My Trouble Maker Secret Husband

My Trouble Maker Secret Husband
Blokir nomor mantan



"Sayang.. aku gak bermaksud gitu" Max mengekori Allea sampai ke kamarnya


Allea enggan mendengar apapun dari Max dia masuk ke kamar mandi hendak mandi namun saat hendak menutup pintu tangan Max menahan pinggiran pintu, Allea berusaha mendorongnya agar Max tidak dapat masuk tanpa sadar tangan Max terjepit pintu


"Sayang.. kamu menjepit tanganku" ucap Max


"Kamu gak tau ya ini sakit" Max meringis


Mendengar ringisan suaminya Allea berbalik dan melepaskan pintunya, darah menetes dari keempat jari Max yang terjepit pintu di tengahnya. Allea segera meraih tangan tersebut dia benar benar merasa bersalah


"Maaf Max.. aku.. aku minta maaf" ucap Allea dengan mata berkaca kaca


Max berbalik menuju ranjang kini Allea yang mengekorinya, Max membersihkan darah di tangannya dengan tisu namun darah tidak berhenti menetes. Allea pergi sejenak lalu kembali dengan kotak p3k di tangannya


"Maafin aku.. aku gak bermaksud melukai kamu" Allea berlutut di hadapan Max mulai mengobati lukanya dan membalutnya


"Hei.. kenapa kamu nangis? " tanya Max ketika melihat Allea mengobatinya sambil menangis


"Maafin aku.. aku gak sengaja" lirih nya


Setelah tangannya di perban Max menuntun tangan Allea untuk duduk di pangkuannya, Allea menurut dia duduk disana


"Kamu masih marah? " tanya Max, Allea hanya menggeleng


"Kalo gitu cium aku" ucap Max, Allea juga menggeleng


"Kenapa kamu masih berhubungan sama Arabella? " tanya Allea


"Kapan sayang? aku gak pernah berhubungan dengan Arabella"


"Kamu masih punya kontaknya, dia masih suka nelepon kamu"


"Kapan? aku gak pernah jawab telepon dia" tanya Max


"Aku yang selalu jawab"


"Kalo gitu kenapa harus jadi masalah? aku gak pernah berhubungan apapun sama dia"


"Intinya kamu masih punya nomor teleponnya" jawab Allea kini dia kembali merajuk


"Apa artinya sebuah nomor sayang? kamu juga punya nomor cowok lain tapi aku gak marah"


"Aku cuma punya nomor telepon, empat sahabat aku, Danendra sama kamu"


"Mereka kan juga cowok"


"Tapi mereka gak pernah gangguin aku, gak seperti cewek cewek yang selalu gangguin kamu, mereka ngambil nomor kamu dari grup sekolah sering chat kamu gak jelas telepon kamu aku gak suka" Allea bangun dari pangkuan Max hendak pergi ke kamar mandi


"Sayang.. kamu boleh blokir nomor yang menurut kamu gak penting, Atau kamu boleh pegang handphone aku" Max kembali menarik Allea ke pangkuannya


"Bener? "


"Ya sayang.. yang penting kamu senang" Senyum terbit di wajah Allea


"Kalo gitu aku baru suka" senyum Allea mengembang mengalungkan tangannya di leher Max


"Ya ampun.. cuma masalah gitu doang harusnya kamu langsung ngomong aja gak perlu marah marah gitu"


" Aku takut kamu belain dia" lirih Allea


"Menggemaskan" Max mencium bibir Allea, tangannya mulai bergerak di balik kaosnya yang basah


"Jangan mulai lagi" ucap Allea menahan pergerakan tangan Max


"Kenapa? sekali lagi ya" rengek Max manja


"Tangan kamu lagi sakit"


"Itu bukan masalah" Max menjawab alasan Allea


"Aku kedinginan"


"Nanti akan gerah sayang" Max tidak mau menerima alasan Allea


"Tapi aku lapar"


"Baiklah.. ayo mandi setelah itu kita makan"


"Tapi janji jangan macam macam"


"Heem" Max dan Allea mandi bersama, Max memang tidak melakukannya tapi tetap saja tangan usilnya tidak bisa diam


...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...


Dua minggu libur telah berlalu hari ini mereka kembali sekolah untuk ujian akhir, Semua murid tampak serius mengikuti ujiannya


"Udah lama gak ke bengkel gimana kalo entar sore kita kesana" Ajak Dito


"Kenapa gak sekarang aja? " tanya Max


"Kita mau ke cafe dulu, nanti sore ajalah sekalian belajar bareng di sana"


"Oke.. kita ketemu disana" ucap Max


"Sayang.. " ucap Allea sambil bergelendotan di lengan Max


"Hai sayang.. udah selesai? " tanya Max


"Heem.. aku laper"


"Kalo gitu kita ikut ke cafe mereka aja" jawab Max


"Ya udah yok cabut" mereka bersama pergi ke cafe dengan mobil terpisah


Sesampainya di cafe Allea dan Max sedang makan sementara Keempat temannya masuk ke ruangan sedang menghitung penghasilan bulanan mereka, hal tak terduga terjadi membuat Allea menyimpan sendok di piringnya dengan wajah masam, Arabella dan Yuki tiba disana bersamaan dan dengan tidak tau malunya mereka ikut duduk di meja yang sama


"Kalian ngapain duduk disini? kan masih banyak tempat" Ketus Max


"Kita mau gabung, kenapa gak boleh? " ucap Arabella


"Sayang makannya masih mau nambah? " ucap Max dengan lembut


"Gak.. aku udah kenyang, pulang aja ya" jawab Allea


"Aku bayar dulu"


Yuki dan Arabella menatap Allea dengan sinis namun Allea tidak mau menanggapi mereka, Allea sengaja meletakkan handphonenya yang wallpapernya foto Max mencium pipi Allea


"Cih.. mau pamer? " sindir Arabella


"Gak tuh.. kenapa panas ya? " tanya Allea dengan nada meledek


"Cih... lo pikir lo doang, lo gak inget siapa gue? dia juga pernah melakukan semua hal yang dia lakuin sama lo" ucap Arabella


"Ohh.. ya? tapi itu masa lalu gue gak peduli yang terpenting sekarang dia milik gue dan gak pernah berpaling sama cewek lain bahkan hanya untuk melirik"


"Jangan terlalu percaya diri Allea, lo gak setiap saat ada di dekat Max" sergah Yuki


"Gue percaya sama dia, banyak cewek gatel tapi Max gak pernah peduliin mereka dia gak pernah berpaling, bukannya kalian tahu persis itu? " Allea menyindir keduanya


"Nih" Max baru saja kembali, dia memberikan sebuah ice cream pada Allea "


"Makasih" Allea menyambutnya dengan senang dan mulai memakannya


Max mengusap sisa ice cream yang ada di bibir Allea dengan ibu jarinya lalu dengan gemas Max menciumnya Arabella dan Yuki yang menjadi penonton berpikir ingin sekali memukul Allea


"Ayo pulang.. " ajak Max


"Kamu duluan, tolong bawa tas aku"


"Oke jangan lama" Allea hanya mengangguk


"Lo liat? itu yang dia gak lakuin sama lo kan? dia gak berani cium lo secara terang-terangan" ucap Allea


"Lo... " perkataan Arabella terhenti saat Allea menyergahnya


"Dan apa lo tau? dia begitu menggoda saat di ranjang apalagi dengan tetesan keringat.. ahh.. jadi pengen cepet pulang" Allea sengaja memanas manasi Yuki dan Arabella lalu pergi


"Dasar wanita murahan " teriak Arabella membuat semua pengunjung menatapnya


"Apa dia bener bener pernah tidur sama Max? " tanya Yuki


"Ya.. mereka tinggal berdua di apartemen Max, bahkan gue pernah pergoki mereka selesai mandi bersama, gue juga pernah telepon Max lo tau apa yang gue denger? " Yuki menggeleng


"Suara d*s*h*n mereka bersahutan, bahkan gue denger semua yang terjadi di sebrang telepon membuat gue hampir gila" lanjutnya


Yuki terperangah mendengar ucapan Arabella dia benar-benar tidak menyangka Allea yang terlihat polos melakukan hal semacam itu


"Kenapa lo gak rekam dan sebarkan? " tanya Yuki


"Gue gak sanggup kalo nama baik Max tercemar, gue udah laporin hal ini sama orang tua Max nyokap Max kelihatan syok banget"


"Lo tau nyokapnya Max? " tanya Yuki


"Gue gak tau cuma Max sering sebut nyokap Danendra dengan sebutan bunda, tapi menurut kabar Max di besarkan oleh orang tua Danendra karena orang tua Max masih kerabat mereka"


"Lo gak tau padahal lo mantannya? "


"Gue gak pernah tanya itu dulu, gue dulu gak terlalu peduli dengan kehidupannya sekarang dia punya Allea gue menyesal dulu sia-siakan dia" lirih Arabella dengan wajah menyesal