
Jenazah Jonathan di makamkan hari ini semua saudara kerabat serta temannya ikut menghadiri pemakaman, Allea dan Max pun ada di sana mendampingi Ririn yang tak henti hentinya menangis di pelukan Gibran
Semua orang sudah pergi hanya tinggal mereka berempat yang masih di sana Ririn seolah enggan meninggalkan pusara anaknya, Suara seorang gadis di belakang mereka membuat mereka semua menoleh
"Mama... " ucapnya sambil terisak
"Sayang kamu baru datang" Ririn bergegas menghampirinya saling memeluk dengan isak tangis
"Yuki" gumam Allea dan Max
"Maaf ma Yuki telat"
"Gak apa apa sayang mama tahu kamu harus cari tiket pesawat dulu" Setelah selesai dari pemakaman semua ikut pulang ke rumah Ririn yang berjarak dekat dengan rumah Allea
Allea sedang duduk memakan coklat yang dia bawa sedari tadi di meja makan sendiri karena Max Gibran serta Ririn sedang membahas soal surat administrasi rs yang ada di saku pria misterius itu, , Yuki menghampirinya dan duduk di sebelahnya
"Berapa bulan sekarang kandungan lo? " tanya Yuki
" 7 bulan " singkat Allea
"Gue mau minta maaf soal kejadian di villa waktu itu gue kepeleset"
"Gak apa apa udah lewat juga"
"Gue cuma mau menjalin hubungan baik sama lo sebentar lagi kita akan jadi sodara, gue harap hubungan kita akan jauh lebih baik setelah ini" ucap Yuki
"Ya.. semoga aja"
"Sayang ayo pulang" Max menghampiri Allea
Tatapan Yuki tidak bisa bohong dia mendambakan Max yang sekarang terlihat semakin tampan Allea bisa melihatnya sebagai seorang wanita
"Lo bilang mau hubungan kita lebih baik? " Yuki mengangguk
"Bisa di mulai dengan tidak menatap suami gue dengan tatapan lapar seperti itu, gue pulang dulu" ucap Allea menggandeng Max pergi dari sana
"Lo bisa sombong sekarang Allea, tunggu gue bermain kalo gue gak bisa dapetin Max siapa pun juga gak boleh"
...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...
Danendra membawa Cindy pulang ke rumah Damian tanpa Cindy tau kenapa Danendra membawanya kesana, di hadapkan dengan Damian dan Lydia membuat Cindy grogi
"Makan sayang jangan melamun" ucap Lydia
"I.. iya tan" Cindy tersenyum kikuk
"Ayah.. bunda aku mau katakan sesuatu" ucap Danendra tiba tiba
"Apa nak?" tanya Lydia
"Aku mau kalian lamar Cindy buat aku" mendengar hal itu sontak saja Cindy menjadi tersedak
"Uhuk.. uhuk.. " Danendra segera memberikannya segelas air
"Kamu bukannya dulu nolak di jodohkan dengan Cindy? " tanya Damian
"Iya itu dulu, setelah semua yang terjadi dan sekarang Cindy berubah drastis aku bisa melihat sisi lain dari Cindy dan aku menyukai itu" Lydia menatap keduanya bergantian Cindy terlihat masih terkejut
"Kalian udah pacaran? " tanya Lydia, di jawab dengan gelengan oleh keduanya
"Aku sama Cindy gak pacaran bun tapi aku yakin sama niat aku"
"Tanya dulu Cindy nya mau gak? kelihatannya Cindy kaget gitu" ucap Lydia
"Kamu kaget ya? " Tanya Danendra
"Aku.. aku cuma gak nyangka "
"Tapi mau kan? " tanya Danendra lagi dan Cindy pun mengangguk malu
"Kalian mau nikah muda seperti Max dan Allea? " tanya Damian membuat jantung Cindy semakin berdebar tangannya sudah berkeringat
Danendra menyadari Cindy ******* ***** tangannya di pinggiran kursi tandanya dia sedang grogi, Danendra menggenggam tangan Cindy membuatnya menoleh
"Gak ayah, aku cuma mau minta ayah bunda lamar Cindy kalo masalah pernikahan tunggu kami lulus dulu" Jawab Danendra membuat Cindy merasa lega
"Kamu setuju sayang? " tanya Lydia
"Aku gimana Danendra aja tante" jawab Cindy
"Kalo gitu nanti kalian atur waktunya kapan dan kami akan bersiap mengurus semuanya" ucok Damian
...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...
"Jangan terlalu dekat sama dia kamu mengerti? " ucap Max ketika baru saja sampai di rumah
"Dia bilang mau memperbaiki hubungan sebentar lagi kita akan jadi sodara lagi pula katanya waktu di villa dia gak sengaja kepeleset" Jawab Allea
"Waspada perlu" ucap Max sambil menyentil kening Allea
"Ada kamu aku pasti aman" ucap Allea seraya mengalungkan tangannya di leher Max
Mereka berciuman di dapur Allea mengalungkan tangannya sementara Max memeluk pinggangnya, bibi hanya lewat saat tidak sengaja melewati mereka baginya sudah hal biasa melihat kedua anak muda ini bermesraan dimana saja bahkan terkesan tidak tahu tempat
"Bikin orang pengen aja" gumam bibi dalam hati
...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...
"Kamu kenapa? " tanya Dito melihat Gita sepertinya sedang lelah
"Ternyata gak gampang ya belajar sambil momong anak" keluhnya
"Kan ada ibu sama bibi yang bantuin, masih capek ya? "
"Hmm.. tetep aja kadang Dirga gak mau diambil"
"Sabar ya sayang, demi kamu juga kan atau mau sekolahnya di undur aja? " tanya Dito
"Enggak jangan.. nanti aku makin ketinggalan jauh"
"Makasih sayang.. "
"Aku mandi dulu" Dito melepas pakaiannya dan hanya menggunakan celana pendek masuk ke dalam kamar mandi
"Sayang tunggu" Dito menghentikan langkahnya tepat di ambang pintu
"Kenapa? "
"Anter ke rumah Allea ya.. aku kangen sama dia" ucap Gita
"Ya.. nanti kita kesana setelah aku mandi" Setelah Dito selesai mandi Gita dan Dirga malah sudah berganti pakaian
"Semangat banget kayaknya" goda Dito
"Udah lama gak ketemu dia aku mau kasih kejutan, cepet pake bajunya"
Di perjalanan Gita meminta Dito menghentikan mobilnya di sebuah minimarket untuk membelikan beberapa ice cream dan cemilan kesukaannya, Sesampainya di rumah Allea kebetulan bibi baru pulang dari warung jadi tidak perlu mengetuk pintu
"Bumiiiiilllll" pekik Gita menenteng kantong berisi cemilan
"Aaaaa... mommy Dirga " pekik Allea kegirangan berdiri mendadak membuat Max yang tidur di pangkuannya terjatuh dari sofa
"Kebiasaan" ucap Max sambil menepuk bokong Allea
"Aww.. maaf sayang aku terlalu senang" jawab Allea mengusap bokongnya
"Sini sayang.. ayo ta biarin bapak bapak disini aja" ucap Allea seraya menggendong Dirga dan membawa Gita ke kamarnya
"Sayang jangan gendong Dirga berat" Max memperingati
"Bahkan berat Dirga gak sampe 20kg" jawab Allea
"Wanita selalu benar" ucap Dito sambil menepuk bahu Dito
Allea dan Gita mengobrol seru sambil mengajak Dirga bermain tawa mereka terdengar lepas tanpa beban, Max memandangi Allea yang sedang tertawa terlihat lucu dengan pipi gembul serta tubuh bulat
"Ngetawain apa sih? " tanya Max yang tiba tiba tidur di belakang Allea memeluk serta mengelus perutnya
"Kepo deh" jawab Allea sambil mencebikkan bibirnya
"Hei.. jagoan kenapa liat liat? " Max menggoda Dirga yang duduk berhadapan dengan Allea
Dirga menangis setelah di sapa Max seperti itu bukannya membujuknya Max malah semakin menggoda Dirga hingga tangisnya semakin kencang
"Anak gue takut sama lo" cicit Gita
"Aku akan memukul kepala botakmu" goda Max menatap tajam pada Dirga membuatnya menangis kembali
"Anak gue nangis kejer, muka lo kayak penculik kali" ucap Dito yang baru saja datang
"Mana ada penculik seganteng gue" jawabnya dengan percaya diri
"Isshh... pede banget" cicit Allea
"Emang aku ganteng kan? banyak cewek yang suka sama aku" Allea memutar tubuhnya menghadap Max dengan tatapan tajam
"Tapi hati aku cuma buat kamu" lanjutnya seraya tersenyum mencium bibir Allea sekilas
"Sayang kita pulang aja kayaknya ada yang mau bikin adek bayi lagi" sergah Dito
"Mana ada, jangan pulang dulu lah gue masih kangen sama Gita" rengek Allea
"Gue harus pulang dulu Le masih banyak tugas sekolah keburu malem, besok atau lusa gue kesini lagi"
"Ya udah deh.. tapi janji ya kesini lagi"
"Pasti"
Allea dan Max mengantar Gita dan Dito sampai kedepan rumah, Allea Melambaikan tangannya ketika mobil mulai bergerak menjauh dari halaman rumahnya
"Mereka udah pulang " bisik Max hingga bibirnya menyentuh telinga Allea, Allea bergidik bulu kuduknya meremang
"Kalo udah pulang emang kenapa? "
"Kamu ada pekerjaan sekarang" jawab Max
"Pekerjaan apa? " Max tidak menjawab dia memeluk Allea dari belakang, Allea melirik suaminya yang ada di belakangnya
.
.
Allea merebahkan kepalanya di dada Max dan saling memeluk
"Kalo suatu saat aku pergi jauh kamu mau cari laki-laki lain gak? " tanya Max
"Pertanyaan macam apa itu? "
"Ya aku cuma nanya"
"Selama kamu masih hidup aku gak akan cari laki-laki lain" jawab Allea
"Jadi kalo aku mati kamu cari laki-laki lain dong"
"Iihhh... kalo kamu mati aku ikut" jawab Allea sambil terkekeh
"Gak boleh, kamu harus urus anak anak kita dengan baik, kalo pun aku mati kamu harus cari laki-laki yang benar benar menyayangi kamu dan anak anak kita"
"Apaan sih yang ngomongin mati? aku gak mau kamu ninggalin aku, cuma kamu aku gak mau laki-laki lain" cicit Allea
"Bisa di percaya gak? " goda Max
"Jadi menurut kamu aku bohong? " pekik Allea mendongak menatap Max dengan bibir mengerucut
"Menggemaskan" Max membalik tubuh Allea, menciumnya lembut serta membuat tanda merah di sekitar lehernya