
...5 tahun kemudian...
"Mama aku mau pipis" Ucap seorang anak laki laki tampan pada ibunya
"Ta.. Tolong ya" Ucap Allea pada Gita dengan puppy eyes-nya
"Ya udah lo bawa barang barang ke mobil nih kuncinya, Ayo aunty antar sama kakak"
Allea kesulitan membawa koper serta tas kecil hingga tidak fokus pada jalan, kepalanya terantuk punggung keras seseorang membuatnya meringis memegangi keningnya
"Ahh.. Maaf saya tidak senga..ja" Allea menjeda perkataannya saat pria itu berbalik
Matanya berkaca-kaca dengan bibir bergetar dia mematung sejenak lalu tiba tiba dia memeluknya tanpa aba aba, pria yang hampir mengatakan sesuatu menjadi terdiam entah mengapa dia membalas pelukan Allea
"Pulang.. Kenapa kamu pergi sejauh ini? Aku gak bisa tidur nyenyak selama kamu pergi" Allea terisak di dalam pelukan pria tersebut
"Papa..... " Mendengar suara anak perempuan memanggilnya pria tersebut melepaskan pelukannya
"Maaf sepertinya anda salah orang" Ucapnya kemudian berbalik menghampiri wanita yang sedang menggendong anak kecil
Allea mematung terpaku melihat pemandangan di hadapannya dimana pria itu berdiri dengan seorang wanita yang menyerahkan anak kecil ke gendongannya, anak kecil tersebut mengintip di balik bahu ayahnya saat mereka mulai melangkah hanya terlihat bagian mata dari gadis kecil itu saja yang terlihat
Gadis kecil itu mengusap matanya seolah mengisyaratkan Allea agar jangan menangis, disaat Allea sedang terpaku menatap kepergian mereka Gita menepuk bahunya dari belakang
"Lo kenapa? " Tanya Gita
"Gue.. Gue liat dia disini ta" Lirih Allea kini beralih memeluk Gita
"Lo cuma halusinasi, lo sering ngalamin hal itu kan? Jangan di pikirin" Gita mengusap punggung Allea, kedua bocah laki laki hanya menatap kedua ibunya yang sedang berpelukan
"Gue gak halusinasi ta, ini nyata gue peluk dia suara dia juga nyata ta"
"Allea.. udah 4 Le udah 4 tahun dan lo masih berharap dia hidup? Lo udah liat sendiri kuburannya Le.. Please buka lembaran baru kasian Ello" Gita mencengkram kedua bahu Allea, dia merasa kesal dengan Allea yang berhalusinasi selama bertahun-tahun
"Mama... Are you okay? " Ello menggenggam tangan ibunya
"No problem baby.. I'm okay" Allea berlutut menyamakan tinggi dengan anaknya lalu memeluknya
"Kita pulang sekarang, kalian harus istirahat" Gita berjalan lebih dulu membawakan satu koper milik Allea
...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...
"Papa membuat tante lain menangis lagi? " Tanya gadis kecil itu
"Ellia.. Bukan papa yang buat tante itu menangis mungkin dia menangis karena terharu melihat wajah ganteng papa" Ucapnya lalu penuh dengan percaya diri
"Papa selalu membuat semua tante tante menangis, apa yang papa lakukan sampai mereka menangis seperti itu? " Celoteh nya
"Anak papa sekarang cerewet sekali.. Mau makan apa sekarang? "
"Papa selalu mengalihkan pembicaraan" Gadis kecil bernama Ellia itu merajuk melipat tangannya di dada seraya memalingkan wajahnya
"Bagaimana kalau kita beli ice cream? " Bujuknya
"Tidak"
"Bagaimana kalau kita pergi ke taman bermain? "
"Tidak"
"Papa ada perjalanan bisnis besok jadi Ellia mau apa? "
"Silahkan.. Ellia gak mau ngomong sama Papa"
"Ellia sayang... Ellia marah karena papa gak jawab pertanyaan Ellia apa karena papa selalu membuat tante tante menangis? " Tanyanya seraya memegang lembut bahu Ellia
"Ellia gak suka papa jadi jahat, jangan buat mereka menangis lagi"
"Oke.. Papa janji sekarang jangan tunjukkan wajah jelek ini lagi, senyum" Ellia tersenyum saat papanya tersenyum, menurutnya senyum papanya sangat berharga karena orang lain tidak pernah mendapatkan senyum dari pria ini selain dirinya
"Tuan mau di buatkan teh herbal sekarang? " Ucap wanita yang sedari tadi bersama mereka
"Tidak perlu.. Aku akan pergi mandi" Jawabnya dingin
"Iya sayang papa mandi dulu" Jawabnya seraya mengusap Kepala sang putri
"Sudah 4 tahun aku bekerja disini tapi tidak pernah mendapatkan senyum nya" Gumam sang baby sitter
"Sus.. Ellia mau susu"
"Baiklah anak baik tunggu disini"
...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...
"Makasih ta" Ucap Allea pada Gita yang memberinya air
"Jadi lo gak mau tinggal di rumah gue? " Tanya Gita
"Gue gak mau ngerepotin lo ta, paling gue ngerepotin kalo titip Ello aja disini" Jawabnya sambil nyengir
"Huh.. Padahal gue seneng kalo kalian tinggal disini"
"Nanti lo sama Dito keganggu bikin adek buat Dirga"
"Sialan lo.. Ehh btw lo gak ada niat buat nikah lagi gitu? " Tanya Gita
"Gak kepikiran, gue pengen besarin Ello sendiri dan lo tahu kenapa gue kabur kesini, karena bunda Lydia sama ayah Gibran gue tersayang selalu nyuruh gue nikah lagi" Jawab Allea
"Mereka sayang sama lo Le, mereka gak mau lo kesepian"
"Gue bisa beli berondong jadi gue gak kesepian" Kelakar Allea
"Gue serius markonah, bukannya kak Vero suka sama lo dari waktu kuliah? "
"Kalo gue mau sama Dito gimana? "
"Sialan lo.. Mau gue patahin tuh leher" Allea hanya tertawa menanggapi perkataan Gita
"Ngetawain apa sih? " Tanya Dito yang baru saja pulang dari kantor
"Ahh.. Selamat sore dokter Allea, selamat datang di kota ini" Ucap Dito
"Terimakasih untuk sambutannya tuan Dito yang terhormat" Allea menjabat tangan Dito
"Dasar gila" Cicit Gita kemudian mereka tertawa
Setelah beberapa waktu mereka berbincang Allea pamit untuk pulang kerumahnya
"Lo yakin Le? Gak besok aja? "
"Hello.. Gita rumah kita cuma terhalang 2 rumah gak usah lebay deh"
"Gue khawatir sama lo, apa ini balasannya? " Gita menatap Allea kesal
"Sahabatku yang baik.. Gue udah dewasa sekarang bahkan udah tua lo gak usah khawatirin gue" Allea merangkul bahu Gita
"Buat gue lo masih bayi kecil yang cengeng" Jawab Gita seraya menangkup wajah Allea
"Baby gak mungkin punya anak" Allea membalas mencubit kedua pipi Gita
"Dan seorang yang udah punya anak gak mungkin nangis sesenggukan di bandara "
"Hah.. Lo menang terserah lo mau bilang apa, gue titip Ello nginep disini dan mobil lo gue pinjem" Ucapnya tanpa basa basi lagi menyambar kunci mobil Gita lalu pergi
"Lihat temen kamu.. Menyebalkan" Gita menunjuk kearah Allea pergi
"Kamu khawatirin apa lagi tentang Allea? Dia udah kuat sekarang, jangan terlalu mengkhawatirkan dia itu justru akan menganggunya" Ucap Dito
"Kuat? Mana ada wanita kuat nangis sesenggukan di bandara, dia tadi halu lagi " Ucap Allea
"Sepertinya emang susah buat Allea move on dari Max"
"Itu dia.. Aku yakin sekarang dia lagi nangis di rumah barunya"
Benar saja ucapan Gita sesak di rumah baru saat Allea menyusun baju bajunya di lemari dia melihat foto Max dan juga foto anak anaknya membuatnya kini menangis tersedu sedu, di rumah itu hanya ada dia sendiri jadi Allea bisa dengan puas menangis kencang tanpa harus menahannya