
"Anak anak besok sekolah mengadakan camping dengan kelas sebelah, ibu harap kalian semua ikut dan persiapkan semuanya sebelum berangkat" guru memberi pengumuman
"Baik bu" jawab semua murid
" Gimana Le lo ikut kan? "
"Pengen sih tapi gue tanya nenek dulu" jawab Allea
"Ya gak seru dong kalo lo gak ikut" ucap Bagas
"Kan harus pake uang guys belum tentu nenek gue punya uang, mana dadakan lagi" ucap Allea
" Udah udah gak usah di pikirin siapa tau ada keajaiban, mending sekarang ke kantin" ucap dito menarik tangan Desta dan Sandro
Mereka semua pergi ke kantin saat sedang makan Allea pergi ke toilet tapi sekarang di antar Gita dia tidak berani pergi ke toilet sendiri gara gara kejadian kemarin
Dito, Sandro, Desta dan Bagas sedang berdiskusi untuk membayar keperluan camping Allea mereka juga mengirim pesan pada Gita dan dia setuju
mereka berlima patungan, Sepulang sekolah Dito dan Bagas hendak membayar biaya transportasi untuk Allea tapi gurunya bilang sudah ada yang membayarnya
" Siapa yang bayar bu? " tanya Dito
"Dia suruh ibu jangan bilang bilang sama siapa pun" jawab gurunya
"Ya udah makasih bu"
Mereka kembali ketempat dimana teman temannya yang lain menunggu
"Gimana beres?" tanya Gita
"Udah ada yang bayar ***" ucap Bagas
"Masa sih? " Gita terheran heran
"Lo harusnya bersyukur jadi uang ini bisa buat keperluan dia yang lain "
Gita mengirim pesan pada Allea saat sedang si perjalanan mereka berniat ke rumah Allea untuk menjemput Allea berbelanja keperluan camping
Gita
" lo di rumahkan? gue otw kesitu sama bandit bandit"
Allea
"Iya kesini aja, nenek masak banyak kita makan sama sama"
Gita
"duuhh jadi gak enak ngerepotin"
Allea
"Bukannya lo demen ngerepotin 🤣"
Gita
"Iya sih wkwkwk"
.
.
"Assalamu'alaikum" ucap mereka serempak
"Waalaikum salam, ayo masuk" ajak Allea
"Sorry guys rumah gue gak mewah dan sempit" ucap Allea menyuguhkan minuman
"Rumahnya nyaman Lea bersih " Dito melihat sekeliling
"Ohh iya besok lo harus ikut camping" ucap Gita
"Gue gak ada duit guys" lirih Allea
"Uang transportasi sama sewa tenda udah ada yang bayar" ucap Bagas
"Loh kok bisa? kalian yang bayar? " tanya Allea terkejut
"Tadinya mau di bayar tapi udah ada yang bayar, jadi kita datang kesini mau ngajak lo belanja "
"Tapi gue gak bisa ganti cepet cepet uangnya" ucap Allea
"Ya ampun Allea kita gak minjemin ini buat lo dari kita" ucap Gita
"Tapi gue malu gue banyak nyusahin kalian" ucap Allea sambil menunduk
Gita memeluk Allea dan di ikuti temannya yang lain
mereka berpelukan bersama
nek Mar yang melihat itu terharu dia mengelap air matanya
dia bersyukur Allea dapat teman sebaik mereka
"Makasih guys kalian udah baik banget sama gue"
.
.
"Maaxx" sapa Allea Max menengok ke arah suara
"Apa? " tanya Max datar saat Allea menghampirinya
"Gabung sama mereka yuk" Allea menunjuk teman temannya yang melambaikan tangan
"Gak" singkat Max
Allea memaksa menarik tangan Max meski Max sudah menolak Teman temannya pura pura sibuk memilih barang saat mereka mendekat membuat Max mengerutkan dahinya
"Alat camping sebelah sana ini alat renang, apa kalian tidak punya mata? " ketus Max
"Ohh hhehe kita salah ayo guys kesana" Dito menarik semua temannya
"Makanya jangan galak galak mereka jadi takut
.
.
Lidya sedang duduk di teras rumah dengan secangkir teh di meja, Denendra baru saja pulang seperti biasa dia akan peluk cium bundanya itu Semua itu di lihat seseorang dari sebrang jalan dari dalam mobil setelah gerbang di tutup orang itu pergi
" Maxime gak ikut pulang sama kamu nak? " tanya bunda
"Ngapain bunda nanyain anak haram itu"
"Denendra bagaimana dia itu saudara kandung kamu, dia tidak minta di lahirkan seperti itu kelakuan orang tuanya yang haram bukan anaknya" bentak Lidya
"Terserah bunda emang selalu belain dia" Danendra masuk seraya membanting pintu
Lidya memijat keningnya dia tidak bisa membuat kedua anaknya itu akur, meskipun hati bunda hancur semenjak adanya Max tapi dia sangat menyayangi anak itu Dari kecil Max di rawat dengan baik sebelum Selvi kembali muncul memperkeruh suasana
Max yang awalnya hanya tau dia anak Lidya dan Damian setelah kedatangan Selvi Max jadi tahu dia adalah hasil hubungan gelap dari ayah dan ibu kandungnya yaitu Selvi sejak saat itu Max pergi dari rumah dan tinggal di bengkel yang dia bangun sedari lulus SMP
Sampai akhirnya ibu Damian yaitu Oma datang membeli rumah di kota itu untuk mengurus Max
Oma sangat menyayangi Max karena dia lebih dekat dengan Max sikap Max yang penurut dan pintar membuat Oma lebih menyayanginya di banding Danendra yang keras kepala dan suka berpura pura agar di kagumi banyak orang
"Hallo dimana nak? pulang kesini dulu ya " Lidya menelpon Max
"Iya nanti" ucap Max lalu mematikan teleponnya
.
.
"Pokoknya liat aja nanti si anak babu itu bakal gue kerjain" ucap Cindy menyeringai
"Jangan parah parah amat lah ngeri kalo beneran anak kenapa kenapa" ujar sonya sahabat Cindy
"Kalo lo gak mau ikutan mending keluar dari geng kita" ucap Cindy
Sonya hanya bisa menunduk menghela nafas
sebenarnya dia juga bukan dari kalangan orang kaya hanya dia pura pura kaya untuk bisa bergabung dengan geng Cindy ibunya pun hanya seorang penjual kue di pasar
.
.
Hari berganti malam motor Max terparkir di kediaman keluarga Damian, dia berjalan masuk di ruang keluarga sudah ada Lidya yang menyambut Max
"Sayang bunda kira kamu gak jadi dateng" Max menyalami Lidya
Seperti pada Danendra Lidya selalu peluk cium Max saat bertemu, Lidya menuntun Max keruang makan disana sudah ada Danendra dan Damian. makan malam berlangsung dengan hening tidak seperti keluarga pada umumnya yang penuh kehangatan
"Gimana sekolah kamu Maxime? " tanya Damian
"Gak gimana gimana" jawabnya datar
"Kalo di tanya jawab yang bener" Danendra menaruh sendok dengan keras
"Danendra " bentak Lidya
"Bunda emang selalu belain si anak haram"
"Danendra stop" bentak Lidya
Max mengepalkan tangannya dia melangkah menghampiri Lidya mengambil tangan Lidya lalu menciumnya
"Saya pulang dulu bunda, maaf sudah membuat keributan" ucap Max lalu bergegas pergi
"Maxime nak Maxime" panggil bunda tapi tidak di hiraukannya
Max pergi mengendarai motor dengan kecepatan tinggi, dia menuju sebuah danau tempat biasa dia menenangkan diri. dia duduk di tepi danau berteriak memaki kehidupannya sendiri
"ANAK HARAAAMMM HHAHA" kalimat terakhir yang Max teriakan dengan di akhiri tawa miris