My Trouble Maker Secret Husband

My Trouble Maker Secret Husband
Hasil tes



...2 minggu kemudian...


Cindy yang sudah 2 minggu di skors sudah masuk sekolah kembali, Dan saat ini Gibran sedang berada di rumah sakit mengambil hasil tes DNA yang sudah dia lakukan tanpa sepengetahuan siapa pun


Tangannya gemetar membuka hasil tes tersebut, membacanya sangat cepat tidak sabaran mengetahui kebenarannya


Deg


Tubuhnya merosot kebawah terduduk dilantai menyandarkan tubuhnya di tembok dengan air mata yang deras mengalir menyesali semua yang terjadi, bayangan masa lalu kembali berputar dia menangis sejadi jadinya


"Maafkan ayah.. maafkan aku Naina"


Setelah merasa baikan Gibran bergegas ke sekolah Allea, tapi sesampainya disana hatinya bagai terkoyak saat melihat Allea di rundung oleh anak lain termasuk anaknya sendiri di gerbang sekolah


"Hey.. masa wali lo gak ada bapaknya? "


"Jangan jangan dia anak haram"


"Iya buah jatuh gak jauh dari pohonnya"


"Hhmm bener buktinya anaknya aja jago goda cowok"


"Biarpun gue lahir tanpa seorang ayah tapi gue bersyukur lahir dengan hati nurani gak kayak kalian, miris" jawab Allea berlalu menabrak bahu Cindy


"Dasar j*l*ng berani ya lo sekarang" Cindy menarik tangan Allea hendak menamparnya namun tangannya di tahan seseorang


"Cukup, belum puas lo bertiga di skors dia minggu? apa lo lo dan lo juga mau ikutan di skors? " ucap Dito yang baru saja datang bersama teman-temannya


"Are you okay? " tanya Gita memeluk Allea


"Ya I'm fine" lirih Allea


"Ada apa nih? " tanya Max


Melihat kedatangan Max mereka ketakutan dan langsung kabur kecuali Cindy yang tangannya masih di cengkraman Dito


"Nih.. cari ulah lagi" ujar Dito


"Lepasin tangan kotor lo " bentak Cindy


"Hhaha tangan lo kotor to" ledek Bagas


"Emang gue tadi abis cebok gak cuci tangan lagi, nih di kuku masih ada kuning kuning" jawab Dito mendapat gelak tawa dari teman temannya


"iiuuwwwhhh" Cindy merasa jijik menepis tangan Dito dan lari


"Thanks guys" ucap Allea


"Pulang yok ah" ajak Dito


"Kalian duluan aja, Allea pulang sama gue" ucap Danendra yang baru saja keluar


"Sama gue aja Lea" ujar Sam


Sementara Max hanya diam saja padahal Allea berharap Max mengajaknya pulang atau ada reaksi lain yang dia tunjukan, Allea menatap Max yang terlihat hanya diam biasa saja


"Ok.. kita duluan Lea atau lo mau ikut? " tanya Dito


"Gak, duluan aja gue nunggu ojek online" setelah mendapat jawaban Dito cs pergi meninggalkan Allea


"Ayo pulang" Ajak Danendra


"Sama Gue aja" ujar Sam


"Gak makasih, itu ojek gue udah nyampe duluan ya" ketika dia di ganggu Cindy Allea sempat memesan ojek online


"Jalan pak" ucap Allea


Max pergi seiring dengan perginya Allea, Max mengikuti Allea sampai kerumahnya sampai merasa Allea benar benar aman barulah Max pulang ke bengkelnya. Gibran mengikuti mereka sedari tadi ternyata apa yang selama ini dia sangkakan pada Allea salah dan membuatnya semakin merasa bersalah


"Bagaimana caranya agar kamu bisa memaafkan ayah" gumam Gibran


...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...


"Mau apa anda kemari? " tanya Max pada Selvi yang menunggunya di bengkel


"Max apa kamu tidak rindu mamamu? " dia balik bertanya


"Aku merindukanmu? bermimpi saja" Max melewatinya begitu saja masuk kedalam


"Max aku ibumu jangan durhaka" ucapnya seraya mengikuti Max


Max menghentikan langkah nya seketika berbalik menatap Selvi dingin


"Aku durhaka? kau ibu berdosa tidakkah ibuku ini merasa bersalah belasan tahun menelantarkan anakmu? "


"Aku ingin menebus dosaku itu sekarang, maafkan aku sayang"


"Minta maaf pada anakmu, pergilah" ucap Max lalu masuk ke dalam dan mengunci pintunya


"Maaf Bu, bos tidak mau bertemu silahkan pergi jangan buat dia semakin marah" ucap pekerja Max


Dia bekerja selama bengkel itu di bangun sudah tentu dia mengenali watak bosnya bila semakin marah maka bisa bisa bengkelnya akan hancur dan otomatis dia yang kewalahan membereskan semuanya


"Pergiiiii... aku bukan anakmu aku tidak terlahir dari rahim wanita licik sepertimu, Bawa anak kandungmu pergi dari rumah tuan Damian jika kau berani jangan pernah menemui aku lagi" bentak Max menutup pintu dengan kencang


Prang prang brak gedubrak


Suara dari dalam ruangan Max membuat pekerja itu mengacak rambutnya, dia terpaksa mendorong pelan tubuh Selvi agar menjauh dari sana


"Pergi bu saya mohon jangan buat bengkel ini jadi hancur" pekerja itu sampai mengatupkan tangannya di dada memohon


Selvi pergi begitu saja dia berpikir sejenak memahami apa yang di katakan Max


"Apa anak itu sudah tau? tapi kenapa mereka terlihat baik baik saja apa Max tidak mengatakannya pada keluarganya" gumamnya dalam hati


"Arrgghhhh " Teriak Max dengan diiringi suara pecahan barang barang di dalam sana


"Aduuhh nambah nambah kerjaan aja" keluhan pekerjanya


...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...


Lydia sudah rapih menenteng tas dan sebelah tangannya membawa rantang berisi makanan, Danendra yang baru saja pulang berpapasan di depan halaman


"Mau kemana bun? " tanya Danendra


"Sayang, bunda mau nganter makanan ke bengkel Maxime"


"Mau aku antar bun? " tanya Danendra


"Tidak usah ayah sudah menunggu di mobil"


"Apa? " Danendra merasa heran saat ayahnya mau mengantar sang bunda menemui Max


"Baiklah terserah bunda saja"


"Makanan sudah ada di meja, jangan lupa makan" ucap Lydia lalu masuk ke dalam mobil


Sesampainya di bengkel bunda melihat ke tiga pegawai Max berada luar dengan wajah lesu


"Kalian kenapa? " tanya Lydia


"Ibu mau servis? " tanya pegawainya


"Tidak, aku ingin bertemu anakku" ucap Lydia


"Jadi kalian orang tua kandung bos? " Lydia dan Damian hanya mengangguk menunjukkan wajah bingung


"Syukurlah, masuk bu "


"Suara apa itu? " tanya Lydia terkejut mendengar suara gaduh di ruangan Max


"Itu dia bu tadi juga ada yang ngaku ngaku ibunya bos dan bos mengusir dia lalu mengamuk di dalam" ucapnya


"Maxime sayang buka nak ini bunda" Lydia mengetuk pintu


"Pergi bun saya tidak mau ketemu siapapun" teriak Max


"Bu pak pulang saja dulu saya takut bos rusakin bengkel" ucap pekerjanya


"Sayang ini bunda, kamu jangan seperti ini nak bunda dan ayah bawa makanan kesukaan kamu"


"Pergi bun pergi... kalian gak pernah anggap saya anak, ayah bertahun tahun membenci saya tapi kenapa saat tahu kenyataannya kalian tidak mengatakan yang sebenarnya pada Danendra dan mengakui saya? " teriak Max mereka hanya diam membisu benar ucapan Max kenapa mereka tidak mengatakan yang sebenarnya dan berlaku adil pada anak kandungannya


"Kalian gak perlu memikirkan saya, saya sudah biasa hidup sendiri" lanjutnya


Lydia menangis tubuh terasa lemas hingga duduk di lantai, Damian membangunkannya dan membawanya keluar dia tahu Max tidak mungkin memaafkannya semudah itu apalagi rasanya berat saat akan mengatakan kebenarannya pada Danendra


"Kamu telepon siapa? " tanya Damian saat di mobil


"Allea"


"Kenapa kamu telepon dia? jangan biarkan anak anakku.. "


"Kamu gak tau apapun tentang anak anakmu, Allea yang bisa bujuk Max dan dia juga yang mencari Max tengah malam sampai menjaganya semalaman" Damian langsung terdiam


"Sehebat itukah Allea ini" batin Damian


"*Iya, ada apa bun? " tanya Allea


"Max sedang mengamuk tolong tenangkan dia" ucap Lydia


"Max dimana? "


"Di bengkel"


"Baiklah sebentar lagi Allea kesana"


"Terimakasih sayang"


"Sama sama bun*"


Like komen dan votenya jangan lupa ya 🥰🥰🥰🥰