
Hari ini Allea memaksa ayahnya untuk mengizinkannya sekolah, awalnya Gibran menolak karena mengkhawatirkan Allea tapi anaknya bersikeras ingin masuk sekolah karena ujian akhir sekolah sebentar lagi
Allea baru saja keluar dari kamar dia berpapasan dengan Cindy, Allea heran karena akhir akhir ini Cindy tidak lagi menyulitkan nya atau pun berbicara tajam dia lebih banyak diam
"Cindy mau berangkat sekolah? " tanya Allea
"Iya.. gue duluan ya" Jawabnya
"Tunggu.. kita barengan aja ayah anterin" ucap Allea
"Gak usah gue udah biasa naik bus"
"Ayah aku berangkat sama Cindy ya" Allea pamit pada Gibran melihat Cindy yang berjalan lebih dulu
"Ehh enggak nanti kamu kenapa napa" teriak Gibran saat Allea mulai menjauh tapi Allea tidak menggubrisnya dia mengikuti Cindy sampai naik Bus
"Lo udah lama sekolah naik bus? " tanya Allea duduk di samping Cindy
Awalnya Cindy tidak mau bicara dia hanya diam menatap keluar jendela, Allea tidak patah semangat dia terus bicara pada Cindy akhirnya kerja kerasnya membuahkan hasil
"Allea gue minta maaf" lirih Cindy
"Hah?.." Allea sampai terpaku mendengar Cindy meminta maaf
"Gue menyesal udah lakuin hal buruk sama lo, dari rasa iri gue sama lo yang pinter, cantik, mudah bergaul dan di senangi banyak cowok gue jadi jahat sama lo" ucapnya tanpa menoleh pada Allea
"Gue juga lupa diri waktu tau lo anak daddy karena gue cemburu, gue bener bener minta maaf" lanjutnya
"Gue juga minta maaf sama lo kalo omongan gue nyakitin perasaan lo" jawab Allea, akhirnya Cindy berani menatap Allea
Dengan senyum manis Allea merentangkan tangannya lalu membawa Cindy kedalam pelukannya, awalnya tangan Cindy hanya tergantung sampai akhirnya dia juga membalas pelukan Allea
"Bisakah kita jadi teman sekarang? " tanya Allea dan Cindy pun mengangguk
"Lo gak takut kalo gue cuma pura pura baik? " tanya Cindy
"Lo punya niat baik, untuk selebihnya itu urusan lo tapi gue yakin lo berubah sekarang"
.
.
Sesampainya di sekolah Allea berjalan kaki memasuki gerbang, tiba tiba tangannya di tarik seseorang membuatnya terkejut
"Kamu berangkat sama siapa tadi? aku jemput kamu gak ada" cecar Max
Allea melepaskan tangan Max yang memegangi tangannya lalu pergi begitu saja tanpa menjawab pertanyaannya, Max hanya mengekor di belakang Allea kemanapun dia pergi
Saat jam istirahat Allea tidak melihat keberadaan Max lagi dia berpikir mungkin Max sedang bersama Arabella, dia hanya mengaduk makanannya sambil melamun
"Makan Le, lo baru keluar rumah sakit" ucap Dito
"Gue gak laper to"
"Sabar Le gue tau ini berat buat lo, semua udah punya takdirnya masing masing" ucap Bagas mengusap punggung Allea
Saat masuk rumah sakit Allea mereka menjenguk Allea dan tidak sengaja mendengar dokter membicarakan sesuatu dengan Allea sebelum mereka masuk, akhirnya terpaksa Allea berkata jujur saat mereka mulai banyak bertanya
"Iya.. nanti bisa bikin lagi yang banyak" cicit Sandro langsung mendapat sikutan dari Dito
"Ehh.. sorry" ralatnya
"Gak apa apa" jawab Allea seraya tersenyum
"Woi.. woi.. liat tanding basket yok" ajak Desta yang baru saja datang
"Tanding kelas mana? " tanya Dito
"Kelas kita sama kelas sebelah katanya buat lomba minggu depan" jawab Desta
"Lo pada kesana aja gue males"
"Ahh.. jangan banyak alesan ayo ikut" terpaksa Allea ikut karena di tarik oleh teman temannya
Baru saja Allea duduk pertandingan istirahat sejenak, Max berjalan ke pinggir lapangan matanya menangkap sosok Allea yang sedang duduk di apit Dito dan Bagas
Max mengecup tangannya dan mengarahkannya pada Allea yang spontan memalingkan wajahnya dan malah penonton lain yang histeris, Max terus di abaikan dia membuat ulah mengangkat bajunya sampai dada membuat murid sekolah semakin histeris melihat otot otot itu menonjol
"Hayo lo.. noh ayang di liatin cewek lain" goda Dito
"Bodo amat mau dia telanjang juga gak apapa" jawab Allea seraya membuka tutup botolnya untuk minum
"Sebelum dia buka baju kayaknya lo harus kesana deh" ucap Dito
"Gak mau, bukannya udah biasa dia buka baju abis pertandingan? " jawab Allea cuek
"Ya..gak tau, lo yang paling tau dia kan? " ucap Dito
"Maksudnya? " ketika Allea menoleh wajah Dito menahan rasa ingin tertawa
"Ohh.. lo lagi nyindir gue? bahkan dia buka semuanya sebelum bertanding, puas lo" mendengar itu Dito tidak bisa menahan tawanya
"Allea liat" ucap Bagas seraya mencolek colek lengan Allea
Allea mengalihkan pandangannya ke depan lapangan benar saja Max membuka bajunya penonton pun mulai gelisah histeris memanggil dan memuja namanya, Allea mulai geram dia menaruh kasar botol minumnya ke tangan Dito
Ketika Allea turun dari kursi penonton dia juga melihat Arabella hendak menuju lapang basket membuatnya harus berlari kecil agar bisa mengejar Arabella, Allea menabrak bahu Arabella lalu mendekat kearah Max dengan geram dia mengambil handuk dan menutup bagian depan Max
Bugghh
Tangan Allea yang memegangi handuk dengan keras menempel di dada Max, Max terkekeh memajukan wajahnya mendekat kearah Allea
"Aku tau kamu gak akan tahan liat ini" bisiknya seraya menaik turunkan alisnya
Allea dengan malas mengangkat tangan Max agar memegang handuknya sendiri lalu beranjak dari sana, baru saja satu langkah Max menarik tangannya hingga masuk kedalam pelukannya
Penonton dan teman temannya di lapangan menyoraki Allea dan Max tentu saja membuat gadis itu malu dan berontak ingin di lepaskan, entah air dari mana yang Allea injak hingga dia terpeleset dan jatuh dengan Max menimpa tubuhnya
"Akkhh" Tangan besar Max melindungi punggung dan kepala Allea agar tidak terbentur,
"Wwoooaaa.. huuuuu.. " Teriakan semakin nyaring terdengar, Arabella mengepalkan tangannya pergi dari sana
"Tetap disini sampai pertandingan selesai atau aku cium sekarang dan kamu boleh pergi" ucap Max dengan senyum menawannya
"Aku pilih yang pertama, sekarang lepas" jawab Allea wajahnya terlihat tidak senang
"Oke" Max membawa tubuh Allea berdiri dengan tidak melepas pelukannya
"Gak tau malu" gerutu Allea duduk di bangku panjang menutup wajahnya karena malu
"Kalo malu pake ini" Ucap Max melempar handuknya menutupi kepala Allea lalu kembali bertanding
"Sumpah gue malu banget" gumam Allea
.
.
Selesai pertandingan Max tidak melepaskan Allea bahkan hendak membawanya ke ruang ganti, tangannya yang berat merangkul pundak Allea
"Jangan gini, malu di liatin orang"
"Dengan cara apapun aku akan buat kamu mau bicara sama aku" jawab Max
"Astaga apa itu? " Allea menunjuk sesuatu ke atas dan Max mengikuti arah pandang Allea
Ketika Max lengah Allea menginjak kakinya dan menggigit tangannya lalu kabur, Max tersenyum melihat kepergian Allea setidaknya hari ini dia bicara dengannya walau cuma sebentar