak kuasa untuk membuka penutup kainnya
Cukup lama dia terisak mengucapkan semua permintaan maafnya, Max benar-benar merasa bersalah pada Allea
Saat Max masih terisak dengan melanjutkan kata katanya seseorang menepuk pundaknya, Max hanya menggerakkan bahunya tanda tidak ingin di ganggu
Seorang laki laki menangis berdiri di samping Max, menyadari kehadiran orang lain Max berdiri menatap pria yang sedang berdiri menangis serta suster yang bersamanya
"Maaf tuan.. Anda kerabat mereka? " Tanya suster
Max mengerjapkan matanya lalu tersadar harusnya jika itu Allea orang tuanya ada disana juga, Max membuka kain penutup wajahnya membuatnya membulatkan mata
"Maaf salah rasa ruangan" Max bergegas keluar dengan rasa malu, Max menelpon Lydia barulah dia bisa menemukan ruangan Allea
"Kamu dari mana aja? " Tanya Lydia
"Gak mungkin kan harus terus terang kalau aku salah ruangan dan menangis disana " Batin Max
"Sana temui istrimu, anakmu sudah di adzan'in sama ayah mertuamu kamu sih lama" Gerutu Lydia
Tanpa menjawab perkataan Lydia Max segera masuk, di dalam sudah ada Vero yang sedang mengobrol dengan Allea
"Vero ngapain disini? " Tanya Max
"Harusnya kamu berterima kasih Vero sudah mendonorkan darahnya untuk Allea" Jawab Gibran
"Kamu gak apa apa? Masih sakit? " Tanya Max
"Le.. Gue duluan ya udah ada janji sama temen" Ucap Vero
"Hati hati kak, makasih udah nolongin" Jawab Allea tersenyum manis
"Sayang beri asi dulu, mama sama ayah tunggu di luar" Ririn memberikan bayinya pada Allea lalu keluar, sebelum keluar Ririn mengusap punggung Max dia tahu anak dan menantunya sedang bertengkar
"Sayang anaknya laki-laki atau perempuan? " Tanya Max seraya ikut duduk di sampingnya
"Sayang.. Kamu boleh marahin aku tapi please jangan diem gini" Lanjut Max
"Bisa keluar gak? Aku mau tidur" Lirih Allea membuat Max semakin frustasi mengacak acak rambutnya